Surat Al-A’laa dan Ramadhan yang baru saja berlalu

al alaa

Surat Al-A’laa adalah surat yang sering di baca di dalam sholat Ied, terutama di rokaat pertama. Ya, sunnahnya memang seperti itu, meskipun tidak wajib. Dan kesunnahan membaca surat ini juga ada pada sholat Jum’at. Itu sebabnya sekarang pun kita mungkin banyak menemui para imam yang sering membaca surat ini ketika menjadi imam sholat Jum’at.

Sebenarnya, apa isi surat ini?

Surat ini sebenarnya berisi nasihat untuk nabi kita, itu sebabnya yang diajak bicara adalah “kamu”, bukan “kalian”. Karena kalau yang diajak bicara adalah “kamu”, maka biasanya ini mengacu pada nabi kita, kalau yang mengajak bicara adalah Allah atau Malaikat.

Apa isi nasihat tersebut?

Yang pertama, Allah ingin mengingatkan nabi kita agar selalu mensucikan Allah, yang telah menciptakan, menyempurnakan ciptaan, menentukan kadar-kadar (takdir-takdir), memberi petunjuk, juga menumbuhkan rerumputan juga mematikan rerumputan tersebut.
Inilah Allah.

Dialah yang Maha Berkehendak, Maha Mengetahui dan Maha Menolong.

Oleh karena itu, wahai Muhammad, janganlah kamu berputus asa.
Cukuplah bagimu untuk terus memberikan nasihat, tanpa berhenti.
Masalah hasil, serahkan saja pada Kami.

Saat mendengar nasihat itu, orang orang beriman akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang kafir akan menjauhi nasihat tersebut, dan mereka yang menjauhi inilah yang akan masuk neraka. Di sana, mereka tidak hidup, dan juga tidaklah mati.

Dan beruntunglah orang-orang yang mengambil pelajaran dan mau mensucikan diri mereka, yang mau mengingat nama Tuhan-nya, dan mau mendirikan Sholat.

Intinya, teruslah memberi peringatan, wahai Muhammad.
Nanti pasti ada yang menolak dan pasti ada yang menerima.
Yang menolak, biarkan saja, tugasmu hanya menyampaikan.

Sampai di sini adalah nasihat yang diberikan kepada “kamu”, yaitu kepada nabi kita Muhammad saw.

Berikutnya adalah kalimat yang disampaikan kepada “kalian”. Siapakah “kalian” di sini? Apakah orang-orang yang beriman?

Tidak, “kalian” yang dimaksud di sini adalah “orang-orang kafir”.
Apa isi kalimat untuk orang kafir tsb?

Kalian lebih memilih kehidupan dunia, dan melupakan akhirat,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Dan ketentuan ini semua, juga ada dalam kitab nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Ini kalimat untuk orang-orang kafir: melupakan akhirat dan mengutamakan dunia.

Lalu, apakah kita termasuk orang-orang yang mengabaikan akhirat?
Atau lebih suka mengutamakan dunia kita dan berprinsip “jangan bawa-bawa agama” dalam kehidupan kita?
Atau kita berteman dengan orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama”?

Atau kita adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa akhirat itu ada?
Atau kita berteman dengan orang yang tidak yakin bahwa akhirat itu ada?

Atau kita tidak mau percaya pada nasihat dari nabi kita? Atau kita tidak percaya kalau nasihat yang sama pernah disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?

Atau kita malah berteman dengan orang-orang yang tidak percaya keberadaan para nabi?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Nabi kita hanya memberikan peringatan, para ustadz sekarang pun hanya bisa memberikan peringatan, tinggal terserah kita, mau mensucikan Tuhan kita, mau banyak mengingat Tuhan kita, mau sholat, mau banyak beramal baik, atau kita lebih memilih untuk mengabaikan aturan agama dan lebih mementingkan kehidupan dunia? atau lebih memilih untuk berprinsip “jangan bawa-bawa agama”? atau lebih memilih untuk berteman dengan orang-orang seperti ini?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Mari kita baca lagi surat Al-A’laa kita, agar kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Ramadhan baru saja lewat, apa kita mau kembali menjadi orang yang tidak mempedulikan aturan agama dan lagi-lagi berteman dengan orang-orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama” ?

Kalau seperti itu,
berarti kita tidak memahami surat Al-A’laa yang kita bacakan atau yang dibacakan oleh para Imam dalam sholat Iedul Fitri kemarin.

Depok, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H. Continue reading

Hati seterang Matahari

Tadi malam, imam sholat Isya membaca surat Asy-Syams (Matahari).
Isinya, tentu saja tentang Matahari.

