Agar menjadi orang yang bertaqwa?

Ibadah puasa memiliki tujuan agar kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Bagaimanakah orang yang bertaqwa itu?

Dua ayat berikutnya memberikan isyarat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah, 185)

Bertaqwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada. Dan ini sesuai dengan ayat awal dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah, 2)

Apakah kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa?

Kalau kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa, maka mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik awal perubahan bagi diri kita, untuk mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada.

29 Ramadhan 1439H (14 Juni 2018)

Advertisements

Menyikapi Al-Qur’an

Dalam menyikapi Al-Qur’an, manusia terbagi tiga.

1. menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk.

2. tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk.

3. menolak Al-Qur’an.

Yang diajarkan di dalam Al-Qur’an adalah yang nomor 1.
Sudahkah kita menjadi kelompok ini?

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, … (QS. Al-Baqarah, ayat 185)

Dua hal yang sebaiknya dihindari saat Ramadhan

1. Buka puasa bersama dan meninggalkan sholat jamaah Maghrib, Isya atau Taraweh.

Alasannya:
– Sholat berjamaah di Masjid adalah ibadah yang utama, apalagi di bulan Ramadhan.
– Sholat Taraweh adalah salah satu ibadah utama di bulan Ramadhan.
– Buka puasa bersama, meskipun boleh, tapi bukan merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan.
– Kejarlah yang utama, jangan kejar yang hukumnya hanya sekedar “boleh”.
– Kalau mau makan-makan, maka lakukanlah di bulan Syawal, karena Ramadhan itu bulan Ibadah, dan Iedul Fitri itu hari raya makan-makan.
– Kalaupun mau tetap melakukan buka puasa bersama, maka usahakan agar sholat jamaahnya tetap terjaga, baik sholat maghrib, sholat Isya maupun sholat Tarawehnya.

2. Sibuk beli pakaian di bulan Ramadhan.

Kalau memang ada uang, dan tidak harus menunggu THR, maka sebaiknya beli pakaian dari sekarang. Agar saat Ramadhan nanti bisa fokus ibadah, bukan malah sibuk belanja ini itu. Karena Ramadhan itu bulan ibadah, bukan bulan belanja.

Takbiran dimulai sejak malam ‘Iedul Fithri?

Memang ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa bertakbir itu hanya pada saat mau pergi shalat ‘Iedul Fithri. Namun pendapat ini bukan berarti pendapat yang paling benar. Sebab ada pendapat lainnya dengan dalil yang tidak kalah kuatnya dimana bertakbir di malam hari ‘Iedul Fithri memang disyariatkan. Bahkan dalil tentang disyariatkannya umat Islam untuk bertakbir pada malam hari Raya ‘Iedul fithri bukan sekedar hadits nabi SAW saja, justru ayat Al-Quran Al-Kariem yang menyebutkan.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dalam tafsir Al-Jami’ Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi jilid 2 halaman 302 disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar masyru’iyah atas ibadah takbir di malam ‘Ied, terutama ‘Iedul Fithri. Sebab ayat ini memerintahkan begitu hitungan Ramadhan telah lengkap, maka bertakbirlah. Artinya, takbir tidak dimulai sejak pagi hari keesokan harinya, melainkan sejak terbenam matahari. Sebab pada saat itulah diketahui telah sempurnanya bulan Ramadhan.

Disebutkan dalam tafsir itu bahwa Al-Imam Asy-syafi’i rahimahullah berkata bahwa telah diriwayatkan dari Said bin Al-Musayyib, ‘Urwah dan Abi Salamah bahwa mereka bertakbir pada malam ‘Iedul Fithri dan bertahmid. Dan Ibnu Abbas berkata: Telah ditetapkan bagi umat Islam bila melihat hilal Syawwal untuk bertakbir. Ada sebuah hadits tentang menghidupkan malam lebaran dengan tilawah, tasbih, istighfar dan tentunya takbir sebagai berikut “Orang yang menghidupkan malam ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan sungguh-sungguh tidak akan mati hatinya di hari hati manusia mati” (HR. At-Thabari dalam Al-Kabir dan Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaid 2:198) Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah terbitan Wizaratul Awqaf Wasy-Syu’un Al-Islamiyah jilid 31 halaman 115.

Dalam kitab Al-I’lam Bi Fawaidi ‘Umdatil Ahkam karya Ibnul Mulaqqin jilid 4 halaman 255 disebutkan bahwa disunnahkan untuk menghidupkan malam ‘Ied, meski haditsnya dhaif. Demikian juga dalam kitab Al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih Minal Khilaf ‘Ala Mazhabil Imam Ahmad bin Hanbal karya Al-Mardawi jilid 2 halaman 434 disebutkan. Dan disunnahkan untuk menghidupkan kedua malam ‘Ied (Fithri dan Adh-ha). Demikian juga dalam kitab Al-Mubdi’ Fi Syarhil Muqni’ karya Muhammad bin Muflih Al-Muarrikh Al-Hanbali jilid 2 halaman 191 disebutkan, dan disunnahkan untuk menghidupkan dengan takbir, tahmid dan lainnya pada kedua malam ‘Ied (Fithri dan Adh-ha).

Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 185. “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dalam kitab tersebut disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal berkata bahwa Ibnu Umar ra bertakbir pada kedua malam ‘Ied. Dan mengeraskan takbir hingga keluar menuju mushalla tempat shalat ‘Ied hingga selesai Imam dari khutbahnya. Demikian kajian fiqih tentang masyru’iyah takbir pada malam hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha. Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, silahkan anda mengikuti yang menurut anda paling kuat dalilnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma’in, Wallahu A’lam Bish-shawab, Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Tambahan:
Jangan mudah membid’ahkan orang yang berbeda pendapat. Apalagi membid’ahkan kelompok yang sudah ratusan tahun melakukan takbiran di malam ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha, karena hal itu juga ada dalilnya. Dan karena membid’ahkan apa-apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat, padahal ada dalilnya, hanya akan menyebabkan munculnya perpecahan di tengah ummat Islam. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok yang bisa menjaga persatuan ummat Islam, Aamiin.

