Syarif Mekah

Syarif Mekah adalah gelar yang diberikan pada Gubernur yang memerintah tanah suci Mekah, Madinah dan daerah Hijaz di sekitarnya. Nama gelar Syarif ini sebenarnya diambil dari nama gelar kehormatan keturunan Rasulullah SAW dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Dan ini sesuai dengan tradisi ummat Islam, yaitu memberikan gelar Syarif pada keturunan Rasululllah SAW yang berasal dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, dan memberikan gelar Sayyid atau Habib pada keturunan Rasulullah SAW yang berasal dari jalur Hussain bin Ali bin Abi Thalib ra.

Sejak zaman Abbasiyah, jabatan Gubernur Mekah ini tidak lagi dipilih oleh Khalifah, tapi menjadi hak turun temurun keturunan Rasulullah SAW. Apapun khilafahnya, siapapun khalifahnya, semua sepakat untuk memberikan kehormatan ini pada keturunan Rasulullah SAW, dan semua ini berakhir pada tahun 1925 ketika keluarga Saud menganeksasi Hijaz dan mengusir bani Hasyim dari tanah Hijaz. Sejak saat itu, Bani Saud menguasai Mekah dan Madinah

, dan penghormatan itu tidak lagi diberikan pada keturunan Nabi.

Daftar nama Syarif Mekah

Pada masa Khilafah Fatimiyyah

  • Ath-Thallab (967-980)
  • Syarif ‘Isa (980-994)
  • Syarif Abu Futuh Hasan bin Ja’far (994-1010)
  • Syarif Syukur bin Hasan bin Ja’far (1010-1012)
  • Syarif Abu Thoyyib Daud bin Abdurrohman (1012-1039)
  • Syarif Muhammad bin Abdurrohman  (1039-1048)
  • Syarif Wahhas bin Abu Thoyyib Daud bin Abdurrohman (1048-1058)
  • Syarif Hamzah bin Wahhas (1058-1062)
  • Abu Hasyim bin Muhammad (1063-1094)
  • Ibnu Abu Hasyim Ats-Tsallab (1094-1101)

Pada masa Khilafah Ayyubiyah

  • Qotadah bin Idris al-Hasani (1201-1220)
  • Hasan bin Qotaah bin Idris al-Hasani (1220-1241)
  • Hasan Abu Saad (1241-1254)

Pada masa Khilafah Mamluk

  • Muhammad Abu Nubaj (1254-1301)
  • Rumaitsah Abu Roda (1301-1346)
  • Ajlan Abu Sarjah (1346-1375)
  • Al-Hasan II (1394-1425)
  • Barakat I (1425-1455)
  • Malik Adil Muhammad bin Barakat (1455-1497)
  • Barakat II (Barakat bin Muhammad) (1497-1525)

Pada masa Khilafah Turki Utsmaniyah

  • Barakat II (Barakat bin Muhammad) (1497-1525) (tiga belas tahun terakhir kepemimpinannya)
  • Muhammad Abu Numay II (1525-1583)
  • Hasan bin Muhammad Abu Numay (1583-1601)
  • Idris bin Hasan (1601-1610)
  • Muhsin bin Hasan (1610-1628)
  • Ahmad bin Tholib Al-Hasan (1628-1629)
  • Mas’ud bin Idris (1629-1630)
  • Abdullah bin Hasan (1630-1631)
  • Zaid bin Muhsin (1631-1666)
  • Saad bin Zaid (1666-1667)
  • Muhsin bin Ahmad (1667-1668)
  • Saad bin Zaid (1668-1670)
  • Hamud bin Abdullah bin Hasan (1670-1670)
  • Saad bin Zaid (1670-1671)
  • Barakat bin Muhammad (1672-1682)
  • Said bin Barakat (1682-1683)
  • Ibrahim bin Muhammad  (1683-1684)
  • Ahmad bin Zaid (1684-1688)
  • Ahma bin Ghalib (1688-1689)
  • Muhsin bin Ahmad (1689-1691)
  • Said bin Saad (1691-1693)
  • Saad bin Zaid (1693-1694)
  • Abdullah bin Hasyim (1694-1694)
  • Saad bin Zaid (1694-1702)
  • Said bin Saad (1702-1704)
  • Abdul Muhsin bin Ahmad (1704-1704)
  • Abdul Karim bin Muhammad (1704-1705)
  • Said bin Saad (1705-1705)
  • Abdul Karim bin Muhammad (1705-1711)
  • Said bin Saad (1711-1717)
  • Abdullah bin Said (1717-1718)
  • Ali bin Said (1718-1718)
  • Yahya bin Barakat (1718-1719)
  • Muhammad bin Ahmad (1719-1722)
  • Barakat bin Yahya (1722-1723)
  • Mubarok bin Ahmad (1723-1724)
  • Abdullah bin Said (1724-1731)
  • Muhammad bin Abdullah (1731-1732)
  • Mas’ud bin Said (1732-1733)
  • Muhammad bin Abdullah (1733-1734)
  • Mas’ud bin Said (1734-1759)
  • Ja’far bin Said (1759-1760)
  • Musaid bin Said (1760-1770)
  • Amad bin Said (1770-1770)
  • Abdullah bin Husain (1770-1773)
  • Surur bin Musaid (1773-1788)
  • Abdullah Mu’in bin Musaid (1788-1788)
  • Ghalib bin Musaid (1788-1803)
  • Yahya bin Surur (1803-1813)
  • Ghalib bin Musaid (1813-1827)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1827-1827)
  • Muhammad bin Abdul Mu’in (1827-1851)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1851-1856)
  • Muhammad bin Abdul Mu’in (1856-1858)
  • Abdulah Kamal Pasha (1858-1877)
  • Husain bin Muhammad (1877-1880)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1880-1882)
  • Syarif Ainurrofiq (1882-1905)
  • Abdullah Pasha (1905-1908)
  • Husain bin Ali Al-Hasyimi (1908-1916)
  • Ali Haidar Pasha (1916-1917)
  • Hamud bin Abdullah bin Hasan (1916-1925)

