Missionaris Madzhab

Lulusan Saudi akan mengajak kita untuk membenci Syiah dan Iran.
Dan lulusan Iran akan mengajak kita untuk membenci Wahabi dan Saudi.

Inilah yang namanya Missionaris Madzhab.

Kita Ahlu Sunnah, harus bisa berdiri di tengah-tengah dengan adil, untuk mencegah agar konflik Horizontal tidak membesar seperti yang telah terjadi di Suriah.

“Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada Universitas Al-Azhar di Cairo – Mesir, karena telah membuka aneka fakultas dari aneka ragam Madzhab Islam untuk para mahasiswanya. Setiap mahasiswa yang belajar di Al-Azhar disalurkan langsung oleh pihak Universitas ke fakultas madzhab yang sesuai dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, sehingga saat kembali pulang ke negerinya tidak membawa Misi Madzhab baru dan tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab. Para pelajar Indonesia misalnya, langsung disalurkan oleh pihak Universitas Al-Azhar untuk mengikuti fakultas yang bermadzhab Syafi’i, karena Indonesia dikenal di dunia sebagai Negeri Sunni Asy’ari Syafi’i.

Penghargaan yang tinggi juga patut diberikan kepada Guru Besar kami yang mulia dan tercinta Alm. Prof. DR. As-Sayyid Muhammad b Alwi Al-Maliki Al-Hasani rhm di Mekkah, karena walau pun beliau sebagai seorang Ulama Besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Imam Malik rhm, namun beliau tetap mengajar Madzhab Syafi’i kepada ribuan muridnya yang berasal dari Nusantara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Patani di Selatan Thailand dan Sulu mau pun Mindanau di Selatan Philipina, sesuai madzhab yang tersebar di negeri mereka, sehingga para murid beliau tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab di negerinya masing-masing.”

Artikel selengkapnya tentang Missionaris Madzhab:
http://www.fpi.or.id/2015/09/missionaris-madzhab.html?m=1

Advertisements

Syaikh bin Baz: Tidak semua Syiah itu kafir

الشيعة فرق كثيرة…

فيهم الكافر وفيهم غير الكافر، وأسهلهم وأيسرهم من يقول علي أفضل من الثلاثة وهذا ليس بكافر لكن مخطئ، فإن علياً هو الرابع والصديق وعمر وعثمان هم أفضل منه، وإذا فضله على أولئك الثلاثة فإنه قد أخطأ وخالف إجماع الصحابة ولكن لا يكون كافراً

“Syi’ah banyak macamnya…

Ada yang kafir, ada juga yang tidak. Yang paling ringan dan rendah adalah orang yang mengatakan bahwa Ali lebih baik daripada tiga Khalifah sebelumnya. Orang semacam ini tidak kafir. Hanya keliru saja. Sebab, Ali adalah Khalifah keempat. Sedangkan Abu Bakar, Umar dan Utsman lebih baik daripadanya. Maka, jika ia mendahulukan Ali daripada ketiganya, maka ia keliru dan menyelisihi kesepakatan sahabat. Tapi ia tidak kafir.” (Fatwa Syaikh Bin Baz)

Lihat di web resminya:
http://www.binbaz.org.sa/fatawa/4162
note: Syaikh bin Baz adalah mantan Mufti Kerajaan Saudi

Sebagai tambahan, Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Ahmad Ath-Thoyyib juga mengatakan bahwa Syiah itu ada yang kafir dan ada yang masih muslim, meskipun Syiah yang muslim juga memiliki kesesatab tapi kesesatan itu tidak serta merta membuat mereka menjadi kafir.

Berikut video dari  Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Ahmad Ath-Thoyyib ketika menyinggung permasalahan itu:

Terakhir, 
MUI kita juga mengatakan bahwa Syiah terbagi tiga. Yang pertama adalah Syiah yang kafir karena menuhankan Ali ra atau mengatakan bahwa Ali ra adalah nabi, yang kedua adalah Syiah yang sesat yang mengkafirkan sebagian sahabat nabi, dan yang terakhir adalah Syiah yang masih bisa diterima oleh Ahlu Sunnah karena mereka tidak mengkafirkan sahabat nabi.

