​Takdir dan aliran yang tidak benar

Ada satu ciri utama yang paling mudah untuk kita gunakan untuk menentukan satu aliran itu benar atau salah, yaitu dari dengan cara melihat pemahaman mereka dalam masalah takdir.

Ketika ada aliran yang berkata “jangan menggunakan logika”, sudah jelas ini aliran yang tidak benar, karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menanyakan “Tidakkah kamu berfikir?” atau lainnya.

Demikian pula kalau ada aliran yang mengatakan “jangan ikuti sebab akibat”, ini juga merupakan aliran yang tidak benar, karena sesungguhnya sebab akibat itu telah ditentukan oleh Allah sebagai satu bagian takdir yang harus kita imani.

Demikian pula dengan aliran yang memilih untuk pasrah kepada Allah dengan alasan “tawakkal”,  padahal hal itu bertentangan dengan hukum sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Maka, manakah yang benar?

1. Hujan turun karena awan mendung?

atau

2. Hujan turun karena Allah?

Yang benar adalah yang nomor tiga:

3. Hujan turun karena awan mendung, dan hubungan sebab akibat ini telah ditentukan oleh Allah subhaanahu wa Ta’ala.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nuur: 43)

Barang siapa meyakini hubungan sebab akibat, maka sesungguhnya dia telah beriman pada ketetapan takdir yang telah Allah tetapkan.

Hiduplah pada masa ini

Sebagian ummat Islam seakan-akan hidup di masa lalu. Mereka sangat sibuk membuka-buka lembaran hidup kaum salaf terdahulu, lalu sibuk meng-copy paste kisah itu pada kehidupan saat ini, dengan tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya penempatan kisah tersebut dengan kondisi kita saat ini. Akhirnya, mereka menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah hal yang digunakan oleh generasi salaf terdahulu.

Sebagian lagi seakan-akan hidup di masa datang. Mereka sangat sibuk membahas impian mewujudkan khilafah, sehingga mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar yang sebenarnya bisa dilakukan saat ini. Semua hal diarahkan menuju ketiadaan khilafah, dan solusi jangka pendek tidak pernah diambil karena sibuk memikirkan khilafah di masa datang. Akhirnya, mereka juga menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah sistem yang tepat untuk mewujudkan khilafah di masa datang.

Akibatnya, di masa kita ini, justru orang-orang yang tidak benar-lah yang menjadi pemimpin. Sebagiannya mungkin berasal dari kelompok sempalan Islam yang membenci sahabat nabi, sebagian lagi berasal dari kaum munafik yang tidak peduli lagi tentang perintah-perintah Allah, bahkan tidak lagi meyakini hari akhirat, dan sebagian lagi bahkan berasal dari kalangan ahlul kitab ataupun kaum kafir.

Kalau sudah seperti ini, barulah sebagiannya sadar atas kekeliruan selama ini. Tapi sebagian lagi tetap tidak berubah, dan tetap berpegang pada pendirian masa lalu dan masa datang ini.

Maka, tugas kita adalah, lakukanlah apa yang bisa kita lakukan saat ini. Karena sekecil apapun perbaikan yang kita lakukan, Allah tetap akan membalasnya.

Marilah kita hidup saat ini, untuk beramal saat ini, untuk perbaikan yang bisa kita lakukan saat ini. Insya Allah itu adalah jalan menuju perbaikan di masa mendatang. Karena setiap langkah kebaikan pasti membuahkan kebaikan baru pada langkah berikutnya.

Dan setelah itu, marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan keterbatasan yang kita miliki. Semoga saja Allah mau meringankan beban kita semua, aamiin.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 286)

Semua sudah mengambil peran

​Drama Al-Maaidah:51-57
SEMUA SUDAH MENGAMBIL PERAN

Semua peran dalam surat Al-Maaidah:51-57 sudah ditampilkan.
Ada non-muslim yang ngebet pingin jadi pemimpin.
Ada kelompok munafik yang mendukung calon non-muslim tersebut.
Ada kelompok orang-orang yang beriman yang menolak calon non-muslim tersebut.