Pada masa Kerajaan Hijaz

  • Husain bin Ali Al-Hasyimi (1916-1924)
  • Ali bin Husain (1924-1925)


Masa Berakhirnya Syarif Mekah



Pada tahun 1924, Raja Abdul Aziz bin Saud dari Najd mulai menyerang Mekah dan mengambil alih kota Mekkah, dan mengambil alih kota Jeddah pada tahun 1925. Ini semua mengakibatkan jatuhnya kerajaan Hijaz, dengan Ali bin Hussain sebagai raja terakhirnya.

Jatuhnya Kerajaan Hijaz sudah bisa diprediksikan, karena Raja Husain bin Ali menolak deklarasi Balfour yang dilakukan oleh Inggris. Pada deklarasi itu, Inggris menyatakan bahwa Palestina adalah tanah yang akan diberikan pada kelompok Zionis. Pihak Inggris menawarkan banyak subsidi pada Raja Husain agar mau menerima deklarasi Balfour itu, tapi Raja Husain tetap menolaknya sampai tahun 1924. Setelah itu, Inggris menghentikan tawaran subsidi itu. Tidak lama kemudian, Raja Abdul Azis bin Saudi dari Najd mulai menyerang kerajaan Hijaz dengan bantuan pihak Inggris, dan serangan ini menyebabkan jatuhnya kerajaan Hijaz. 

Referensi:

1. Syarif Mekah dalam bahasa Arab: https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81_%D9%85%D9%83%D8%A9

2. Syarif Mekah dalam bahasa Inggris: https://en.wikipedia.org/wiki/Sharif_of_Mecca

3. Sikap Negara-negara Arab dalam menyikapi Deklarasi Balfour: https://en.wikipedia.org/wiki/Balfour_Declaration#Broader_Arab_response

Peta Madzhab Fiqih dan Aqidah

Sembilan puluh persen (90%) umat Islam itu pengikut madzhab fiqih yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan yang 10% ada yang Syiah, Zaidiyah, Khawarij (Ibadhiyah) dan Mu’tazilah.

Dari 90 % pengikut madzhab empat tersebut, apabila kita petakan akidah mereka adalah sebagai berikut:

1) Pengikut madzhab Hanafi, 30% mengikuti akidah Asya’irah, dan 70% mengikuti Maturidiyah

2) Pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i, 100% mengikuti Asya’irah

3) Pengikut madzhab Hanbali, dalam akidah pecah menjadi tiga kelompok.

Pertama, mayoritas mereka, atau sekitar 60% adalah pengikut Hasyawiyah, atau Mujassimah yang berkeyakinan Allah berdomisili di Arasy. Kelompok ini disebut dengan Ghulat al-Hanabilah (kaum ekstrem madzhab Hanbali).

Kedua, kelompok yang mengikuti madzhab Asya’iroh, seperti Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, Rizqullah bin Abdul Wahhab al-Tamimi dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. Kelompok ini disebut dengan fudhala’ al-Hanabilah (kaum utama madzhab Hanbali).

