Mengapa Salafi Anti Gerakan 212?

Artikel yang sangat bagus sekali.

Silakan dibaca sampai selesai, semoga bermanfaat.


Mengapa Salafi Anti Gerakan 212?

December 2, 2017 

By Muhammad Zulifan
Di tengah meluapnya antusiasme umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia untuk menggelar Aksi Reuni Akbar 212 di Lapangan Monumen Nasioan (Monas) Jakarta, sebagian masyarakat bersikap antipati dan cenderung  nyinyir sebagaimana  ditunjukkan oleh jamaah Salafi (Salafi Mainstream). Bagi mereka Aksi 212 dan sejenisnya adalah bid’ah dan tidak punya landasan syar’i. Keluar untuk berdemo adalah tindakan khuruj (pembangkangan) kepada pemerintahan yang sah. Aneh! Di negara demokrasi terbesar ketiga dunia ini, kegiatan unjuk rasa damai (demonstrasi) masih dipertanyakan keabsahan hukumnya.
Sikap Apolitis
Secara umum, jamaah Salafi tidak mempunyai konsep sosial-politik apalagi metode mengishlah negara. Bagi mereka, wajib hukumnya untuk senantiasa taat pada ulil amri bagaimanapun keadaan sang pemimpin selama ia masih sholat dan apapun bentuk pemerintahannya. Corak ketaatan mutlak pada pemerintah tersebut terpengaruh oleh sejarah negara saudi sebagai basis ideologi Salafi yang membagi otoritas agama untuk Muhammad ibn Abdul Wahhab (ulama) dan otoritas politik untuk Raja (Bani Saud).
Salafi bercita-cita mengadopsi kehidupan generasi salaf yang hidup di jazirah Arab ribuan tahun lalu tanpa memisahkan mana perkara tsawabit (permanen) dan mana yang mutaghayyirat (dinamis) dalam konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia. Mereka mempraktekkan secara letterlijk apa-apa yang ada di masa salaf hingga ke ranah sosial budaya dan politik sekalipun. Meskipun kenyataannya, cara merujuk generasi salaf tersebut didasarkan atas penafsiran para ulama kontemporer Arab Saudi seperti Syaikh Nasiruddin al-Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, dst. Yang jelas, seluruh ulama di dunia sudah barang tentu merujuk generasi Salaf dan tidak terbatas pada ulama-ulama Saudi tersebut.

 