Dan ada satu lagi, yaitu kelompok orang-orang yang suka mencela orang yang beriman. Bisa jadi kelompok ini berasal dari kelompok munafik, atau bisa jadi juga berasal dari kelompok lain yang hobi-nya memang mencela, termasuk mencela orang-orang beriman yang menolak pemimpin non-muslim ini.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah:54)

Bid’ah Bejana Emas

Hari ini saya mengikuti kajian, yang katanya “mengikuti manhaj salaf”.

Di bagian awal disebutkan bahwa kita wajib berpegang hanya pada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulaafaur Raasyidiin saja. Di luar itu adalah bid’ah, dan bid’ah itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Maka, kelompok ini sesat, kelompok itu bid’ah, kelompok anu memecah belah agama, mereka memecah belah ummat, dll.

Di bagian tengah, masuk ke inti tema (ternyata ini toh intinya), yaitu membahas hadits tentang larangan menggunakan bahan emas dan perak untuk bejana, gelas atau piring.

Di bagian akhir, disebutkan bahwa penggunaan bejana emas untuk berwudhu juga dilarang, dan larangan ini tidak berasal nabi atau para sahabat, melainkan berdasarkan kesimpulan seorang ulama yang membuat buku tsb. Tanpa sadar, dua kali ustadznya menyebutkan hal ini.

Hampir saja saya bertanya, “Yang seperti itu bid’ah bukan, Ustadz?”

Tapi ya sudahlah, semoga suatu saat nanti bisa sadar. Baarakallahu.

Semoga yang membaca artikel ini bisa faham, bahwa adil dalam menyikapi suatu hal itu Insya Allah lebih dekat pada kebenaran.
Aamiin.

Depok, 12 Desember 2016
Isa Ismet Khumaedi

#BulughulMaramBabThaharoh

Orang baik vs Orang yang lebih baik

Orang baik itu pada dasarnya terbagi dalam dua kelompok.

Yang pertama adalah, orang yang statusnya memang “orang baik”.
Orang yang ada di kelompok ini adalah orang-orang yang berusaha membuat dirinya menjadi baik. Jadi, apa-apa yang ada di luar dirinya kadang kala dijadikan sebagai tantangan bagi dirinya untuk bisa bertahan atau tidak. Tidak heran, terkadang orang baik yang ada di kelompok ini juga memiliki pemahaman “kenapa kejahatan harus dilarang? kalau kita punya iman yang baik bukankah kita pasti bisa bertahan?”.

Dalam sudut pandang yang ekstrim, kadang kala orang baik yang ada di kelompok ini meyakini bahwa kejahatan, atau lainnya, adalah hal yang harus ada dan tidak boleh dihilangkan, karena tanpa ada itu semua maka status baik tidaknya seseorang menjadi tidak teruji lagi.

Pendek kata, “Aku baik, dan aku bisa tetap menjadi baik meskipun di tengah lingkungan yang jahat” adalah landasan pemikiran kelompok ini.

Adapun kelompok kedua adalah kelompok “orang-orang yang baik dan selalu berusaha menebarkan kebaikan pada orang di sekitarnya”.
Bersamaan dengan dengan itu, kelompok ini juga berusaha agar kejahatan tidak berada di sekelilingnya, karena hal itu bisa mengganggu usahanya untuk menebarkan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya.

Kelompok ini meyakini bahwa tidak semua orang bisa menjadi baik, atau tidak semua orang bisa bertahan terhadap godaan-godaan kejahatan yang ada di sekitarnya. Maka kelompok ini akan selalu merasa terpanggil untuk mencegah kejahatan, karena meyakini bahwa kalau kejahatan itu muncul di muka umum, maka ada banyak orang awam yang akan tertipu, atau ada banyak orang berilmu yang akan tergoda.

Kelompok pertama adalah kelompok yang baik. Tapi kelompok kedua adalah kelompok yang lebih baik, karena di dalam Islam, kita dididik untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kejahatan), dan kita tidak dididik untuk sekedar menjadi manusia yang bisa bertahan terhadap kejahatan saja.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imraan:110)

​Larangan membuat bid’ah bagi Khulaafaur Raasyidiin

Di dalam Islam, ada larangan yang berlaku bagi ummat Islam tapi tidak berlaku bagi Nabi Muhammad saw, misalnya larangan untuk tidak menikahi lebih dari empat wanita.

