Hal penting

Kalau kita belum bisa menomorsatukan masalah agama di atas masalah lainnya, berarti kita belum memahami makna Laa ilaaha illa Allah.

Advertisements

Ada tujuan

Salah satu perbedaan utama antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama adalah: Ada tujuan dalam hidupnya.

Orang yang tidak beragama, maka mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk membahas hal-hal yang tidak penting, atau menyibukkan diri mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Apa yang mereka lakukan, hanya sebatas mengejar kesenangan duniawi saja. Kalau mereka kaya, maka mereka akan menghabiskan harta mereka hanya untuk hura-hura, dan kalau mereka tidak kaya maka mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencari harta kekayaan. Bagi mereka, hidup hanya sebatas mencari makan, mencari harta, dan bersenang-senang.

Adapun orang-orang yang beragama, maka mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk membahas hal-hal yang bisa menjadi bekal akhirat mereka, dan mereka juga akan menghabiskan waktu mereka untuk beramal sebaik mungkin untuk akhiratnya itu. Kalau mereka kaya, maka mereka akan banyak berinfaq untuk agamanya itu, dan kalau mereka tidak kaya maka mereka akan tetap sabar dalam kondisi mereka dan tetap menjaga diri agar tidak terjatuh dalam perbuatan menghalalkan segala cara. Bagi mereka, harta dan kesenangan bukanlah tujuan yang harus dikejar. Akhirat-lah tujuan yang harus dikejar.

Kita sendiri masuk yang mana?

Mari kita lihat apa yang sibuk kita bicarakan setiap harinya, itulah kita.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS. Al-Hadid, ayat 20).

Tiga kelompok

Ada kelompok yang mau mengamalkan ajaran agamanya.

Ada juga kelompok yang merasa bahwa pemahaman agamanya yang selama ini dipegang adalah pemahaman yang benar (padahal tidak benar), lalu akhirnya kelompok ini membenci kelompok pertama di atas.

Ada juga kelompok yang memang pada dasarnya tidak mau beragama, akhirnya kelompok ketiga ini berteman dengan kelompok kedua di atas.

Bagaimana membedakan kelompok pertama dan kedua di atas?

Mudah saja. Ambil satu contoh, dalam agama kita ada ajaran untuk memulai segala sesuatu dengan membaca bismillah. Itu artinya, seorang Muslim itu harus selalu membawa-bawa agama, dan tidak ada prinsip “jangan bawa-bawa agama”. Kelompok yang menggunakan prinsip “jangan bawa-bawa agama”, maka kelompok itu masuk dalam kelompok kedua di atas.

Kita sendiri, masuk dalam kelompok yang mana?

Munafik menurut Surat Al-Munaafiquun ayat pertama

Ingin tahu siapa itu Munafik menurut Al-Qur’an?

Mari kita buka surat Al-Munaafiquun ayat pertama.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (QS. Al-Munaafiquun, ayat 1)

Maka, munafik adalah: mereka-mereka yang ngakunya Islam, dan ngakunya mengikuti Nabi Muhammad saw, tapi sebenarnya mereka berbohong.

Mudahnya, mereka tidak akan mau mengikuti petunjuk nabi, karena memang pada dasarnya mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu Nabi. Apa yang mereka ucapkan hanya pura-pura saja, agar mereka dianggap sebagai orang Islam.

Maka, lihatlah orang-orang yang malas kalau diajak beribadah, malas kalau diajak ke masjid, malas kalau diajak untuk menerapkan ayat Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, itulah orang-orang munafik.

Untuk orang-orang seperti ini, kalau mereka mengatakan “Nabi kami Nabi Muhammad kok”, maka jawablah sesuai jawaban Al-Qur’an: “Kalian adalah pembohong!”

Iman itu tidak hanya sebatas ucapan, tapi juga harus dibuktikan dengan amal. Itulah perbedaan adalah orang Islam dan orang Munafik.

Ayo ke Masjid 💪🏼.

Karena Munafik biasanya malas ke Masjid, karena mereka memang tidak punya keinginan untuk beribadah pada Pencipta-nya. Apa yang mereka inginkan hanya agar dianggap sebagai orang Islam, tidak lebih dan tidak kurang.

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Belum tibakah saatnya?

Kita berumur 40, 50 atau mungkin 60 tahun ke atas? Tapi kita sampai saat ini masih juga belum punya keinginan untuk kembali pada agama kita untuk mencari siapa pencipta kita dan beribadah kepada-Nya?

Atau di penghujung hidup kita ini, kita masih selalu menyibukkan diri kita dan menghabiskan waktu kita untuk membahas hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita?

Kalau seperti itu kondisi kita, maka pertanyaan yang cocok untuk kita adalah:

Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid, 16)

Mari kita renungkan diri kita masing-masing.


Note: ini teks Arab-nya.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Niat dalam memilih

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat sekedar hura-hura dalam masalah duniawi, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat karena suka pada figur yang ada, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan bayaran atau karena sudah mendapatkan bayaran, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Setiap amal, akan dilihat dari niatnya.

Ini adalah pesan utama yang tertulis dalam hadits paling utama yang sering menjadi hadits nomor satu dalam kitab-kitab hadits yang utama: Setiap amal akan dilihat dari niatnya.

Maka kita-kita yang muslim dan yang ingin kembali pada ajaran agama kita dengan cara yang benar, mari kita lihat hadits ini. Jangan sampai kita mengorbankan amal-amal kita hanya untuk niat-niat yang tidak penting.

Kalau kita sudah bisa menempatkan niat terbaik dalam setiap amal yang akan kita lakukan, berarti kita sudah memahami agama kita ini.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Agar menjadi orang yang bertaqwa?

Ibadah puasa memiliki tujuan agar kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Bagaimanakah orang yang bertaqwa itu?

Dua ayat berikutnya memberikan isyarat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah, 185)

Bertaqwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada. Dan ini sesuai dengan ayat awal dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah, 2)

Apakah kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa?

Kalau kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa, maka mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik awal perubahan bagi diri kita, untuk mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada.

29 Ramadhan 1439H (14 Juni 2018)