Ketiga, mengikuti ajaran tafwidh, yakni tidak melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat, tapi menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga kelompok tersebut sama-sama mengklaim sebagai representasi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang akidah. Akan tetapi meskipun ketiga kelompok tersebut berbeda dalam soal-soal akidah, mereka sama-sama mengikuti ajaran tashawuf, melakukan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah kubur.

Pada abad ketujuh Hijriah, kelompok Ghulat al-Hanabilah hampir habis dan beralih haluan mengikuti Asya’irah, berkat kebijakan Raja Zhahir Baibars al-Bindiqdari, yang mengangkat Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) dari madzhab empat. Sehingga keempat madzhab tersebut sering melakukan diskusi, dan dampak positifnya, penyakit tajsim (menjasmanikan Tuhan) yang menggerogoti Hanabilah, sedikit demi sedikit terobati dan hampir habis.

Hanya saja setelah itu lahir Syaikh Ibnu Taimiyah, yang kemudian berhasil meradikalisasi madzhab Hanbali dalam bidang ushul dan furu’. Dalam bidang akidah, Ibnu Taimiyah mengembalikan mayoritas Hanabilah menjadi pengikut Hasyawiyyah dan membabat habis kelompok Fudhala’ al-Hanabilah yang mengikuti Asya’irah. Sedangkan dalam bidang furu’, Ibnu Taimiyah mengharamkan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wali dengan tujuan tabaruk. Dalam rangka radikalisasi tersebut, Ibnu Taimiyah membuat perangkat ideologi yang disebut dengan pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. Tauhid Uluhiyah dibuat untuk melarang amalan-amalan seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah. Sedangkan Tauhid Asma wa Shifat dibuat untuk menyesatkan mayoritas umat Islam yang berakidah tanzih (menyucikan Allah dari menyerupai makhluk) dan melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat. Akan tetapi perlu dicatat, Ibnu Taimiyah masih membolehkan membaca al-Qur’an di kuburan, tahlilan, dzikir bersama, maulid dan beberapa tradisi shufi lainnya.

Pada abad kedua belas Hijriah, muncul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, pendiri Wahabi. Dia meradikalisasi madzhab Hanbali, lebih keras dari Ibnu Taimiyah, dengan mengadopsi akidah Hasyawiyah. Hanya saja, beberapa amalan yang diharamkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah dengan alasan Tauhid Uluhiyah, oleh pendiri Wahabi tersebut dinaikkan status hukumnya menjadi syirik akbar, murtad dan kafir. Sedangkan beberapa tradisi shufi yang dibolehkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti dzikir bersama, membaca al-Qur’an di kuburan, maulid, tahlilan dan semacamnya diharamkan dengan alasan bid’ah dhalalah dan pemurnian agama.

sumber:
http://www.idrusramli.com/2015/nu-wahabi-bersatu-mungkinkah/

Muhammad Al-Fatih berasal dari kalangan Sufi.

Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, berasal dari kalangan Sufi.

Lalu yang mengatakan semua Sufi sesat, sebenarnya mereka itu siapa?

Ingat, Rasulullah saw bersabda:

لتفتحن القسطنطينية على يد رجل فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

“Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR. Ahmad).

Dan mereka adalah Muhammad Al-Fatih beserta pasukannya, didukung oleh para ulama Sufi.

Sumber:
http://m.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2014/03/13/18072/penaklukan-konstantinopel-dan-peran-ulama-sufi.html#.Vt_SUIGlbqD

Ada tiga gambar, silakan pilih.

image
image

image

Salahuddin Al-Ayyubi juga bermadzhab

Salahuddin Al-Ayyubi, pahlawan kita dalam perang Salib, ternyata bermadzhab, dan madzhabnya adalah Syafi’i.
Lalu yang mengatakan tidak boleh bermadzhab, sebenarnya mereka itu siapa?

Gambar tanpa pertanyaan:
image

Gambar dengan pertanyaan:
image

Sumber:
http://www.nugarislurus.com/2015/03/sikap-sultan-sholahuddin-al-ayyubi-keras-menghadapi-syiah.html

Mengapa Wahabi sangat membenci Syiah?

Di Saudi yang dominan adalah Wahabi, dan Wahabi adalah aliran ekstrim dalam Sunni. Adapun di Iran yang dominan adalah Rafidhah, dan Rafidhah adalah aliran ekstrim dalam Syiah.