Alhasil, pandangan sosial-politik kaum salafi justru pada akhirnya mengikuti kebijakan Raja dan para ulama dalam konteks masyarakat Arab Saudi yang sama sekali berbeda dengan kondisi sosial-politik Indonesia. Padahal di Arab Saudi, seluruh aspek kehidupan diatur negara hingga imam masjid pun ditunjuk dan digaji kerajaan. Tugas rakyat hanya satu; patuh pada perintah Raja.
Sementara di tanah air sudah ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi jamaah dan ormas Islam di Indonesia dalam menentukan sikap kaum muslimin. Hal ini yang menjadikan kaum salafi menderita gagap sosial dimana satu sisi mereka tinggal di bumi Indonesia namun di sisi lain mereka lebih mendengar fatwa-fatwa ulama Saudi dan kebijakan Kerajaan yang berbeda konteks dalam penerapannya. Soal Pemilu misalnya, satu sisi mereka meyakini wajib taat ulil amri (pemerintah) meskipun dzalim sekalipun, namun saat MUI dan pemerintah mengarahkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu mereka justru golput.
Termasuk soal aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang dibolehkan Pemerintah RI melalui Undang-Undang negara, kaum Salafi justru menghukumi haram karena masuk kategori khuruj (pembangkangan). Alhasil, mereka mencap khawarij muslim yang berunjuk rasa kepada penguasa meski MUI sendiri tidak melarangnya sepanjang dilakukan dengan tertib. Jika aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang esensinya adalah mengemukakan kritik atau pendapat disebut membangkang, maka bagaimana posisi lembaga resmi negara seperti DPR yang tiap hari mengkritik pemerintah? Apakah akan disebut sebagai khuruj yang dilembagakan atas peran mengkritik kebijakan pemerintahan? Tentu tidak.
Dalam prinsip ketatanegaraan RI, pemerintahan eksekutif yang sehat adalah pemerintahan yang terkontrol secara seimbang, baik melalui lembaga perwakilan (DPR dan DRPD) ataupun langsung (mengemukakan pendapat). Mereka yang melarang aksi unjuk rasa ataupun demonstrasi, pada intinya menghendaki pemerintahan diktator tanpa control sebagaimana terjadi kini terjadi di kawasan Teluk (khususnya Arab Saudi) . Di sinilah salah konteks kaum Salafi Indonesia.
Kesalahan Paradigma Salafi
Istilah salaf merujuk pada generasi Islam yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah SAW, tabi’in (muridnya shahabat) dan tabi’ut tabi’in (muridnya tabi’in). Dalam sebuah hadits Nabi menyatakan, “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, No. 3650).
Sedangkan jamaah Salafi adalah sekelompok umat Islam (jamaah minal muslimin) yang bermula dari pemikiran seorang tokoh bernama Muhammad ibn Abdul Wahhab hingga pada awal kemunculannya mereka disebut sebagai gerakan Wahabi. Jamaah ini kemudian hari menisbatkan namanya pada generasi salaf menjadi Salafi.
Penisbatan nama Salaf menjadi nama jamaah (Salafi) tersebut di kemudian hari menjadi masalah serius karena para pengikutnya memaknai kata Salafi secara diametral dengan nama jamaah di luar mereka; kami penerus generasi Salaf sedang yang lain tidak. Berbeda dengan jamaah Muhammadiyah misalnya (secara terminologi bermakna pengikut Nabi Muhammad), nama tersebut tidak menjadikan mereka menganggap jamaah lain bukan pengikut Nabi Muhammad SAW. Bagaimanapun, penamaan Salafi hanyalah ijtihadiyah yang bisa benar di satu hal, bisa pula tidak sesuai di hal lain. Begitu pula jamaah-jamaah Islam lainnya.
Turunan dari kesalahan paradigma eksklusif tersebut kemudian memunculkan fabrikasi istilah-istilah yang mendeskreditkan kaum muslimin di luar mereka. Sebagaimana yang ramai baru-baru ini kata “dakwah sunnah”, “ustadz sunnah”, dan “Kajian Sunnah” yang diklaim sepihak oleh mereka. Padahal oleh generasi salaf, kata sunnah dipakai sebagai pedoman untuk menentuan mana yang benar atau menyimpang dalam masalah-masalah pokok agama (ushuluddin), bukan untuk menentukan benar salah dalam masalah furu’ (khilafiyah). Yang benar disebut ahlus sunnah, sedang yang menyimpang disebut ahlu bidah. Ahlu bid’ah yang dimaksud di sini adalah golongan yang menyimpang secara aqidah seperti khawarij, murjiah, mu’tazilah, dll. Terang saja hal ini menimbulkan kemarahan di kalangan kaum muslimin non salafi yang berbeda pemahaman dalam hal furu’ (perkara cabang) dengan mereka.