Penjelasan MUI (beserta screenshot buku MUI ttg Syiah):
https://ismetkh.wordpress.com/2015/11/12/mui-syiah-terbagi-tiga/

Kesimpulan:
1. Tidak semua Syiah itu kafir
2. Ada Syiah yang kafir dan ada Syiah yang bukan kafir (berarti masih muslim)
3. Syiah yang bukan kafir juga memiliki kesesatan, tapi sesat itu bukan kafir, dan mereka masih dihukumi sebagai muslim.
4. Hati-hati dengan kelompok yang kemana-mana selalu mempropagandakan “Syiah bukan Islam”, karena secara tidak langsung mereka telah mengkafirkan sebagian ummat Islam yang sebenarnya tidak kafir.
5. Propaganda “Syiah bukan Islam” adalah propaganda berbahaya yang bisa memecah-belah ummat Islam di Indonesia, dan bisa menjadikan Indonesia seperti Suriah jilid 2.
6. Mari kita nasehati warga Syiah dengan baik, bukan dengan kebencian apalagi melalui jalan peperangan.

Please share.

Mengapa Syiah Rafidhah mengkafirkan sebagian Sahabat Nabi?

Mengapa Syiah Rafidhah mengkafirkan sebagian Sahabat Nabi?

Tanyakanlah pada orang-orang yang mengkafirkan orang tua nabi, mereka punya jawabannya.

Ahlu Sunnah adalah kelompok yang menjaga lidah dan tulisan mereka dari menjelek-jelekkan sahabat nabi, apalagi menjelek-jelekkan orang tua nabi. Semoga kita semua termasuk ke dalam kelompok Ahlu Sunnah ini, aamiin.

Mengapa Wahabi sangat membenci Syiah?

Di Saudi yang dominan adalah Wahabi, dan Wahabi adalah aliran ekstrim dalam Sunni. Adapun di Iran yang dominan adalah Rafidhah, dan Rafidhah adalah aliran ekstrim dalam Syiah.

Wahabi sangat membenci Syiah, karena Wahabi adalah penerus ideologi Bani Umayyah yang memang amat membenci semua hal yang “berbau Ali”, sedangkan Syiah adalah kelompok yang mengkultuskan Ali sehingga secara otomatis Syiah juga amat membenci Bani Umayyah yang memang telah membantai Hussein bin Ali beserta keluarganya di Padang Karbala.

Sejarah mencatat, tiga generasi bani Hasyim telah terusir. Yang pertama adalah nabi kita Muhammad saw, terusir dari Makkah ke Madinah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Berikutnya adalah menantu Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, yang terusir dari Madinah ke Kufah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Terakhir adalah cucu nabi, yaitu Hussein bin Ali, yang terpaksa pergi meninggalkan Madinah ke arah Kufah dan dibantai di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Lengkap sudah penderitaan tiga generasi, dan pembantaian keluarga nabi di Padang Karbala inilah yang akhirnya menjadi pemicu utama munculnya kelompok Syiah yang amat mengkultuskan Ali dan Hussein bin Ali.

Maka, tidak heran kalau Wahabi sangat menggebu-gebu mempropagandakan pendapat bahwa orang tua nabi dan orang tua Ali masuk neraka. Seakan-akan yang terlihat adalah “kalau Muhammad dan Ali tidak bisa masuk neraka, minimal orang tua mereka yang harus masuk neraka”. 😦
Sebaliknya, kelompok Syiah selalu mengatakan bahwa Muawiyah dan bapaknya adalah orang Munafik yang akan masuk neraka.

Jadi, jangan heran kalau dalam pengajian Wahabi tema Syiah sesat itu tema wajib. Semua yang berbau Syiah akan dibabat habis. Yaman dan Suriah adalah contoh nyata, betapa Saudi amat bernafsu menyerang Syiah. Lalu kenapa Saudi tidak menyerang Israel? Ya mudah saja, karena Israel bukan Syiah. 🙂

Sebaliknya, dalam pengajian Syiah, tema wahabi juga sering diangkat. Isinya ya sama saja, sisi negatifnya yang diangkat.