Wahabi sangat membenci Syiah, karena Wahabi adalah penerus ideologi Bani Umayyah yang memang amat membenci semua hal yang “berbau Ali”, sedangkan Syiah adalah kelompok yang mengkultuskan Ali sehingga secara otomatis Syiah juga amat membenci Bani Umayyah yang memang telah membantai Hussein bin Ali beserta keluarganya di Padang Karbala.

Sejarah mencatat, tiga generasi bani Hasyim telah terusir. Yang pertama adalah nabi kita Muhammad saw, terusir dari Makkah ke Madinah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Berikutnya adalah menantu Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, yang terusir dari Madinah ke Kufah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Terakhir adalah cucu nabi, yaitu Hussein bin Ali, yang terpaksa pergi meninggalkan Madinah ke arah Kufah dan dibantai di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Lengkap sudah penderitaan tiga generasi, dan pembantaian keluarga nabi di Padang Karbala inilah yang akhirnya menjadi pemicu utama munculnya kelompok Syiah yang amat mengkultuskan Ali dan Hussein bin Ali.

Maka, tidak heran kalau Wahabi sangat menggebu-gebu mempropagandakan pendapat bahwa orang tua nabi dan orang tua Ali masuk neraka. Seakan-akan yang terlihat adalah “kalau Muhammad dan Ali tidak bisa masuk neraka, minimal orang tua mereka yang harus masuk neraka”. 😦
Sebaliknya, kelompok Syiah selalu mengatakan bahwa Muawiyah dan bapaknya adalah orang Munafik yang akan masuk neraka.

Jadi, jangan heran kalau dalam pengajian Wahabi tema Syiah sesat itu tema wajib. Semua yang berbau Syiah akan dibabat habis. Yaman dan Suriah adalah contoh nyata, betapa Saudi amat bernafsu menyerang Syiah. Lalu kenapa Saudi tidak menyerang Israel? Ya mudah saja, karena Israel bukan Syiah. 🙂

Sebaliknya, dalam pengajian Syiah, tema wahabi juga sering diangkat. Isinya ya sama saja, sisi negatifnya yang diangkat.

Wahabi sebenarnya masuk dalam ahlu Sunnah, yaitu kelompok Sunni. Akan tetapi, sikap radikal Wahabi membuat mereka berbeda dari Sunni. Sunni adalah kelompok yang lebih adil dalam menyikapi masalah. Maka, kelompok Sunni membagi Syiah dalam beberapa kelompok, mulai dari yang masih bisa diterima, yang masih ditolerir dan yang sudah keluar dari Islam. Sikap MUI kita juga seperti ini. Akan tetapi, sikap ini jelas berbeda dengan sikap Wahabi terhadap Syiah yang jelas-jelas mengkafirkan syiah secara keseluruhan. Singkatnya, sebagian Sunni memang membenci Syiah, tapi seluruh Wahabi amat sangat membenci Syiah.

Sesuai alur historis, pusat Bani Umayyah ada di Damaskus. Dan ulama kebanggaan Wahabi juga semuanya berasal dari Damaskus. Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Albani, semuanya berasal dari Damaskus atau lama tinggal di Damaskus. Maka tidak heran kalau pemikiran Bani Umayyah menurun ke Saudi, dan jangan heran pula kalau melihat Saudi mati-matian maju berperang ke Suriah, salah satu sebabnya adalah karena nenek moyang ulama mereka ada di sana. Coba lihat penggalangan dana oleh kelompok Wahabi di Indonesia, hampir semuanya lari ke Suriah, dan tidak ke tempat lain seperti Palestina misalnya.

Maka, kembali pada masalah Saudi dan Iran atau Wahabi dan Syiah, kalau yang menjadi wakil Sunni adalah Wahabi dan kalau yang menjadi wakil Syiah adalah Rafidhah, ya sudah pasti dunia islam tidak akan aman. Bawaannya pasti perang terus, seperti sekarang ini. Kita butuh wakil yang lebih moderat dari masing-masing kelompok, untuk bisa mendamaikan ummat Islam, dan untuk bisa menasehati kelompok ekstrim pada masing-masing kelompok. Turki, Mesir dan Indonesia mungkin bisa mengambil peran sebagai wakil Sunni, agar ummat Islam bisa makin maju ke depannya nanti.

Demikian, semoga bermanfaat.

Depok, 3 Januari 2016
Isa Ismet Khumaedi

Kisah Nabi dan Maulid Nabi

Pada kisah nabi kita, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam hidup kita dan dalam hidup anak-anak kita nanti.