Paradigma selanjutnya yang keliru dari jamaah Salafi pada umumnya adalah menjadikan negara Arab Saudi sebagai rujukan dalam semua kebijakan jamaah termasuk urusan politik meski mereka tinggal di Indonesia. Bagaimanapun Arab Saudi adalah sebuah entitas negara yang punya kepentingan pragmatis bidang politik yang kadang bertentangan dengan prinsip generasi Salaf itu sendiri. Sebagai misal hubungan erat yang terjalin sekian lama dengan AS tidak bisa dilepaskan dengan kepentingan pragmatis kerajaan. Meskipun ada ayat yang melarang muslim menjadikan kaum kuffar sebagai auliya atau teman dekat (Q.S. Al-Maidah ayat 51). Pada Perang Teluk 1990 misalnya, Arab Saudi menghadapi Irak (Saddam Hussein) yang sama-sama Sunni. Tentu isu Syiah-Sunni tidak dipakai saat itu. Oleh Raja Fahd, Saddam Hussein dianggap akan mencaplok  wilayah Saudi setelah sebelumnya berhasil mencaplok Kuwait. Maka Raja Fahd meminta bantuan AS dan koalisi untuk memerangi Irak. Ketika Raja Fahd minta bantuan Amerika, sebagian kecil ulama di Saudi Arabia menolak untuk mendukung keputusan tersebut dengan pertimbangan bahwa meminta bantuan orang kafir untuk menghabisi umat Islam adalah tindakan salah. Merekalah ulama yang hingga kini kritis terhadap kebijakan Kerajaan.
Sayangnya, mayoritas jamaah Salafi di Indonesia tidak bisa memilah mana fatwa agama dan mana kebijakan Politik Raja. Di Arab Saudi, ulama berada pada posisi tidak punya pilihan untuk bersikap berbeda dengan kebijakan Raja karena konsekuensinya pasti dipenjara sebagaimana dialami Dr. Aid Al-Qarni (pengarang buku Laa Tahzan), Syaikh Al-Arify, Syaikh Salman Audah, dll. Bahkan di era Muhammad bin Salman tindakan represif kepada yang berbeda pandangan meningkat.
Generasi Salaf Vs Generasi Saud
Jamaah Salafi secara umum – terlebih mereka yang lembaganya terkoneksi sumber pendanaan dari Saudi – secara totalitas taklid buta kepada kebijakan Kerajaan. Salah satunya terlihat pada keberpihakan mereka atas Kebijakan ugal-ugalan putra Mahkota Muhammad Bin Salman (MBS)baru-baru ini. Bahkan yang memprihatikan, kalangan ulama Saudi yang sebelumnya begitu getol melarang wanita menyetir dengan berbagai argumen “shahih”, kini diam seribu bahasa saat MBS memperbolehkannya. Seolah ketaatan mereka berada pada Raja, bukan pada dalil (‘illat) itu sendiri.
Padahal, jika kaum Salafi mau sedikit berfikir, MBS setidaknya telah melakukan 3 kesalahan fatal yang menciderai prinsip-prinsip agama Islam;
Pertama, menyerang negeri Muslim Yaman. Dengan dalih syiah, perang telah mengakibatkan ratusan ribu umat Islam termasuk wanita dan anak-anak tak berdosa terbunuh. Jika bisa menjalin hubungan yang begitu mesra dengan AS yang menyembah selain Allah, mengapa tidak bisa membuat formulasi yang lebih soft pada sesama penyembah Allah? Begitukah aqidah Salaf? Hingga kini negeri muslim itu porak-poranda dan konflik berlanjut tak tentu ujungnya. Arab Saudi keburu kehabisan nafas akibat harga minyak yang melemah. Jutaan muslim menjadi pengungsi karena ambisi MBS sebagai menteri Pertahanan Saudi.
Kedua, memblokade Qatar. Saat dalih Syiah tidak ditemukan, maka dalih terorisme digunakan. Memblokade sebuah negeri muslim adalah bid’ah karena tidak ada dalil ataupun contoh dari Salafussaleh untuk memblokade kaum muslimin hingga ribuan orang menderita dan mengalami kesusahan.
Dan ketiga, membina hubungan diplomatik dengan Israel, sementara di dalam negeri memenjarakan Ulama, dosen, dan petugas masjid yang tidak sejalan dengan kebijakan politiknya. Bahkan Israel sendiri yang menyatakan MBS berkunjung ke Tel Aviv. Ini sebuah bid’ah yang luar biasa. Tidak ada dalilnya ataupun contoh dari Salafussaleh, kecuali dalil dari Amerika.
Mereka yang membabi-buta membela Saudi dan MBS, tentu akan dimintai pula pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karenanya, ada baiknya jamaah Salafi Indonesia berani berbeda pendapat dengan kebijakan Kerajaan karena yang dijamin benar dan lurus oleh Nabi SAW adalah generasi Salaf, bukan generasi Saud.
Sumber:

https://duniatimteng.id/mengapa-salafi-anti-gerakan-212/

Advertisements

Syaikh bin Baz: Bumi itu Bulat

​Pendapat Syaikh bin Baz: Apakah Bumi itu bulat atau datar?



“Berdasarkan orang-orang berilmu, bumi bentuknya bulat. Bahkan, Ibnu Hazm dan ulama lainnya [di masa lampau, abad ke-9] telah menyatakan bahwa hal ini merupakan ijma’ dari para ulama. Artinya, semua permukaan bumi bersambungan satu sama lain sehingga bentuk dari planet ini adalah seperti bola.

Namun demikian, Allah telah menghamparkan, meluaskan permukaan bumi dalam hubungannya dengan [fungsinya terhadap] manusia. Dan Dia telah menempatkan gunung yang kokoh, lautan dan kehidupan sebagai rahmat bagi kita. Untuk alasan inilah, Allah berfirman: “Dan (tidakkah mereka melihat) kepada Bumi, bagaimana kami menghamparkannya (suthihat)?” [Surat Al Ghasiyyah: 20].

Dengan demikian, Bumi telah diratakan, dihamparkan bagi kita sehingga membantu kita dalam hidup di atasnya dan merasa nyaman. Fakta bahwa bumi berbentuk bulat tidak mencegah permukaannya dijadikan datar, terhampar, bagi manusia. Hal ini dikarenakan sesuatu yang bulat dan teramat besar maka permukaannya juga akan sangat luas dan terhampar, sehingga terlihat datar bagi yang berada di permukaannya.”

Arabic:

هل الأرض كروية أم سطحية؟

الأرض كروية عند أهل العلم، قد حكى ابن حزم وجماعة آخرون إجماع أهل العلم على أنها كروية، يعني أنها منضمٌ بعضها إلى بعض مدرمحة، كالكرة، لكن الله بسط أعلاها لنا فجعل فيها الجبال الرواسي، وجعل فيها الحيوان والبحار رحمةً بنا، ولهذا قال: وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ [(20) سورة الغاشية]. فهي مسطوحة الظاهر لنا ليعيش عليها الناس ويطمئن عليها الناس، فكونها كروية لا يمنع تسطيح ظاهرها ؛ لأن الشيء الكبير العظيم إذا سُطح صار له ظهرٌ واسع.

sumber (arabic):

http://www.binbaz.org.sa/noor/9167

(ada rekaman suaranya juga)

Tambahan, di bawah ini adalah kesaksian Astronot Muslim dari Saudi, Pangeran Sulthan bin Salman.


Lihat menit ke 49:51

Dan di bawah ini adalah kesaksian Astronot Muslim Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor.

Lihat menit ke 30:22

Dua astronot muslim ini membuktikan bahwa bumi itu bulat, dan bukan datar.



Semoga kita dan anak-anak kita semua bisa terhindar dari pemahaman “Bumi Datar” yang bukan hanya tidak ilmiah, tapi juga sama sekali tidak berdasarkan fakta, dan yang paling berbahaya adalah bisa membuat ummat Islam makin tertinggal dalam masalah ilmu pengetahuan dan teknologi.


​Takdir dan aliran yang tidak benar

Ada satu ciri utama yang paling mudah untuk kita gunakan untuk menentukan satu aliran itu benar atau salah, yaitu dari dengan cara melihat pemahaman mereka dalam masalah takdir.

Ketika ada aliran yang berkata “jangan menggunakan logika”, sudah jelas ini aliran yang tidak benar, karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menanyakan “Tidakkah kamu berfikir?” atau lainnya.

