Islam dan Politik

Tahun 2016 dan 2017, ummat di Jakarta dan sekitarnya melakukan Aksi Bela Islam I, II dan III untuk menuntut agar Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dipenjara karena telah melakukan penistaan atas Surat Al-Maaidah ayat 51.

Hasil pertarungan itu, Ahok kalah dalam Pilkada 2017 dan divonis penjara 2 tahun lamanya.

Advertisements

Bid’ah Bejana Emas

Hari ini saya mengikuti kajian, yang katanya “mengikuti manhaj salaf”.

Di bagian awal disebutkan bahwa kita wajib berpegang hanya pada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulaafaur Raasyidiin saja. Di luar itu adalah bid’ah, dan bid’ah itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Maka, kelompok ini sesat, kelompok itu bid’ah, kelompok anu memecah belah agama, mereka memecah belah ummat, dll.

Di bagian tengah, masuk ke inti tema (ternyata ini toh intinya), yaitu membahas hadits tentang larangan menggunakan bahan emas dan perak untuk bejana, gelas atau piring.

Di bagian akhir, disebutkan bahwa penggunaan bejana emas untuk berwudhu juga dilarang, dan larangan ini tidak berasal nabi atau para sahabat, melainkan berdasarkan kesimpulan seorang ulama yang membuat buku tsb. Tanpa sadar, dua kali ustadznya menyebutkan hal ini.

Hampir saja saya bertanya, “Yang seperti itu bid’ah bukan, Ustadz?”

Tapi ya sudahlah, semoga suatu saat nanti bisa sadar. Baarakallahu.

Semoga yang membaca artikel ini bisa faham, bahwa adil dalam menyikapi suatu hal itu Insya Allah lebih dekat pada kebenaran.
Aamiin.

Depok, 12 Desember 2016
Isa Ismet Khumaedi

#BulughulMaramBabThaharoh

​Larangan membuat bid’ah bagi Khulaafaur Raasyidiin

Di dalam Islam, ada larangan yang berlaku bagi ummat Islam tapi tidak berlaku bagi Nabi Muhammad saw, misalnya larangan untuk tidak menikahi lebih dari empat wanita.

Ini adalah kekhususan hanya untuk nabi kita saja, tapi tidak untuk yang lain.

Maka, kalau ada larangan membuat bid’ah, maka larangan ini juga berlaku bagi Khulafaaur Raasyidiin. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin membuat syariat baru dalam masalah ibadah, maka hukumnya seharusnya adalah bid’ah -> sesat -> neraka. Karena larangan bagi seluruh ummat Islam juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin, tanpa ada pengecualian. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin mengubah sholat Subuh menjadi tiga roka’at maka itu adalah bid’ah, karena tidak ada yang boleh mengubah syariat nabi kita.

Adalah aneh kalau kita berpendapat bahwa bid’ah itu dilarang tapi larangan ini tidak berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

Yang benar adalah, tidak semua hal baru itu bid’ah, baik dalam masalah ibadah ataupun bukan, dan Khulaafaur Raasyidiin juga tahu mana hal baru yang bid’ah dan mana yang bukan, dan yang bukan bid’ah itulah yang mereka kerjakan.

Artinya, tidak semua hal baru itu bid’ah, karena semua larangan dalam agama ini juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

Kupas Tuntas Bid’ah: (7) Kata ‘kullu’ dalam hadits tentang Bid’ah

Ada yang berkata, dalam hadits “kullu bid’atin dholaalah”, kata ‘kullu’ di situ artinya adalah ‘semua’. Jadi, kalimat itu artinya “semua bid’ah itu sesat”, dan tidak ada perkecualiannya sedikitpun juga. Artinya, tidak ada bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), yang ada hanyalah bid’ah dholaalah (bid’ah yang sesat) karena semua bid’ah itu sesat, tanpa perkecualian sama sekali.

Ini pemahaman yang baik. Akan tetapi konsekwensinya adalah, satu kalimat sebelumnya berbunyi “kullu muhdatsaatin bid’ah”. Kalau kata ‘kullu’ berarti ‘semua’ tanpa pengecualian sedikitpun juga, maka kalimat ini artinya adalah “semua hal baru itu bid’ah”, tanpa pengecualian juga. Artinya, mobil, handphone, Facebook dan Whatsapp juga bid’ah, sesat dan akan membawa kita ke neraka. Karena kata ‘kullu’ dimaknai dengan ‘semua’ tanpa pengecualian sedikitpun juga.

Sampai di sini lalu ada yang berkomentar, pembatasannya ada pada kata ‘muhdats’ (hal baru) itu. Maksudnya, kata ‘kullu’ memang bermakna ‘semua’, akan tetapi kata ‘muhdats’ (hal baru) dalam kalimat “kullu muhdatsaatin bid’ah” itu sebenarnya hanya mencakup hal-hal baru yang berkaitan dengan ibadah saja. Hal-hal inilah yang nanti akan disebut dengan nama bid’ah. Artinya, ada “muhdats ibadah” dan ada “muhdats non-ibadah”, dan yang dimaksud sebagai bid’ah dalam hadits itu adalah “muhdats ibadah” saja.

