Taqdir vs Vaksinasi

Karena beriman pada taqdir, maka dulu para ilmuwan islam berlomba-lomba menyingkap rahasia kadar-kadar taqdir Allah dalam dunia kedokteran. Mereka membuat vaksin dan lainnya, untuk mencegah penyakit atau pandemi, berdasarkan kadar-kadar taqdir yang telah Allah tetapkan. Akhirnya, mereka memimpin dunia.

Sekarang, ada yang menolak vaksinasi dengan alasan “takut menyalahi taqdir” 😦 . Akhirnya dunia Islam ketinggalan dalam masalah ilmu dan teknologi, karena taqdir hanya dimaknai sebatas “menerima nasib” saja.

Perbedaan pemahaman, bisa menyebabkan hasil yang jauh berbeda.

Kita sendiri, bagaimana pemahaman kita dalam masalah taqdir ini?

Berqurban, tapi menomorduakan agama?

Arti “qurban” itu bukan “motong sapi” atau “motong kambing”.

Arti “qurban” itu adalah “mendekatkan diri”, dan di sini maknanya adalah “mendekatkan diri kepada Allah”.

Karena dulu, Nabi Ibrahim diuji oleh Allah: “Pilih Aku atau pilih yang lain?”, kira-kira seperti itu pertanyaannya.
Jawaban Nabi Ibrahim adalah “memilih Allah”.

Atas jawaban itulah Nabi Ibrahim diuji, diminta untuk menyembelih putranya sendiri.
Dan Nabi Ibrahim-pun lulus dari ujian ini, karena beliau rela mengorbankan anak-nya sendiri agar bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Maka, sampailah ke kita sekarang ritual “qurban” ini.

Secara simbolik, kita memang diminta untuk menyembelih kambing atau sapi.
Tapi sebenarnya, kita ditanya: “Anda mau mengorbankan apa saja untuk Allah atau tidak?”

Kalau kita sudah membayar biaya kambing qurban atau sapi qurban, tapi kita masih tetap menomorduakan agama, itu artinya kita belum tahu apa makna dari ibadah qurban ini.

Mari kita introspeksi diri.

Apa penyebab utama kematian di Indonesia?

Apa penyebab utama kematian di Indonesia?

Jawaban secara medis adalah, secara umum ada beberapa penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu:

  • Stroke dan Pembuluh Darah, ini yang paling banyak, hampir 35%.
  • Penyakit infeksi, seperti TBC
  • Kanker
  • Diabetes
  • Penyakit Paru Osbstruktif Kronis (PPOK) yang 90%-nya adalah perokok.

Ini secara medis.

Kalau secara umum, sebenarnya apa penyebab utama kematian di Indonesia?

Ada satu hal yang sebenarnya merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, dan mungkin hanya berlaku untuk orang Indonesia saja, dan secara khusus mungkin hanya berlaku bagi orang Islam yang ada di Indonesia saja.
Hal itu adalah: keyakinan bahwa kematian itu sudah ditentukan.

Berdasarkan keyakinan yang tidak benar inilah, akhirnya mayoritas orang Indonesia hidup semau-nya saja, dan akhirnya banyak yang mati muda melalui penyakit-penyakit di atas.

Saya pernah tanya pada satu orang Jepang, mengapa orang Jepang umurnya lebih panjang dari orang Indonesia?
Jawabannya sederhana: Lihat saja postur tubuhnya, orang Indonesia banyak yang gemuk, sedangkan orang Jepang lebih ramping. Dan lihat pula makanannya, orang Indonesia tiap hari makan minyak, itu jelas merusak badan.

Itu jawaban dari orang Jepang, dan itu benar sekali.

Orang-orang kita, cenderung gemuk, dan makanan kita, setiap hari selalu mengandung minyak.
Maka tidak heran kalau stroke dan pembuluh darah, serta kanker dan diabetes menjadi penyakit yang dominan di sini.

Kenapa bisa seperti ini?
Karena kita orang Islam Indonesia punya keyakinan “kematian itu sudah ditentukan”, akhirnya kita hidup semau kita!

Nah, apakah benar kematian itu sudah ditentukan?

Ini penjelasannya.

Kita orang Islam, dan tuhan kita itu Allah, yang Maha Tahu.
Artinya, Allah sudah tahu kapan kita akan mati, karena Dia memang Maha Tahu.
Bayangkan kalau tuhan kita tidak tahu masa depan, apa pantas Dia kita panggil sebagai Tuhan?
Tidak, khan?
Nah, inilah sudut pandangnya.

Dalam Islam, Allah itu Maha Tahu segalanya, artinya, kapan kita mati pun Dia sudah tahu.
Dan itu artinya, kematian kita sudah diketahui jauh sebelum kematian itu sendiri terjadi.
Dengan kata lain, sudah ada suratan taqdir yang akan kita lalui, dan hal itu sudah Allah ketahui, dan kita pasti akan sesuai dengan apa yang telah Allah ketahui tersebut.

Tapi masalahnya, apa kita terpaksa mengikuti suratan taqdir itu?

Jawabannya adalah tidak.