Demikian pula kalau ada aliran yang mengatakan “jangan ikuti sebab akibat”, ini juga merupakan aliran yang tidak benar, karena sesungguhnya sebab akibat itu telah ditentukan oleh Allah sebagai satu bagian takdir yang harus kita imani.

Demikian pula dengan aliran yang memilih untuk pasrah kepada Allah dengan alasan “tawakkal”,  padahal hal itu bertentangan dengan hukum sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Maka, manakah yang benar?

1. Hujan turun karena awan mendung?

atau

2. Hujan turun karena Allah?

Yang benar adalah yang nomor tiga:

3. Hujan turun karena awan mendung, dan hubungan sebab akibat ini telah ditentukan oleh Allah subhaanahu wa Ta’ala.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nuur: 43)

Barang siapa meyakini hubungan sebab akibat, maka sesungguhnya dia telah beriman pada ketetapan takdir yang telah Allah tetapkan.

Hiduplah pada masa ini

Sebagian ummat Islam seakan-akan hidup di masa lalu. Mereka sangat sibuk membuka-buka lembaran hidup kaum salaf terdahulu, lalu sibuk meng-copy paste kisah itu pada kehidupan saat ini, dengan tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya penempatan kisah tersebut dengan kondisi kita saat ini. Akhirnya, mereka menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah hal yang digunakan oleh generasi salaf terdahulu.

Sebagian lagi seakan-akan hidup di masa datang. Mereka sangat sibuk membahas impian mewujudkan khilafah, sehingga mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar yang sebenarnya bisa dilakukan saat ini. Semua hal diarahkan menuju ketiadaan khilafah, dan solusi jangka pendek tidak pernah diambil karena sibuk memikirkan khilafah di masa datang. Akhirnya, mereka juga menjauhi pemilu, karena mereka berpendapat bahwa pemilu bukanlah sistem yang tepat untuk mewujudkan khilafah di masa datang.

Akibatnya, di masa kita ini, justru orang-orang yang tidak benar-lah yang menjadi pemimpin. Sebagiannya mungkin berasal dari kelompok sempalan Islam yang membenci sahabat nabi, sebagian lagi berasal dari kaum munafik yang tidak peduli lagi tentang perintah-perintah Allah, bahkan tidak lagi meyakini hari akhirat, dan sebagian lagi bahkan berasal dari kalangan ahlul kitab ataupun kaum kafir.

Kalau sudah seperti ini, barulah sebagiannya sadar atas kekeliruan selama ini. Tapi sebagian lagi tetap tidak berubah, dan tetap berpegang pada pendirian masa lalu dan masa datang ini.

Maka, tugas kita adalah, lakukanlah apa yang bisa kita lakukan saat ini. Karena sekecil apapun perbaikan yang kita lakukan, Allah tetap akan membalasnya.

Marilah kita hidup saat ini, untuk beramal saat ini, untuk perbaikan yang bisa kita lakukan saat ini. Insya Allah itu adalah jalan menuju perbaikan di masa mendatang. Karena setiap langkah kebaikan pasti membuahkan kebaikan baru pada langkah berikutnya.

Dan setelah itu, marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan keterbatasan yang kita miliki. Semoga saja Allah mau meringankan beban kita semua, aamiin.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 286)

Semua sudah mengambil peran

​Drama Al-Maaidah:51-57
SEMUA SUDAH MENGAMBIL PERAN

Semua peran dalam surat Al-Maaidah:51-57 sudah ditampilkan.
Ada non-muslim yang ngebet pingin jadi pemimpin.
Ada kelompok munafik yang mendukung calon non-muslim tersebut.
Ada kelompok orang-orang yang beriman yang menolak calon non-muslim tersebut.