Ada saat di mana Matahari terlihat redup, yaitu di waktu Dhuha.
Ada saat di mana Matahari terlihat lebih terang, yaitu ketika bulan juga terlihat.
Ada saat di mana Matahari terlihat sangat terang, di siang hari.
Dan ada saat di mana Matahari sama sekali tidak terlihat, yaitu di waktu malam.

Selanjutnya, Imam membaca ayat “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan hati-nya, dan merugilah orang yang mengotori hatinya”.

Ketika imam membaca ayat itu, secara refleks langsung bertanya pada diri sendiri,
“Seperti apa hati kita?”
Apakah gelap seperti langit malam tanpa Matahari?
Ataukah sedikit kotor karena ada yang menutupi, sepertihalnya Matahari di waktu pagi?
Ataukah sangat bersih seperti terangnya Matahari di siang hari?

Tanpa terasa, jadi ingat dengan dosa-dosa selama ini.

Harusnya hati kita, seterang Matahari.

Ingat, Asy-Syams artinya adalah Matahari.


Depok, 13 Januari 2020

Titik awal Munafik

Apakah ciri yang pertama sekali disampaikan oleh mushaf Al-Qur’an tentang orang Munafik?

Silakan buka Al-Qur’an dari halaman paling depan, di surat Al-Fatihah tidak ada, adanya di surat Al-Baqarah ayat awal, maka akan didapat bahwa ayat pertama tentang orang Munafik adalah ayat berikut:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah, 8)

Inilah ciri pertama yang disampaikan oleh Al-Qur’an tentang orang Munafik: Mereka ngakunya beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal tidak.

Maka tidak heran kalau berikutnya mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51. Bukan karena mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51 ini, tapi karena pada dasarnya mereka memang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Akibatnya, mereka berbuat semaunya.

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka malas untuk diajak ke masjid. Karena untuk apa ke masjid kalau memang pada dasarnya mereka tidak percaya pada hari akhir?

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka tidak amanah, banyak berbohong, tidak menjaga janji atau lainnya. Toh memang mereka tidak yakin bahwa hari akhirat itu ada.

Inilah titik awal munafik, tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera untuk mengamalkan ayat Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah Al-Maidah 51 itu.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera pergi ke masjid saat adzan berkumandang.

Kalau mereka beriman, pasti mereka akan amanah dalam mengerjakan sesuatu, tidak akan berbohong, akan selalu menjaga janji.

Tapi masalahnya, mereka tidak beriman pada Allah dan hari akhir.

Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita introspeksi diri kita masing-masing.

Ahli Kitab yang baik

Sholat Jum’at hari ini Imam membaca potongan surat Ali Imran. Saat mendengar, saya merasa bahwa pesan dalam ayat ini adalah hal baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Ini ayatnya, beserta terjemahannya.

۞لَيۡسُواْ سَوَآءٗۗ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ أُمَّةٞ قَآئِمَةٞ يَتۡلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ وَهُمۡ يَسۡجُدُونَ

Mereka (Ahli Kitab) itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).

يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shalih.

(QS Ali Imran, 113 – 114)

Ternyata, dulu ada ahli kitab yang jujur dalam mengamalkan agamanya. Tapi bukan hal ini yang saya rasakan sebagai “hal baru”. Yang saya rasakan sebagai “hal baru” adalah lanjutannya. Ternyata Ahli Kitab yang baik juga rajin membaca kitab sucinya pada malam hari, dan rajin menjalankan sholat. Dan bukan hanya itu, mereka juga beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam segala sisi kehidupan mereka, serta selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan.

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada.

Lalu, mari kita bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Saat ini, kondisi ummat Islam benar-benar menyedihkan. Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini adanya akhirat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini bahwa kitab sucinya adalah wahyu dari Allah? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas mengerjakan sholat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi ketika diajak untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jawabannya adalah “jangan bawa-bawa agama”? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas kalau diajak untuk berbuat baik?

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada. Tapi itu artinya, orang-orang yang meninggalkan agama juga ada. Semoga saja kita tidak termasuk yang terakhir ini.

Kalau pada kaum ahli kitab dahulu saja ada orang yang bisa menjadi baik, mengapa kita tidak mau menjadi orang baik pada masa kita saat ini?

Imam membaca surat sampai di sini, lalu ruku’. Pikiran saya pun berhenti di sini.
Semoga saja sholat Jum’at kali ini ada berkahnya, aamiin.

Jakarta, 1 Nov 2019 (4 Rabiul Awwal 1441 H)

Belum bisa memaknai Ibadah Qurban?

Ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan segalanya utk agama, sekarang banyak yg hanya mau mengorbankan kambing saja.

Giliran disuruh ke masjid, berat.

Giliran disuruh menggunakan aturan Islam, menolak.