Bagi Allah, apa yang akan kita lakukan pasti akan mengikuti suratan taqdir itu, karena Dia memang Maha Tahu.
Tapi bagi kita, harusnya kita berkeyakinan bahwa, apa yang akan kita lakukan, itulah yang akan menjadi taqdir kita, karena kita tidak tahu masa depan kita.

Seperti itu pulalah kematian.

Allah sudah tahu kapan kita akan mati, dengan cara bagaimana, dan lain sebagainya.
Ini artinya, kematian kita sudah DIKETAHUI dari awal.
Ingat, DIKETAHUI, bukan DITENTUKAN.
Ini keterbatasan bahasa Indonesia yang selalu mengartikan Taqdir sebagai DITENTUKAN, padahal sebagian konsep Taqdir itu sebenarnya mengacu pada makna DIKETAHUI.

Jadi, kapan kita mati, itu sudah DIKETAHUI.
Tapi kita sendiri tidak tahu.
Maka, tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin agar kita tidak mati, termasuk di dalamnya adalah mengusahakan agar kita tetap hidup sehat.

Jadi, jangan bilang kematian sudah ditentukan, karena ucapan itu seringkali mematikan usaha dan kemauan kita.
Sebaiknya katakanlah, hanya Allah yang tahu kapan kita akan mati,
dan karena kita tidak tahu, maka tugas kita adalah memastikan agar kita tidak mati.
Ucapan ini lebih dekat pada kebenaran.

Sampai di sini apakah bisa dipahami?

Nah, kalau kita sudah mengerti, maka mari kita kembali pada tema di atas: Bagaimana caranya agar kita bisa menghindari lima penyakit di atas?

Jawabannya, buatlah rencana, jangan berkeyakinan bahwa kematian sudah ditentukan lalu kita hidup semau kita.
Tapi yakinlah bahwa apa yang akan kita kerjakan, itulah yang akan menjadi jalur hidup kita.

Maka mari kita cari cara untuk mencegah lima penyakit di atas.

Satu good quote dari teman saya: tidak ada orang yang berencana jadi gemuk, yang ada adalah orang yang tidak punya perencanaan untuk jadi ramping.
Ini benar sekali.

Karena mayoritas orang Indonesia hidup semaunya saja berdasarkan keyakinan “kematian sudah ditentukan”, akhirnya banyak orang Indonesia yang tidak membuat rencana, lalu menjadi gemuk, lalu penyakit di atas pun merajalela di Indonesia.

Coba kita pasang target, misal: saya mau hidup sampai umur 90 tahun dan tetap sehat!
Dengan target ini, hampir pasti, kita tidak akan makan sembarangan.
Benar khan?

Ya, benar.
Meninggal akibat penyakit adalah salah satu bukti bahwa kita tidak menjaga tubuh kita,
dan makan sembarangan adalah bukti bahwa kita tidak punya rencana.
Dan tidak adanya rencana hidup kita sering kali dimulai dari keyakinan bahwa “kematian sudah ditentukan” di atas.

Mari kita belajar agama lebih dalam lagi, agar tahu bahwa agama kita sebenarnya mengajarkan hal-hal yang benar, bukan hal-hal yang kadang disalahartikan oleh ketidaktahuan kita.

Penyebab utama kematian di Indonesia adalah keyakinan bahwa kematian itu sudah ditentukan, dan dari situ akhirnya banyak orang Indonesia menjalani hidup semaunya.

Mari kita ubah pola pemahaman kita ini, lalu mari kita sebarkan pada keluarga dan teman-teman kita.
Kalau kita semua tetap sehat sampai umur 90 tahun dan tetap bisa berkontribusi pada masyarakat, maka insya Allah ummat Islam di Indonesia akan maju.

Semoga saja kita bisa hidup lebih panjang dan bisa lebih banyak beramal untuk orang-orang di sekitar kita, aamiin.

Berlebihan dalam Islam: Dinar & Dirham itu bukan sunnah.

Harus diakui, di antara ummat Islam juga memang ada yang berlebihan dalam mengamalkan agamanya. Misal, hal-hal yang mubah dikatakan sunnah, hal-hal yang sunnah dikatakan haram, atau hal-hal yang mubah dikatakan makruh, atau hal-hal yang makruh lantas diharamkan.

Salah satunya adalah kasus pasar Muamalah yang ada di Depok, yang akhirnya menjadi kasus pidana di bulan Januari atau Februari 2021 ini. Di pasar ini, mata uang yang dipakai adalah Dinar dan Dirham, bukan rupiah.

Semangat-nya bagus, ingin mengamalkan Islam. Tapi aura kebablasan-nya sangat terlihat.

Bagaimanapun juga, kita tinggal di negara Indonesia. Terlepas dari baik buruknya, ada hukum yang berlaku dan ada pemerintah yang harus mengatur wilayah ini. Dan untuk kasus transaksi jual beli, aturannya sudah jelas: semua transaksi di Indonesia harus menggunakan rupiah.

