Pandangan Mengenai Golongan Wahabi | Portal Rasmi Fatwa Malaysia

Akhirnya dewan fatwa Kerajaan Malaysia mengeluarkan fatwa tentang apa itu “wahabi”.

“Memandangkan Malaysia jelas mengambil pendirian sejak beratus tahun lalu bahawa ALIRAN YANG HARUS DIIKUTI ADALAH MAZHAB SHAFI’I DAN DALAM AKIDAH ALIRAN ASH’ARI DAN MATURIDI dan ianya telah menghasilkan perpaduan yang utuh di kalangan umat Islam, baik dalam ibadah, muamalah dan lain-lain sehingga memberi ketenangan dan keharmonian dalam masyarakat dan negara, MAKA ALIRAN WAHABI ADALAH TIDAK SESUAI DALAM KONTEKS KEFAHAMAN DAN AMALAN AGAMA DI MALAYSIA.”

Tidakkah ini menjadi pelajaran?

http://www.e-fatwa.gov.my/blog/pandangan-mengenai-golongan-wahabi

Advertisements

Bid’ah vs Juz’amma

Dialog actual yang pernah terjadi.

A: Alhamdulillah, sejak mengenal kajian salaf ini saya menjadi mengenal Islam dengan lebih baik.
B: Syukur kalau begitu.
A: Sudah empat tahun saya mengikuti kajian ini, sudah banyak ilmu saya yang bertambah, terutama ilmu tentang bid’ah.
B: eh, tentang bid’ah?
A: Ya, tentang bid’ah. Alhamdulillah sekarang saya sudah mengerti apa itu bid’ah dengan detil.
B: Bagus kalau begitu. Tapi boleh saya tanya sedikit?
A: Silakan.
B: Setelah mengikuti kajian selama empat tahun ini, apakah Anda jadi hafal juz’amma?
A: Juz’amma? Tidak. Kenapa?
B: Apakah Anda sudah faham apa isi juz’amma?
A: hmmm tidak juga. Kenapa?
B: Yang terakhir, selama empat tahun itu, apakah Anda diajari isi juz’amma atau tidak?
A: ehm … tidak. Kenapa?
B: Berarti Anda tidak diajari menuju Islam yang benar! Bisa jadi sebenarnya Anda diarahkan menuju arah yang salah. Masa ngaji empat tahun, sibuk membahas ttg bid’ah, tapi juz’amma diabaikan? Islam apa itu namanya?

Note:
Islam yang benar adalah islam yang mengutamakan Al-Qur’an, setelah itu hadits, setelah itu baru yang lain.
Kalau setiap pengajian hanya membahas hadits, hadits dan hadits, lalu tema yang ditekankan hanya sebatas bid’ah, bid’ah dan bid’ah saja, sementara Al-Qur’an malah ditinggalkan, berarti itu bukan jalan menuju islam yang benar.
Hasilnya, bisa jadi adalah individu yang sibuk menyalahkan sana-sini, tapi tidak bisa menangkap pesan-pesan Al-Qur’an manakala Al-Qur’an dibacakan.
Islam seperti inikah yang kita anggap sebagai islam yang benar?

Pesan moral:
Kalau ada orang yang mudah mengatakan ini bid’ah itu bid’ah,
mari kita tanyakan “Anda sudah faham juz’amma atau belum?”

Masjid Muhammad Ramadhan Galaxy Diambil Alih dari Tangan Wahhabi

Masjid “Wahabi” kembali diserbu warga, kali ini di Kota Bekasi, dan didukung oleh Pemerintah Kota Bekasi.
Setelah Masjid di Grand Wisata di Kabupaten Bekasi, kali ini adalah Masjid Muhammad Ramadhan di Komplex Galaxy di Kota Bekasi.

Selama yang diajarkan adalah fiqih yang sempit dan mudah membid’ah-bid’ahkan kelompok lain, selama itu pula warga akan terus menyerbu untuk mengambil alih masjid-masjid seperti ini.

Tidakkah ini bisa menjadi pelajaran?

http://www.muslimedianews.com/2014/04/masjid-muhammad-ramadhan-galaxy-diambil.html?m=1

Muslimedianews.com ~ Pengambilan alih Masjid Muhammad Ramadhan di Perum Kompek Galaxy, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan menjadi Masjid Raya Kecamatan Bekasi Selatan diwarnai tembakan peringatan , Minggu (20/4/2014). Pengambilan alih Masjid Muhammad Ramadhan itu dalam rangka untuk dijadikan sebagai Masjid Raya Kecamatan Bekasi Selatan.

