Hadits keutamaan malam Nishfu Sya’ban

Keutamaan malam nishfu sya’ban, haditsnya ada. Tapi keshahihan hadits itu tidak disepakati oleh semua ulama.

Yang namanya hadits memang seperti itu.

Sebagian mungkin menyatakan shahih, sebagian lain menyatakan hasan, dan sebagian lain lagi bisa jadi menyatakan dhoif atau malah mungkin hadits palsu.

Wajib mengikuti ucapan nabi yang shahih yang memang berasal dari nabi adalah satu hal yang qath’i.

Tapi menilai keshahihan suatu hadits adalah masalah ijtihadiyah.

Barang siapa yang memilih satu hasil ijtihad, maka dia sudah benar.

Dan barang siapa mengatakan bahwa hasil sebuah ijtihad memiliki kebenaran yang mutlak, maka berarti dia sudah menetapkan sesuatu di luar batasnya.

Dalil-dalil Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban | Blog Ust. Idrus Ramli – http://www.idrusramli.com/2014/keutamaan-malam-nisfu-syaban/

👆ini contoh hadits ttg malam nishfu sya’ban, katanya shahih.

Dan kalau sudah begini, biasanya banyak orang membela pendapat guru masing2, dan menyebutkan bahwa pendapat gurunya itulah yang mutlak benar.

Lalu kita2 yang tidak tahu, yang awalnya seharusnya mencukupkan diri dengan memilih, akhirnya banyak yang memilih untuk menjadi hakim bagi semua orang. 😦 😰

Selamat memilih.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

NASYID BOLEH

HUKUM MENDENGARKAN NASYID DI DARUL QUR’AN YANG MENEMPEL DENGAN MASJID – islamqa.info – http://islamqa.info/id/144857

👆 Nasyid dalam artian seperti ini –dikala temanya bagus- tidak mengapa dilantunkan dan diperdengarkan di masjid dan (tempat) lain. Dahulu Hassan bin Tsabit melantunkan syair di masjid, dan di dalamnya ada Rasulullah sallallahu’alalihi wa sallam.

وروى البخاري (3212), ومسلم (2485), وأبو داود (5013) واللفظ له أن عُمَرَ بن الخطاب مَرَّ بِحَسَّان وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ ، فَلَحَظَ إِلَيْهِ , فَقَالَ حسان : قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 3212. Muslim, 2485 dan Abu Dawud, 5013 dan redaksi darinya bahwa Umar bin Khattab melewati Hassan sementara beliau sedang melantunkan nasyid di Masjid. Kemudian (Umar) memandangnya. Maka Hassan berkomentar: ”Dahulu saya melantunkan nasyid, dan di dalamnya ada orang yang lebih baik dari anda.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Di dalam (hadits menunjukkan) diperbolehkannya melantunkan syair di masjid jikalau (syairnya) mubah. Dan dianjurkan (dikala temanya) menyanjung agama Islam dan orang-orangnya.” Selesai dari kitab ‘Syarkh Shoheh Muslim, 16/46.

Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang mendengarkan nasyid di masjid, beliau berkata: “Nasyid-nasyid arab yang islami, dimana didalamnya ada faedah (menjelaskan) posisi ilmu dan belajar. Maka hal itu tidak mengapa dikala didalam masjid ada halaqah ilmu atau penceramah yang memberikan nasehat dan mengingatkan kepada orang. Dengan membacakan sebagian syair-syair yang bermanfaat kepada mereka. Dan nasyid syar’i dan bermanfaat tidak mengapa hal itu (dilakukan). Karena dahulu Hassan radhiallahu’anhu melantunkan syair di masjid Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.

Hukum Nasyid Atau Lagu-Lagu Yang Bernafaskan Islam – almanhaj.or.id – http://almanhaj.or.id/content/1714/slash/0/hukum-nasyid-atau-lagu-lagu-yang-bernafaskan-islam/

👆 Anda boleh mengganti kebiasaan anda mendengarkan lagu-lagu semacam itu dengan nasyid atau lagu-lagu yang bernafaskan Islam karena di dalamnya terdapat hikmah, peringatan dan teladan (ibrah) yang mengobarkan semangat serta ghirah dalam beragama, membangkitkan rasa simpati, penjauhan diri dari segala macam bentuk keburukan. Seruannya dapat membangkitkan jiwa sang pelantun maupun pendengarnya agar berlaku taat kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-, merubah kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ketentuanNya menjadi perlindungan dengan syari’at serta berjihad di jalanNya.

