Surat Al-A’laa dan Ramadhan yang baru saja berlalu

al alaa

Surat Al-A’laa adalah surat yang sering di baca di dalam sholat Ied, terutama di rokaat pertama. Ya, sunnahnya memang seperti itu, meskipun tidak wajib. Dan kesunnahan membaca surat ini juga ada pada sholat Jum’at. Itu sebabnya sekarang pun kita mungkin banyak menemui para imam yang sering membaca surat ini ketika menjadi imam sholat Jum’at.

Sebenarnya, apa isi surat ini?

Surat ini sebenarnya berisi nasihat untuk nabi kita, itu sebabnya yang diajak bicara adalah “kamu”, bukan “kalian”. Karena kalau yang diajak bicara adalah “kamu”, maka biasanya ini mengacu pada nabi kita, kalau yang mengajak bicara adalah Allah atau Malaikat.

Apa isi nasihat tersebut?

Yang pertama, Allah ingin mengingatkan nabi kita agar selalu mensucikan Allah, yang telah menciptakan, menyempurnakan ciptaan, menentukan kadar-kadar (takdir-takdir), memberi petunjuk, juga menumbuhkan rerumputan juga mematikan rerumputan tersebut.
Inilah Allah.

Dialah yang Maha Berkehendak, Maha Mengetahui dan Maha Menolong.

Oleh karena itu, wahai Muhammad, janganlah kamu berputus asa.
Cukuplah bagimu untuk terus memberikan nasihat, tanpa berhenti.
Masalah hasil, serahkan saja pada Kami.

Saat mendengar nasihat itu, orang orang beriman akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang kafir akan menjauhi nasihat tersebut, dan mereka yang menjauhi inilah yang akan masuk neraka. Di sana, mereka tidak hidup, dan juga tidaklah mati.

Dan beruntunglah orang-orang yang mengambil pelajaran dan mau mensucikan diri mereka, yang mau mengingat nama Tuhan-nya, dan mau mendirikan Sholat.

Intinya, teruslah memberi peringatan, wahai Muhammad.
Nanti pasti ada yang menolak dan pasti ada yang menerima.
Yang menolak, biarkan saja, tugasmu hanya menyampaikan.

Sampai di sini adalah nasihat yang diberikan kepada “kamu”, yaitu kepada nabi kita Muhammad saw.

Berikutnya adalah kalimat yang disampaikan kepada “kalian”. Siapakah “kalian” di sini? Apakah orang-orang yang beriman?

Tidak, “kalian” yang dimaksud di sini adalah “orang-orang kafir”.
Apa isi kalimat untuk orang kafir tsb?

Kalian lebih memilih kehidupan dunia, dan melupakan akhirat,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Dan ketentuan ini semua, juga ada dalam kitab nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Ini kalimat untuk orang-orang kafir: melupakan akhirat dan mengutamakan dunia.

Lalu, apakah kita termasuk orang-orang yang mengabaikan akhirat?
Atau lebih suka mengutamakan dunia kita dan berprinsip “jangan bawa-bawa agama” dalam kehidupan kita?
Atau kita berteman dengan orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama”?

Atau kita adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa akhirat itu ada?
Atau kita berteman dengan orang yang tidak yakin bahwa akhirat itu ada?

Atau kita tidak mau percaya pada nasihat dari nabi kita? Atau kita tidak percaya kalau nasihat yang sama pernah disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?

Atau kita malah berteman dengan orang-orang yang tidak percaya keberadaan para nabi?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Nabi kita hanya memberikan peringatan, para ustadz sekarang pun hanya bisa memberikan peringatan, tinggal terserah kita, mau mensucikan Tuhan kita, mau banyak mengingat Tuhan kita, mau sholat, mau banyak beramal baik, atau kita lebih memilih untuk mengabaikan aturan agama dan lebih mementingkan kehidupan dunia? atau lebih memilih untuk berprinsip “jangan bawa-bawa agama”? atau lebih memilih untuk berteman dengan orang-orang seperti ini?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Mari kita baca lagi surat Al-A’laa kita, agar kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Ramadhan baru saja lewat, apa kita mau kembali menjadi orang yang tidak mempedulikan aturan agama dan lagi-lagi berteman dengan orang-orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama” ?