Wahabi sebenarnya masuk dalam ahlu Sunnah, yaitu kelompok Sunni. Akan tetapi, sikap radikal Wahabi membuat mereka berbeda dari Sunni. Sunni adalah kelompok yang lebih adil dalam menyikapi masalah. Maka, kelompok Sunni membagi Syiah dalam beberapa kelompok, mulai dari yang masih bisa diterima, yang masih ditolerir dan yang sudah keluar dari Islam. Sikap MUI kita juga seperti ini. Akan tetapi, sikap ini jelas berbeda dengan sikap Wahabi terhadap Syiah yang jelas-jelas mengkafirkan syiah secara keseluruhan. Singkatnya, sebagian Sunni memang membenci Syiah, tapi seluruh Wahabi amat sangat membenci Syiah.

Sesuai alur historis, pusat Bani Umayyah ada di Damaskus. Dan ulama kebanggaan Wahabi juga semuanya berasal dari Damaskus. Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Albani, semuanya berasal dari Damaskus atau lama tinggal di Damaskus. Maka tidak heran kalau pemikiran Bani Umayyah menurun ke Saudi, dan jangan heran pula kalau melihat Saudi mati-matian maju berperang ke Suriah, salah satu sebabnya adalah karena nenek moyang ulama mereka ada di sana. Coba lihat penggalangan dana oleh kelompok Wahabi di Indonesia, hampir semuanya lari ke Suriah, dan tidak ke tempat lain seperti Palestina misalnya.

Maka, kembali pada masalah Saudi dan Iran atau Wahabi dan Syiah, kalau yang menjadi wakil Sunni adalah Wahabi dan kalau yang menjadi wakil Syiah adalah Rafidhah, ya sudah pasti dunia islam tidak akan aman. Bawaannya pasti perang terus, seperti sekarang ini. Kita butuh wakil yang lebih moderat dari masing-masing kelompok, untuk bisa mendamaikan ummat Islam, dan untuk bisa menasehati kelompok ekstrim pada masing-masing kelompok. Turki, Mesir dan Indonesia mungkin bisa mengambil peran sebagai wakil Sunni, agar ummat Islam bisa makin maju ke depannya nanti.

Demikian, semoga bermanfaat.

Depok, 3 Januari 2016
Isa Ismet Khumaedi

Kritik dengan Batin yang Remuk

Kolom Resonansi: Kritik dengan Batin yang Remuk

Selasa, 17 November 2015 | 06:00 WIB
Professor Ahmad Syafii Maarif

Jangan dikira kritik yang dulu sering muncul di ruang ini atas mentalitas Arab kontemporer yang hobinya berpecah, saya lakukan dengan perasaan senang dan lega. Jauh dari itu. Batin saya remuk mengamati dunia Arab yang berdarah-darah.

Rakyat Palestina yang belum juga merdeka setelah menderita hampir 70 tahun dan masih saja menjadi bulan-bulanan Zionis Israel yang didukung Amerika Serikat, toh antara Hamas dan Fatah belum juga akur dengan sepenuh hati. Sudah miskin, pertengkaran terus saja berlanjut. Untunglah mata dunia sudah semakin terbuka: Palestina harus merdeka segera.

Tidak sekali saya mengutip di ruang ini pendapat pemusik Gilad Atzmon-baru saja datang ke Indonesia atas undangan Dwiki Darmawan-bahwa Zionisme tidak mungkin menjadi bagian dari kemanusiaan karena wataknya yang rasialis dan congkak.

Negara kecil Israel yang telah melumpuhkan bangsa-bangsa Arab yang melingkarinya adalah fakta telanjang betapa rapuhnya mereka, tetapi tetap saja belum juga sadar. Bahkan, Arab Saudi karena sama merebut hegemoni dengan Iran di kawasan panas itu dikabarkan malah main mata dengan Israel. Alangkah hinanya, alangkah amoralnya.

Persis seperti yang dilakukan Iran di era Shah Reza Pahlevi (berkuasa 1941-1979) dulu yang sekaligus menjadi antek Amerika sampai gerakan Khomeini meruntuhkan rezim antirakyat itu. Akan halnya Iran sekarang, demi membela al-Assad yang dilawan rakyatnya sendiri enak saja bekerja sama dengan Rusia yang tidak kurang liciknya dibandingkan Amerika.