Sedangkan pasar Muamalah ini, semangatnya justru ingin menggusur mata uang rupiah, dan kembali pada Dinar dan Dirham yang katanya Sunnah Nabi. Ini yang namanya kebablasan. Transaksi dalam Islam itu, menggunakan mata uang apa saja statusnya halal. Mau pakai Dollar Amerika, Dollar Singapore, Japanese Yen, Malaysian Ringgit, Indonesian rupiah, ini semua halal. Dan khusus untuk transaksi dalam negeri, aturan pemerintah pun sudah jelas: harus menggunakan rupiah.

Kalau Dinar dan Dirham ini adalah Sunnah, lalu yang lainnya apa? Haram? Makruh? Nah, ini yang tidak jelas.

Kalau makruh, jadi selama ini seluruh transaksi ummat Islam itu makruh?

Kalau haram, jadi selama ini seluruh transaksi ummat Islam itu haram?

Padahal dari sejarahnya pun jelas, Dinar itu asalnya adalah mata uang Romawi, dan Dirham itu asalnya adalah mata uang Persia. Lalu ketika Islam hadir di jazirah Arab, karena saat itu yang kuat adalah Dinar dan Dirham, maka orang-orang Arab saat itupun menggunakan Dinar dan Dirham.

Ini hanya masalah mengadopsi apa yang ada saja, bukan masalah munculnya syariat wajib menggunakan Dinar dan Dirham.

Adapun kalau membahas masalah riba, lalu dikaitkan dengan mata uang emas yang nilainya sesuai nilai fisiknya, dan mata uang kertas yang nilainya hanya dilambangkan dengan angka tapi secara fisik tidak berarti sama sekali, maka seharusnya hal ini dilihat dari sudut pandang lainnya juga, yaitu kemajuan zaman.

Dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini, tuntutannya sudah beda lagi, tidak sama lagi dengan yang dulu.

Sekarang, kita hidup di zaman digital. Uang kertas juga sudah mulai kita tinggalkan, karena semua transaksi sudah berganti menjadi digital.

Kalau semangat kita benar-benar berlebihan, jadi mau-nya bagaimana? Jangan transfer lewat internet banking?

Jangan terima gaji lewat transfer bank?

Harusnya pake butiran emas?

Lalu kalau uangnya banyak, maka kemana-mana harus bawa koper yang berisi emas?

Lalu kalau mau beli barang dari luar negeri, harus datang ke sana sambil bawa-bawa koper?

Ini namanya buta kemajuan zaman.

Sekarang zaman digital, hampir semua informasi bisa dikonversi menjadi file digital yang

dilambangkan dengan angka nol dan satu.

Termasuk di dalamnya adalah informasi rekening bank, informasi jumlah uang, dan lain sebagainya.

Fisiknya di mana itu bukan masalah bagi kita yang menggunakan. Tapi intinya, angkanya jelas dan ini yang harus kita jaga.

Sama seperti suara kita saat menelpon menggunakan HP.

Yang dikirim oleh HP kita bukanlah suara asli kita, tapi replika dari suara asli kita yang diubah menjadi data digital, lalu dikirim dengan menggunakan metode digital.

Apa semua ini akan dihukumi haram atau makruh hanya karena fisiknya tidak ada?

Nah, coba kita pikirkan lagi.

Kalau ada yang ingin mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak menyimpan rupiah karena nilainya turun terus, sebaiknya diganti menjadi investasi emas karena nilainya lebih stabil, maka ini boleh-boleh saja. Karena ini bicara tentang masalah cara investasi.

Tapi kalau bicara masalah transaksi jual beli, apalagi sampai membuat pasar, maka aturan pemerintah sudah jelas: semua transaksi di Indonesia harus menggunakan mata uang rupiah.

Jadi, harus kita sadari, memang ada aliran yang kebablasan di sekitar kita.

Tapi juga bukan berarti kita ikut-ikutan baris dengan kelompok anti Syariah yang jelas-jelas anti Islam.

Ini juga beda masalah lagi.

Apa yang benar merupakan syariat Islam, mari kita laksanakan.

Yang anti Syariah, mari kita tinggalkan.

Tapi penggunaan Dinar dan Dirham, ini bukan bagian dari Syariah, dan ini yang harus kita sadari.

Jangan patah semangat!

Kalau kita merasa hari-hari kita menjadi terasa berat dan gelap, maka lihatlah ke langit, di pagi hari, di waktu Dhuhaa.
Ingatlah, segelap apapun malam, waktu Dhuha pasti akan tiba.
Teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Adh-Dhuhaa = Waktu Dhuhaa)

Kalau kita merasa berat melawan musuh kita, maka lihatlah gajah.
Ingatlah, segajah apapun musuh kita, Insya Allah kita akan menang.
Teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Al-Fiil = Gajah)

Kalau kita merasa dada ini sesak karena kedzaliman yang ada di depan mata kita, maka ingatlah, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Alam Nasyroh)

Kalau kita merasa bahwa kita tidak akan menang melawan musuh kita, maka lihatlah muka musuh kita itu.
Selama matanya ada dua, selama hidungnya ada satu, selama mulutnya ada satu, selama bibirnya ada dua, maka dia juga manusia biasa seperti kita.
Teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Alam Naj’al lahu ‘ainain …. Al-Balad)

