Niat dalam memilih

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat sekedar hura-hura dalam masalah duniawi, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat karena suka pada figur yang ada, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan bayaran atau karena sudah mendapatkan bayaran, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Setiap amal, akan dilihat dari niatnya.

Ini adalah pesan utama yang tertulis dalam hadits paling utama yang sering menjadi hadits nomor satu dalam kitab-kitab hadits yang utama: Setiap amal akan dilihat dari niatnya.

Maka kita-kita yang muslim dan yang ingin kembali pada ajaran agama kita dengan cara yang benar, mari kita lihat hadits ini. Jangan sampai kita mengorbankan amal-amal kita hanya untuk niat-niat yang tidak penting.

Kalau kita sudah bisa menempatkan niat terbaik dalam setiap amal yang akan kita lakukan, berarti kita sudah memahami agama kita ini.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Advertisements

Fir’aun dan rakyatnya yang manut

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang menyebutkan agar kita tidak boleh taat secara membabi-buta pada penguasa, karena di akhirat nanti kita akan tahu bahwa hal itu adalah salah, dan nanti kita harus mempertanggungjawabkan kesalahan itu.

Salah satunya adalah ayat di bawah ini, yang menjelaskan tentang Fir’aun dan rakyatnya yang manut, yang selalu nurut, dan yang selalu meng-iya-kan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai lagi benar salahnya.

Ini ayatnya.

Fir’aun membanggakan kekuasaan dan kekayaannya

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?

Fir’aun menghina Nabi Musa

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

Fir’aun mencela Nabi Musa yang miskin dan tidak punya kekuasaan

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

Rakyat Fir’aun membenarkan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai benar salah lagi

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.

(QS. Az-Zukhruf, ayat 51-54)


Bisa kita lihat pada ayat terakhir di atas, rakyat yang tidak punya pendirian dan selalu mengikuti apa kata pemimpinnya meskipun dalam hal yang salah, maka mereka adalah kaum yang fasik.

Semoga kita tidak menjadi kaum yang fasik seperti ini.

Jadilah rakyat yang bisa membedakan mana benar dan mana salah, dan marilah kita sampaikan kritik yang membangun pada pemimpin kita.

Note:
Kritik yang membangun harus disampaikan melalui cara yang baik, benar dan sesuai aturan hukum di negara kita, karena Islam juga mengajarkan agar kita selalu taat hukum.

Fir’aun dan rakyatnya yang manut

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang menyebutkan agar kita tidak boleh taat secara membabi-buta pada penguasa, karena di akhirat nanti kita akan tahu bahwa kesalahan itu adalah tanggung jawab kita juga, dan kita harus mempertanggungjawabkan kesalahan itu.

Salah satunya adalah ayat di bawah ini, yang menjelaskan tentang Fir’aun dan rakyatnya yang manut, yang selalu nurut, dan yang selalu meng-iya-kan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai lagi benar salahnya.

Ini ayatnya.

Fir’aun membanggakan kekuasaan dan kekayaannya

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?

Fir’aun menghina Nabi Musa

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

Fir’aun mencela Nabi Musa yang miskin dan tidak punya kekuasaan

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

Rakyat Fir’aun membenarkan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai benar salah lagi

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.

(QS. Az-Zukhruf, ayat 51-54)


Bisa kita lihat pada ayat terakhir di atas, rakyat yang tidak punya pendirian dan selalu mengikuti apa kata pemimpinnya meskipun dalam hal yang salah, maka mereka adalah kaum yang fasik.

Semoga kita tidak menjadi kaum yang fasik seperti ini.

Jadilah rakyat yang bisa membedakan mana benar dan mana salah, dan marilah kita sampaikan kritik yang membangun pada pemimpin kita.

Note:
Kritik yang membangun harus disampaikan melalui cara yang baik, benar dan sesuai aturan hukum di negara kita, karena Islam mengajarkan agar kita selalu taat hukum.

Hiburan untuk Nabi (Islam untuk semua ummat manusia)

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang isinya adalah “menghibur Nabi”.

Kenapa Nabi harus dihibur?

Karena nabi kita seringkali merasa sedih kalau melihat ada ummatnya yang tidak mau diajak masuk Islam. Dan kesedihan itu kadang kala amat sangat, sehingga Allah pun menurunkan banyak ayat kepada nabi kita untuk menghibur beliau, yang intinya adalah:
– Jangan bersedih wahai Muhammad,
– memang akan ada sebagian ummatmu yang akan menolak Islam,
– itu memang sudah ditaqdirkan oleh Allah, bahwa memang akan ada orang-orang memilih jalan kesesatan,
– kamu tidak akan bisa membalikkan hati mereka,
– tugasmu hanyalah menyampaikan,
– hasilnya serahkanlah pada Allah,
– Allah-lah yang akan meng-adzab mereka, titik.