Akan tetapi pengambilan alihan itu ditentang oleh pengurus masjid yang notabene adalah kelompok Wahhabi beraliran radikal. Kelompok Wahhabi tidak diterima masjid yang kerap mereka gunakan untuk penebar kebencian itu diambil alih.

Beberapa pihak yang turut hadir dalam proses pengambilan alih itu, antara lain: Camat Bekasi Selatan, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) lama, Ormas Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya. Hadir pula Forum Silturahmi Warga Nahdiyyin (Foswan), Forum Betawi Rempug (FBR) Bekasi Selatan, Pendekar Banten, Front Pemuda Muslim Maluku (FPSM) dan perwakilan warga RW 12, 13 dan 14 Kelurahan Pekayon Kecamatan Bekasi Selatan.

Adanya pengalihan Masjid Muhammad Ramadhan dilakukan karena keinginan warga masyarakat setempat serta surat tembusan dari Wali Kota Bekasi dan disampaikan ke Camat Bekasi Selatan pada Warga Bekasi Selatan RW 12, 13,dan 14.

Pengambil alihan bisa dikatakan sebagai perseteruan real antara pihak Aswaja yang diwakili oleh beberapa ormas dan masyarakat dengan pihak Wahhabi selaku pengurus masjid. Tentu saja kekuatan Aswaja lebih besar daripada segelintir kelompok Wahhabi tersebut.

Dalam situs Tribun News (20/4/2014) diberitakan, bahwa dalam potensi keributan saat proses pengambilan alih sudah diantisipasi oleh pihak kepolisian. Itu sebabnya, sejak Minggu (20/4/2014) pagi, anggota Polisi bersama SatPol PP sudah melakukan penjagaan. Menurut keterangan dari seorang warga sekitar bernama Mustofa (47), awalnya pengambilan alih masjid berlangsung aman. Namun tiba-tiba saja memanas dan memicu keributan hingga petugas kepolisian terpaksa membuang tembakan peringatan.

“Dari pagi masjid ini sudah dapat penjagaan dari polisi. Ributnya pas siang tadi, saya dengar suara tembakan peringatan empat kali dan saya serta beberapa teman berlarian ke arah masjid melihat apa yang terjadi ternyata ada ribut-ribut,” tegas Mustofa.

Rekan dari Mustofa, Almin juga mengatakan adanya tembakan peringatan sebanyak empat kali. Lalu ada massa dari ormas yang berpakaian hitam mendaratkan pukulan ke jemaah masjid. “Saya lihat orang pakai baju hitam memukul jemaat masjid. Itu langsung dilerai polisi dan dibawa ke Polsek Bekasi Selatan,” kata Almin.

Ratusan anggota kepolisian sejak pagi hari telah melakukan penjagaan di sekitar masjid. Sebanyak dua truk polisi terparkir di sekitar masjid, beberapa personel itu pun tersebar tidak hanya fokus di masjid tapi juga di sekitar lingkungan masjid. Selain mendapatkan penjagaan dari pihak kepolisian, puluhan anggota SatPol PP Kota Bekasi juga bersiaga di Kecamatan Bekasi Selatan yang letaknya persis di samping masjid tersebut. (*/)

Fatwa syaikh bin Baz: tarawih 23 rokaat Sunnah

Sebagian orang berpandangan bahwa di antara ciri khas seorang ahlu sunah adalah alergi dengan shalat tarawih 23 rakaat secara mutlak. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Memang benar, kita tentu sangat tidak setuju jika shalat tarawih 23 rakaat dilakukan dengan ngebut.

Perlu diketahui bahwa sebagian ulama ahlu sunah menilai bahwa riwayat shalat tarawih di masa Umar itu 23 rakaat adalah riwayat yang valid. Di antara mereka adalah imam ahlu sunah di zaman ini yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka shalat tarawih 23 rakaat adalah sunnah sahabat dan sunah khulafaur rasyidin.

Andaipun riwayat ini lemah, bukan berarti shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu terlarang karena shalat tarawih adalah bagian dari shalat malam sedangkan shalat malam itu tidak memiliki batas maksimal sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim.