Kalau kita merasa bahwa musuh kita sangat kuat sekali, maka lihatlah kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Fir’aun. Allah menghancurkan mereka dengan adzab-Nya.
Maka, teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Al-Fajr)

Kalau kita stress melihat orang-orang jahat terus  menghina agama kita, maka sadarilah bahwa orang-orang seperti itu memang akan selalu ada. Memang akan ada orang-orang yang lebih memilih untuk masuk neraka, biarkan saja. Tugas kita hanya mengingatkan, lanjutkan saja tugas kita itu. Biar nanti Allah yang akan mengatur hasilnya.
(Al-Ghosiyah, Al-A’laa)

Kalau kita merasa bahwa ummat Islam ini selalu ditindas dan didzalimi, maka lihatlah gugusan bintang di langit, di malam hari. Sadarilah, selama kita masih bisa melihat gugusan bintang itu dari muka bumi, selama itu pulalah Allah menyaksikan segala kekejaman yang ada di muka bumi ini, dan nanti Allah-lah yang akan memberikan balasannya.
Teruslah berjuang, jangan patah semangat.
(Al-Buruuj = Gugusan Bintang)


Kita ummat Islam, adalah ummat yang dididik untuk terus berjuang, dan tidak pernah patah semangat dalam kondisi apapun juga.

Keep Fighting.

Depok, 12 Desember 2020

Dunia vs Akhirat

Tentang mengutamakan dunia dan mengutamakan akhirat, sikap manakah yang benar menurut Islam?

1. Fokus akhirat saja, dunia boleh dilupakan.
2. Fokus dunia saja, akhirat boleh dilupakan.
3. Dunia dan akhirat harus seimbang.
4. Harus mengutamakan dunia, tapi jangan lupa nasib kita di akhirat.
5. Harus mengutamakan akhirat, tapi jangan lupa nasib kita di dunia.

Manakah yang benar?

Yang benar adalah nomor 5.

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ – ٧٧

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas: 77)

Bagaimana dengan diri kita saat ini?

Surat Al-A’laa dan Ramadhan yang baru saja berlalu

al alaa

Surat Al-A’laa adalah surat yang sering di baca di dalam sholat Ied, terutama di rokaat pertama. Ya, sunnahnya memang seperti itu, meskipun tidak wajib. Dan kesunnahan membaca surat ini juga ada pada sholat Jum’at. Itu sebabnya sekarang pun kita mungkin banyak menemui para imam yang sering membaca surat ini ketika menjadi imam sholat Jum’at.

Sebenarnya, apa isi surat ini?

Surat ini sebenarnya berisi nasihat untuk nabi kita, itu sebabnya yang diajak bicara adalah “kamu”, bukan “kalian”. Karena kalau yang diajak bicara adalah “kamu”, maka biasanya ini mengacu pada nabi kita, kalau yang mengajak bicara adalah Allah atau Malaikat.

Apa isi nasihat tersebut?

Yang pertama, Allah ingin mengingatkan nabi kita agar selalu mensucikan Allah, yang telah menciptakan, menyempurnakan ciptaan, menentukan kadar-kadar (takdir-takdir), memberi petunjuk, juga menumbuhkan rerumputan juga mematikan rerumputan tersebut.
Inilah Allah.

Dialah yang Maha Berkehendak, Maha Mengetahui dan Maha Menolong.

Oleh karena itu, wahai Muhammad, janganlah kamu berputus asa.
Cukuplah bagimu untuk terus memberikan nasihat, tanpa berhenti.
Masalah hasil, serahkan saja pada Kami.

Saat mendengar nasihat itu, orang orang beriman akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang kafir akan menjauhi nasihat tersebut, dan mereka yang menjauhi inilah yang akan masuk neraka. Di sana, mereka tidak hidup, dan juga tidaklah mati.

Dan beruntunglah orang-orang yang mengambil pelajaran dan mau mensucikan diri mereka, yang mau mengingat nama Tuhan-nya, dan mau mendirikan Sholat.

Intinya, teruslah memberi peringatan, wahai Muhammad.
Nanti pasti ada yang menolak dan pasti ada yang menerima.
Yang menolak, biarkan saja, tugasmu hanya menyampaikan.

Sampai di sini adalah nasihat yang diberikan kepada “kamu”, yaitu kepada nabi kita Muhammad saw.

Berikutnya adalah kalimat yang disampaikan kepada “kalian”. Siapakah “kalian” di sini? Apakah orang-orang yang beriman?

Tidak, “kalian” yang dimaksud di sini adalah “orang-orang kafir”.
Apa isi kalimat untuk orang kafir tsb?

Kalian lebih memilih kehidupan dunia, dan melupakan akhirat,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Dan ketentuan ini semua, juga ada dalam kitab nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Ini kalimat untuk orang-orang kafir: melupakan akhirat dan mengutamakan dunia.

Lalu, apakah kita termasuk orang-orang yang mengabaikan akhirat?
Atau lebih suka mengutamakan dunia kita dan berprinsip “jangan bawa-bawa agama” dalam kehidupan kita?
Atau kita berteman dengan orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama”?

