Munafik menurut Surat Al-Munaafiquun ayat pertama

Ingin tahu siapa itu Munafik menurut Al-Qur’an?

Mari kita buka surat Al-Munaafiquun ayat pertama.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (QS. Al-Munaafiquun, ayat 1)

Maka, munafik adalah: mereka-mereka yang ngakunya Islam, dan ngakunya mengikuti Nabi Muhammad saw, tapi sebenarnya mereka berbohong.

Mudahnya, mereka tidak akan mau mengikuti petunjuk nabi, karena memang pada dasarnya mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu Nabi. Apa yang mereka ucapkan hanya pura-pura saja, agar mereka dianggap sebagai orang Islam.

Maka, lihatlah orang-orang yang malas kalau diajak beribadah, malas kalau diajak ke masjid, malas kalau diajak untuk menerapkan ayat Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, itulah orang-orang munafik.

Untuk orang-orang seperti ini, kalau mereka mengatakan “Nabi kami Nabi Muhammad kok”, maka jawablah sesuai jawaban Al-Qur’an: “Kalian adalah pembohong!”

Iman itu tidak hanya sebatas ucapan, tapi juga harus dibuktikan dengan amal. Itulah perbedaan adalah orang Islam dan orang Munafik.

Ayo ke Masjid 💪🏼.

Karena Munafik biasanya malas ke Masjid, karena mereka memang tidak punya keinginan untuk beribadah pada Pencipta-nya. Apa yang mereka inginkan hanya agar dianggap sebagai orang Islam, tidak lebih dan tidak kurang.

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Advertisements

Belum tibakah saatnya?

Kita berumur 40, 50 atau mungkin 60 tahun ke atas? Tapi kita sampai saat ini masih juga belum punya keinginan untuk kembali pada agama kita untuk mencari siapa pencipta kita dan beribadah kepada-Nya?

Atau di penghujung hidup kita ini, kita masih selalu menyibukkan diri kita dan menghabiskan waktu kita untuk membahas hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita?

Kalau seperti itu kondisi kita, maka pertanyaan yang cocok untuk kita adalah:

Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid, 16)

Mari kita renungkan diri kita masing-masing.


Note: ini teks Arab-nya.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Niat dalam memilih

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat sekedar hura-hura dalam masalah duniawi, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat karena suka pada figur yang ada, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan bayaran atau karena sudah mendapatkan bayaran, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Setiap amal, akan dilihat dari niatnya.

Ini adalah pesan utama yang tertulis dalam hadits paling utama yang sering menjadi hadits nomor satu dalam kitab-kitab hadits yang utama: Setiap amal akan dilihat dari niatnya.

Maka kita-kita yang muslim dan yang ingin kembali pada ajaran agama kita dengan cara yang benar, mari kita lihat hadits ini. Jangan sampai kita mengorbankan amal-amal kita hanya untuk niat-niat yang tidak penting.

Kalau kita sudah bisa menempatkan niat terbaik dalam setiap amal yang akan kita lakukan, berarti kita sudah memahami agama kita ini.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Agar menjadi orang yang bertaqwa?

Ibadah puasa memiliki tujuan agar kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Bagaimanakah orang yang bertaqwa itu?

Dua ayat berikutnya memberikan isyarat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah, 185)

Bertaqwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada. Dan ini sesuai dengan ayat awal dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah, 2)

Apakah kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa?

Kalau kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa, maka mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik awal perubahan bagi diri kita, untuk mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada.

29 Ramadhan 1439H (14 Juni 2018)

Mari mencontoh Nabi

Pada diri nabi kita, ada contoh baik yang selayaknya kita contoh. Tapi tentu saja tidak semua orang akan merasa terpanggil untuk mau mencontoh beliau.

Yang mau mencontoh nabi hanyalah orang-orang yang mengharap ridho Allah, dan mengharap hari akhirat serta banyak mengingat Allah saja.

Lalu bagaimana dengan diri kita?

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab, 21).

Hiburan untuk Nabi (Islam untuk semua ummat manusia)

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang isinya adalah “menghibur Nabi”.

Kenapa Nabi harus dihibur?

