Pendapat Imam Al-Qurthubi tentang Istawa-nya Allah

☆☆ IMAM AL-QURTHUBI: BAB “ISTAWA” ☆☆

Imam Al-Qurthubi menuliskan dalam Tafsir nya sebagai berikut :

وهذه الآية من المشكلات، والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه، قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها؛ وذهب إليه كثير من الأئمة، وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى,قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه. وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة. وهذا قول المشبّهة. وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها

“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit,  dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat:

Sebagian mereka berkata:  “Kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam,  dan pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik (Rahimahullah) bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah Ta’ala (Ar-Rahman ‘ala Al-‘Arsyi Istawa),  lalu Imam Malik Menjawab : “Istiwa’ Tidak Majhul, dan Kaifiyat tidak terpikir oleh Akal (mustahil), dan beriman dengannya wajib,  dan bertanya tentangnya Bid’ah, dan saya lihat Anda adalah orang yang tidak baik. Tolong keluarkan dia…!!!”.

Dan sebagian mereka berkata : “Kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dzahir makna bahasa (lughat)”. Pendapat ini adalah Pendapat MUSYABBIHAH, (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).

Dan sebagian mereka berkata : “Kami baca dan kami ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dzahir”.

Kesimpulan:

1. Ambillah pendapat para imam, yaitu mengimani ayat tersebut apa adanya dengan tidak memaksakan dirinya dalam menetapkan artinya, atau menyerahkan artinya kepada Allah.

2. Atau ambillah pendapat yang ketiga, yang memberi makna dengan tetap menghindari penggunaan arti dzahir (arti tekstual), dan inilah pendapat kaum Asy’ari.

3. Jangan gunakan pendapat kaum Musyabbihah yang menggunakan arti dzahir (atau arti tekstual apa adanya), karena penggunaan arti dzahir ini sama dengan menyamakan Allah dengan Makhluk-Nya.


link tafsir Al-Jami’ Li Ahkaamil Qur’an karya Imam Al-Qurthubi, Surat Al-Baqarah ayat 29:
http://quran.al-islam.com/Page.aspx?pageid=221&BookID=14&Page=1

Advertisements

Ciri aliran sesat atau salah menurut MUI Aceh (Salafi Sesat?)

Berikut adalah fatwa MUI Aceh tentang ciri-ciri aliran yang sesat atau salah, yang sebagian besar ciri-ciri ini  ada pada aliran yang bernama kelompok Salafi yang ada di Gampong Pulo Raya Kecamatan Titeu Kabupaten Pidie, Aceh. Tidak menutup kemungkinan ciri ini ditemukan juga pada kelompok lain, atau kelompok Salafi yang ada di tempat lain.

Mari kita cermati apa ciri-ciri aliran yang sesat atau salah tersebut.


FATWA TENTANG PEMAHAMAN, PEMIKIRAN, PENGAMALAN DAN PENYIARAN AGAMA ISLAM DI ACEH

PERTAMA : Bidang Aqidah  

A. Mengimani bahwa zat Allah hanya di atas langit/’arasy adalah sesat dan menyesatkan; 

B. Mengimani bahwa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan; 

C. Mengimani bahwa kalamullah itu berhuruf dan bersuara adalah sesat dan menyesatkan; 

D. Mengimani bahwa Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS bukan Rasulullah adalah sesat dan menyesatkan. 

KEDUA :  Bidang Ibadah  

A. Pemahaman yang membolehkan niat shalat diluar takbiratul ihram adalah salah; 

B. Pemahaman yang mengharamkan qunut pada shalat shubuh adalah salah; 

C. Pemahaman yang menyatakan bahwa haram memperingati maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah; 

D. Pemahaman yang menyatakan bahwa haram berzikir dan berdo’a secara berjama’ah adalah salah; 

E. Pemahaman yang menyatakan bahwa wajib mengikuti hanya Al-Quran dan Hadits dalam bidang Aqidah, Syari’ah dan Akhlak  adalah salah.           

