Khawarij vs Munafik

Khawarij adalah kelompok yang “keluar” dari ummat Islam, mereka menyendiri, membuat kelompok sendiri, dan aktif menyerang orang lain, bahkan pada sesama muslim. Kalau di zaman sekarang ini, mungkin kelompok yang menebar bom di Indonesia adalah kelompok yang pantas mendapat gelar Khawarij.

Sedangkan Munafik adalah kelompok yang bersembunyi di dalam barisan ummat Islam. Mereka mengakunya Islam, padahal bukan. Mereka mengakunya beriman, padahal tidak. Sebagian dari mereka menyembunyikan kemunafikan mereka di dalam hati, sebagian lagi menampakkannya dalam bentuk ucapan-ucapan yang mencela agama Islam, dan sebagian lain bahkan terang-terangan menyerang kelompok Islam, dan yang di saat yang bersamaan mereka sendiri tetap ingin disebut sebagai Muslim.

Apakah Khawarij salah?
Ya.

Apakah Munafik salah?
Jawabannya juga, ya.

Lalu manakah yang lebih baik dari dua kelompok ini?
Dua-duanya tidak baik, tapi Munafik jauh lebih buruk dari Khawarij.

Mengapa?
Karena Khalifah Ali ra, beliau menghukumi kaum Khawarij pada masanya sebagai “muslim yang berdosa”. Artinya, mereka berdosa besar, dan Insya Allah akan masuk neraka. Tapi karena mereka masih mau menerima Allah sebagai Tuhan mereka, dan Muhammad sebagai nabi mereka, maka mereka lulus batas minimal menjadi orang Islam. Jadi, setelah dosa-dosa mereka habis dibakar di neraka, mereka tetap punya kesempatan untuk bisa masuk Surga.

Sedangkan kaum Munafik, mereka dihukumi langsung oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang akan kekal di neraka. Artinya, dosa mereka tidak akan pernah diampuni, karena mereka pada dasarnya memang tidak beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw.

Di zaman sekarang, apakah ada kelompok Khawarij?
Orang-orang yang melakukan pemboman di negara Indonesia yang aman ini, yang menolak pemerintah yang sah dan malah berniat untuk menggulingkan negara ini, dan mereka melakukan itu dengan menggunakan penafsiran agama (yang keliru) sebagai pembenarannya, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri Khawarij.

Adapun orang-orang Munafik, apakah mereka ada di zaman ini?
Ada. Mereka adalah orang-orang yang mengaku Islam, yang sebenarnya membenci agama Islam, dan selalu sibuk menjelek-jelekkan agama Islam, dan sekarang ini mereka sering mengangkat keburukan kaum Khawarij UNTUK MENJELEK-JELEKKAN ISLAM, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri kaum Munafik.

Kalau masih belum yakin, cobalah ajak mereka untuk sholat berjamaah di masjid.
Kalau mereka menolak, maka besar kemungkinan, mereka memang kelompok Munafik.

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat melainkan dalam keadaan malas” (QS. At Taubah: 54).

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

​Radikal, Liberal dan Agama Warisan

Kaum radikal adalah kaum yang menuhankan nilai-nilai kebenaran, dan mengabaikan nilai-nilai kebaikan. Ini semua karena mereka memahami agama ini hanya dalam masalah benar-salah saja, dan mereka tidak mendapatkan ilmu yang cukup tentang indahnya muamalah dalam islam atau lainnya. Mereka mungkin tidak pernah mendengar kisah tentang Nabi kita yang menyuapi orang kafir yang sudah tua, atau kisah  tentang nabi kita yang amat menyayang anak kecil, atau kisah tentang nabi kita yang amat menghormati orang tua, apapun agamanya, atau kisah tentang nabi kita yang amat baik akhlaknya terhadap keluarganya, tetangganya ataupun tamunya, atau kisah tentang seseorang yang masuk surga karena keindahan akhlaknya, atau kisah tentang hal lainnya. Itu sebabnya mereka akan memahami agama ini hanya dari sisi kerasnya saja. Lalu mereka berjuang mati-matian untuk selalu mengobarkan peperangan, meskipun harus mengorbankan kedamaian.