Ini adalah kekhususan hanya untuk nabi kita saja, tapi tidak untuk yang lain.

Maka, kalau ada larangan membuat bid’ah, maka larangan ini juga berlaku bagi Khulafaaur Raasyidiin. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin membuat syariat baru dalam masalah ibadah, maka hukumnya seharusnya adalah bid’ah -> sesat -> neraka. Karena larangan bagi seluruh ummat Islam juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin, tanpa ada pengecualian. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin mengubah sholat Subuh menjadi tiga roka’at maka itu adalah bid’ah, karena tidak ada yang boleh mengubah syariat nabi kita.

Adalah aneh kalau kita berpendapat bahwa bid’ah itu dilarang tapi larangan ini tidak berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

Yang benar adalah, tidak semua hal baru itu bid’ah, baik dalam masalah ibadah ataupun bukan, dan Khulaafaur Raasyidiin juga tahu mana hal baru yang bid’ah dan mana yang bukan, dan yang bukan bid’ah itulah yang mereka kerjakan.

Artinya, tidak semua hal baru itu bid’ah, karena semua larangan dalam agama ini juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

​Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi

Dalam kasus korupsi bus Trans-Jakarta, Ahok bebas.
Dalam kasus korupsi reklamasi, Ahok bebas.
Dalam kasus Sumber Waras, lagi-lagi Ahok bebas.

Terakhir, dalam kasus penistaan Al-Qur’an, Kabareskrim bahkan mengatakan bahwa mereka tidak bisa memeriksa Ahok karena “belum mendapat ijin dari Presiden”.

Akhirnya, meledaklah kemarahan rakyat dalam bentuk aksi damai 411 di depan istana negara, yang dihadiri oleh satu juta ummat islam.

Untuk kasus terakhir, yaitu kasus penistaan Al-Qur’an, kalau kasusnya terjadi di Pakistan atau Saudi, mungkin pelakunya sudah dihukum gantung. Tapi di Indonesia, ummat Islam hanya meminta hukuman yang adil: Penjarakan Ahok sepertihalnya Arswendo yang dulu menghina Nabi Muhammad atau seperti kasus ibu-ibu yang menghina agama Hindu. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Tapi dengan melihat kasus-kasus korupsi sebelumnya, yang Ahok selalu bebas dari jeratan hukum, maka seharusnya ummat Islam juga mengambil sikap: Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi! Karena sudah terbukti, Ahok memiliki beking yang akan mengambil sebagian area kita melalui langkah yang amat halus, dan itu semua akhirnya merusak tatanan hukum di negara kita ini. Artinya, para pendukung Ahok akan mati-matian memperjuangkan Ahok, bahkan sampai pada taraf meng-intervensi hukum agar Ahok selalu bebas dari jeratan hukum.

Maka, Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi. Jangan biarkan semua intervensi yang sudah terjadi terulang lagi. Dan mari kita tunjukkan bahwa semua yang akan merusak tatanan hukum ini, mereka semua harus diluruskan.

Kembali pada kelompok pembela Ahok, bahkan sampai pada detik terakhir Presiden masih tetap tidak mau menjumpai para demonstran dan malah memilih untuk “berkunjung ke bengkel Bandara”. Tapi akhirnya, tekanan politik mampu memberikan hasil: Presiden akhirnya mengeluarkan pernyatan untuk tidak akan meng-intervensi kasus Ahok.

Di sini, ada dua pelajaran untuk kita. Yang pertama, nasihat pada pemimpin tidak selamanya harus disampaikan melalui jalur empat mata atau jalur halus, ada kalanya kita harus mengambil langkah yang tegas untuk menyampaikan nasehat ini. Dan yang kedua, penyelewengan yang sudah terjadi secara terang-terangan harus diluruskan secara terang-terangan pula, agar masyarakat bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Jangan biarkan negeri ini hancur akibat adanya sekelompok asing yang ingin menguasai Indonesia, karena kelompok ini sudah terbukti akan merusak tatanan hukum di negara kita, dan sudah terbukti merusak keharmonisan ummat beragama di negeri ini.

Dan untuk mewujudkan itu semua, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan agar: Ahok tidak lagi jadi Gubernur!


Isa Ismet K
Depok, 18 Nov 2016