Dan ada satu lagi, yaitu kelompok orang-orang yang suka mencela orang yang beriman. Bisa jadi kelompok ini berasal dari kelompok munafik, atau bisa jadi juga berasal dari kelompok lain yang hobi-nya memang mencela, termasuk mencela orang-orang beriman yang menolak pemimpin non-muslim ini.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah:54)

Bid’ah Bejana Emas

Hari ini saya mengikuti kajian, yang katanya “mengikuti manhaj salaf”.

Di bagian awal disebutkan bahwa kita wajib berpegang hanya pada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulaafaur Raasyidiin saja. Di luar itu adalah bid’ah, dan bid’ah itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Maka, kelompok ini sesat, kelompok itu bid’ah, kelompok anu memecah belah agama, mereka memecah belah ummat, dll.

Di bagian tengah, masuk ke inti tema (ternyata ini toh intinya), yaitu membahas hadits tentang larangan menggunakan bahan emas dan perak untuk bejana, gelas atau piring.

Di bagian akhir, disebutkan bahwa penggunaan bejana emas untuk berwudhu juga dilarang, dan larangan ini tidak berasal nabi atau para sahabat, melainkan berdasarkan kesimpulan seorang ulama yang membuat buku tsb. Tanpa sadar, dua kali ustadznya menyebutkan hal ini.

Hampir saja saya bertanya, “Yang seperti itu bid’ah bukan, Ustadz?”

Tapi ya sudahlah, semoga suatu saat nanti bisa sadar. Baarakallahu.

Semoga yang membaca artikel ini bisa faham, bahwa adil dalam menyikapi suatu hal itu Insya Allah lebih dekat pada kebenaran.
Aamiin.

Depok, 12 Desember 2016
Isa Ismet Khumaedi

#BulughulMaramBabThaharoh

Orang baik vs Orang yang lebih baik

Orang baik itu pada dasarnya terbagi dalam dua kelompok.

Yang pertama adalah, orang yang statusnya memang “orang baik”.
Orang yang ada di kelompok ini adalah orang-orang yang berusaha membuat dirinya menjadi baik. Jadi, apa-apa yang ada di luar dirinya kadang kala dijadikan sebagai tantangan bagi dirinya untuk bisa bertahan atau tidak. Tidak heran, terkadang orang baik yang ada di kelompok ini juga memiliki pemahaman “kenapa kejahatan harus dilarang? kalau kita punya iman yang baik bukankah kita pasti bisa bertahan?”.

Dalam sudut pandang yang ekstrim, kadang kala orang baik yang ada di kelompok ini meyakini bahwa kejahatan, atau lainnya, adalah hal yang harus ada dan tidak boleh dihilangkan, karena tanpa ada itu semua maka status baik tidaknya seseorang menjadi tidak teruji lagi.

Pendek kata, “Aku baik, dan aku bisa tetap menjadi baik meskipun di tengah lingkungan yang jahat” adalah landasan pemikiran kelompok ini.

Adapun kelompok kedua adalah kelompok “orang-orang yang baik dan selalu berusaha menebarkan kebaikan pada orang di sekitarnya”.
Bersamaan dengan dengan itu, kelompok ini juga berusaha agar kejahatan tidak berada di sekelilingnya, karena hal itu bisa mengganggu usahanya untuk menebarkan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya.

Kelompok ini meyakini bahwa tidak semua orang bisa menjadi baik, atau tidak semua orang bisa bertahan terhadap godaan-godaan kejahatan yang ada di sekitarnya. Maka kelompok ini akan selalu merasa terpanggil untuk mencegah kejahatan, karena meyakini bahwa kalau kejahatan itu muncul di muka umum, maka ada banyak orang awam yang akan tertipu, atau ada banyak orang berilmu yang akan tergoda.

Kelompok pertama adalah kelompok yang baik. Tapi kelompok kedua adalah kelompok yang lebih baik, karena di dalam Islam, kita dididik untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kejahatan), dan kita tidak dididik untuk sekedar menjadi manusia yang bisa bertahan terhadap kejahatan saja.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imraan:110)