​Al-Baqarah, Munafik dan sholat Subuh

Al-Baqarah 1-5, 5 ayat, tentang orang yang bertaqwa.
Al-Baqarah 6-7, 2 ayat, tentang orang kafir.
Al-Baqarah 8-20, 13 ayat, tentang orang munafik.

Al-Baqarah adalah surat kedua di dalam Al-Qur’an, setelah Al-Faatihah. Dan karena Al-Faatihah artinya adalah Pembuka, maka bisa dikatakan bahwa Al-Baqarah adalah awal isi Al-Qur’an.

Dan dari surat Al-Baqarah ayat awal ini, bisa kita lihat bahwa Al-Qur’an sangat menekankan bahayanya kelompok munafik, sehingga untuk menjelaskan bahaya ini Al-Qur’an sampai harus menggunakan 13 ayat khusus untuk menjelaskan orang munafik ini. Bandingkan dengan ayat tentang orang kafir yang hanya disebutkan dalam dua ayat.

Maka, bisa disimpulkan bahwa sifat orang munafik jauh lebih merusak daripada sifat orang kafir. Siapakah orang munafik itu? Ayat 13 dan 14 dalam surat ini menyebutkan bahwa ciri orang munafik adalah:

1. mereka menilai orang-orang yang beriman sebagai orang-orang bodoh (atau dibodohi oleh agama? atau dibohongi pake ayat?)

2. mereka akan mengaku beriman kalau bertemu dengan orang Islam, dan mereka akan menyatakan kebencian mereka pada orang Islam kalau mereka bertemu dengan kaum kafir.

Ciri-ciri ini masih kurang?

Kalau begitu, mari kita lihat hadits di bawah?

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Mereka adalah orang-orang yang tidak mau diajak sholat subuh berjamaah di Masjid.

Semoga kita semua terhindar dari sifat munafik ini, aamiin.

​Radikalis, Islamis, Liberalis

Radikalis adalah orang yang hanya tahu benar salah (versi dia), tapi tidak tahu baik buruk. Itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana, tanpa memperhitungkan baik buruknya, karena yang dia tahu hanya benar salah saja.

Kebalikannya, Liberalis adalah orang yang hanya tahu baik buruk, tapi tidak tahu benar salah. Itu sebabnya dia selalu menyuarakan hal yang dia anggap baik, meskipun sebenarnya tidak benar atau dia melupakan kebenaran di sisi lainnya.

Di antara keduanya, ada kelompok Islamis, yaitu orang yang tahu benar salah, dan juga tahu baik buruk. Dia juga tahu batasan kebenaran mutlak dan batasan kebenaran yang masih bisa ditolerir dengan memperhatikan sudut pandang baik atau buruk.

Contohnya, seseorang yang radikal, dia mungkin rajin sholat Subuh berjamaah di masjid, tapi dia tidak memahami baik buruk, itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana.

Kalau dia adalah Liberalis, mungkin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berperilaku baik, tapi mungkin dia juga akan malas untuk melakukan sholat Subuh berjamaaah di masjid. Ini karena dia hanya tahu baik buruk dan tidak tahu benar salah.

Adapun Islamis, ini adalah orang yang akan menjaga sholat Subuh berjamaah di masjid dan juga akan menjaga agar perilakunya baik terhadap siapa pun juga. Ini karena dia tahu benar salah dan juga tahu baik buruk.

Semoga kita semua bisa menjadi orang Islam yang benar, Aamiin.

​Modern Al-Wahn

Apa itu Al-Wahn? Al-Wahn adalah nama penyakit hati, dan dalam definisi yang paling umum biasanya Al-Wahn ini dimaknai dengan “cinta dunia dan takut mati”.

Dalam dunia modern saat ini, penyakit ini ber-evolusi dalam bentuk yang lebih aktual. Pada masyarakat kelas menengah ke bawah, penyakit ini berubah wujud menjadi sikap “bersedia mengerjakan apa saja asalkan ada bayarannya”.  Contohnya, beberapa lembar rupiah bisa mengubah pilihan dalam pilkada, dan satu kotak nasi bungkus bisa menghadirkan satu orang untuk berdemo. Tidak ada lagi idealisme untuk menjaga hal-hal yang benar, yang ada hanyalah kepentingan sesaat saja.

Adapun pada masyarakat kelas menengah ke atas, penyakit Al-Wahn ini ber-evolusi menjadi pola pikir yang terlihat seolah-olah modernis, toleran dan multi-cultural, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Intinya, semua hal yang berpotensi menimbulkan konflik dihilangkan, apapun masalahnya, bagaimanapun efeknya. Maka, yang muncul adalah masyarakat yang membolehkan segala sesuatu dengan alasan yang seolah-olah karena ingin menjaga sesuatu, padahal sudah tertipu dengan sesuatu itu. Tidak ada lagi proses amar ma’ruf nahi munkar, karena hal itu dianggap tidak lagi toleran dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia yang multi cultural atau lainnya. Yang ada hanyalah pemikiran bagaimana agar kita hidup enak, itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika penyakit ini melanda ummat Islam, maka lemahlah ummat Islam. Karena masyarakat kelas menengah ke bawah sudah bisa dibeli, dan masyarakat kelas menengah ke atas sudah terbuai oleh falsafah hidup enak.