KETIGA   : Taushiyah

A. Meminta pemerintah untuk segera menutup pengajian, penyiaran dan ceramah yang difatwakan sesat oleh Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh seperti pengajian Kelompok Salafi di Gampong Pulo Raya Kecamatan Titeu Kabupaten Pidie dan ditempat lainnya serta melarang aktivitasnya; 

B. Meminta kepada masyarakat untuk tidak mengikuti pengajian, ceramah, penyiaran dan diskusi yang menyimpang dari ajaran Islam; 

C. Meminta kepada orang tua (wali) untuk melarang anaknya mengikuti pendidikan dan kegiatan lainnya yang menyimpang dari Islam; 

D. Meminta kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, dan ukhuwah

E. Meminta kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu keagamaan dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan;

F. Meminta kepada orang-orang yang terlanjur mengikuti ajaran menyimpang untuk segera bertobat dan membekali diri dengan ajaran Islam yang benar

G. Meminta kepada pihak terkait untuk menindaklanjuti Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh ini.  

Ditetapkan di  :   Banda Aceh             Pada tanggal   :   27 Sya’ ban 1435 H             25 Juni 2014 M 

PIMPINAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA ACEH K e t u a, 
d.t.o.
Drs. Tgk. H. Gazali Mohd. Syam  

Wakil Ketua, 
d.t.o.   Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA
Wakil Ketua, 
d.t.o.   Tgk. H.M. Daud Zamzamy
Wakil Ketua, 
d.t.o.  Tgk. H. Faisal Ali

Di atas adalah fatwa MUI Aceh tentang aliran yang sesat atau salah, salah satunya adalah aliran kelompok Salafi di Gampong Pulo Raya, Aceh.

Dan di bawah ini adalah saran dari saya pribadi untuk semua yang membaca artikel ini.

Saran:

1. Mari kita jaga agar keluarga kita, kerabat kita, anak-anak kita dan teman-teman kita, tidak teracuni oleh pemikiran aliran yang sesat atau salah seperti ini.

2. Kalau ada keluarga, kerabat, anak atau teman kita yang sudah teracuni pemikiran yang sesat atau salah ini, usahakan untuk bisa sesegera mungkin kita tarik keikutsertaannya dari pengajian-pengajian yang memiliki ciri-ciri seperti di atas.

3. Lihat juga sekolah anak kita, atau sekolah-sekolah yang ada di dekat kita. Kalau ada ciri-ciri yang cocok, hati-hati. Berkonsultasilah dengan ulama atau MUI setempat, bawa hasil fatwa MUI Aceh ini, dan tunjukkan bukti-buktinya. Semoga saja bisa segera diambil solusi.

4. Dan kalau ternyata kita sendiri yang sudah teracuni pemikiran sesat atau salah tersebut, maka segeralah bertaubat. Masih ada banyak ribuan ulama lain yang ilmunya lebih tinggi dari “ustadz” yang sudah mencemari pemikiran kita itu. Kita yang dulu tidak tahu, jangan sampai menjadi “merasa benar sendiri” hanya karena baru diajari satu atau dua pendapat, karena kalau itu kenyataan yang ada pada diri kita, maka sesungguhnya kita adalah pion-pion yang amat mudah disesatkan, dan itu biasanya dimulai dari doktrin “jangan mengaji pada ustadz lain“. Bertaubatlah, jauhilah pengajian-pengajian yang memiliki ciri-ciri di atas, kalau kita mau diri kita dan keluarga kita selamat di dunia dan akhirat.

Tolong share artikel ini, agar keluarga kita, anak kita, kerabat kita, dan teman-teman kita bisa terhindar dari pemikiran yang sesat atau salah ini.

Kalau orang yang benar malu untuk menyampaikan kebenaran, maka orang-orang yang sesat atau salah-lah yang akan menyebar info di medsos, dan ini adalah bencana untuk ummat Islam di Indonesia.

Beranilah untuk menyampaikan karena ini adalah keputusan MUI kita, agar yang sesat atau salah bisa segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa mendapatkan pemahaman yang benar dalam agama kita ini, Aamin ya Robbal ‘aalamiin.

Please share.

Kota Wali, malam 30 Ramadhan 1437H, 4 Juli 2016

Isa Ismet Khumaedi

sumber:
http://mpu.acehprov.go.id/uploads/Fatwa%20MPU%20Aceh%20Nomor%209%20Tahun%202014%20tentang%20Pemahaman%20Pemikiran%20Pengamalan%20dan%20Penyiaran%20Agama%20Islam%20di%20Aceh.pdf

Kalau ada orang yang sibuk bertanya, “Dimana Allah?”

image

Kalau ada orang yang sibuk bertanya, “Dimana Allah?”

Jawab saja:
“Siapa yang mengajari Anda untuk bertanya tentang hal itu?
Al-Qur’an tidak mengajari kita
untuk bertanya tentang hal seperti itu.
Berdoalah kepada Allah,
dan jangan tanya Allah ada di mana.”

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:186)

Tauhid terbagi tiga?

Dalam surat An-Naas, disebutkan adanya Robbun Naas, Maalikun Naas dan Ilaahun Naas.
Ini menjadi dasar yang amat kuat bahwa tauhid itu terbagi menjadi tauhid Rububiyah, Mulkiyah dan Ilaahiyah.
Itu kalau kita mau ikut Al-Qur’an.