Atau kita adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa akhirat itu ada?
Atau kita berteman dengan orang yang tidak yakin bahwa akhirat itu ada?

Atau kita tidak mau percaya pada nasihat dari nabi kita? Atau kita tidak percaya kalau nasihat yang sama pernah disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?

Atau kita malah berteman dengan orang-orang yang tidak percaya keberadaan para nabi?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Nabi kita hanya memberikan peringatan, para ustadz sekarang pun hanya bisa memberikan peringatan, tinggal terserah kita, mau mensucikan Tuhan kita, mau banyak mengingat Tuhan kita, mau sholat, mau banyak beramal baik, atau kita lebih memilih untuk mengabaikan aturan agama dan lebih mementingkan kehidupan dunia? atau lebih memilih untuk berprinsip “jangan bawa-bawa agama”? atau lebih memilih untuk berteman dengan orang-orang seperti ini?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Mari kita baca lagi surat Al-A’laa kita, agar kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Ramadhan baru saja lewat, apa kita mau kembali menjadi orang yang tidak mempedulikan aturan agama dan lagi-lagi berteman dengan orang-orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama” ?

Kalau seperti itu,
berarti kita tidak memahami surat Al-A’laa yang kita bacakan atau yang dibacakan oleh para Imam dalam sholat Iedul Fitri kemarin.

Depok, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H. Continue reading

Virus Corona dan pemahaman Taqdir Jabbariyah vs Qodariyah

Corona Jabbariyah Qodariyah

Indonesia yang mayoritas muslim ini, sebenarnya banyak yang mengaku sebagai ahlu sunnah, tapi pada prakteknya, dalam masalah taqdir ternyata lebih dekat pada pemikiran Jabbariyah.

Apa itu Jabbariyah?

Jabbariyah adalah salah satu cabang pemikiran dalam masalah Taqdir, yang cenderung menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, dan sering menyerukan agar kita tidak perlu berusaha untuk mengubah suatu hal atau suatu kondisi.

Contoh kalimat yang banyak disuarakan oleh pemikiran Jabbariyah adalah:

Dalam masalah virus Corona kali ini, di saat para ulama dan pemerintah sudah menyuarakan agar kita tidak ke masjid, kelompok Jabbariyah akan mengatakan: “Tetaplah sholat jamaah di masjid, karena hidup mati kita sudah ditetapkan oleh Allah.”

Atau kalimat-kalimat di bawah:

Kalau taqdirnya mati, ya mati.

Kalau naik motor, tidak perlu pake helm. Kalau taqdirnya mati, ya mati.

Merokok tidak apa-apa, toh kalau taqdirnya mati ya mati juga.

Kita tidak perlu olahraga, kalau taqdirnya sehat, ya pasti kita akan sehat.

Rezeki kita itu segitu-gitu aja, mau berusaha bagaimana pun juga, pasti hasilnya juga segitu-gitu juga.

Kita tidak perlu ikut pemilu. Kalau Allah menghendaki, pasti Allah akan memilihkan pemimpin yang baik untuk kita.

Jangan terpaku pada asbab (sebab akibat), tidak perlu berusaha, bergantunglah kepada Allah.

Ini semua adalah hasil dari pemikiran Jabbariyah. Dan pemikiran seperti inilah yang menyebabkan Indonesia sekarang ketinggalan, karena orang Islam di Indonesia itu mayoritas, dan sayangnya, dari yang mayoritas ini, kebanyakan juga cenderung Jabbariyah, seperti pada contoh-contoh kalimat di atas. Akibatnya, ummat Islam di Indonesia akhirnya cenderung tidak berusaha, dan selalu meninggalkan ilmu pengetahuan karena semua itu akan dibungkam dengan kalimat “Allah sudah menentukan segalanya”. Ujung-ujungnya kita menjadi bangsa yang ketinggalan, karena ilmu pengetahuan selalu ditinggalkan.

Lantas yang benar bagaimana?
Yang benar, tentu saja bukan Jabbariyah.

Jabbariyah itu anti ilmu pengetahuan. Itu sebabnya pengikut Jabbariyah rata-rata berada di negara dunia ketiga. Mereka mengabaikan ilmu pengetahuan, dan hidup dalam kepasrahan, padahal apa yang dihadapi masih bisa diusahakan.

Sebaliknya, lawan dari Jabbariyah adalah Qodariyah. Ini adalah kebalikan dari Jabbariyah. Kalau Jabbariyah itu anti pengetahuan dan pasrah pada taqdir, maka Qodariyah itu sebaliknya, mereka tidak mau pasrah dan sangat percaya sepenuhnya pada ilmu pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang ada di negara maju saat ini. Mereka hidup berdasarkan ilmu pengetahuan, dan berdasarkan sebab akibat. Itu sebabnya mengapa mereka bisa menjadi negara maju, karena mereka menghitung segala sesuatunya. Dan jangan heran, mereka-mereka inilah yang akhirnya bisa membuat mobil, pesawat, satelit, dan lainnya.