Sebaliknya, kaum Liberal adalah kaum yang menuhankan nilai-nilai kebaikan, dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran. Ini semua karena mereka memahami agama ini hanya dalam masalah baik-buruk saja, dan mereka tidak mendapatkan ilmu yang cukup tentang beratnya perjuangan orang-orang terdahulu  dalam mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran agama Islam ini. Mereka mungkin tidak pernah dengar kisah tentang Nabi Musa as yang dikejar-kejar oleh Fir’aun, atau kisah tentang Nabi Isa as yang diburu oleh pasukan Romawi, atau kisah tentang Ashaabul Ukhdud yang membunuhi kaum beriman dengan cara membakar mereka dalam parit berapi, atau kisah tentang nabi kita sendiri yang diboikot selama tiga tahun dan diperangi oleh pamannya sendiri, atau kisah tentang Abu Bakar ra yang membasmi kelompok yang murtad, atau kisah tentang Umar bin Khattab ra yang berperang melawan imperium Persia dan Romawi, atau kisah  tentang Khalifah Utsman ra dan Khalifah Ali ra yang memerangi para pemberontak, atau kisah tentang salah satu sahabat nabi kita yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang terpaksa harus berperang melawan ayahnya sendiri dalam perang Badar, atau kisah tentang Hussein bin Ali ra yang terbunuh dalam menghadapi pemimpin yang dzalim, atau lainnya. Itu sebabnya mereka akan memahami agama ini hanya dari sisi enaknya saja. Maka, mereka mungkin akan mati-matian memperjuangkan konsep hidup damai dan hidup enak, meskipun harus mengorbankan prinsip kebenaran dalam agama ini.

Dua kelompok ini, yaitu kelompok radikal dan kelompok liberal, mereka muncul karena satu sebab yang sama: karena mereka timpang dalam memahami agama ini.

Maka, marilah kita datangi majelis ilmu, agar kita bisa memahami agama kita ini dengan benar dan seimbang, dan agar agama kita tidak hanya sekedar menjadi agama warisan saja. Karena kalau agama kita hanya sekedar agama warisan saja, maka kita mungkin tidak akan tahu apakah kita sebenarnya mewarisi pemahaman yang radikal atau pemahaman yang liberal.

Mari kita datangi majelis ilmu!

​Radikalis, Islamis, Liberalis

Radikalis adalah orang yang hanya tahu benar salah (versi dia), tapi tidak tahu baik buruk. Itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana, tanpa memperhitungkan baik buruknya, karena yang dia tahu hanya benar salah saja.

Kebalikannya, Liberalis adalah orang yang hanya tahu baik buruk, tapi tidak tahu benar salah. Itu sebabnya dia selalu menyuarakan hal yang dia anggap baik, meskipun sebenarnya tidak benar atau dia melupakan kebenaran di sisi lainnya.

Di antara keduanya, ada kelompok Islamis, yaitu orang yang tahu benar salah, dan juga tahu baik buruk. Dia juga tahu batasan kebenaran mutlak dan batasan kebenaran yang masih bisa ditolerir dengan memperhatikan sudut pandang baik atau buruk.

Contohnya, seseorang yang radikal, dia mungkin rajin sholat Subuh berjamaah di masjid, tapi dia tidak memahami baik buruk, itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana.

Kalau dia adalah Liberalis, mungkin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berperilaku baik, tapi mungkin dia juga akan malas untuk melakukan sholat Subuh berjamaaah di masjid. Ini karena dia hanya tahu baik buruk dan tidak tahu benar salah.

Adapun Islamis, ini adalah orang yang akan menjaga sholat Subuh berjamaah di masjid dan juga akan menjaga agar perilakunya baik terhadap siapa pun juga. Ini karena dia tahu benar salah dan juga tahu baik buruk.