Oleh karena itu di antara anggapan yang kurang tepat adalah kesimpulan sebagian orang bahwa jika riwayat Umar tentang Shalat Tarawih 23 rakaat adalah riwayat yang lemah maka berarti maksimal shalat Tarawih adalah 11 atau 13 rakaat.

Berikut ini adalah penjelasan Syaikh Ibnu Baz tentang masalah ini:

ومن الأمور التي قد يخفى حكمها على بعض الناس:
ظن بعضهم أن التراويح لا يجوز نقصها عن عشرين ركعة،
“Di antara hal yang hukumnya tidak diketahui oleh sebagian orang adalah anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh kurang dari 20 rakaat.

وظن بعضهم أنه لا يجوز أن يزاد فيها على إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة ركعة، وهذا كله ظن في غير محله بل هو خطأ مخالف للأدلة.
Demikian pula anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Kedua anggapan ini adalah anggapan yang tidak pada tempatnya bahkan keduanya adalah anggapan yang menyelisihi banyak dalil.

وقد دلت الأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم على أن صلاة الليل موسع فيها ، فليس فيها حد محدود لا تجوز مخالفته،
Terdapat banyak hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa bilangan rakaat shalat malam itu longgar, tidak ada batasan baku yang tidak boleh dilanggar.

بل ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة، وربما صلى ثلاث عشرة ركعة، وربما صلى أقل من ذلك في رمضان وفي غيره.
Bahkan terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat malam sebanyak 11 rakaat dan terkadang 13 rakaat. Terkadang pula beliau shalat malam kurang dari 11 rakaat ketika Ramadhan atau pun di luar Ramadhan.

ولما سئل صلى الله عليه وسلم عن صلاة الليل قال: مثنى مثنى ، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى . متفق على صحته .
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, beliau mengatakan, “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika kalian khawatir waktu subuh tiba maka hendaknya dia shalat sebanyak satu rakaat sebagai witir untuk shalat malam yang telah dia kerjakan” (HR Bukhari dan Muslim).

ولم يحدد ركعات معينة لا في رمضان ولا في غيره،
Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan jumlah rakaat tertentu untuk shalat malam di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

ولهذا صلى الصحابة رضي الله عنهم في عهد عمر رضي الله عنه في بعض الأحيان ثلاثا وعشرين ركعة، وفي بعضها إحدى عشرة ركعة،
Oleh karena itu para sahabat di masa Umar terkadang shalat tarawih sebanyak 23 rakaat dan terkadang sebanyak 11 rakaat.

كل ذلك ثبت عن عمر رضي الله عنه وعن الصحابة في عهده.
Kedua riwayat tersebut adalah riwayat yang sahih dari Umar dan para sahabat di masa Umar.

وكان بعض السلف يصلي في رمضان ستا وثلاثين ركعة ويوتر بثلاث،
Sebagian salaf ketika bulan Ramadhan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat terus ditambah witir 3 rakaat.

وبعضهم يصلي إحدى وأربعين،
Sebagian salaf yang lain shalat tarawih sebanyak 41 rakaat.

ذكر ذلك عنهم شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وغيره من أهل العلم،
Kedua riwayat di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para ulama selainnya.

كما ذكر رحمة الله عليه أن الأمر في ذلك واسع، وذكر أيضا أن الأفضل لمن أطال القراءة والركوع والسجود أن يقلل العدد، ومن خفف القراءة والركوع والسجود زاد في العدد، هذا معنى كلامه رحمه الله.
Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa permasalahan bilangan shalat malam adalah permasalahan yang ada kelonggaran di dalamnya. Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa yang paling afdhol bagi orang yang mampu untuk berdiri, ruku dan sujud dalam waktu yang lama adalah mempersedikit jumlah rakaat yang dia lakukan. Sedangkan orang yang berdiri, ruku dan sujudnya tidak lama hendaknya memperbanyak jumlah rakaat yang dikerjakan. Inilah inti dari perkataan Ibnu Taimiyyah dalam masalah ini.

ومن تأمل سنته صلى الله عليه وسلم علم أن الأفضل في هذا كله هو صلاة إحدى عشرة ركعة، أو ثلاث عشرة ركعة، في رمضان وغيره؛
Siapa saja yang merenungkan dengan baik sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu dia akan berkesimpulan bahwa bilangan rakaat shalat malam yang terbaik adalah 11 rakaat atau 13 rakaat baik di bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan.