Karena nabi kita seringkali merasa sedih kalau melihat ada ummatnya yang tidak mau diajak masuk Islam. Dan kesedihan itu kadang kala amat sangat, sehingga Allah pun menurunkan banyak ayat kepada nabi kita untuk menghibur beliau, yang intinya adalah:
– Jangan bersedih wahai Muhammad,
– memang akan ada sebagian ummatmu yang akan menolak Islam,
– itu memang sudah ditaqdirkan oleh Allah, bahwa memang akan ada orang-orang memilih jalan kesesatan,
– kamu tidak akan bisa membalikkan hati mereka,
– tugasmu hanyalah menyampaikan,
– hasilnya serahkanlah pada Allah,
– Allah-lah yang akan meng-adzab mereka, titik.

Contoh ayat yang menghibur nabi ini adalah dalam surat Al-Kahfi ayat 6-8.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.
(QS. Al-Kahfi, ayat 6, 7, 8)

Contoh lainnya adalah pada surat Al-Ghaasiyah ayat 21 – 26.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ

kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir,

فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali,

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.
(QS. Al-Ghaasiyah, ayat 21 – 26)

Contoh lainnya adalah dalam surat Yunus ayat 99, dan ayat ini banyak difahami makna-nya secara salah oleh sebagian ummat Islam.

Ini ayatnya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS. Yunus, ayat 99).

Mereka yang salah memahami ayat ini, mereka mengatakan bahwa ayat ini adalah bukti bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”. Mereka mengira bahwa orang-orang Islam tidak perlu lagi mendakwahkan Islam pada non-muslim, karena Allah saja sudah mengatakan bahwa non-muslim itu pasti ada. Secara tidak langsung, mereka juga ingin mengatakan bahwa orang-orang yang menolak Islam adalah orang-orang yang tidak bisa disalahkan, karena Allah sudah menghendaki hal tersebut.

Ini jelas pemahaman yang keliru, karena lanjutan ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap punya kewajiban untuk menyampaikan Islam pada swmua manusia, dan orang-orang yang menolak Islam jelas-jelas disebutkan akan masuk ke dalam neraka.

Tidak percaya?
Mari kita lihat ayat lanjutannya.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

Maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, “Maka tunggulah, aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.”

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman,”

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

dan (aku telah diperintah), “Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zhalim.”

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri. Dan Aku bukanlah pemelihara dirimu.”

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.
(QS. Yunus, ayat 99 – 109)

Maka, kesimpulannya, surat Yunus ayat 99 – 109 ini juga merupakan hiburan untuk Nabi, agar nabi tidak bersedih hati kalau ada orang yang menolak Islam, dan agar nabi tetap sabar dalam mendakwahkan Islam, karena tugas manusia itu hanya menyampaikan, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Dan ayat ini jelas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”, karena ayat lanjutannya jelas-jelas menunjukkan bahwa nabi kita tetap wajib menyampaikan Islam pada semua manusia, dan siapa saja yang menolak Islam maka Allah akan meng-adzab mereka.

Menolak Kecenderungan

Mengapa orang-orang kafir Makkah mati-matian menolak masuk Islam?
Bukankah mudah saja bagi mereka untuk sekedar menyebutkan syahadat, lalu terus hidup dengan cara mereka seperti biasa?

Jawabannya, karena mereka tahu bahwa dengan menyebut Syahadat, maka ada konsekwensi besar di belakangnya: mereka harus mau menomorsatukan Allah dan Nabi-Nya, dan menomorsekiankan semua hal lainnya. Dalam pola pikir pun sama: mereka harus menomorsatukan sudut pandang agama dan menomorsekiankan sudut pandang lainnya.

Itulah konsekwensi untuk “menjadi Islam”, dan itulah pemahaman yang benar.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. Al-An’aam, 162)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imraan, 31)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’, 65)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-Ahzab, 36)

Jadi kalau saat ini ada orang yang mengaku Islam tapi sama sekali tidak mau mengutamakan sudut pandang agama dalam segala pengambilan keputusan yang dia lakukan, maka sederhana saja: berarti dia belum mengerti bagaimana menjadi seorang Muslim yang benar.

Mari kita hadiri pengajian-pengajian, tidak ada kata terlambat untuk memulai perbaikan pada diri kita.