Pemahaman ini juga menarik, karena kalau kata ‘muhdats’ boleh dipilah-pilah menjadi “muhdats ibadah” dan “muhdats non-ibadah”, maka berarti kata bid’ah juga boleh dipilah-pilah, misalnya menjadi “bid’ah hasanah” dan “bid’ah dholaalah”, dan yang disesatkan dalam hadits itu adalah “bid’ah dholaalah” saja.

Kalau yang satu boleh dipilah-pilah, maka seharusnya yang lain juga boleh.

#mari belajar memahami
#tidak hanya mengikuti.

Kupas Tuntas Bid’ah: (6) Membuat hal baru dan bukan menghidupkan sunnah

Ada satu hadits,

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ . ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Man Sanna Fi Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha..dst dst”

artinya :
“Siapa yang memulai membuat contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

“Sanna” di sini artinya adalah “membuat” atau “mengadakan”.

Sebagian orang menolak arti “membuat” atau “mengadakan” ini, karena arti ini membuka peluang munculnya Bid’ah hasanah. Menurut mereka, sanna di sini artinya bukanlah “membuat” atau “mengadakan”, akan tetapi arti sanna di sini adalah “menghidupkan sunnah yang dulunya pernah dicontohkan oleh Rasulullah”.

Maka arti dari hadits di atas adalah “Siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu .. ”
Karena yang namanya sunnah-sunnah nabi adalah satu hal yang baik, maka menghidupkan sunnah nabi sepertihalnya sholat tarawih berjamaah bukanlah bid’ah. Ini menurut mereka-mereka yang berpendapat bahwa bid’ah hasanah itu tidak ada.

OK, kita terima argumentasi ini sampai di sini.

Akan tetapi, berikutnya, bagaimana dengan kelanjutan hadits itu?

Wa Man Sanna fil Islaami Sunnatan sayyiatan, kaana ‘alaihi ajruha wa ajru man ‘amila biha.

Di sini ada kata sanna juga, berarti yang ini artinya seharusnya adalah:
“Siapa yang menghidupkan sunnah yang buruk dari Rasulullah dalam Islam, maka ia mendapat balasan atas perbuatannya itu dan balasan orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

Di sini jelas terlihat ngaco-nya.
Memangnya ada sunnah yang yang buruk yang berasal dari Rasulullah yang bisa kita hidupkan kembali?

Jelas sekali terlihat ngaco-nya.

Maka yang benar, arti dari kata sanna bukanlah “menghidupkan sunnah kembali” seperti yang mereka klaim.
Yang benar, arti dari kata sanna adalah memang “membuat” atau “mengadakan”.

Maka arti dari hadits itu adalah, barang siapa yang membuat sunnah yang baik, maka dia mendapat pahala atas sunnahnya itu, dan dia juga mendapat pahala atas orang-orang yang mengikuti sunnahnya itu. Sedangkan siapa saja yang membuat sunnah yang buruk, maka dia mendapat dosa tas sunnahnya itu, dan dia juga mendapat dosa atas orang-orang yang mengikuti sunnahnya itu.

Inilah arti yang benar.

Kesimpulannya:
1. Arti kata sanna adalah “membuat” atau “mengadakan”, dan bukan “menghidupkan sunnah kembali”.
2. Sunnah yang baik maksudnya adalah hal baru yang baik, dan inilah yang disebut dengan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik).
3. Adapun sunnah yang buruk maksudnya adalah hal baru yang buruk, dan inilah yang disebut dengan bid’ah dholallah (bid’ah yang sesat).

Semoga bermanfaat.

Kupas Tuntas Bid’ah: (5) Bid’ah yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra

Ketika Rasulullah masih hidup, ummat islam hanya sholat tarawih berjamaah tiga malam di masjid. Setelah itu Rasulullah menghentikan aktivitas itu karena takut nanti ummat islam menyangka bahwa sholat tarawih adalah sholat wajib.
Akhirnya orang kembali sholat tarawih sendiri-sendiri.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ra, orang-orang pun masih melaksanakan sholat tarawih sendiri-sendiri.

Pada masa Khalifah Umar ra, beliau melihat bahwa sholat tarawih sebaiknya dilakukan secara berjamaah seperti pada masa Rasulullah saw, karena ummat islam sudah tahu bahwa itu adalah sholat sunnah. Akhirnya beliau memutuskan untuk menyatukan orang-orang dalam satu jamaah sholat tarawih. Yang ini ada contohnya dari Rasulullah, yaitu sholat tarawih berjamaah.

Tapi selain dari itu, khalifah Umar ra juga ber-ijtihad dalam tiga masalah di bawah ini:
1. Sholat tarawih dilakukan di awal malam, setelah sholat Isya, tidak di akhir malam seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
2. Jumlah rokaatnya ditentukan.
3. Janjian ketemu untuk sama-sama melakukan ibadah ini secara berjamaah pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Padahal dulu Rasulullah saw bahkan tidak janjian untuk melakukan sholat tarawih ini.

Tiga hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw, dan inilah hal-hal bid’ah yang dilakukan oleh khalifah Umar ra, yang dikomentari oleh beliau sendiri dengan kalimat “ini adalah sebaik-baik bid’ah”.

Berarti bid’ah itu ada yang buruk dan ada yang baik.