Tidak ada lagi yang berfikir untuk menyebarkan Islam sepertihalnya para sahabat Nabi yang dulu berkelana ke penjuru dunia untuk menyebarkan Islam. Tidak ada lagi yang berfikir untuk memperjuangkan ajaran Muhammad saw, karena ajaran selain itu pun sudah dianggap benar. Tidak ada lagi yang berfikir bahwa Islam sebenarnya punya keagungan untuk bisa membawa manusia dari lembah kegelapan menuju kehidupan yang terang di bawah ridho ilahi, karena Islam sudah menjadi hal biasa, yang boleh diambil ataupun dibuang.

Pada kondisi seperti ini, ummat Islam akan dimangsa oleh ummat lain, dan seolah-olah menjadi buih di lautan meskipun jumlah ummat Islam banyak.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir saja para umat mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah bersabda, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai buih yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Al-Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, ”Apa itu ’Al-Wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Semoga kita semua tidak terkena penyakit ini, aamiin.

Ciri Munafik tidak hanya tiga

Banyak yang memahami bahwa ciri orang Munafik itu hanya tiga:
1. Jika berbicara, dia bohong.
2. Jika berjanji, dia tidak menepati janjinya.
3. Bila dipercaya, dia ingkar.

Pemahaman ini tidak benar.

Tiga ciri di atas, memang benar merupakan ciri-ciri orang Munafik, berdasarkan hadits Nabi. Tapi kalau lantas disimpulkan bahwa ciri-ciri orang Munafik itu hanya tiga hal ini saja, maka inilah yang tidak benar.

Di dalam Al-Qur’an justru sifat-sifat orang Munafik dijelaskan dengan lebih jelas lagi, dan salah satunya adalah: “Memilih orang kafir sebagai pemimpin”.

Selengkapnya, mari kita lihat ciri-ciri orang Munafik berdasarkan ayat Al-Qur’an di bawah ini.

1. Selalu menghalangi orang Islam dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya (QS. An-Nisaa: 61)
2. Menolak kalau diajak berjihad di jalan Allah (QS. Ali Imraan: 156, 167)
3. Memilih orang kafir sebagai pemimpin atau teman dan meninggalkan orang Islam (QS. An-Nisaa: 139)
4. Suka berkumpul dengan orang kafir sambil menertawakan ajaran-ajaran Islam (QS. An-Nisaa: 140)
5. Malas untuk mengerjakan shalat (QS. An-Nisaa: 142)
6. Menjadikan kaum Ahli Kitab sebagai pemimpin (QS. Al-Maaidah: 51)
7. Tidak mau taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya (QS. Al-Anfal: 20-21)
8. Menyebut orang yang beriman sebagai “orang yang telah dibohongi oleh agamanya” (QS. Al-Anfal: 49)
9. Suka mengejek ajaran Islam dan menjadikannya sebagai bahan hinaan (QS. At-Taubah: 64-65)
10. Suka mengajak pada yang munkar dan mengajak untuk melarang orang beramal baik (QS. At-Taubah: 67)
11. Suka mencela orang yang bersedekah (QS. At-Taubah: 79)
12. Ada juga yang sengaja membuat masjid untuk memecah-belah ummat Islam (QS. At-Taubah: 107)
13. Suka menyebarkan kabar bohong (QS. Al-Ahzab: 60)
14. Akan bergabung dengan Ahli Kitab untuk melawan orang Islam (QS. Al-Hasyr: 11)
15. Suka mengajak manusia pada kekafiran (QS. Al-Hasyr: 16)

Inilah ciri-ciri orang Munafik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, dan kita harus berusaha agar sifat-sifat tersebut tidak ada dalam diri kita. Semoga Allah memudahkan hal itu untuk kita. Aamiin.

Berikutnya, lalu bagaimana sikap kita kalau kita bertemu dengan orang yang memiliki ciri-ciri atau melakukan perbuatan-perbuatan ini?

Yang pertama, jangan menyebut mereka sebagai orang munafik di hadapan orang lain, karena kita tidak tahu apa isi hati setiap manusia.

Yang kedua, tapi kita tetap wajib menjelaskan pada masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu adalah perbuatan orang-orang munafik, agar masyarakat umum bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Yang ketiga, kalau kita bertemu langsung dengan orang yang melakukan perbuatan munafik ini, katakanlah: “Anda munafik dan kalau Anda tidak mau bertaubat, maka Anda akan masuk neraka”, sesuai perintah ayat di bawah:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin atau teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS. An-Nisaa: 138-139)

Perang Uhud: Agar terlihat mana yang beriman dan mana yang Munafik

​Dalam perang Uhud, sebagian penduduk Madinah pulang kembali ke Madinah dan tidak mau ikut berperang bersama Nabi. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Hasil perang ini, kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud tersebut. Tapi di balik itu, ada satu hal yang bahkan membuat ummat Islam di Madinah menjadi makin solid dan makin kuat: karena mereka jadi tahu mana kelompok orang-orang yang beriman dan mana kelompok orang-orang yang sebenarnya Munafik.

“… agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik.” (QS. Ali Imraan: 166-167)

Maka, bagi ummat Islam, kalah atau menang itu biasa. Tapi berhenti berjuang adalah satu hal yang harus dihindari. Ambillah hikmah dari apa yang telah terjadi. Tinggalkanlah kaum munafik yang ada, karena membiarkan mereka tetap berada dalam barisan ummat Islam sama saja dengan membiarkan duri dalam daging. Mereka sudah terbukti akan meninggalkan kaum muslimin dan akan memilih kelompok lain.

Allah sendiri telah menyebutkan: “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan.”

Sepenggal kisah perang Uhud ini, dapat dilihat pada dua ayat di bawah.

وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imraan: 166)

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imraan: 167)

Mari kita jaga diri kita dan keluarga kita dari sikap munafik seperti ini. Aamiin.