Belum bisa memaknai Ibadah Qurban?

Ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan segalanya utk agama, sekarang banyak yg hanya mau mengorbankan kambing saja.

Giliran disuruh ke masjid, berat.

Giliran disuruh menggunakan aturan Islam, menolak.

Semoga dari ibadah Qurban kemarin, ada pelajaran baru yang bisa kita terima. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Aamiin.

🙏🏽🙏🏽🙏🏽

Advertisements

Konsep Taqdir dalam menyikapi apa-apa yang SUDAH TERJADI

Jangan terlalu gembira dgn apa yang kita dapat, dan jangan terlalu sedih terhadap apa yg tidak kita dapatkan, karena semua sudah ada yg ngatur.
👆🏽
ini konsep takdir dalam Islam utk menyikapi apa2 yang sudah terjadi.

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS Al-Hadid, 23)

👆🏽
Kalau utk orang Indonesia, banyak yg salah menerapkan ayat ini untuk menyikapi hal-hal yg belum terjadi. Dan ini seringkali mengakibatkan munculnya sikap malas.

Kita ummat Islam adalah ummat yang dididik untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan, tapi ketika hasil sudah ditentukan maka kita tidak boleh terlalu gembira ataupun terlalu sedih, karena semua yang terjadi pada dasarnya adalah “sudah ada yang ngatur”.

Tingkatan orang dalam beragama

1. Tidak kenal agama.
2. Mengamalkan agama sebatas ritual saja.
3. Mengamalkan agama sebagai petunjuk dalam semua sisi kehidupan.

Yang benar adalah yang nomor 3.

Kita sendiri, termasuk yang mana?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah, 208)

Yaasiin 20-27

Surat Yaasiin ayat 20-27 menjelaskan tentang orang biasa, bukan nabi, bukan wali, bukan ulama, bukan kyai, juga bukan ustadz. Dia adalah orang biasa, tapi dia punya satu perbedaan dengan orang lain pada umumnya: Dia bersedia mati-matian membela Nabi, wali, ulama, kyai ataupun Ustadz, meskipun dia harus berkorban waktu, tenaga ataupun uang.

Ada orang yang harus bertugas untuk menyampaikan, dan ada orang yang harus bertugas membantu proses penyampaian ini. Dan dua kelompok ini, dua-duanya dijanjikan masuk surga.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

Jangan sampai kita termasuk ke dalam kelompok yang tidak peduli agama, atau bahkan memusuhi para ulama.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”

(QS. Yaasiin, 20-27)

Yaasiin 13-19

Surat Yaasiin ayat 13-19 menjelaskan kisah tentang tiga orang utusan sebelum era Nabi Muhammad saw. Mereka dikirim pada satu kaum secara bersamaan, untuk mendakwahkan Islam. Tapi kaum tersebut menolak ajaran yang disampaikan oleh tiga utusan tadi, dan tidak hanya itu, bahkan kaum itupun mengancam akan menyiksa tiga utusan utusan tadi.

Kisah ini diturunkan dengan beberapa tujuan. Yang pertama, tentu saja, ini adalah peringatan untuk orang-orang yang tidak mau beragama, karena dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mau diajak untuk beragama memang ada dari dulu, dan mereka adalah orang-orang yang akan masuk neraka.

Tujuan lainnya adalah penguat semangat bagi para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz, agar jangan patah semangat kalau bertemu dengan orang-orang yang menolak kalau diajak bicara masalah agama, dan bahkan mungkin mereka akan memerangi dakwah yang disampaikan itu. Memang ada orang-orang seperti itu, dan oleh karena itu, para Nabi, Rasul, Ulama, Kyai, Ustadz tidak perlu bersedih hati kalau dakwah mereka dihalang-halangi.

Ini adalah ayat untuk memompa semangat para pendakwah untuk terus bersemangat mendakwahkan ajaran Islam pada semua orang, siapapun mereka, tentunya dengan cara yang baik.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi lemah semangat dalam mendakwahkan Islam?
Berarti kita belum bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita baca.

Kita sering baca surat Yaasiin tapi belum pernah mendakwahkan Islam?
Berarti kita menutup diri atas hikmah yang ada di dalam ratusan ayat Al-Qur’an, yang memang ditujukan pada orang-orang yang mendakwahkan Islam.

Kita adalah orang-orang yang tidak mau tahu masalah agama?
Jangan-jangan, kita termasuk kelompok yang disebutkan dalam ayat di atas?

Dulu dan sekarang

Dulu, sahabat nabi menomorsatukan agamanya. Jangankan diajak sholat ke masjid, diajak perang pun mereka berlomba-lomba mengerjakannya.

Sekarang, banyak orang menomorsekiankan agamanya. Jangankan diajak perang, diajak sholat ke masjid pun ada saja alasannya.

Semoga kita termasuk kelompok yang pertama, bukan kelompok yang kedua. Jadikanlah agama ini sebagai perkara nomor satu, dan jadikanlah nabi kita sebagai orang pertama yang kita dengarkan ucapannya, karena itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang beriman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa, ayat 65)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhari)

Ini Islam yang benar, dan ini bukan radikal.

Nasihat Juz’amma

Surat Al-Lahab, At-Takaatsur dan Al-‘Aadiyaat itu untuk orang-orang yang tidak mau mikir tentang agama, dan hanya berfikir tentang bagaimana caranya agar bisa menikmati hidup ini semaunya.

Surat Al-Kautsar, Al-Humazah dan Al-‘Alaq itu untuk orang-orang yang selalu mencela ustadz atau mencela orang yang sering membicarakan masalah agama, atau bahkan memusuhi mereka.

Surat Al-Maa’uun itu untuk orang yang berfikir bahwa beragama itu cukup hanya dengan ibadah ritual saja. Di luar itu, tidak perlu bawa-bawa agama, atau malah sibuk melarang orang untuk bawa-bawa agama.

Surat Al-Quraisy itu untuk orang yang hidupnya tenang dan enak, tapi tidak mau beribadah.
Mau nunggu kena musibah dulu baru mikir mau ke masjid?

Ini baru sekelumit isi Al-Qur’an, dari surat-surat pendek yang ada di Juz’amma.

Dari sekelumit isi ini saja, jangan-jangan kita sudah termasuk di dalamnya?

Mari kita introspeksi diri.