Contoh ayat yang menghibur nabi ini adalah dalam surat Al-Kahfi ayat 6-8.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.
(QS. Al-Kahfi, ayat 6, 7, 8)

Contoh lainnya adalah pada surat Al-Ghaasiyah ayat 21 – 26.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ

kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir,

فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali,

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.
(QS. Al-Ghaasiyah, ayat 21 – 26)

Contoh lainnya adalah dalam surat Yunus ayat 99, dan ayat ini banyak difahami makna-nya secara salah oleh sebagian ummat Islam.

Ini ayatnya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS. Yunus, ayat 99).

Mereka yang salah memahami ayat ini, mereka mengatakan bahwa ayat ini adalah bukti bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”. Mereka mengira bahwa orang-orang Islam tidak perlu lagi mendakwahkan Islam pada non-muslim, karena Allah saja sudah mengatakan bahwa non-muslim itu pasti ada. Secara tidak langsung, mereka juga ingin mengatakan bahwa orang-orang yang menolak Islam adalah orang-orang yang tidak bisa disalahkan, karena Allah sudah menghendaki hal tersebut.

Ini jelas pemahaman yang keliru, karena lanjutan ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap punya kewajiban untuk menyampaikan Islam pada swmua manusia, dan orang-orang yang menolak Islam jelas-jelas disebutkan akan masuk ke dalam neraka.

Tidak percaya?
Mari kita lihat ayat lanjutannya.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

Maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, “Maka tunggulah, aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.”

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman,”

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

dan (aku telah diperintah), “Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zhalim.”

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri. Dan Aku bukanlah pemelihara dirimu.”

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.
(QS. Yunus, ayat 99 – 109)

Maka, kesimpulannya, surat Yunus ayat 99 – 109 ini juga merupakan hiburan untuk Nabi, agar nabi tidak bersedih hati kalau ada orang yang menolak Islam, dan agar nabi tetap sabar dalam mendakwahkan Islam, karena tugas manusia itu hanya menyampaikan, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Dan ayat ini jelas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”, karena ayat lanjutannya jelas-jelas menunjukkan bahwa nabi kita tetap wajib menyampaikan Islam pada semua manusia, dan siapa saja yang menolak Islam maka Allah akan meng-adzab mereka.

Kecenderungan dalam kasus CFD vs Bagi Sembako

Di Jakarta, kemarin (akhir April 2018) ada dua acara: Car Free Day (CFD) yang dipehuhi oleh massa “#2019 Ganti Presiden”, dan acara pembagian Sembako yang dilakukan oleh kelompok yang lain lagi. Pada dua acara ini, sama-sama muncul masalah.

Pada acara CFD, katanya, ada ibu-ibu yang diintimidasi. Dan pada acara pembagian sembako, katanya, ada dua orang yang meninggal. Dan di sini kita bisa melihat kecenderungan orang: ada yang mati-matian memblow-up kasus intimidasi dan menutup mata terhadap korban yang meninggal, dan ada juga yang sibuk menyebarkan info tentang korban yang meninggal dan menganggap bahwa kasus intimidasi hanyalah kasus kecil.

Di sini, kita lihat kecenderungan tersebut, dan kecenderungan inilah yang akan kita nilai.

Siapa saja yang selalu punya kecenderungan untuk berfikir “mana yang lebih baik untuk Allah?”, berarti dia sudah memahami arti ilah dalam syahadatnya.

Dan siapa saja yang mengabaikan sudut pandang ini, berarti dia belum memahami arti ilah, dalam syahadatnya, meskipun mungkin dia mengaku diri sebagai Muslim.

ilah adalah segala sesuatu yang membuat diri kita condong kepadanya, dan membuat kita menomorsekiankan hal lainnya, orang lainnya, sudut pandang lainnya, atau semua lainnya.
Itulah ilah, dan itulah yang sebenarnya kita sembah.

Maka, siapakah ilah kita saat ini?

Mari kita tanya diri kita masing-masing.

Yang jelas, kalau kita mengaku Islam tapi kita merasa bebas untuk menentukan sudut kecenderungan mana yang akan kita pilih, itu artinya kita sama sekali belum memahami Islam, bahkan pada tahap yang paling dasar.

Mari kita introspeksi diri kita masing-masing.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. Al-An’aam, 162)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-Ahzab, 36)

Makar

Apakah Islam hanya mengajarkan tentang ibadah saja?

Apakah Islam hanya mengajarkan tentang aqidah saja?

Tidak.

Islam juga mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah mengenai makar-makar atau tipuan-tipuan yang dilakukan oleh orang-orang di luar Islam terhadap ummat Islam.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. (QS. Al-Baqarah ayat 120)

Mari kita pelajari juga bab-bab tentang Ghazwul Fikri atau perang pemikiran di dalam Al-Qur’an, hadits dan shirah Nabi. Agar kita tidak hanya sibuk dengan masalah keyakinan atau ritual saja, tapi juga bisa memiliki amal-amal yang bermanfaat bagi ummat Islam.

Mari kita pilih pemimpin muslim yang didukung oleh orang-orang yang bisa makin membuat kita makin dekat pada agama kita.