Apakah kaum Jabbariyah bisa membuat mobil, pesawat, satelit dan lainnya?
Tentunya berat.
Karena untuk membuat mobil, pesawat, satelit atau lainnya, itu butuh perhitungan yang berat, dan butuh usaha yang berat serta panjang. Untuk kaum Jabbariyah, hal ini mendekati tidak mungkin, karena kaum Jabbariyah tidak terbiasa untuk berusaha keras. Kalaupun mereka awalnya berusaha, maka bisa jadi berhenti di tengah jalan ataupun akan bikin seadanya saja, tanpa kualitas yang terjamin, karena mereka akan berfikir “kalau Allah menghendaki pasti mobil, pesawat dan satelit ini akan jadi, jadi kita tidak perlu susah-susah membuatnya dan melakukan proses testing yang berat”.

Jadi, Jabbariyah itu penyebab utama mengapa ummat Islam ketinggalan dalam masalah ilmu pengetahuan.
`
Lantas, jadi yang benar adalah Qodariyah?
`
Tidak juga.

Qodariyah punya kelemahan, karena sangat menuhankan ilmu pengetahuan dan tidak percaya pada apa yang telah Allah tetapkan, ada saat-saat di mana mereka akan stress. Ketika mereka sudah mati-matian mengusahakan suatu hal, lalu tiba-tiba gagal, maka bisa jadi mereka akan stress berat dan bahkan mungkin bunuh diri.

Jadi, yang benar bagaimana?

Yang benar adalah konsep Taqdir versi Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Yang seperti apa?

Intinya adalah, menggunakan konsep Qodariyah untuk menghadapi segala sesuatu yang BELUM TERJADI, dan menggunakan konsep Jabbariyah untuk menghadapi segala sesuatu yang SUDAH TERJADI.

Jadi, ketika kita akan membuat pesawat, maka kita harus mati-matian mendesain-nya, mati-matian membuat prototype-nya, mati-matian menyusun hal-hal yang harus ditest, dan mati-matian melakukan proses testing tersebut. Selanjutnya, setelah 100% (sekali lagi, 100% ya, dan ini artinya SELURUH) proses testing itu dilakukan, barulah kita katakan “Insya Allah pesawat ini bisa terbang”.

Tapi setelah semua usaha itu dilakukan, lalu tiba-tiba ada hal tak terduga yang membuat pesawat itu gagal terbang, maka saat itu yang harus kita lakukan adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena tugas kita untuk berusaha sudah kita lakukan sepenuhnya, tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Tapi bagaimana pun juga kita tetap punya keterbatasan, dan Allah lah yang menentukan semua hasil. Jadi, jangan stress, karena Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.

Inilah konsep taqdir menurut Ahlu Sunnah.

Berikutnya, mari kita lihat secara detil tentang bagaimana Qodariyah dan Ahlu Sunnah mendalami masalah “hal-hal yang belum terjadi”.
Dua kelompok ini sama dalam masalah ini, dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

Yang pertama, Taqdir itu dalam bahasa Indonesia sebenarnya memiliki padanan kata yang cukup tepat, yaitu “Kadar” atau “Qodar”, dan dari sinilah muncul nama “Qodariyah”.
Kata “kadar” itu sendiri sama artinya dengan apa yang pahami dalam bahasa Indonesia, yaitu “ukuran”.

Jadi, arti dari Taqdir adalah “kadar” atau “ukuran”.

Dan maksudnya adalah seperti di bawah ini:

– ketika ada wabah Corona, orang yang diam di rumah maka kadarnya adalah selamat. Atau kadar selamat-nya lebih besar daripada kadar selamat orang-orang yang pergi ke luar rumah, apalagi berkumpul di luar, baik itu di mall, di pasar, ataupun di masjid.

Ini adalah pemahaman Taqdir yang benar. Dan inilah “ketetapan” Allah dalam masalah Taqdir. Artinya, Allah sudah menentukan kadar untuk masing-masing perkara, contohnya adalah seperti kalimat di atas.

Berikutnya, contoh kalimat lainnya adalah:

Kita harus berusaha agar tidak mati, karena kalau kita melakukan ini, maka kadarnya adalah mati, kalau kita melakukan itu maka kadarnya adalah luka berat, dan kalau kita melakukan yang lain lagi maka kadarnya adalah luka ringan.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, kalau naik motor gunakanlah helm. Karena kalau tidak pakai helm, kalau kecelakaan maka kadarnya adalah mati. Tapi kalau pakai helm lalu kecelakaan, maka kadarnya adalah luka biasa (semoga saja).
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, tinggalkanlah rokok. Karena kalau merokok maka kadarnya adalah kena penyakit paru-paru atau lainnya. Sedangkan kalau tidak merokok maka kadarnya adalah kita akan hidup lebih sehat.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, rajin-rajinlah berolahraga. Karena kalau kita rajin berolah raga, maka kadarnya adalah badan kita sehat dan kuat. Sedangkan kalau kita malas berolahraga maka kadarnya adalah badan kita akan menjadi lemah.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, semangatlah dalam mencari rezeki. Dan jangan ikuti pemikiran “Rezeki kita itu segitu-gitu aja, mau berusaha bagaimana pun juga, pasti hasilnya juga segitu-gitu juga.” Ini adalah pemahaman Jabbariyah yang tidak benar. Yang benar adalah, kita harus semangat dalam mencari rezeki, dan harus selalu berusaha maksimal. Karena siapa saja yang usahanya biasa saja, maka kadarnya adalah rezeki-nya akan biasa saja. Dan siapa saja yang usahanya bagus, maka kadarnya adalah rezeki-nya juga akan banyak.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, kalau ada pemilu, ikutilah. Pilihlah pemimpin yang baik, menurut agama kita. Karena kalau kita tidak ikut memilih, maka kadarnya adalah calon yang tidak baik yang mungkin akan menang. Sedangkan kalau kita ikut memilih, maka kadarnya adalah calon yang baik yang mungkin akan terpilih. Di sini ada hitungan matematika, dan itulah kadar, itulah Taqdir.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, tinggalkanlah pendapat yang mengatakan bahwa “Jangan terpaku pada asbab (sebab akibat), tidak perlu berusaha, bergantunglah kepada Allah.” Ini adalah pemahaman Jabbariyah, dan ini salah.
Yang benar adalah, islam itu berdasarkan ilmu. Dan justru ilmu sebab akibat itu adalah kadar-kadar yang telah Allah tentukan.
Siapa saja yang makan, maka kadarnya adalah dia akan kenyang. Ini adalah sebab akibat, dan ini adalah Taqdir yang telah Allah tetapkan.
Siapa saja yang sakit, maka berobatlah, karena barang siapa berobat, maka kadarnya adalah dia mungkin sembuh. Ini adalah sebab akibat, dan ini adalah Taqdir yang telah Allah tetapkan.

Maka, barang siapa ingin menjadi Dokter, maka masuklah fakultas kedokteran. Karena inilah kadar yang telah Allah tentukan, inilah Taqdir yang telah Allah tentukan, dan inilah sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Dan barang siapa ingin menjadi Insinyur teknik, maka masuklah fakultas Teknik. Karena inilah kadar yang telah Allah tentukan, inilah Taqdir yang telah Allah tentukan, dan inilah sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Sampai di sini, apakah jelas?

Taqdir adalah kadar, dan kadar adalah sebab akibat, dan sebab akibat itu sesuai dengan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa memahami Taqdir dengan benar, dia akan bersikap sesuai dengan ilmu pengetahuan. Dan barang siapa bersikap sesuai dengan ilmu pengetahuan, itu artinya dia sudah memahami Taqdir dengan benar, karena ilmu pengetahuan adalah sebab akibat yang telah Allah tetapkan, dan ini semua adalah kadar-kadar yang ada di sekeliling kita.

Terakhir, bukankah Allah sudah menentukan segalanya?
Ini adalah pertanyaan yang penting.

Jawabannya adalah benar.
Tapi akan lebih benar lagi kalau kita memahaminya dengan kalimat “Allah sudah MENULISKAN atau MENGETAHUI segalanya”.

Maka, hari ini, apakah Allah tahu rezeki apa yang akan kita dapat besok?
Jawabannya adalah, Ya, Allah sudah tahu rezeki apa yang akan kita dapat besok.

Jadi artinya, semua sudah Allah TETAPKAN?
Jawabannya adalah tidak.

Kalau Allah mau, maka Dia bisa membuat kita hidup seperti boneka, yang TERPAKSA harus mengikuti garis taqdir yang telah Dia tuliskan.
Tapi itu bukan konsep Taqdir yang Allah ajarkan dalam islam.

Dalam Islam, Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk semua hal yang ada di masa depan. Maka rezeki kita besok pun, hari ini Allah sudah tahu, bahkan dari dulu pun Allah sudah tahu.
Tapi itu artinya adalah Allah TAHU, bukan MEMAKSA kita harus seperti itu.

Artinya, Allah itu sudah menulis apa-apa yang AKAN kita lakukan, dan bukan menulis apa-apa yang HARUS kita lakukan.

Jadi, apa yang akan kita lakukan besok, hari ini Allah sudah tahu. Dan besok, kita akan melakukan hal tsb sesuai keinginan kita, lalu kita akan mendapatkan hasil sesuai kadar yang telah Allah tetapkan ukurannya, lalu hasilnya adalah kita akan mendapatkan rezeki dengan besar yang sesuai kadar usaha kita itu, dan hasil akhirnya ini pun ALLAH SUDAH TAHU dari sejak dahulu kala. Siapa yang malas berusaha, maka dia rezekinya sedikit. Siapa yang rajin berusaha, maka rezekinya banyak. Inilah kadar yang telah Allah tetapkan. Dan Allah sudah tahu, kita nanti akan malas berusaha atau rajin berusaha. Dan Allah juga sudah tahu kadar hasil sebesar apa yang akan kita dapatkan nanti.

Sampai di sini apakah jelas?

