Hati seterang Matahari

Tadi malam, imam sholat Isya membaca surat Asy-Syams (Matahari).
Isinya, tentu saja tentang Matahari.

Ada saat di mana Matahari terlihat redup, yaitu di waktu Dhuha.
Ada saat di mana Matahari terlihat lebih terang, yaitu ketika bulan juga terlihat.
Ada saat di mana Matahari terlihat sangat terang, di siang hari.
Dan ada saat di mana Matahari sama sekali tidak terlihat, yaitu di waktu malam.

Selanjutnya, Imam membaca ayat “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan hati-nya, dan merugilah orang yang mengotori hatinya”.

Ketika imam membaca ayat itu, secara refleks langsung bertanya pada diri sendiri,
“Seperti apa hati kita?”
Apakah gelap seperti langit malam tanpa Matahari?
Ataukah sedikit kotor karena ada yang menutupi, sepertihalnya Matahari di waktu pagi?
Ataukah sangat bersih seperti terangnya Matahari di siang hari?

Tanpa terasa, jadi ingat dengan dosa-dosa selama ini.

Harusnya hati kita, seterang Matahari.

Ingat, Asy-Syams artinya adalah Matahari.


Depok, 13 Januari 2020

Titik awal Munafik

Apakah ciri yang pertama sekali disampaikan oleh mushaf Al-Qur’an tentang orang Munafik?

Silakan buka Al-Qur’an dari halaman paling depan, di surat Al-Fatihah tidak ada, adanya di surat Al-Baqarah ayat awal, maka akan didapat bahwa ayat pertama tentang orang Munafik adalah ayat berikut:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah, 8)

Inilah ciri pertama yang disampaikan oleh Al-Qur’an tentang orang Munafik: Mereka ngakunya beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal tidak.

Maka tidak heran kalau berikutnya mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51. Bukan karena mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51 ini, tapi karena pada dasarnya mereka memang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Akibatnya, mereka berbuat semaunya.

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka malas untuk diajak ke masjid. Karena untuk apa ke masjid kalau memang pada dasarnya mereka tidak percaya pada hari akhir?

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka tidak amanah, banyak berbohong, tidak menjaga janji atau lainnya. Toh memang mereka tidak yakin bahwa hari akhirat itu ada.

Inilah titik awal munafik, tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera untuk mengamalkan ayat Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah Al-Maidah 51 itu.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera pergi ke masjid saat adzan berkumandang.

Kalau mereka beriman, pasti mereka akan amanah dalam mengerjakan sesuatu, tidak akan berbohong, akan selalu menjaga janji.

Tapi masalahnya, mereka tidak beriman pada Allah dan hari akhir.

Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita introspeksi diri kita masing-masing.

Ahli Kitab yang baik

Sholat Jum’at hari ini Imam membaca potongan surat Ali Imran. Saat mendengar, saya merasa bahwa pesan dalam ayat ini adalah hal baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Ini ayatnya, beserta terjemahannya.

۞لَيۡسُواْ سَوَآءٗۗ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ أُمَّةٞ قَآئِمَةٞ يَتۡلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ وَهُمۡ يَسۡجُدُونَ

Mereka (Ahli Kitab) itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).

يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shalih.

(QS Ali Imran, 113 – 114)

Ternyata, dulu ada ahli kitab yang jujur dalam mengamalkan agamanya. Tapi bukan hal ini yang saya rasakan sebagai “hal baru”. Yang saya rasakan sebagai “hal baru” adalah lanjutannya. Ternyata Ahli Kitab yang baik juga rajin membaca kitab sucinya pada malam hari, dan rajin menjalankan sholat. Dan bukan hanya itu, mereka juga beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam segala sisi kehidupan mereka, serta selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan.

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada.

Lalu, mari kita bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Saat ini, kondisi ummat Islam benar-benar menyedihkan. Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini adanya akhirat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini bahwa kitab sucinya adalah wahyu dari Allah? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas mengerjakan sholat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi ketika diajak untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jawabannya adalah “jangan bawa-bawa agama”? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas kalau diajak untuk berbuat baik?

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada. Tapi itu artinya, orang-orang yang meninggalkan agama juga ada. Semoga saja kita tidak termasuk yang terakhir ini.

Kalau pada kaum ahli kitab dahulu saja ada orang yang bisa menjadi baik, mengapa kita tidak mau menjadi orang baik pada masa kita saat ini?

Imam membaca surat sampai di sini, lalu ruku’. Pikiran saya pun berhenti di sini.
Semoga saja sholat Jum’at kali ini ada berkahnya, aamiin.

Jakarta, 1 Nov 2019 (4 Rabiul Awwal 1441 H)

Belum bisa memaknai Ibadah Qurban?

Ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan segalanya utk agama, sekarang banyak yg hanya mau mengorbankan kambing saja.

Giliran disuruh ke masjid, berat.

Giliran disuruh menggunakan aturan Islam, menolak.

Semoga dari ibadah Qurban kemarin, ada pelajaran baru yang bisa kita terima. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Aamiin.

🙏🏽🙏🏽🙏🏽

Konsep Taqdir dalam menyikapi apa-apa yang SUDAH TERJADI

Jangan terlalu gembira dgn apa yang kita dapat, dan jangan terlalu sedih terhadap apa yg tidak kita dapatkan, karena semua sudah ada yg ngatur.
👆🏽
ini konsep takdir dalam Islam utk menyikapi apa2 yang sudah terjadi.

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS Al-Hadid, 23)

👆🏽
Kalau utk orang Indonesia, banyak yg salah menerapkan ayat ini untuk menyikapi hal-hal yg belum terjadi. Dan ini seringkali mengakibatkan munculnya sikap malas.

Kita ummat Islam adalah ummat yang dididik untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan, tapi ketika hasil sudah ditentukan maka kita tidak boleh terlalu gembira ataupun terlalu sedih, karena semua yang terjadi pada dasarnya adalah “sudah ada yang ngatur”.

Tingkatan orang dalam beragama

1. Tidak kenal agama.
2. Mengamalkan agama sebatas ritual saja.
3. Mengamalkan agama sebagai petunjuk dalam semua sisi kehidupan.

Yang benar adalah yang nomor 3.

Kita sendiri, termasuk yang mana?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah, 208)

Yaasiin 20-27

Surat Yaasiin ayat 20-27 menjelaskan tentang orang biasa, bukan nabi, bukan wali, bukan ulama, bukan kyai, juga bukan ustadz. Dia adalah orang biasa, tapi dia punya satu perbedaan dengan orang lain pada umumnya: Dia bersedia mati-matian membela Nabi, wali, ulama, kyai ataupun Ustadz, meskipun dia harus berkorban waktu, tenaga ataupun uang.

Ada orang yang harus bertugas untuk menyampaikan, dan ada orang yang harus bertugas membantu proses penyampaian ini. Dan dua kelompok ini, dua-duanya dijanjikan masuk surga.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

Jangan sampai kita termasuk ke dalam kelompok yang tidak peduli agama, atau bahkan memusuhi para ulama.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”

(QS. Yaasiin, 20-27)