Selanjutnya, serangan gencar pasukan Saudi atas Yaman untuk memburu pemberontak al-Houthi adalah bukti lain betapa suasana persaudaraan sesama Arab ini sudah sirna, amat sulit dipertautkan kembali. Lalu Islam di mana? Islam sudah menghilang, entah ke mana. Yang mengemuka adalah label Suni, label Syiah, atau label apa lagi untuk sama membinasakan perumahan persaudaraan sesama Muslim.

Batin siapa yang tidak akan remuk membaca fenomena yang hitam dan ganas ini? Tetapi tuan dan puan jangan salah tafsir, Islam masih ada ketika shalat, naik haji, puasa, zakat dalam arti yang terbatas. Di luar itu, jika sudah menyentuh kepentingan politik kekuasaan, Islam tidak berdaya. Apakah ada bentuk krisis yang lebih dalam di dunia Arab melebihi drama yang kini menjadi tontonan manusia sejagat ditinjau dari sisi iman?

Akar drama Arab ini menjalar sampai ratusan tahun yang silam, semuanya selalu berkaitan dengan ranah kekuasaan. Perang Shiffin (657) yang meledak di selatan Sungai Furat adalah fitnah (bencana) yang paling bertanggung jawab mengapa dunia Arab, dan bahkan dunia Islam, tidak pernah akur sampai hari ini.

Ironisnya, perbelahan politik yang kotor ini oleh pihak-pihak yang terlibat sama-sama dicarikan alasan teologisnya masing-masing: pakai dalil Alquran dan sunah. Bau buruknya juga tercium di Indonesia. Klaim-klaim merasa paling benar adalah senjata ampuh untuk saling menghujat dan saling meniadakan.

Amat sedikit Muslim yang benar-benar sadar bahwa kejatuhan dunia Islam yang parah ini dapat dicari penyebab utamanya sebagai ekor dari Perang Shiffin yang tidak lain adalah perebutan kekuasaan sesama Arab Quraisy. Bukankah ‘Ali dan Mu’awiyah secara geneologis adalah Quraisy belaka?

Mengapa kita tidak bersedia keluar secara berani dari kotak-kotak Quraisy yang mewariskan perpecahan yang tak habis-habisnya itu? Nabi Muhammad SAW memang Quraisy juga, tetapi Quraisy yang dipimpin wahyu, Quraisy yang bertugas menyampaikan rahmat bagi alam semesta. Semestinya, Alquran dan Muhammad SAW sajalah yang sah dijadikan imam dan panutan, bukan yang lain.

Ajaibnya, komunitas Muslim non-Arab di berbagai belahan bumi turut pula menari mengikuti tabuhan genderang Perang Shiffin yang sepenuhnya bercorak Arab itu. Bagi saya, semuanya ini adalah perbuatan pandir karena kita tidak cukup jujur dan cerdas untuk memisahkan, seolah-olah yang bersifat serba Arab itu adalah kebenaran yang perlu diwarisi.

Semestinya, dengan kejatuhan peradaban Arab yang meremukkan batin ini, mengapa kita tetap saja berkiblat kepadanya dalam memahami Islam? Terus terang saya lama memberontak terhadap sikap yang buta sejarah ini.

Akhirnya, sekalipun kita merintih melihat kehancuran Irak, Suriah, Yaman, Libya, bahkan Mesir, memperpanjang tangis tidak ada gunanya, sia-sia belaka. Sikap yang benar adalah agar ayat Alquran tentang persaudaraan umat dibawa turun ke bumi kenyataan kembali, tidak hanya dibiarkan mengalun dalam suara para qari dan qariah saat bertanding membaca kitab suci ini. Semoga kita cepat sadar, matahari kehidupan sudah bergerak semakin tinggi!

sumber:
http://m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/11/16/nxwwj7319-kritik-dengan-batin-yang-remuk


Tambahan:
Orang yang berpandangan tajam, akan bisa melihat bahwa akar permasalahan isu Sunni Syiah memang berada pada peperangan Shiffin. Ketika khalifah yang sah diperangi, muncullah kelompok yang secara fanatik membela ahlul bait, dan kelompok yang secara tidak sadar sudah diarahkan untuk membenci ahlul bait. Di abad 20 Masehi sebagiannya terbukti, di jazirah Arab muncul satu kerajaan yang mengusir ahlul bait nabi dari kursi kehormatan di tanah Haromain, dan mereka mewarisi ideologi salah satu kelompok tsb.