Kalau mau ikut “kata ulama”, biasanya tauhid Mulkiyah diganti menjadi tauhid asma wa shifat. 😦

Dan kalau diingatkan, biasanya jawabannya adalah “seperti inilah ulama kami mengajarkan pada kami, dan pokoknya pembagian tauhid harus seperti ini”. 😦

Ini adalah sebagian realita yang ada pada masyarakat kita saat ini. 😦

Bagaimana seharusnya?

Nabi kita tidak pernah membagi Tauhid menjadi tiga. Kalaupun mau dibagi tiga, maka pembagian berdasarkan surat An-Naas di atas adalah pembagian yang paling pantas dan seharusnya tidak boleh ditolak oleh siapapun juga.

Tetapi, ulama kita juga ber-ijtihad dalam masalah ini. Tujuannya tentu saja agar ummat islam lebih mudah memahami agamanya. Maka muncullah teori tauhid 20 asma Allah, tauhid terbagi tiga (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat), atau lainnya. Semua ini adalah ijtihad para ulama, tidak lebih dan tidak kurang.

Masalahnya kadang muncul ketika ada orang-orang awam yang menuhankan hasil ijtihad ulama mereka. Lalu dari situ, mereka menyalahkan pendapat yang berbeda, dan akhirnya ummat Islam terpecah-belah karena disebabkan oleh orang-orang yang terlalu bersemangat ini.

Sikap yang benar adalah, mari kita tempatkan ijtihad ulama pada tempatnya. Ijtihad ulama harus kita hormati, tapi jangan kita jadikan sebagai satu-satunya patokan kebenaran, apalagi kalau dengan bermodalkan hal itu kita lantas menyerang orang yang berbeda pendapat dengan kita. Hal ini hanya akan menunjukkan bahwa diri kita adalah orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya menempatkan hasil ijtihad seorang ulama.

Semoga Allah memasukkan kita semua dalam barisan orang-orang yang bisa memahami. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

please share.

Di mana Allah?

1. Pendapat empat Imam Madzhab.
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– inilah pendapat Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah)

2. Jumhur Ulama (kaum Asy’ari)
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– tapi kalau mau dijelaskan, maka gunakanlah makna yang lebih pantas untuk Allah, misalnya Allah berada di atas singgasana-Nya maksudnya adalah Allah Maha Tinggi dan menguasai segala sesuatu.
– inilah pendapat Ta’wil (menta’wilkan makna istiwa-nya Allah dengan makna yang pantas bagi Allah).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy berbeda dengan keberadaan makhluk pada tempatnya.
– inilah pendapat Tatsbit (memastikan bahwa Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.)

4. Pendapat kaum Mujassimah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Fisik Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy berbeda dengan keberadaan makhluk pada tempatnya.
– inilah pendapat Tajsim (memastikan bahwa Allah benar-benar punya fisik dan punya anggota badan lainnya, serta menempati suatu tempat sepertihalnya makhluk).

5. Pendapat kaum Musyabbihah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Fisik Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy sama dengan keberadaan makhluk pada tempatnya, misalnya sama seperti manusia yang duduk di atas kursi.
– inilah pendapat Tasybih (meyakini Allah punya fisik dan meyakini bahwa fisik serta keberadaan Allah sama dengan fisik dan keberadaan manusia.)


Pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan nomor 5 (Musyabbihah) adalah pendapat yang sesat.

Pendapat nomor 3 (Tatsbit) mirip dengan nomor 4 (Mujassimah) dan juga mirip dengan nomor 5 (Musyabbihah), dan riskan jatuh pada kesesatan.

Yang aman, ambillah pendapat nomor 1 (tafwidh), atau pendapat nomor 2 (ta’wil). Insya Allah ini lebih aman, karena jauh dari pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan pendapat nomor 5 (Musyabbihah).

sumber:
Buku “Aqidah Salaf dan Khalaf”, karangan Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.

sumber artikel ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/26/di-mana-allah-2/

Artikel lain tentang “Di mana Allah??” beserta tabel perbandingan pendapat ulama:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/01/17/di-mana-allah/

Artikel lainnya tentang “Tangan Allah”:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/13/tangan-allah/

Tangan Allah

1. Pendapat empat Imam Madzhab.
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– inilah pendapat Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah)

2. Jumhur Ulama
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– tapi kalau mau dijelaskan, maka gunakanlah makna yang lebih pantas untuk Allah, misalnya kekuasaan Allah.
– inilah pendapat Ta’wil (menta’wilkan makna tangan Allah dengan makna yang pantas bagi Allah).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan.
– tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya
– inilah pendapat Tatsbit (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan.)