Intinya, jangan ikuti pemahaman Jabbariyah dalam menyikapi hal-hal yang BELUM TERJADI. Karena ini adalah pemahaman yang salah, yang membuat ummat Islam jauh ketinggalan dalam masalah ilmu pengetahuan.
Dan jangan ikuti pemahaman Qodariyah dalam menyikapi hal-hal yang SUDAH TERJADI, karena nanti kita akan stress kalau kita gagal, atau akan terlalu berbangga diri kalau kita berhasil.

Yang benar adalah, bersikaplah Qodariyah (sesuai kadar-kadar Taqdir ilmu pengetahuan yang telah Allah tetapkan), manakala kita sedang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Tapi begitu hal itu sudah terjadi, maka gunakanlah prinsip Jabbariyah, agar kita bisa menerima semua ketetapan yang telah Allah tuliskan untuk kita.

Semoga penjelasan ini bisa membuka pemahaman kita dalam memahami masalah Taqdir dalam agama kita ini.
Note:
Tulisan ini dibuat ketika wabah Corona melanda Indonesia, dan hari ini sudah ada 686 orang di Indonesia yang positif terkena wabah ini. Maka tugas kita saat ini adalah mengikuti Fatwa ulama dan anjuran pemerintah untuk meninggalkan sholat jamaah dan sholat Jum’at di masjid, karena itu bisa mendorong terjadinya penyebaran virus Corona di lingkungan kita, dan itu sesuai dengan kadar-kadar taqdir yang telah Allah tetapkan melalui ilmu pengetahuan yang Dia ajarkan pada kita.
Jangan ikuti pemahaman Jabbariyah yang malah menyuruh kita untuk tetap sholat di masjid dengan alasan “kalau Taqdirnya mati ya mati”. Ini adalah sikap yang tidak benar, karena berdiri di atas pemahaman Taqdir yang salah yang justru bertentangan dengan kadar-kadar taqdir yang telah Allah tetapkan melalui ilmu pengetahuan yang Dia ajarkan pada kita.


Depok, 24 Maret 2020.

Sehat dan Rezeki: ada parameternya

Kesehatan harus diusahakan, ada parameternya.
Rezeki juga harus diusahakan, dan ada juga parameternya.

Tidak tepat kalau disebutkan bahwa rezeki sudah ada alamatnya, karena itu akan membuat kita cenderung untuk diam.
Sepertihalnya kesehatan, kita tidak boleh diam dan terus berharap sehat. Kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf adalah orang kaya. Apa beliau kaya karena “hadiah”? Tidak. Beliau kaya karena beliau memiliki parameter untuk bisa menjadi kaya. Jadi di mana pun beliau hidup, insya Allah akan tetap jadi kaya, karena itulah syarat-syarat taqdir yang telah Allah tetapkan.

Sekali lagi, kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, apa pernah dapat “hadiah”? Pernah. misalnya ketika membeli kurma yang ternyata sudah busuk, dan tiba-tiba setelah itu ada orang yang datang mencari-cari kurma busuk, dan hanya mencari yang busuk saja, untuk satu keperluan tertentu, dan dia mau membayar mahal untuk kurma busuk tersebut. Ini namanya rezeki “hadiah”. Tapi kalau kisah ini saja yang sering kita ulang, maka itu sama saja dengan mengatakan pada orang lain “Tidak perlu olahraga, nanti juga sehat sendiri, toh kesehatan dan umur itu sudah ada yang ngatur”.

Dalam taqdir, ada konsep “parameter” dan ada konsep “hadiah”.
“Hadiah” itu ada, dan kita tidak boleh menolaknya, tapi kita juga tidak boleh mengandalkannya.
Yang harus kita gunakan sebagai landasan pola pikir kita adalah konsep “parameter”, baik untuk masalah kesehatan, rezeki ataupun masalah lainnya.

Mari kita penuhi parameter untuk menjadi kaya dan parameter untuk.menjadi sehat, dan jangan menolak kalau dapat “hadiah”, ini adalah pemahaman taqdir yang benar.

Hati seterang Matahari

Tadi malam, imam sholat Isya membaca surat Asy-Syams (Matahari).
Isinya, tentu saja tentang Matahari.

Ada saat di mana Matahari terlihat redup, yaitu di waktu Dhuha.
Ada saat di mana Matahari terlihat lebih terang, yaitu ketika bulan juga terlihat.
Ada saat di mana Matahari terlihat sangat terang, di siang hari.
Dan ada saat di mana Matahari sama sekali tidak terlihat, yaitu di waktu malam.

Selanjutnya, Imam membaca ayat “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan hati-nya, dan merugilah orang yang mengotori hatinya”.

Ketika imam membaca ayat itu, secara refleks langsung bertanya pada diri sendiri,
“Seperti apa hati kita?”
Apakah gelap seperti langit malam tanpa Matahari?
Ataukah sedikit kotor karena ada yang menutupi, sepertihalnya Matahari di waktu pagi?
Ataukah sangat bersih seperti terangnya Matahari di siang hari?

Tanpa terasa, jadi ingat dengan dosa-dosa selama ini.

Harusnya hati kita, seterang Matahari.

Ingat, Asy-Syams artinya adalah Matahari.


Depok, 13 Januari 2020