Belumkah kita sadar bahwa teologi permusuhan ini dimulai dari persaingan politik masa lalu?
Masihkah kita akan terus membenci?

MUI: Syiah Rafidhah masih muslim dan bukan kafir

Sekarang ada kelompok yang kemana-mana sibuk mengatakan bahwa syiah itu bukan islam. Akibatnya, umat islam saling menyerang satu sama lain. 😦

Pemahaman radikal seperti ini harus dibendung, dan kalau perlu harus dipersempit gerakannya.

MUI kita juga sudah mengeluarkan buku panduan tentang syiah. Disitu disebutkan bahwa syiah terbagi tiga. Yang pertama adalah kafir, yang kedua adalah sesat (tapi tidak kafir dan masih dianggap islam) dan yang satu lagi bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama.

Syiah yang menuhankan Ali dan menabikan Ali, itulah Syiah yang kafir. Mereka bukan Islam.

Syiah yang tidak menuhankan Ali dan tidak menabikan Ali, tapi mereka melaknat para sahabat nabi, inilah Syiah Rafidhah, dan mungkin inilah syiahnya Iran saat ini. Para ulama kita menghukumi syiah ini dengan status sesat tapi bukan kafir. Mereka masih dianggap sebagai muslim, sebagai saudara kita, tapi mereka harus kita luruskan dengan jalan yang baik, bukan dengan jalan peperangan.

Adapun syiah ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang tidak menuhankan Ali, tidak menabikan Ali, tidak melaknat para sahabat nabi, tapi mereka berpendapat bahwa Ali lebih utama dari yang lain. Syiah ini, masih bisa diterima oleh mayoritas ulama kita.

Kembali pada Syiah nomor dua atau Syiah Rafidhah di atas, MUI kita menghukumi mereka sebagai sesat tapi tidak kafir, dan mereka masih dianggap sebagai muslim.

Hati-hati dengan kelompok yang kemana-mana sibuk mengatakan bahwa Syiah itu bukan islam, atau Syiah itu kafir dan lainnya. Mereka menuduh syiah secara umum, dengan maksud untuk mengkafirkan Syiah Rafidhah. Hati-hati dengan dengan kelompok seperti ini, karena pendapat mereka adalah pendapat radikal yang bisa memecah belah ummat islam, dan bisa membuat Indonesia menjadi seperti Suriah atau lainnnya.

Silakan lihat buku MUI di bawah. Di situ jelas terlihat MUI kita menjelaskan bahwa Syiah Rafidhah itu sesat, tapi mereka tidak kafir dan mereka masih dianggap sebagai muslim.

Tolong share tulisan ini, agar penjelasan MUI kita ini bisa tersebar di kalangan ummat Islam Indonesia, dan agar kita terhindar dari perang saudara di antara kita sendiri.

Saat men-share tulisan ini, kalau ada yang mengatakan “Anda Syiah” atau “Anda pembela syiah”, maka sadarilah bahwa orang-orang itulah yang sudah termakan slogan-slogan radikal yang bisa memecah belah ummat islam di Indonesia ini.

Katakan saja pada mereka, bahwa MUI kita juga berpendapat seperti itu, dan MUI kita bukan Syiah,  juga bukan pembela Syiah.

Untuk kita sendiri, mari kita cukupkan diri kita untuk mengikuti petunjuk dari MUI kita, dan bukan malah mengikuti pemahaman-pemahaman radikal yang berpotensi memecah belah ummat Islam Indonesia, dan bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh MUI kita.

Buku MUI bisa dilihat di bawah.

Tolong share tulisan ini.

image

image

image

MUI: Syiah terbagi tiga

MUI kita menjelaskan bahwa syiah itu terbagi menjadi tiga kelompok, dan dari tiga kelompok itu hanya ada satu kelompok yang disebut sebagai kafir, yaitu Syiah Ghulat. Kelompok kedua adalah Syiah Rafidhah yang sesat tapi masih dianggap sebagai bagian dari Islam. Adapun kelompok ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama Ahlu Sunnah.

MUI kita tidak memukul rata dan juga tidak  mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”.

Ini buktinya.

image

image

image