Semoga dari ibadah Qurban kemarin, ada pelajaran baru yang bisa kita terima. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Aamiin.

🙏🏽🙏🏽🙏🏽

Konsep Taqdir dalam menyikapi apa-apa yang SUDAH TERJADI

Jangan terlalu gembira dgn apa yang kita dapat, dan jangan terlalu sedih terhadap apa yg tidak kita dapatkan, karena semua sudah ada yg ngatur.
👆🏽
ini konsep takdir dalam Islam utk menyikapi apa2 yang sudah terjadi.

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS Al-Hadid, 23)

👆🏽
Kalau utk orang Indonesia, banyak yg salah menerapkan ayat ini untuk menyikapi hal-hal yg belum terjadi. Dan ini seringkali mengakibatkan munculnya sikap malas.

Kita ummat Islam adalah ummat yang dididik untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan, tapi ketika hasil sudah ditentukan maka kita tidak boleh terlalu gembira ataupun terlalu sedih, karena semua yang terjadi pada dasarnya adalah “sudah ada yang ngatur”.

Tingkatan orang dalam beragama

1. Tidak kenal agama.
2. Mengamalkan agama sebatas ritual saja.
3. Mengamalkan agama sebagai petunjuk dalam semua sisi kehidupan.

Yang benar adalah yang nomor 3.

Kita sendiri, termasuk yang mana?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah, 208)

Yaasiin 20-27

Surat Yaasiin ayat 20-27 menjelaskan tentang orang biasa, bukan nabi, bukan wali, bukan ulama, bukan kyai, juga bukan ustadz. Dia adalah orang biasa, tapi dia punya satu perbedaan dengan orang lain pada umumnya: Dia bersedia mati-matian membela Nabi, wali, ulama, kyai ataupun Ustadz, meskipun dia harus berkorban waktu, tenaga ataupun uang.

Ada orang yang harus bertugas untuk menyampaikan, dan ada orang yang harus bertugas membantu proses penyampaian ini. Dan dua kelompok ini, dua-duanya dijanjikan masuk surga.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

Jangan sampai kita termasuk ke dalam kelompok yang tidak peduli agama, atau bahkan memusuhi para ulama.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”

(QS. Yaasiin, 20-27)

Yaasiin 13-19

Surat Yaasiin ayat 13-19 menjelaskan kisah tentang tiga orang utusan sebelum era Nabi Muhammad saw. Mereka dikirim pada satu kaum secara bersamaan, untuk mendakwahkan Islam. Tapi kaum tersebut menolak ajaran yang disampaikan oleh tiga utusan tadi, dan tidak hanya itu, bahkan kaum itupun mengancam akan menyiksa tiga utusan utusan tadi.

Kisah ini diturunkan dengan beberapa tujuan. Yang pertama, tentu saja, ini adalah peringatan untuk orang-orang yang tidak mau beragama, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mau diajak untuk beragama memang ada dari dulu, dan mereka adalah orang-orang yang akan masuk neraka.

Tujuan lainnya adalah penguat semangat bagi para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz, agar jangan patah semangat kalau bertemu dengan orang-orang yang menolak kalau diajak bicara masalah agama, dan bahkan mungkin mereka akan memerangi dakwah yang disampaikan itu. Memang ada orang-orang seperti itu, dan oleh karena itu, para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz tidak perlu bersedih hati kalau dakwah mereka dihalang-halangi.

Ini adalah ayat untuk memompa semangat para pendakwah untuk terus bersemangat mendakwahkan ajaran Islam pada semua orang, siapapun mereka, tentunya dengan cara yang baik.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi lemah semangat dalam mendakwahkan Islam?
Berarti kita belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita baca.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi belum pernah mendakwahkan Islam?
Berarti kita menutup diri atas hikmah yang ada di dalam ratusan ayat Al-Qur’an, yang memang ditujukan pada orang-orang yang mendakwahkan Islam.

Kita adalah orang-orang yang tidak mau tahu masalah agama?
Jangan-jangan, kita termasuk kelompok yang disebutkan dalam ayat di atas?

Dulu dan sekarang

Dulu, sahabat nabi menomorsatukan agamanya. Jangankan diajak sholat ke masjid, diajak perang pun mereka berlomba-lomba mengerjakannya.

Sekarang, banyak orang menomorsekiankan agamanya. Jangankan diajak perang, diajak sholat ke masjid pun ada saja alasannya.

Semoga kita termasuk kelompok yang pertama, bukan kelompok yang kedua. Jadikanlah agama ini sebagai perkara nomor satu, dan jadikanlah nabi kita sebagai orang pertama yang kita dengarkan ucapannya, karena itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang beriman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa, ayat 65)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhari)

Ini Islam yang benar, dan ini bukan radikal.