Krisis Suriah menurut Kementrian Luar Negeri RI

“Krisis yang terjadi di Suriah merupakan penargetan terhadap Negara Suriah pada khususnya dan agama Islam pada umumnya. Konspirasi tersebut didukung dengan media dan tentara bayaran yang berasal dari luar negeri.”

“Almarhum Syaikh Ramadhan al-Bouti merupakan sosok lembut tetapi tegas dalam kebenaran. Kuat dalam berdalil dan tegar dalam mendukung siapa yang benar. Beliau tegas dan komitmen dalam sikap, walaupun beliau tahu mendapat ancaman dari pihak-pihak yang tidak senang kepadanya, khususnya pihak takfiris Wahabi. Namun ia tetap berjuang dan hingga pada akhirnya memperoleh kesyahidan saat sedang mengajar di Masjid al-Iman, Damaskus.”

Selengkapnya:
http://www.kemlu.go.id/damascus/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/DUBES-RI-DAMASKUS-HADIRI-ACARA-HAUL-WAFATNYA-IMAM-SYAHID-PROF.-DR.-MUHAMMAD-SAID-RAMADHAN-AL-BOUTI.aspx

Advertisements

Toleransi Ahlu Sunnah

Ahlu Sunnah wal Jama’ah pada umumnya mengikuti salah satu dari empat madzhab Fiqih yang ada, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i atau Hambali. Dari situ bisa dilihat bahwa Ahlu Sunnah memiliki toleransi dalam beragama.

Memilih salah satu pendapat dan menghormati pendapat yang lain, itulah Ahlu Sunnah.

Adapun memilih salah satu pendapat, lalu aktif membid’ah-bid’ahkan pendapat yang berbeda, padahal pendapat yang berbeda itu juga berasal dari ulama Ahlu Sunnah, maka yang seperti ini bukanlah ciri Ahlu Sunnah. Ini adalah ciri kaum khawarij yang menuhankan ucapan manusia dan rajin menciptakan perpecahan di kalangan ummat Islam.

Semoga Allah memasukkan kita semua dalam kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.

Dalil kaum Khawarij

Video

Ahlu sunnah berpegang pada ayat-ayat muhkamat di dalam Al-Qur’an karena itu adalah inti agama islam, dan mereka saling bertoleransi dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, apalagi dalam hal-hal yang tidak ada ayatnya dan hanya bermodalkan ucapan ulama saja.

Adapun kaum Khawarij, mereka tidak memahami Al-Qur’an maka mereka tidak tahu mana ayat muhkamat dan mana ayat mutasyabihat. Lalu mereka menyibukkan diri dengan pendapat-pendapat ulama mereka dan mereka menjadikan pendapat ulama mereka itu sebagai hakim bagi seluruh umat manusia, tanpa mereka sadari bahwa hal itu sebenarnya berdiri di atas ayat-ayat mutasyabihat atau bahkan tidak ada ayatnya sama sekali. Mereka merasa bahwa dengan mengikuti pendapat ulama mereka itu berarti mereka telah berpegang pada islam yang benar, padahal metode yang mereka gunakan adalah metode kaum khawarij yang sudah diancam akan masuk neraka.

Contohnya, mereka menuhankan ucapan ulama mereka dalam masalah khilafiyah yang dalilnya tidak muhkamat, lalu mereka mencela, mencaci dan menghina sesama muslim dengan penuh semangat, padahal bertutur kata yang baik dan menghormati sesama muslim adalah satu hal yang amat penting dalam agama kita ini dan itu semua berdiri di atas dalil ayat-ayat muhkamat.

Inilah kaum khawarij pada zaman ini. Mereka adalah kaum yang akan menimbulkan fitnah berdasarkan ayat di bawah ini.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran, ayat 7).

Dan Nabi kita sudah memperingatkan kita terhadap kaum seperti ini, yaitu kaum yang tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai dalil, dan sebagai gantinya mereka sibuk dengan ucapan manusia, lalu mereka menjadikan ucapan manusia itu sebagai dalil untuk memusuhi sesama muslim.

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:  Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. MEREKA BERBICARA DENGAN PEMBICARAAN YANG SEOLAH-OLAH BERASAL DARI MANUSIA YANG TERBAIK. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

Semoga kita semua terhindar dari sikap seperti ini. Aamiin.

Cara beragama yang benar

Beragama itu bukan dengan cara mengulang-ulang ucapan syaikh anu bin anu bin anu, dan mentadabburi maknanya di keheningan malam.

Beragama itu dengan cara mengulang-ulang ayat Al-Qur’an dan mentadabburinya maknanya di keheningan malam.

Agama bukan cuma ilmu yang masuk ke kepala.
Agama juga meliputi proses tadabbur ayat Al-Qur’an untuk memperhalus hati kita.