Semoga kita semua bisa menjadi orang Islam yang benar, Aamiin.

​Sikap kita terhadap Khawarij dan ISIS

ISIS zaman ini mirip dengan kaum Khawarij pada zaman Khalifah Ali ra dahulu. Mereka memerangi dan membunuhi kaum muslimin. Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi ISIS? Jawabannya, mari kita lihat bagaimana Khalifah Ali ra menyikapi kaum Khawarij dahulu.
Kaum Khawarij adalah kaum yang telah keluar dari barisan kaum muslimin, itulah sebabnya mereka diberi nama “khawarij” yang artinya adalah “orang-orang yang keluar”. Mereka mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Tapi bagaimana Khalifah Ali ra menyikapi mereka?

Ternyata, Khalifah Ali ra tidak mengkafirkan mereka. Khalifah Ali ra tetap memperlakukan mereka sebagai orang Islam, dan itu artinya mereka tetap diperlakukan sebagai saudara. Bedanya, karena mereka menimbulkan teror di mana-mana, maka Khalifah Ali ra pun memerangi mereka dan menumpas mereka.

Maka, bagaimana sikap kita terhadap ISIS saat ini?

Kalau kita menyikapi mereka sebagai saudara,  disertai dengan sikap memerangi dan menumpas teror-teror yang mereka lakukan, maka sesungguhnya kita telah memahami Islam dengan benar. Tapi kalau kita mengatakan bahwa ISIS bukanlah saudara kita, maka itu artinya kita telah mewarisi sikap kaum Khawarij, yaitu mudah mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Kalau yang terakhir ini adalah sikap kita, maka sadarilah bahwa itu juga menunjukkan keterbatasan ilmu kita. Maka, marilah kita datangi majelis-majelis ilmu agar ilmu kita bertambah, agar kita tidak terjebak menjadi seperti khawarij pada sisi yang berbeda. Pemahaman agama harus disertai dengan ilmu, agar agama bagi kita tidak hanya sekedar warisan belaka.

Mari datangi majelis ilmu!

Jangan seperti Khawarij

Salah satu ciri khas kaum Khawarij adalah sering menyerang kaum muslim lainnya dengan menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir.

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Lantas, apa contoh ayat yang sebenarnya ditujukan untuk orang kafir tapi sering digunakan untuk menyerang sesama muslim?

Di bawah ini adalah contohnya.

1. Ayat ‘Aamilatun Naashibah

Ini adalah ayat ketiga dalam surat Al-Ghaashiyah:

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

“bekerja keras lagi kepayahan,”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang menolak bahwa Allah adalah pencipta langit, bumi, gunung dan hewan-hewan, sebagaimana telah disebutkan dalam ayat 17 sampai 20 dalam surat yang sama.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,”

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “bekerja keras lagi kepayahan” ini untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang akan masuk neraka dengan kepayahan karena amal bid’ah mereka telah sia-sia. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

2. Ayat yuhsinuuna sun’aa

Ini adalah ayat nomor 104 dalam surat Al-Kahfi:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang tidak mau menerima ayat-ayat Allah dan mereka tidak meyakini bahwa mereka nanti akan kembali kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikutnya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “yang telah sia-sia perbuatannya dan mereka menyangka bahwa amal mereka itu baik” ini  untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang telah tertipu oleh amalan mereka sendiri. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka juga mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

3. Ayat “mengikuti mayoritas”

Ini adalah ayat nomor 116 dalam surat Al-An’aam:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Ayat ini turun kepada nabi kita agar nabi kita tidak mengikuti kaum kafir yang jumlahnya mayoritas saat itu. Artinya, yang dimaksud dengan kelompok yang jumlahnya banyak di sini adalah kaum kafir, bukan kaum muslimin. Akan tetapi, ayat ini sering dipakai oleh sebagian ummat Islam untuk menyalahkan kelompok mayoritas yang ada di dalam tubuh ummat Islam sendiri. Akhirnya, muncullah kelompok  minoritas muslim yang menuduh sesat pada kelompok mayoritas muslim, sama seperti ketika kaum khawarij dulu menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kelompok yang sesat.