4.  Pendapat kaum Mujassimah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah berbeda dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tajsim (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan secara fisik dan punya anggota badan lainnya)

5. Pendapat kaum Musyabbihah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah sama dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tasybih (meyakini Allah punya fisik dan meyakini bahwa fisik Allah sama dengan fisik manusia.)


Pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan nomor 5 (Musyabbihah) adalah pendapat yang sesat.

Pendapat nomor 3 (Tatsbit) mirip dengan nomor 4 (Mujassimah) dan riskan jatuh pada kesesatan.

Yang aman, ambillah pendapat nomor 1 (tafwidh), atau pendapat nomor 2 (ta’wil). Insya Allah ini lebih aman, karena jauh dari pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan pendapat nomor 5 (Musyabbihah).

sumber:
Buku “Aqidah Salaf dan Khalaf”, karangan Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.

image

Artikel lain tentang “Di mana Allah??”
https://ismetkh.wordpress.com/2015/01/17/di-mana-allah/

Di mana Allah?

Rangkuman pendapat para ulama mengenai pertanyaan: “Di mana Allah?”

Semoga bisa menambah ilmu kita, dan menambah keimanan kita.

Silakan click gambar di bawah agar bisa tampil lebih besar.

Tabel perbandingan pendapat tentang pertanyaan "Di mana Allah?"

Tabel perbandingan pendapat tentang pertanyaan “Di mana Allah?”

Note: Kalau disebutkan bahwa imam empat madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, maka ini adalah benar. Tapi para imam ini tidak mau menyimpulkan bahwa secara hakikat Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy. Inilah titik perbedaan antara empat imam ini (yang berada di kelompok satu) dengan Ibnu Taimiyah (yang berada di kelompok tiga) yang meyakini bahwa secara hakikat Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy. Inilah perbedaan antara Tafwidh (menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah) dengan Tatsbit (meng-itsbat-kan atau menetapkan maknanya sesuai arti tekstualnya atau arti literalnya). Satu lagi, yang cukup krusial mungkin adalah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang merupakan imam terbesar dalam  masalah aqidah, yang pendapatnya dipegang oleh  mayoritas ulama dari dulu sampai sekarang. Ada yang menyebutkan bahwa beliau sudah kembali pada madzhab salaf. Kalaupun ini benar, maka maksudnya adalah kembali pada pemahaman imam empat madzhab (yang ada di kelompok satu) dan bukan kembali pada pendapat ibnu Taimiyah (yang berada di kelompok tiga). Wallahu A’lam.   — Screenshot dari buku sumber:

Cover Buku

Cover Buku

Tafwidh adalah pendapat para imam Madzhab. Inilah pendapat Salaf.

Pendapat pertama: yaitu pendapat Madzhab Salaf (Tafwidh).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal). Inilah titik perbedaan antara madzhab Salaf dan pendapat Ibnu Taimiyah. Inilah perbedaan antara tafwidh yang menyerahkan makna sifat Allah kepada Allah dengan tatsbit yang memaknai sifat Allah secara tekstual (literal).

Imam Ahmad pun menggunakan metode Tafwidh. Ini berbeda dengan Ibnu Taimiyah yang menggunakan metode Tatsbit.

Imam Ahmad pun menggunakan metode Tafwidh. Ini berbeda dengan Ibnu Taimiyah yang menggunakan metode Tatsbit.

Pendapat kedua adalah Tafwidh. Inilah pendapat mayoritas ulama. Inilah pendapat kaum Asy'ari.

Pendapat kedua adalah Ta’wil. Inilah pendapat mayoritas ulama. Inilah pendapat kaum Asy’ari.

Pendapat ketiga adalah Tatsbit. Tapi pendapat ini sulit difahami, dan riskan untuk jatuh pada Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)

Pendapat ketiga adalah Tatsbit. Tapi pendapat ini sulit difahami, dan riskan untuk jatuh pada Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)

Contoh Tatsbit yang salah adalah mengatakan bahwa Allah ada di langit, atau mengatakan bahwa Allah ada di atas ‘Arsy, atau mengatakan bahwa Allah memiliki tangan.

Pendapat ke-empat adalah Tasybih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ini adalah pendapat yang salah.

Pendapat ke-empat adalah Tasybih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ini adalah pendapat yang salah.Sebagian ulama Hambali terjerumus dalam pemahaman  yang salah ini. Ini menurut Ibnul Jauzi rahimahullah.