لكون ذلك هو الموافق لفعل النبي صلى الله عليه وسلم في غالب أحواله، ولأنه أرفق بالمصلين وأقرب إلى الخشوع والطمأنينة ، ومن زاد فلا حرج ولا كراهية كما سبق.
Ada dua alasan untuk kesimpulan di atas:
Pertama, itulah yang sesuai dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mayoritas shalat malam yang beliau kerjakan
Kedua, itulah yang lebih mudah bagi banyak orang sehingga orang-orang yang melakukannya bisa lebih khusyu’ dan tenang ketika mengerjakan shalat. Sedangkan orang yang ingin lebih dari 11 atau 13 rakaat maka hukumnya adalah mubah dan tidak makruh sebagai penjelasan di atas”.

Sumber: Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah jilid 15 hal 18-19, terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’ cetakan ketiga 1428 H.

Sumber tulisan ini: Tegar Di Atas Sunnah – http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat

Link fatwanya:
http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaSubjects.aspx?languagename=ar&View=Page&HajjEntryID=0&HajjEntryName=&RamadanEntryID=0&RamadanEntryName=&NodeID=1421&PageID=2734&SectionID=4&SubjectPageTitlesID=41553&MarkIndex=8&0

Aksi merebut masjid dari kaum Wahabi berjalan lancar :: Aswaja

Kasus di Grand Wisata Bekasi, ternyata sudah dua tahun yg lalu terjadi.
Ini pelajaran untuk kita semua. “Dakwah” yang tidak toleran dan hanya memandang benar pendapat sendiri saja, pada akhirnya akan mendapatkan akibatnya.

Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi (semoga saja ada perubahan sikap).

Silakan baca pada link berikut:
http://m.aswaja.webnode.com/news/aksi-merebut-masjid-dari-kaum-wahabi-berjalan-lancar/

Apatis pemilu

A: Ah … malas aku ikut pemilu. Nggak ada hasilnya. Pasti yg terpilih akan korupsi juga.
B: Oh begitu.
A: iya.
B: Kalau ente dicalonkan dan terpilih, apa ente akan korupsi juga?
A: hmm ya nggak dong.
B: Terus kok ente yakin kalo semua calon lain itu pasti korupsi? Memangnya yang bisa baik cuma ente saja?

Pilihlah, karena yang baik bukan hanya Anda!

Menurut Syaikh ‘Utsaimin mengikuti pemilu itu WAJIB!

Watch “العلامة ابن عثيمين : الإنتخابات واجبة” on YouTube – https://www.youtube.com/watch?v=bWiD7uXsAwU&feature=youtube_gdata_player

Isi ceramah syaikh ibnu ‘utsaimin di atas:

أنا أرى أن الانتخابات واجبة, يجب أن نعين من نرى أن فيه خيراً, لأنه إذا تقاعس أهل الخير من يحل محلهم؟ أهل الشر, أو الناس السلبيون الذين ليس عندهم لا خير ولا شر, أتباع كل ناعق, فلابد أن نختار من نراه صالحاً
فإذا قال قائل: اخترنا واحداً لكن أغلب المجلس على خلاف ذلك, نقول: لا بأس, هذا الواحد إذا جعل الله فيه بركة وألقى كلمة الحق في هذا المجلس سيكون لها تأثير

Saya berpendapat, bahwa mengikuti pemilu adalah wajib, wajib bagi kita memberikan pertolongan kepada orang yang kita nilai memiliki kebaikan, sebab jika orang-orang baik tidak ikut serta, maka siapa yang menggantikan posisi mereka? Orang-orang buruk, atau orang-orang yang tidak jelas keadaannya, orang baik bukan, orang jahat juga bukan, yang asal ikut saja semua ajakan. Maka, seharusnya kita memilih orang-orang yang kita pandang adanya kebaikan. Jika ada yang berkata: “Kita memilih satu orang tetapi kebanyakan seisi majelis adalah orang yang menyelesihinya.” Kami katakan: “Tidak apa-apa, satu orang ini jika Allah jadikan pada dirinya keberkahan, dan dia bisa menyatakan kebenaran di majelis tersebut, maka itu akan memiliki dampak baginya.” (Liqo Bab Al-Maftuuh kaset No. 211)