Bagaimana mungkin, Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk bermusyawarah dalam setiap urusan kita, tiba-tiba berubah menjadi kitab yang menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kaum yang telah tersesat? Dan semua ini terjadi karena ayat yang berbicara tentang orang kafir ternyata dibelokkan artinya menjadi berbicara tentang ummat Islam.


Demikianlah tiga contoh ayat Al-Qur’an yang sebenarnya berbicara tentang orang kafir, tapi sering digunakan oleh sebagian orang untuk mensifati sesama muslim.

Semoga kita semua bisa terhindar dari pemahaman seperti ini, karena hal ini adalah salah satu ciri kaum Khawarij.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Puber Beragama

Dulu aku tidak mengenal agama.
Aku hidup apa adanya, seperti orang biasa.
Lalu tiba-tiba, ada yang mengajak ikut pengajian, katanya namanya “kajian ilmiah“.
Di situ, aku mulai dapat banyak hal baru,
dan mulailah aku “berubah“.

Aku yang dulu berteman dengan siapa saja, sekarang hanya mau berteman dengan orang yang celananya cingkrang dan berjenggot.
Orang yang hormat bendera kukatakan sebagai pengikut kesyirikan.
Orang yang ikut pemilu, aku musuhi habis-habisan, karena bagiku mereka adalah pemuja sistem kafir.
Orang yang suka Nasyid aku bid’ahkan sebid’ah-bid’ahnya.
Orang yang tarawihnya 23 roka’at, aku katakan sebagai ahli bid’ah.
Orang yang tahlilan, kukatakan sebagai orang yang sesat.

Sampai akhirnya kutemui,
tenyata celana cingkrang itu hanya ikhtilaf.
Jenggot juga, ada ikhtilaf penafsiran di situ.
Hormat bendera, ternyata ustadz generasi berikutnya bilang bahwa itu boleh.
Ikut pemilu, ternyata ustadz muda kebanggaanku malah menyuruhku untuk ikut pemilu.
Nasyid, ternyata banyak ulama yang membolehkan.
Tarawih, ternyata fatwa baru menyebutkan bahwa 23 rokaat pun boleh, dan lebih baik ikut imam di masjid.
Tahlilan dan makan jamuan di dalamnya, ternyata ulama kebanggaanku memasukkannya ke dalam muamalah yang diperbolehkan.

Ya Allah,
semua yang dulu kucela,
ternyata tidak salah.

Lalu mau disimpan di mana mukaku ini?

Sekarang kulihat banyak anak muda yang sama sepertiku dulu.
Mereka adalah generasi “puber beragama“,
yang tidak punya latar belakang agama yang cukup,
lalu dicekoki oleh menu indah berlabel “menghidupkan sunnah“,
padahal isinya hanyalah doktrin untuk mengikuti satu pendapat,
dan menyalahkan yang lain.

Semoga saja mereka bisa segera dewasa,
dan bisa segera meninggalkan masa “puber beragama” tersebut,
agar mereka tidak perlu menanggung malu di kemudian hari.

Aamiin, Ya Robbal ‘aalamiin.

Pesan:
– jagalah ibadah, indahkan akhlak, itulah islam yang benar.
– jauhilah ajaran yang sibuk mengajarkan tema bid’ah.
– bergabunglah dengan ummat Islam di sekeliling kita, itulah jalan menuju ummat yang kuat.
– jangan seperti anak kecil yang baru nemu mainan, yang akan marah kalau mainannya dinomorduakan.
– jangan tersihir dengan ucapan “telah berkata syaikh anu bin anu bin anu“, sadarilah, mungkin ada ribuan ulama lain yang berbeda pendapat.
– belajarlah dari banyak ustadz, karena sempitnya wawasan akan sulit untuk membuat kita dewasa.

Semoga bermanfaat.

Depok, 13 Juni 2016

Isa Ismet Khumaedi