Cuma masalahnya, apakah kita pernah membacakan atau menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita?
Kalau sudah pernah, sudah berapa kali?
Kalau belum pernah, itu artinya kita adalah tipe orang yang membutuhkan trigger untuk melakukan hal tersebut.

Mari kita cari trigger tersebut, yang kira-kira efektif untuk diri kita masing-masing, agar kita bisa istiqomah dalam menjelaskan kisah nabi kita pada anak-anak kita. Karena para sahabat nabi dan orang-orang sholeh terdahulu, mereka selalu menceritakan kisah nabi pada anak-anak mereka. Selalu, dan selalu.

Lalu bagaimana dengan diri kita saat ini?
Mari kita nilai diri kita masing-masing.

Jangan sampai kita hanya sibuk membahas apa hukum acara Maulid Nabi, tapi pada saat yang bersamaan kita tidak pernah menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita.

Mari kita nilai diri kita masing-masing.

#ArtikelEdisiMaulid

Bencana Mujassimah

Dulu, di abad 3 Hijriyah, madzhab Hambali terkena bencana. Mereka terkena virus Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah punya fisik. Pengikut aliran ini juga radikal, dan mereka mudah menuduh bahkan membunuh para ulama ahlu sunnah.

Ciri-ciri mereka:
1. Sering menyebut-nyebut nama Imam Ahmad (karena mereka ngaku-nya adalah murid-murid imam Ahmad, padahal mereka telah menyimpang dari ajaran imam Ahmad.)
2. Sering menuduh orang lain sebagai syiah.
3. Gemar membahas hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Allah, seperti tangan Allah, Allah berdiam di ‘Arsy, atau lainnya.

Salah satu ulama yg menjadi korban adalah Imam Ath-Thabari yang merupakan ahli tafsir terbesar sepanjang masa, dan kisahnya direkam oleh para ulama ahli sejarah dari kalangan Ahlu Sunnah dalam kitab-kitab mereka.

Kisah Imam Ath-Thabari yang terdzalimi:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/12/21/imam-at-thabari-yang-terdzalimi/

Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali, sepertinya terkena virus mujassimah ini. Akhirnya para ulama empat madzhab mengadilinya dan menyatakannya sesat, lalu dia dipenjara sampai wafatnya.

Kisah dipenjarakannya Ibnu Taimiyah menurut para ulama ahlu sunnah:
http://www.aswj-rg.com/2014/06/sebab-ibn-taimiyah-dibantah-dan-dipenjarakan-oleh-para-ulama-dan-qadhi.html

Sayangnya, pemikiran Ibnu Taimiyah ini terus berkembang di Damaskus. Damaskus dulunya adalah pusat kerajaan bani Umayyah.

Lalu beberapa ratus tahun kemudian, ada orang yg belajar islam di Damaskus, mewarisi pemikiran Ibnu Taimiyah ini. Orang itu adalah Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW).

Kalau dulu mereka mengatakan Imam Ath-Thabari sesat, maka sekarang mereka mengatakan bahwa Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi telah salah dalam beberapa sisi aqidahnya. Bahkan salah seorang ustadz mereka menuliskan bahwa Asy’ari dan Maturidi adalah aliran sesat, padahal dua madzhab aqidah ini adalah madzhab utama Ahlu Sunnah dan juga menjadi perwakilan Ahlu Sunnah selama lebih dari seribu tahun sejarah Islam di muka bumi ini.

Juga, Damaskus adalah pusat Nashibi warisan bani Umayyah. Nashibi adalah aliran yang membenci bani Hasyim, terutama sekali ahlul bait dari keturunan Ali ra. Maka ketika Wahabi dan bani Saud menguasai Haromain, mereka pun mengusir bani Hasyim dari sana.

Sejarah penguasa Haromain:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/04/27/penguasa-haromain/

Maka tidak heran mengapa wahabi sangat membenci Syiah yang mengkultuskan keluarga nabi, karena wahabi memang berasal dari kelompok yang membenci keluarga nabi. Dan tidak heran pula kalau kita melihat bahwa banyak ulama panutan Wahabi berasal dari Damaskus seperti Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Katsir, Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Albani atau lainnya, semuanya dari Damaskus atau lama tinggal di Damaskus. Damaskus adalah benang merah antara kaum Nashibi yang membenci ahlul bait dengan kaum Wahabi yang mewarisi ideologi tersebut, lalu ideologi ini dipakai oleh bani Saud dari Najd.