Jangan sampai kita lupa mentadabburi Al-Qur’an, dan menggantinya dengan mentadabburi ucapan-ucapan manusia, yang mengakibatkan kita sibuk mengasah otak kita tapi lupa bahwa hati kita tetap kasar. Akhirnya, kita menjadi orang yang sibuk mencela sesama muslim dengan modal ucapan manusia, tapi tetap tidak memahami Al-Qur’an.

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang selalu menomorsatukan Al-Qur’an dan selalu  mentadabburinya.

Aamiin.

Aku (bukan) wahabi!

Kalau seandainya Wahabi adalah orang yang kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah nabi berdasarkan pemahaman Salafus Shalih, maka saksikanlah bahwa aku adalah Wahabi.

Tapi kalau yang dimaksud dengan Wahabi adalah orang-orang yang menomorsatukan hadits di atas Al-Qur’an, atau menyibukkan diri dengan hadits-hadits dan menomorsekiankan Al-Qur’an, atau sibuk membahas tema bid’ah tapi tetap tidak faham juz’amma meskipun sudah ikut kajian bertahun-tahun, atau sibuk membahas masalah-masalah khilafiyah dan memilih satu pendapat lalu membid’ahkan serta menyesatkan pendapat lain, atau hanya mau ikut pengajian pada satu kelompok saja dan membid’ahkan pengajian dari kelompok lain, atau hanya sibuk meributkan masalah tata cara ibadah dan melupakan wajibnya akhlak yang baik pada sesama muslim sepertihalnya kaum Khawarij, atau lebih suka memusuhi sesama muslim dan malah berkawan dengan kaum kafir, atau menutup mata pada penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina dan lebih suka mengirimkan dana kita pada kelompok-kelompok yang memerangi sesama muslim, atau lebih suka mencari-cari perbedaan kecil di antara sesama muslim dan malah melupakan hal-hal besar dalam agama kita, atau sibuk mengatakan kafir kafir kafir pada orang tua nabi kita dengan tanpa perasaan sama sekali padahal itu adalah masalah khilafiyah, atau lebih suka menghina keturunan nabi daripada menghormati mereka dalam batasan yang wajar, atau lupa bahwa Imam Mahdi akan datang dari kalangan ahlul bait nabi, atau sibuk menuduh kafir kafir kafir pada sesama muslim seenaknya saja, atau menuduh sesat pada kelompok sufi secara membabi buta (padahal Muhammad al-Fatih berasal dari kalangan sufi), atau mengatakan bahwa bermadzhab itu sesat (padahal Salahuddin al-Ayyubi dan ribuan ulama lainnya juga bermadzhab), atau menuduh kaum Asy’ari serta kaum Maturidi sebagai kelompok sesat (padahal ada ribuan ulama di situ sejak lebih dari seribu tahun yang lalu),  kalau itu yang namanya Wahabi, maka saksikanlah bahwa Aku Bukan Wahabi!

Depok, 19 Januari 2016

Isa Ismet Khumaedi

Note:
Ahlu sunnah yang benar adalah orang-orang yang berusaha kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, dan tetap menjaga agar tidak terjatuh pada sikap-sikap negatif yang disebutkan pada paragraph kedua di atas.

Tahapan Menjadi Khawarij

1. Awalnya tidak tahu islam.
2. Lalu diajak pengajian.
3. Lalu merasa benar sendiri.
4. Lalu mengklaim satu pendapat sebagai pendapat yang benar.
5. Tidak mau ikut pengajian kalau ustadznya bukan dari kelompoknya sendiri.
6. Menuduh bid’ah ke sana-sini, dalam masalah khilafiyah.
7. Mulai menyerang pendapat lain.
8. Mengklaim bahwa kelompoknya adalah satu-satunya kelompok yang sesuai dengan sunnah nabi, dan kelompok lain adalah kelompok ahli bid’ah.
9. Mulai timbul semangat untuk menghilangkan kebid’ahan dan kesesatan (versi mereka sendiri) dari muka bumi.
10. Jadilah Khawarij. 😦


Tanda-tanda akan menjadi khawarij, dimulai dari ciri nomor 3 di atas.

Mari kita cegah sanak saudara kita sedini mungkin, agar tidak menjadi Khawarij.

Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya

Bagi kita ummat Islam, kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an dan tidak ada yang lain.

Di bawah itu, ada kitab hadits. Yang tingkat keshahihannya diakui tertinggi adalah kitab shahih Bukhari. Akan tetapi harus diingat, kitab shahih Bukhari pun bukan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, apalagi kitab hadits yang lainnya, atau kitab-kitab hasil ijtihad ulama yang sudah pasti lebih di bawah lagi tingkat keshahihannya. Inilah pemahaman yang benar dalam agama kita. Hanya Al-Qur’anlah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Adapun hadits, hanya sedikit yang mencapai derajat mutawaatir, sebagian besarnya justru tidak mencapai derajat mutawaatir, dan bahkan kadang ada perbedaan pendapat dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits.

