Salah memahami hukum sholat berjamaah di masjid (2)

Satu hal lain yang membuat ummat Islam di Indonesia salah memahami hukum sholat berjamaah di masjid adalah karena ada kesalahan dalam menyikapi makna “sunnah“.

Dulu, para shahabat nabi berlomba-lomba dalam mengerjakan suatu hal, karena hal itu adalah “sunnah“. Sedangkan saat ini, banyak orang meninggalkan suatu amal karena hukum amal tersebut “hanya sunnah“.

Kembali pada masalah sholat berjamaah di masjid untuk sholat yang lima waktu, hukum fiqihnya berkisar di antara sunnah muakkadah, fardhu kifayah, dan fardhu ‘ain. Dan menurut mayoritas madzhab Syafi’i, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Di sinilah letak masalahnya.

Apakah para ulama madzhab Syafi’i salah ketika menetapkan fatwa bahwa hukum sholat berjamaah di masjid untuk sholat lima waktu adalah sunnah muakkadah? Tentu saja tidak. Tapi yang salah adalah penerimaan masyarakat terhadap fatwa tsb. Masyarakat menangkap fatwa tersebut dengan makna “berarti tidak perlu pergi ke masjid ya? Khan hanya sunnah?“. Inilah pemahaman yang salah besar.

Yang benar adalah, ketika para ulama madzhab Syafi’i menetapkan bahwa hukum sholat berjamaah di masjid untuk sholat lima waktu adalah Sunnah Muakkadah, maka mereka para ulama itu sendiri selalu mengerjakan sholat berjamaah di masjid, karena itu adalah Sunnah Muakkadah. Karena makna sunnah muakkadah adalah “selalu dikerjakan dan tidak pernah ditinggalkan, kecuali ketika ada hal-hal yang menghalangi“, dan makna sunnah muakkadah bukan malah menjadi “selalu ditinggalkan” seperti yang banyak dipahami masyarakat saat ini.

Jadi, sholat berjamaah lima waktu di masjid, hukumnya adalah SEHARUSNYA SELALU DIKERJAKAN (KECUALI KALAU ADA HAMBATAN), dan bukan malah SELALU DITINGGALKAN. Inilah makna Sunnah Muakkadah yang benar.

Advertisements

Salah memahami hukum sholat berjamaah di masjid

Nabi kita, dulu, selalu sholat berjamaah di masjid untuk sholat yang lima waktu setiap hari, dan tidak pernah melakukan sholat wajib di rumah, kecuali saat beliau sedang sakit. Ini menunjukkan, bahwa sholat berjamaah di masjid itu hukumnya mendekati wajib untuk sholat wajib yang lima waktu itu.

Akan tetapi, mayoritas ummat Islam di Indonesia yang laki-laki, sepertinya memahami bahwa yang namanya ke Masjid itu hanya “seminggu sekali” saja, yaitu pada sholat Jum’at saja. Padahal pemahaman ini tidak benar. Yang benar adalah, sholat yang lima waktu itu pun hukumnya mendekati wajib untuk bisa dilakukan secara berjamaah di masjid.

Inilah contoh dari nabi kita, dan ini pula-lah yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’annya, ketika menjelaskan tentang tata cara sholat berjamaah saat kita berada dalam kondisi perang. Jadi, dalam kondisi berperang pun sholat lima waktu harus tetap dilakukan secara berjamaah, maka bagaimana hukumnya sholat lima waktu yang dilakukan pada waktu-waktu damai?

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersholat, lalu bersholatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. …” (QS. An-Nisaa, 102)

Memperbaiki diri vs Memperbaiki Lingkungan

Islam itu:
1. Memperbaiki diri.
2. Lalu memperbaiki lingkungan.