Kalau seperti itu,
berarti kita tidak memahami surat Al-A’laa yang kita bacakan atau yang dibacakan oleh para Imam dalam sholat Iedul Fitri kemarin.

Depok, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H. Continue reading

Dulu dan sekarang

Dulu, sahabat nabi menomorsatukan agamanya. Jangankan diajak sholat ke masjid, diajak perang pun mereka berlomba-lomba mengerjakannya.

Sekarang, banyak orang menomorsekiankan agamanya. Jangankan diajak perang, diajak sholat ke masjid pun ada saja alasannya.

Semoga kita termasuk kelompok yang pertama, bukan kelompok yang kedua. Jadikanlah agama ini sebagai perkara nomor satu, dan jadikanlah nabi kita sebagai orang pertama yang kita dengarkan ucapannya, karena itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang beriman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa, ayat 65)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhari)

Ini Islam yang benar, dan ini bukan radikal.

Pertanyaan kita menunjukkan siapa kita

Menjelang pilpres, saya kadang mendapat dua pertanyaan mengenai salah satu calon.

Yang pertama:
Mengapa harus memilih berdasarkan agamanya? Memangnya capres A itu bisa ngaji? Cara wudhu-nya juga salah tuh.

Yang kedua:
Coba lihat nih, capres dan cawapres ini khan lulusan sekolah non-islam, masa mau dipilih?

Dua hal ini, kalau ditanyakan, maka itu hanya menunjukkan bahwa orang yang bertanya adalah orang yang belum memahami agamanya sendiri.

Memilih berdasarkan agama, itu perintah agama, maka ini wajib. Tapi kriterianya lebih pada bagaimana calon tsb menyikapi agama Islam atau bagaimana calon tersebut menyikapi ummat Islam. Jadi bukan langsung melihat sosok pribadi tersebut: bisa ngaji atau tidak? ibadah sunnahnya bagus atau tidak? dll.

Ya, calon yang bisa mengaji atau yang ibadah sunnahnya baik, maka calon seperti ini memang memiliki nilai plus. Tapi kalau dia menentang penerapan syariat Islam, atau memusuhi ulama, atau tidak memikirkan nasib ummat Islam, maka calon seperti ini tidak pantas untuk dipilih.

Sebaliknya, orang Islam yang tidak bisa mengaji, atau pernah sekolah di sekolah non-Islam, tapi dia tidak menentang ajaran Islam, tidak memusuhi ulama, dan bahkan mau memikirkan nasib ummat Islam, maka calon seperti ini lebih pantas untuk kita pilih.

Ada prioritas dalam agama kita, dan itu hanya bisa difahami oleh orang-orang yang mau belajar.

Tiga kelompok

Ada kelompok yang mau mengamalkan ajaran agamanya.

Ada juga kelompok yang merasa bahwa pemahaman agamanya yang selama ini dipegang adalah pemahaman yang benar (padahal tidak benar), lalu akhirnya kelompok ini membenci kelompok pertama di atas.

Ada juga kelompok yang memang pada dasarnya tidak mau beragama, akhirnya kelompok ketiga ini berteman dengan kelompok kedua di atas.

Bagaimana membedakan kelompok pertama dan kedua di atas?

Mudah saja. Ambil satu contoh, dalam agama kita ada ajaran untuk memulai segala sesuatu dengan membaca bismillah. Itu artinya, seorang Muslim itu harus selalu membawa-bawa agama, dan tidak ada prinsip “jangan bawa-bawa agama”. Kelompok yang menggunakan prinsip “jangan bawa-bawa agama”, maka kelompok itu masuk dalam kelompok kedua di atas.

Kita sendiri, masuk dalam kelompok yang mana?

Belum tibakah saatnya?

Kita berumur 40, 50 atau mungkin 60 tahun ke atas? Tapi kita sampai saat ini masih juga belum punya keinginan untuk kembali pada agama kita untuk mencari siapa pencipta kita dan beribadah kepada-Nya?