Bani Saud sendiri berasal dari kalangan arab Badui di daerah Najd di Riyadh, lalu dengan bantuan Inggris dan Amerika mereka memberontak terhadap khilafah Turki Utsmani dan mengalahkan Bani Hasyim di wilayah Hijaz, kemudian menguasai Jazirah Arab dengan nama Saudi Arabia.

Warga Wahabi biasanya akan mengatakan bahwa Bani Saud di Najd tidak memberontak kepada khilafah Turki Utsmani, padahal khalifah Turki Utsmani berkali-kali memerangi mereka. Mari kita pikirkan, apa hukum berperang melawan khalifah?

Website kedutaan besar Saudi Arabia di Amerika menyebutkan bahwa khalifah Turki Utsmani memerangi Bani Saud:
https://www.saudiembassy.net/about/country-information/history.aspx

Warga Wahabi juga biasanya akan mengatakan bahwa kekuasaan Khilafah Turki Utsmani tidak mencakup jazirah Arab, padahal di awal abad 20 Masehi, khilafah Turki Utsmani pernah membuat jalur kereta dari Istambul menuju Makkah, dan proyek ini berhenti di tengah jalan karena adanya pemberontakan suku-suku Arab.

Silakan lihat foto-foto serta peta jalur Hijaz Railway pada link berikut:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/12/07/fakta-sejarah-jalur-kereta-api-istanbul-makkah/

Ketika Bani Saudi dari kalangan Arab Badui di Najd menjatuhkan bani Hasyim dari kekuasaannya di tanah Haromain, nubuwah nabi kembali terbukti. Orang kampung yg biasa berjalan telanjang kaki, mereka akan menjadi tuan bagi kaum terhormat, dan ini salah satu tanda kiamat. Saat itu, tuan yang tidak bisa berfikir panjang ini, akan membuat keonaran di sana-sini. Dan mungkin itulah makna Najd sebagai pusat tanduk setan. 😦

Di dalam Al-Qur’an sendiri, kaum Arab Badui digambarkan sebagai kaum yang memiliki banyak sifat negatif, dan sifat-sifat ini dijelaskan secara eksplisit oleh Al-Qur’an.

Sifat Arab Badui menurut Al-Qur’an:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/11/24/arab-badui/

Dan sekarang, kelompok Arab Badui ini mewarisi pemahaman Mujassimah yang tidak hanya sesat karena menganggap Allah punya fisik, tapi juga radikal karena mudah menuduh dan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat. Bisa ditebak, orang-orang yang suka memaki, mencaci, mencerca, membid’ahkan dan mengkafirkan akan mudah muncul dari kelompok ini. Fakta membuktikan, hampir semua teroris di Indonesia mengaku bahwa mereka mengikuti pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW) dan itu dibuktikan dalam buku para teroris itu sendiri. Bahkan, ISIS juga menginduk pada pemahaman Wahabi.

Watch “Memahami Teroris dan Wahabi dalam 1 Video” on YouTube – https://youtu.be/rxtciTno8eY

Dua ciri utama kelompok teroris ini adalah mereka meyakini bahwa memotong celana di atas mata kaki adalah wajib, dan juga wajib memanjangkan jenggot (bahkan terlihat tidak terurus). Inilah pemahaman Wahabi.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa memanjangkan celana melebihi mata kaki adalah boleh selama tidak disertai dengan niat sombong.

Lihat pendapat kedua imam Ahlu Sunnah ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/02/22/isbal-boleh-asal-tidak-sombong-syarah-shahih-bukhari-dan-syarah-shahih-muslim/

Adapun tentang jenggot, Imam Nawawi menyebutkan bahwa memotong jenggot untuk merapihkannya adalah baik. Dan seperti ini pula lah contoh dari dua ulama besar kita yaitu KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, silakan lihat foto jenggot mereka pada link di bawah ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/09/13/jenggot-contoh-dari-ulama-kita/

Terakhir, sekilas tentang Syiah, MUI kita menjelaskan bahwa syiah itu terbagi menjadi tiga kelompok, dan dari tiga kelompok itu hanya ada satu kelompok yang disebut sebagai kafir, yaitu Syiah Ghulat. Kelompok kedua adalah Syiah Rafidhah yang sesat tapi masih dianggap sebagai bagian dari Islam. Adapun kelompok ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama Ahlu Sunnah.

