​Radikalis, Islamis, Liberalis

Radikalis adalah orang yang hanya tahu benar salah (versi dia), tapi tidak tahu baik buruk. Itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana, tanpa memperhitungkan baik buruknya, karena yang dia tahu hanya benar salah saja.

Kebalikannya, Liberalis adalah orang yang hanya tahu baik buruk, tapi tidak tahu benar salah. Itu sebabnya dia selalu menyuarakan hal yang dia anggap baik, meskipun sebenarnya tidak benar atau dia melupakan kebenaran di sisi lainnya.

Di antara keduanya, ada kelompok Islamis, yaitu orang yang tahu benar salah, dan juga tahu baik buruk. Dia juga tahu batasan kebenaran mutlak dan batasan kebenaran yang masih bisa ditolerir dengan memperhatikan sudut pandang baik atau buruk.

Contohnya, seseorang yang radikal, dia mungkin rajin sholat Subuh berjamaah di masjid, tapi dia tidak memahami baik buruk, itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana.

Kalau dia adalah Liberalis, mungkin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berperilaku baik, tapi mungkin dia juga akan malas untuk melakukan sholat Subuh berjamaaah di masjid. Ini karena dia hanya tahu baik buruk dan tidak tahu benar salah.

Adapun Islamis, ini adalah orang yang akan menjaga sholat Subuh berjamaah di masjid dan juga akan menjaga agar perilakunya baik terhadap siapa pun juga. Ini karena dia tahu benar salah dan juga tahu baik buruk.

Semoga kita semua bisa menjadi orang Islam yang benar, Aamiin.

​Sikap kita terhadap Khawarij dan ISIS

ISIS zaman ini mirip dengan kaum Khawarij pada zaman Khalifah Ali ra dahulu. Mereka memerangi dan membunuhi kaum muslimin. Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi ISIS? Jawabannya, mari kita lihat bagaimana Khalifah Ali ra menyikapi kaum Khawarij dahulu.
Kaum Khawarij adalah kaum yang telah keluar dari barisan kaum muslimin, itulah sebabnya mereka diberi nama “khawarij” yang artinya adalah “orang-orang yang keluar”. Mereka mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Tapi bagaimana Khalifah Ali ra menyikapi mereka?

Ternyata, Khalifah Ali ra tidak mengkafirkan mereka. Khalifah Ali ra tetap memperlakukan mereka sebagai orang Islam, dan itu artinya mereka tetap diperlakukan sebagai saudara. Bedanya, karena mereka menimbulkan teror di mana-mana, maka Khalifah Ali ra pun memerangi mereka dan menumpas mereka.

Maka, bagaimana sikap kita terhadap ISIS saat ini?

Kalau kita menyikapi mereka sebagai saudara,  disertai dengan sikap memerangi dan menumpas teror-teror yang mereka lakukan, maka sesungguhnya kita telah memahami Islam dengan benar. Tapi kalau kita mengatakan bahwa ISIS bukanlah saudara kita, maka itu artinya kita telah mewarisi sikap kaum Khawarij, yaitu mudah mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Kalau yang terakhir ini adalah sikap kita, maka sadarilah bahwa itu juga menunjukkan keterbatasan ilmu kita. Maka, marilah kita datangi majelis-majelis ilmu agar ilmu kita bertambah, agar kita tidak terjebak menjadi seperti khawarij pada sisi yang berbeda. Pemahaman agama harus disertai dengan ilmu, agar agama bagi kita tidak hanya sekedar warisan belaka.

Mari datangi majelis ilmu!

Zaman Fitnah

Kita hidup pada zaman di mana orang yang tidak hafal rukun Iman tiba-tiba bicara tentang Islam dan politik.

Kita hidup pada zaman di mana wanita yang pakaiannya belum terhijab dengan sempurna,  tiba-tiba bicara tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam dan di luar Islam.

Kita hidup pada zaman di mana laki-laki tidak mau sholat berjamaah di masjid, tapi tiba-tiba bicara tentang bagaimana seharusnya Islam menyikapi teman dan pemimpin.

Kita hidup pada zaman di mana fatwa ulama ditinggalkan dan sebagai gantinya pendapat anak SMA malah didengarkan.

Kita hidup di zaman fitnah.

Semoga kita semua bisa terhindar dari fitnah ini. Pelajarilah Islam, datangilah masjid dan majelis-majelis ilmu, perbaiki diri kita dengan iman, ilmu dan amal, agar kita bisa membedakan mana pendapat ulama dan mana pendapat orang-orang yang tidak mengerti agama.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)

​Takdir dan aliran yang tidak benar

Ada satu ciri utama yang paling mudah untuk kita gunakan untuk menentukan satu aliran itu benar atau salah, yaitu dari dengan cara melihat pemahaman mereka dalam masalah takdir.

Ketika ada aliran yang berkata “jangan menggunakan logika”, sudah jelas ini aliran yang tidak benar, karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menanyakan “Tidakkah kamu berfikir?” atau lainnya.

Demikian pula kalau ada aliran yang mengatakan “jangan ikuti sebab akibat”, ini juga merupakan aliran yang tidak benar, karena sesungguhnya sebab akibat itu telah ditentukan oleh Allah sebagai satu bagian takdir yang harus kita imani.

Demikian pula dengan aliran yang memilih untuk pasrah kepada Allah dengan alasan “tawakkal”,  padahal hal itu bertentangan dengan hukum sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Maka, manakah yang benar?