Atau di penghujung hidup kita ini, kita masih selalu menyibukkan diri kita dan menghabiskan waktu kita untuk membahas hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita?

Kalau seperti itu kondisi kita, maka pertanyaan yang cocok untuk kita adalah:

Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid, 16)

Mari kita renungkan diri kita masing-masing.


Note: ini teks Arab-nya.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Niat dalam memilih

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat sekedar hura-hura dalam masalah duniawi, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat karena suka pada figur yang ada, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan bayaran atau karena sudah mendapatkan bayaran, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Setiap amal, akan dilihat dari niatnya.

Ini adalah pesan utama yang tertulis dalam hadits paling utama yang sering menjadi hadits nomor satu dalam kitab-kitab hadits yang utama: Setiap amal akan dilihat dari niatnya.

Maka kita-kita yang muslim dan yang ingin kembali pada ajaran agama kita dengan cara yang benar, mari kita lihat hadits ini. Jangan sampai kita mengorbankan amal-amal kita hanya untuk niat-niat yang tidak penting.

Kalau kita sudah bisa menempatkan niat terbaik dalam setiap amal yang akan kita lakukan, berarti kita sudah memahami agama kita ini.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Agar menjadi orang yang bertaqwa?

Ibadah puasa memiliki tujuan agar kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Bagaimanakah orang yang bertaqwa itu?

Dua ayat berikutnya memberikan isyarat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah, 185)

Bertaqwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada. Dan ini sesuai dengan ayat awal dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah, 2)

Apakah kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa?

Kalau kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa, maka mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik awal perubahan bagi diri kita, untuk mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada.

29 Ramadhan 1439H (14 Juni 2018)

Fir’aun dan rakyatnya yang manut

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang menyebutkan agar kita tidak boleh taat secara membabi-buta pada penguasa, karena di akhirat nanti kita akan tahu bahwa hal itu adalah salah, dan nanti kita harus mempertanggungjawabkan kesalahan itu.

Salah satunya adalah ayat di bawah ini, yang menjelaskan tentang Fir’aun dan rakyatnya yang manut, yang selalu nurut, dan yang selalu meng-iya-kan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai lagi benar salahnya.

Ini ayatnya.

Fir’aun membanggakan kekuasaan dan kekayaannya

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?

Fir’aun menghina Nabi Musa

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

Fir’aun mencela Nabi Musa yang miskin dan tidak punya kekuasaan

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

Rakyat Fir’aun membenarkan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai benar salah lagi

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.

(QS. Az-Zukhruf, ayat 51-54)


Bisa kita lihat pada ayat terakhir di atas, rakyat yang tidak punya pendirian dan selalu mengikuti apa kata pemimpinnya meskipun dalam hal yang salah, maka mereka adalah kaum yang fasik.

Semoga kita tidak menjadi kaum yang fasik seperti ini.

Jadilah rakyat yang bisa membedakan mana benar dan mana salah, dan marilah kita sampaikan kritik yang membangun pada pemimpin kita.

Note:
Kritik yang membangun harus disampaikan melalui cara yang baik, benar dan sesuai aturan hukum di negara kita, karena Islam juga mengajarkan agar kita selalu taat hukum.

Fir’aun dan rakyatnya yang manut

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang menyebutkan agar kita tidak boleh taat secara membabi-buta pada penguasa, karena di akhirat nanti kita akan tahu bahwa kesalahan itu adalah tanggung jawab kita juga, dan kita harus mempertanggungjawabkan kesalahan itu.

Salah satunya adalah ayat di bawah ini, yang menjelaskan tentang Fir’aun dan rakyatnya yang manut, yang selalu nurut, dan yang selalu meng-iya-kan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai lagi benar salahnya.

Ini ayatnya.

Fir’aun membanggakan kekuasaan dan kekayaannya

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?

Fir’aun menghina Nabi Musa

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

Fir’aun mencela Nabi Musa yang miskin dan tidak punya kekuasaan

فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

Rakyat Fir’aun membenarkan semua ucapan Fir’aun, tanpa menilai benar salah lagi

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.