Screenshoot buku MUI ttg hal ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/11/12/mui-syiah-terbagi-tiga/

Jadi, MUI kita tidak memukul rata dan juga tidak mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”. Hal ini berbeda dengan Wahabi yang kemana-mana selalu mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”. Karena Wahabi memang mewarisi ideologi bani Umayyah yang membenci keturunan Ali ra, sehingga semua yang berbau keluarga nabi atau keluarga Ali harus diberi label Syiah, minimal sekali Syiah Zaidiyah. Menurut Syiah, Muawiyah dan bapaknya akan masuk neraka, sedangkan menurut Wahabi orang tua Ali dan orang tua nabi wajib masuk neraka. Adapun bagi kita Ahlu Sunnah wal Jamaah, mari kita doakan agar sholawat serta salam senantiasa tercurah pada nabi kita, pada seluruh keluarganya, dan juga pada seluruh sahabatnya serta semua ummatnya yang mengikuti mereka hingga hari kiamat nanti.

Allaahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi wa man tabi’ahum ilaa yaumil qiyaamah. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.


Kesimpulan:
Madzhab Hambali pernah terkena bencana. Mereka terkena virus Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah punya fisik. Pengikut aliran ini juga radikal, dan mereka mudah menuduh bahkan membunuh para ulama ahlu sunnah. Dulu Imam Ath-Thabari menjadi korban, dan sekarang para ulama Ahlu Sunnah seperti Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi mereka sebut telah salah dalam beberapa sisi aqidahnya.

Ciri-ciri kelompok Mujassimah radikal ini:
1. Sering menyebut-nyebut nama Imam Ahmad (karena mereka ngaku-nya adalah murid-imam Ahmad, padahal mereka telah menyimpang dari ajaran imam Ahmad.)
2. Sering menuduh orang lain sebagai syiah.
3. Gemar membahas hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Allah, seperti tangan Allah, Allah berdiam di ‘Arsy, atau lainnya.

Semoga kita terhindar dari kelompok seperti ini. Aamiin.

Depok, 7 Desember 2015

Isa Ismet Khumaedi
#orang biasa yang sedang berusaha menjadi ustadz bagi anak-anaknya

sumber artikel ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/07/bencana-mujassimah/

#artikel ini mungkin akan terus diupdate, dan artikel versi terbaru bisa dilihat pada link terakhir di atas.
#kalau dirasa bermanfaat, please share, agar makin banyak orang yang tahu.

Kritik dengan Batin yang Remuk

Kolom Resonansi: Kritik dengan Batin yang Remuk

Selasa, 17 November 2015 | 06:00 WIB
Professor Ahmad Syafii Maarif

Jangan dikira kritik yang dulu sering muncul di ruang ini atas mentalitas Arab kontemporer yang hobinya berpecah, saya lakukan dengan perasaan senang dan lega. Jauh dari itu. Batin saya remuk mengamati dunia Arab yang berdarah-darah.

Rakyat Palestina yang belum juga merdeka setelah menderita hampir 70 tahun dan masih saja menjadi bulan-bulanan Zionis Israel yang didukung Amerika Serikat, toh antara Hamas dan Fatah belum juga akur dengan sepenuh hati. Sudah miskin, pertengkaran terus saja berlanjut. Untunglah mata dunia sudah semakin terbuka: Palestina harus merdeka segera.

Tidak sekali saya mengutip di ruang ini pendapat pemusik Gilad Atzmon-baru saja datang ke Indonesia atas undangan Dwiki Darmawan-bahwa Zionisme tidak mungkin menjadi bagian dari kemanusiaan karena wataknya yang rasialis dan congkak.

Negara kecil Israel yang telah melumpuhkan bangsa-bangsa Arab yang melingkarinya adalah fakta telanjang betapa rapuhnya mereka, tetapi tetap saja belum juga sadar. Bahkan, Arab Saudi karena sama merebut hegemoni dengan Iran di kawasan panas itu dikabarkan malah main mata dengan Israel. Alangkah hinanya, alangkah amoralnya.

Persis seperti yang dilakukan Iran di era Shah Reza Pahlevi (berkuasa 1941-1979) dulu yang sekaligus menjadi antek Amerika sampai gerakan Khomeini meruntuhkan rezim antirakyat itu. Akan halnya Iran sekarang, demi membela al-Assad yang dilawan rakyatnya sendiri enak saja bekerja sama dengan Rusia yang tidak kurang liciknya dibandingkan Amerika.