Semoga bermanfaat.

Please share.

sumber asli:
http://www.syariahonline.com/v2/puasa/2299-hadits-takbiran-di-malam-idul-fitri.html

Soal doa berbuka puasa dan ucapan selamat idul fitri

Ada dua hal yang diprotes Wahabi di Indonesia dalam bulan Ramadan ini.

Pertama, menurut mereka doa berbuka puasa yang populer di masyarakat: “Allahumma laka shumtu” itu dha’if hadisnya dan karenanya tidak boleh dibaca. Yang shahih menurut mereka  adalah doa “dzahaba al-zhama….”

Kedua, ucapan saat hari raya idul fitri “minal aidin wal faizin dan mohon maaf lahir batin” itu gak ada dasarnya. Yang benar itu adalah ucapan “taqabalallah minna wa minkum….”

Kawan-kawan Wahabi di tanah air ternyata berbeda pandangan dengan para syekh wahabi di arab sana. Kesan saya, para wahabi di Indonesia lebih keras dari wahabi asli di Arab. Kita gak heran kalau ada orang Indonesia lebih bergaya Arab dari orang Arab, tapi kalau murid-murid wahabi di Arab yang baru pulang ke Indonesia bisa lebih wahabi daripada guru-guru mereka, tentu kita bertanya: ada apa mas bro?

Dalam berdoa di luar ibadah mahdhah itu memakai hadis dhaif dibenarkan, bahkan tidak ada hadisnya sekalipun kita berdoa apa saja itu juga dibenarkan. Doa mau ujian doktor, doa mau  naik gaji, atau doa mengakhiri masa jomblo, boleh-boleh saja dengan redaksi apapun selama itu doa untuk kebaikan. Jadi, kenapa kawan-kawan Wahabi mempersoalkan sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan dan hanya membuat heboh masyarakat saja?

Hadis yang mereka anggap shahih di atas, yaitu “dzahaba al-zhama….” itu juga diperdebatkan statusnya. Sebagian ulama bilang ini hadis hasan, bukan shahih. Bahkan syekh Muqbil tokoh wahabi di Yaman bilang hadis ini juga dha’if (al-Mustadrak, tahqiq Syekh Muqbil Hadi al-Wadi, 1/ 583). Nah lho! sama-sama dha’if ternyata 🙂

Syekh Utsaimin mengeluarkan fatwa:

والدعاء المأثور : ( اللهم لك صمت ، وعلى رزقك 
أفطرت ) ، ومنه أيضاً : قول النبي عليه الصلاة والسلام : ( ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ) ، وهذان الحديثان وإن كان فيهما ضعف لكن بع  أهل العلم حسنهما ، وعلى كل حال فإذا دعوت بذلك أو بغيره عند الإفطار فإنه موطن إجابة 

Intinya kedua doa tersebut ada kelemahan riwayatnya meski sebagian pihak menganggapnya hasan. Namun demikian berdoa dengan salah satu teks doa di atas atau doa lainnya saat berbuka puasa itu dibolehkan karena waktu berbuka puasa itu waktu yang mustajab (Majmu’ fatwa Utsaimin, 341)

Adalah hal biasa dalam kajian ilmu hadis para ulama berbeda-beda dalam menentukan status shahih atau tidaknya sebuah hadis. Ini karena mereka berbeda dalam memberikan kriteria untuk memverifikasi hadis. Jadi, sebenarnya kawan-kawan wahabi gak usah terlalu semangat menyalahkan orang lain yang memakai hadis dha’if dalam perkara fadhail amal. Siapa tahu yang anda anggap dha’if malah dianggap shahih oleh ulama lainnya. Atau seperti dalam kasus doa buka puasa, riwayat yang anda anggap shahih malah tidak dianggap shahih oleh ulama lainnya.

Bagaimana dengan ucapan saat hari idul fitri? Sekali lagi, Syekh Utsaimin, salah satu tokoh Wahabi asli, mengatakan boleh-boleh saja.

وسئـل الشيخ ابن عثيمين : ما حكـم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟ فأجاب : “التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً” اهـ

Ketika beliau ditanya apakah ada redaksi khusus? Beliau menjawab dengan mantap: Tidak ada. Apa yang menjadi kebiasaan masyarakat itu boleh diucapkan selama tidak mengandung dosa.

Problem terbesar wahabi di Indonesia itu adalah tidak membedakan antara ibadah mahdhah dan ghair mahdhah; tidak memilah mana perkara agama dan mana kearifan lokal; tidak memisahkan mana perkara aqidah dan mana perkara muamalah. Pokoknya kalau tidak ada riwayatnya, tolak! Kalau ada riwayatnya tapi mereka anggap dha’if, tolak juga! Cara-cara dakwah yang main tolak membabi-buta ini yang akhirnya bikin heboh dan potensi membikin gesekan di masyarakat. Sudah waktunya mereka berdakwah dengan “hikmah dan mauizhah hasanah” ketimbang hanya mengandalkan “tolak bid’ah”

Semoga postingan saya ini bisa membuat suasana buka bersama kembali menjadi adem dan guyub serta suasana idul fitri tetap ceria dan penuh persaudaraan, ketimbang dipakai buat menyalahkan satu sama lain gara-gara postingan broadcast dari para tokoh wahabi di Indonesia yang lebih keras ketimbang para syekh mereka di arab sana. Berlemah-lembutlah….

Wa Allahu A’lam bi al-Shawab

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School