(QS. Az-Zukhruf, ayat 51-54)


Bisa kita lihat pada ayat terakhir di atas, rakyat yang tidak punya pendirian dan selalu mengikuti apa kata pemimpinnya meskipun dalam hal yang salah, maka mereka adalah kaum yang fasik.

Semoga kita tidak menjadi kaum yang fasik seperti ini.

Jadilah rakyat yang bisa membedakan mana benar dan mana salah, dan marilah kita sampaikan kritik yang membangun pada pemimpin kita.

Note:
Kritik yang membangun harus disampaikan melalui cara yang baik, benar dan sesuai aturan hukum di negara kita, karena Islam mengajarkan agar kita selalu taat hukum.

Hiburan untuk Nabi (Islam untuk semua ummat manusia)

Dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang isinya adalah “menghibur Nabi”.

Kenapa Nabi harus dihibur?

Karena nabi kita seringkali merasa sedih kalau melihat ada ummatnya yang tidak mau diajak masuk Islam. Dan kesedihan itu kadang kala amat sangat, sehingga Allah pun menurunkan banyak ayat kepada nabi kita untuk menghibur beliau, yang intinya adalah:
– Jangan bersedih wahai Muhammad,
– memang akan ada sebagian ummatmu yang akan menolak Islam,
– itu memang sudah ditaqdirkan oleh Allah, bahwa memang akan ada orang-orang memilih jalan kesesatan,
– kamu tidak akan bisa membalikkan hati mereka,
– tugasmu hanyalah menyampaikan,
– hasilnya serahkanlah pada Allah,
– Allah-lah yang akan meng-adzab mereka, titik.

Contoh ayat yang menghibur nabi ini adalah dalam surat Al-Kahfi ayat 6-8.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.
(QS. Al-Kahfi, ayat 6, 7, 8)

Contoh lainnya adalah pada surat Al-Ghaasiyah ayat 21 – 26.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ

kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir,

فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali,

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.
(QS. Al-Ghaasiyah, ayat 21 – 26)

Contoh lainnya adalah dalam surat Yunus ayat 99, dan ayat ini banyak difahami makna-nya secara salah oleh sebagian ummat Islam.

Ini ayatnya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS. Yunus, ayat 99).

Mereka yang salah memahami ayat ini, mereka mengatakan bahwa ayat ini adalah bukti bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”. Mereka mengira bahwa orang-orang Islam tidak perlu lagi mendakwahkan Islam pada non-muslim, karena Allah saja sudah mengatakan bahwa non-muslim itu pasti ada. Secara tidak langsung, mereka juga ingin mengatakan bahwa orang-orang yang menolak Islam adalah orang-orang yang tidak bisa disalahkan, karena Allah sudah menghendaki hal tersebut.

Ini jelas pemahaman yang keliru, karena lanjutan ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap punya kewajiban untuk menyampaikan Islam pada swmua manusia, dan orang-orang yang menolak Islam jelas-jelas disebutkan akan masuk ke dalam neraka.

Tidak percaya?
Mari kita lihat ayat lanjutannya.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

Maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, “Maka tunggulah, aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.”

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman,”

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

dan (aku telah diperintah), “Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zhalim.”

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri. Dan Aku bukanlah pemelihara dirimu.”

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.
(QS. Yunus, ayat 99 – 109)

Maka, kesimpulannya, surat Yunus ayat 99 – 109 ini juga merupakan hiburan untuk Nabi, agar nabi tidak bersedih hati kalau ada orang yang menolak Islam, dan agar nabi tetap sabar dalam mendakwahkan Islam, karena tugas manusia itu hanya menyampaikan, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Dan ayat ini jelas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa “misi utama Nabi Muhammad itu bukanlah untuk meng-Islam-kan dunia”, karena ayat lanjutannya jelas-jelas menunjukkan bahwa nabi kita tetap wajib menyampaikan Islam pada semua manusia, dan siapa saja yang menolak Islam maka Allah akan meng-adzab mereka.