Selanjutnya, serangan gencar pasukan Saudi atas Yaman untuk memburu pemberontak al-Houthi adalah bukti lain betapa suasana persaudaraan sesama Arab ini sudah sirna, amat sulit dipertautkan kembali. Lalu Islam di mana? Islam sudah menghilang, entah ke mana. Yang mengemuka adalah label Suni, label Syiah, atau label apa lagi untuk sama membinasakan perumahan persaudaraan sesama Muslim.

Batin siapa yang tidak akan remuk membaca fenomena yang hitam dan ganas ini? Tetapi tuan dan puan jangan salah tafsir, Islam masih ada ketika shalat, naik haji, puasa, zakat dalam arti yang terbatas. Di luar itu, jika sudah menyentuh kepentingan politik kekuasaan, Islam tidak berdaya. Apakah ada bentuk krisis yang lebih dalam di dunia Arab melebihi drama yang kini menjadi tontonan manusia sejagat ditinjau dari sisi iman?

Akar drama Arab ini menjalar sampai ratusan tahun yang silam, semuanya selalu berkaitan dengan ranah kekuasaan. Perang Shiffin (657) yang meledak di selatan Sungai Furat adalah fitnah (bencana) yang paling bertanggung jawab mengapa dunia Arab, dan bahkan dunia Islam, tidak pernah akur sampai hari ini.

Ironisnya, perbelahan politik yang kotor ini oleh pihak-pihak yang terlibat sama-sama dicarikan alasan teologisnya masing-masing: pakai dalil Alquran dan sunah. Bau buruknya juga tercium di Indonesia. Klaim-klaim merasa paling benar adalah senjata ampuh untuk saling menghujat dan saling meniadakan.

Amat sedikit Muslim yang benar-benar sadar bahwa kejatuhan dunia Islam yang parah ini dapat dicari penyebab utamanya sebagai ekor dari Perang Shiffin yang tidak lain adalah perebutan kekuasaan sesama Arab Quraisy. Bukankah ‘Ali dan Mu’awiyah secara geneologis adalah Quraisy belaka?

Mengapa kita tidak bersedia keluar secara berani dari kotak-kotak Quraisy yang mewariskan perpecahan yang tak habis-habisnya itu? Nabi Muhammad SAW memang Quraisy juga, tetapi Quraisy yang dipimpin wahyu, Quraisy yang bertugas menyampaikan rahmat bagi alam semesta. Semestinya, Alquran dan Muhammad SAW sajalah yang sah dijadikan imam dan panutan, bukan yang lain.

Ajaibnya, komunitas Muslim non-Arab di berbagai belahan bumi turut pula menari mengikuti tabuhan genderang Perang Shiffin yang sepenuhnya bercorak Arab itu. Bagi saya, semuanya ini adalah perbuatan pandir karena kita tidak cukup jujur dan cerdas untuk memisahkan, seolah-olah yang bersifat serba Arab itu adalah kebenaran yang perlu diwarisi.

Semestinya, dengan kejatuhan peradaban Arab yang meremukkan batin ini, mengapa kita tetap saja berkiblat kepadanya dalam memahami Islam? Terus terang saya lama memberontak terhadap sikap yang buta sejarah ini.

Akhirnya, sekalipun kita merintih melihat kehancuran Irak, Suriah, Yaman, Libya, bahkan Mesir, memperpanjang tangis tidak ada gunanya, sia-sia belaka. Sikap yang benar adalah agar ayat Alquran tentang persaudaraan umat dibawa turun ke bumi kenyataan kembali, tidak hanya dibiarkan mengalun dalam suara para qari dan qariah saat bertanding membaca kitab suci ini. Semoga kita cepat sadar, matahari kehidupan sudah bergerak semakin tinggi!

sumber:
http://m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/11/16/nxwwj7319-kritik-dengan-batin-yang-remuk


Tambahan:
Orang yang berpandangan tajam, akan bisa melihat bahwa akar permasalahan isu Sunni Syiah memang berada pada peperangan Shiffin. Ketika khalifah yang sah diperangi, muncullah kelompok yang secara fanatik membela ahlul bait, dan kelompok yang secara tidak sadar sudah diarahkan untuk membenci ahlul bait. Di abad 20 Masehi sebagiannya terbukti, di jazirah Arab muncul satu kerajaan yang mengusir ahlul bait nabi dari kursi kehormatan di tanah Haromain, dan mereka mewarisi ideologi salah satu kelompok tsb.

Belumkah kita sadar bahwa teologi permusuhan ini dimulai dari persaingan politik masa lalu?
Masihkah kita akan terus membenci?