Di tengah kerusakan yang menyebar ke mana-mana, kalau ada yang mengatakan bahwa kita harus sibuk dengan “memperbaiki diri saja”, berarti yang mengatakan hal itu:

1. Dia tidak memahami bagaimana Islam yang benar.
Atau,
2. Dia ingin agar kerusakan itu tetap ada di tengah masyarakat. 😰

Perbaikilah diri kita dengan sholat dan ibadah lainnya, lalu aktiflah memperbaiki lingkungan kita, dan kita harus bersabar dalam melakukan semua itu. Karena baik memperbaiki diri maupun memperbaiki lingkungan, dua-duanya tidak mudah dan mungkin kita akan menemui banyak hambatan di dalamnya.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman, 17)

Yaasiin 20-27

Surat Yaasiin ayat 20-27 menjelaskan tentang orang biasa, bukan nabi, bukan wali, bukan ulama, bukan kyai, juga bukan ustadz. Dia adalah orang biasa, tapi dia punya satu perbedaan dengan orang lain pada umumnya: Dia bersedia mati-matian membela Nabi, wali, ulama, kyai ataupun Ustadz, meskipun dia harus berkorban waktu, tenaga ataupun uang.

Ada orang yang harus bertugas untuk menyampaikan, dan ada orang yang harus bertugas membantu proses penyampaian ini. Dan dua kelompok ini, dua-duanya dijanjikan masuk surga.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

Jangan sampai kita termasuk ke dalam kelompok yang tidak peduli agama, atau bahkan memusuhi para ulama.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”

(QS. Yaasiin, 20-27)

Yaasiin 13-19

Surat Yaasiin ayat 13-19 menjelaskan kisah tentang tiga orang utusan sebelum era Nabi Muhammad saw. Mereka dikirim pada satu kaum secara bersamaan, untuk mendakwahkan Islam. Tapi kaum tersebut menolak ajaran yang disampaikan oleh tiga utusan tadi, dan tidak hanya itu, bahkan kaum itupun mengancam akan menyiksa tiga utusan utusan tadi.

Kisah ini diturunkan dengan beberapa tujuan. Yang pertama, tentu saja, ini adalah peringatan untuk orang-orang yang tidak mau beragama, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mau diajak untuk beragama memang ada dari dulu, dan mereka adalah orang-orang yang akan masuk neraka.

Tujuan lainnya adalah penguat semangat bagi para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz, agar jangan patah semangat kalau bertemu dengan orang-orang yang menolak kalau diajak bicara masalah agama, dan bahkan mungkin mereka akan memerangi dakwah yang disampaikan itu. Memang ada orang-orang seperti itu, dan oleh karena itu, para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz tidak perlu bersedih hati kalau dakwah mereka dihalang-halangi.

Ini adalah ayat untuk memompa semangat para pendakwah untuk terus bersemangat mendakwahkan ajaran Islam pada semua orang, siapapun mereka, tentunya dengan cara yang baik.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi lemah semangat dalam mendakwahkan Islam?
Berarti kita belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita baca.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi belum pernah mendakwahkan Islam?
Berarti kita menutup diri atas hikmah yang ada di dalam ratusan ayat Al-Qur’an, yang memang ditujukan pada orang-orang yang mendakwahkan Islam.

Kita adalah orang-orang yang tidak mau tahu masalah agama?
Jangan-jangan, kita termasuk kelompok yang disebutkan dalam ayat di atas?

Dulu dan sekarang

Dulu, sahabat nabi menomorsatukan agamanya. Jangankan diajak sholat ke masjid, diajak perang pun mereka berlomba-lomba mengerjakannya.

Sekarang, banyak orang menomorsekiankan agamanya. Jangankan diajak perang, diajak sholat ke masjid pun ada saja alasannya.

Semoga kita termasuk kelompok yang pertama, bukan kelompok yang kedua. Jadikanlah agama ini sebagai perkara nomor satu, dan jadikanlah nabi kita sebagai orang pertama yang kita dengarkan ucapannya, karena itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang beriman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa, ayat 65)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhari)

Ini Islam yang benar, dan ini bukan radikal.