Maka, muslim yang benar adalah muslim yang bisa berlaku bijaksana dalam menyikapi dalil-dalil yang ada. Dalil-dalil yang bersumber dari ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas mutawaatir dalam sanad dan matannya, serta merupakan ayat yang muhkamaat, maka dalil ini harus kita pegang erat-erat. Inilah inti dalam agama kita. Adapun ayat-ayat mutasyaabihat, meskipun sanad dan matannya mutawaatir, tapi kita harus bertoleransi dalam penafsirannya. Ini sikap yang benar terhadap Al-Qur’an.

Dan di bawah itu, ada hadits-hadits yang status keshahihannya sebenarnya merupakan hasil ijtihad ulama. Akan tetapi ada sebagian ummat Islam yang salah meyakini hadits, mereka menyangka bahwa status shahihnya suatu hadits datang dari wahyu Allah yang tidak mungkin salah. Ini keyakinan yang berbahaya, karena keyakinan ini seakan-akan ingin menuhankan hasil ijtihad manusia dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits. Ijtihad ulama adalah ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Mari kita hormati hasil ijtihad ulama, tapi jangan jadikan hasil ijtihad ulama itu sebagai satu-satunya patokan kebenaran, apalagi menjadikannya sebagai dalil untuk memvonis orang lain yang berbeda pendapat dengan kita.

Contoh buruk yang bisa kita ambil pelajarannya adalah kaum khawaarij. Mereka tidak memahami Al-Qur’an, dan mereka menuhankan ucapan-ucapan manusia, yang mereka anggap bagaikan manusia suci yang tidak mungkin salah. Mereka mungkin juga punya ulama hadits yang menentukan shahih tidaknya suatu hadits, lalu mereka menuhankan hasil ijtihad ulama mereka ini, dan menjadikannya sebagai dasar untuk menghakimi seluruh kaum muslimin. Maka mereka menjadi kaum yang mudah mencela, mencerca, menuduh, memaki, membid’ahkan serta mengkafirkan sesama muslim, hanya dengan bermodalkan ucapan “syaikh anu bin anu bin anu telah berkata begini dan begitu”, atau hanya bermodalkan hadits yang keshahihannya ditentukan oleh ulama mereka itu, lalu mereka memecah belah kaum muslimin.

Kaum khawarij menyibukkan diri dengan ucapan-ucapan manusia dan menjadikannya seperti ayat suci yang tidak mungkin salah. Lalu ucapan ulama pujaannya itu dijadikan sebagai satu-satunya patokan untuk menghakimi seluruh ummat islam. Mereka tidak tahu bahwa dengan menggunakan dalil-dalil yang berdiri di atas ijtihad ulama dalam menafsirkan suatu hal, seharusnya kita lebih bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsiran yang mungkin timbul, dan bukan malah sibuk dalam mengklaim kebenaran.

Maka, kaum khawarij tersesat karena mereka meyakini bahwa ada manusia biasa yang ucapannya ataupun tulisannya ataupun buku-bukunya tidak memiliki keraguan di dalamnya. Mereka tidak faham, bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an, atau mungkin mereka sebenarnya faham tentang hal ini, tapi hanya sebatas teori saja. Pada prakteknya, pada kesehariannya mereka sibuk membumikan ucapan-ucapan manusia dan mengabaikan Al-Qur’an.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk mencerca dan menuduh sesama muslim dalam masalah khilafiyah, hanya dengan modal ucapan manusia saja, dan di saat yang bersamaan dia tidak faham apa itu isi surat Al-Lail dan apa isi surat Asy-Syams? Mungkin itulah contoh kaum khawarij yang menuhankan ijtihad ulamanya dan menjadikan ijtihad ulama pujaannya itu sebagai hakim untuk memvonis seluruh kaum muslimin, dan di saat yang bersamaan mereka mengabaikan Al-Qur’an.

Semoga kita semua bisa terhindar dari sikap seperti itu. Semoga kita bisa kembali pada pemahaman yang benar, yang meyakini bahwa makin rendah tingkatan dalil yang kita gunakan, seharusnya kita makin bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsirannya. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok yang memahami dan meyakini bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:1-2)

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali-Imraan:7)


Dalil yang digunakan kaum khawarij adalah ucapan manusia yang dianggap suci:
يأتى فى آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من قول خير البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم

“Akan datang di akhir zaman kelompok muda usia, lemah pemikiran, MENYAMPAIKAN PERKATAAN MAKHLUK TERBAIK. Mereka melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan…..” (HR. Bukhari dan Muslim)