1. Hujan turun karena awan mendung?

atau

2. Hujan turun karena Allah?

Yang benar adalah yang nomor tiga:

3. Hujan turun karena awan mendung, dan hubungan sebab akibat ini telah ditentukan oleh Allah subhaanahu wa Ta’ala.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nuur: 43)

Barang siapa meyakini hubungan sebab akibat, maka sesungguhnya dia telah beriman pada ketetapan takdir yang telah Allah tetapkan.

​Modern Al-Wahn

Apa itu Al-Wahn? Al-Wahn adalah nama penyakit hati, dan dalam definisi yang paling umum biasanya Al-Wahn ini dimaknai dengan “cinta dunia dan takut mati”.

Dalam dunia modern saat ini, penyakit ini ber-evolusi dalam bentuk yang lebih aktual. Pada masyarakat kelas menengah ke bawah, penyakit ini berubah wujud menjadi sikap “bersedia mengerjakan apa saja asalkan ada bayarannya”.  Contohnya, beberapa lembar rupiah bisa mengubah pilihan dalam pilkada, dan satu kotak nasi bungkus bisa menghadirkan satu orang untuk berdemo. Tidak ada lagi idealisme untuk menjaga hal-hal yang benar, yang ada hanyalah kepentingan sesaat saja.

Adapun pada masyarakat kelas menengah ke atas, penyakit Al-Wahn ini ber-evolusi menjadi pola pikir yang terlihat seolah-olah modernis, toleran dan multi-cultural, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Intinya, semua hal yang berpotensi menimbulkan konflik dihilangkan, apapun masalahnya, bagaimanapun efeknya. Maka, yang muncul adalah masyarakat yang membolehkan segala sesuatu dengan alasan yang seolah-olah karena ingin menjaga sesuatu, padahal sudah tertipu dengan sesuatu itu. Tidak ada lagi proses amar ma’ruf nahi munkar, karena hal itu dianggap tidak lagi toleran dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia yang multi cultural atau lainnya. Yang ada hanyalah pemikiran bagaimana agar kita hidup enak, itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika penyakit ini melanda ummat Islam, maka lemahlah ummat Islam. Karena masyarakat kelas menengah ke bawah sudah bisa dibeli, dan masyarakat kelas menengah ke atas sudah terbuai oleh falsafah hidup enak.

Tidak ada lagi yang berfikir untuk menyebarkan Islam sepertihalnya para sahabat Nabi yang dulu berkelana ke penjuru dunia untuk menyebarkan Islam. Tidak ada lagi yang berfikir untuk memperjuangkan ajaran Muhammad saw, karena ajaran selain itu pun sudah dianggap benar. Tidak ada lagi yang berfikir bahwa Islam sebenarnya punya keagungan untuk bisa membawa manusia dari lembah kegelapan menuju kehidupan yang terang di bawah ridho ilahi, karena Islam sudah menjadi hal biasa, yang boleh diambil ataupun dibuang.

Pada kondisi seperti ini, ummat Islam akan dimangsa oleh ummat lain, dan seolah-olah menjadi buih di lautan meskipun jumlah ummat Islam banyak.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir saja para umat mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah bersabda, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai buih yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Al-Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, ”Apa itu ’Al-Wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Semoga kita semua tidak terkena penyakit ini, aamiin.

Hiduplah pada masa ini

Sebagian ummat Islam seakan-akan hidup di masa lalu. Mereka sangat sibuk membuka-buka lembaran hidup kaum salaf terdahulu, lalu sibuk meng-copy paste kisah itu pada kehidupan saat ini, dengan tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya penempatan kisah tersebut dengan kondisi kita saat ini. Akhirnya, mereka menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah hal yang digunakan oleh generasi salaf terdahulu.

Sebagian lagi seakan-akan hidup di masa datang. Mereka sangat sibuk membahas impian mewujudkan khilafah, sehingga mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar yang sebenarnya bisa dilakukan saat ini. Semua hal diarahkan menuju ketiadaan khilafah, dan solusi jangka pendek tidak pernah diambil karena sibuk memikirkan khilafah di masa datang. Akhirnya, mereka juga menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah sistem yang tepat untuk mewujudkan khilafah di masa datang.

Akibatnya, di masa kita ini, justru orang-orang yang tidak benar-lah yang menjadi pemimpin. Sebagiannya mungkin berasal dari kelompok sempalan Islam yang membenci sahabat nabi, sebagian lagi berasal dari kaum munafik yang tidak peduli lagi tentang perintah-perintah Allah, bahkan tidak lagi meyakini hari akhirat, dan sebagian lagi bahkan berasal dari kalangan ahlul kitab ataupun kaum kafir.

Kalau sudah seperti ini, barulah sebagiannya sadar atas kekeliruan selama ini. Tapi sebagian lagi tetap tidak berubah, dan tetap berpegang pada pendirian masa lalu dan masa datang ini.

Maka, tugas kita adalah, lakukanlah apa yang bisa kita lakukan saat ini. Karena sekecil apapun perbaikan yang kita lakukan, Allah tetap akan membalasnya.

Marilah kita hidup saat ini, untuk beramal saat ini, untuk perbaikan yang bisa kita lakukan saat ini. Insya Allah itu adalah jalan menuju perbaikan di masa mendatang. Karena setiap langkah kebaikan pasti membuahkan kebaikan baru pada langkah berikutnya.

Dan setelah itu, marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan keterbatasan yang kita miliki. Semoga saja Allah mau meringankan beban kita semua, aamiin.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 286)