Tetapi tidak boleh menjadikan nasyid itu sebagai suatu yang wajib untuk dirinya dan sebagai kebiasaan, cukup dilakukan pada saat-saat tertentu ketika hhal itu dibutuhkan seperti pada saat pesta pernikahan, selamatan sebelum melakukan perjalanan di jalan Allah (berjihad), atau acara-acara seperti itu. Nasyid ini boleh juga dilantunkan guna membangkitkan semangat untuk melakukan perbuatan yang baik ketika jiwa sedang tidak bergairah dan hilang semangat. Juga pada saat jiwa terdorong untuk berbuat buruk, maka nasyid atau lagu-lagu Islami tersebut boleh dilantunkan untuk mencegah dan menghindar dari keburukan.

👆semoga bisa menambah wawasan kita, karena ada juga yang bilang nasyid haram.

Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sebuah nasihat utk kita semua utk tdk cepat menghakimi yg mengikuti mazhab lain di antara Imam Mazhab yg Sunni :

Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sabtu 11 Jamadilawal 1434 / 23 Maret 2013 13:23

ADA sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Ulama dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka. [pustakamuhibbin]

Isbal boleh asal tidak sombong ( Syarah Shahih Bukhari dan Syarah Shahih Muslim)

Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani adalah ulama besar yang mengarang kitab Fathul Bari yang merupakan tafsir terbaik untuk kitab shahih Bukhari dan sudah menjadi rujukan utama jutaan kaum muslimin di seluruh dunia dari dulu sampai sekarang.
Berikut adalah penjelasan beliau mengenai isbal (memanjangkan celana melebihi mata kaki).

وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة, وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا, لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا, فلا يحرم الجر والإسبال إذا سلم من الخيلاء

Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya’), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga, namun hadits-hadits ini menunjukkan adanya taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan memanjangkan kain atau isbal asalkan selamat dari sikap sombong. (Lihat Fathul Bari, hadits 5345)

link:
http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=3293&BookID=33&PID=10577

Adapun Imam Nawawi adalah pengarang kitab Syarah Shahih Muslim, yang merupakan kitab tafsir terbaik untuk kitab shahih Muslim. Kitab Syarah ini juga sudah menjadi rujukan jutaan kaum muslimin di seluruh dunia, dari dulu sampai sekarang.

Mengenai Isbal, berikut adalah penjelasan beliau mengenai hal tersebut dalam kitab Syarah Shahih Muslim yang beliau tulis:

وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء, لأنه مطلق, فوجب حمله على المقيد. والله أعلم

Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, ” لست منهم ” إذ كان جره لغير الخيلاء

Dan Khuyala’ adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

link:
http://www.al-islam.com/Page.aspx?pageid=695&BookID=34&PID=6327&SubjectID=17680

http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=32&BookID=34&PID=340

Demikianlah pendapat dua ulama ahli hadits terbesar sepanjang masa mengenai isbal.

Kesimpulannya:
Isbal boleh asal tidak sombong, menurut
Syarah Shahih Bukhari dan Syarah Shahih Muslim.

Semoga bermanfaat.

Bolehkah mengirim bacaan Qur’an pada orang yang sudah meninggal?

Hal ini selalu menjadi pertanyaan, apakah benar kita bisa menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal?

Sebagian ulama mengatakan bahwa pahala bacaan Qur’an ini tidak akan sampai, tapi sebagian lagi mengatakan bahwa pahala ini bisa sampai pada si mayit.
Yang mengatakan bahwa pahala fatihah bisa sampai pada si mayit adalah sebagian ulama Syafi’i. Mungkin itu sebabnya di tanah air kita saat ini ada kebiasaan mengirim surat al-fatihah atau surat Yasin kepada orang yang sudah meninggal.

Tapi selain dari ulama Syafi’i ini, ternyata ada juga ulama lain yang mengatakan hal yang sama. Beliau adalah Ibnu Qudamah, salah seorang ulama besar dari kalangan madzhab Hambali, yang banyak diikuti oleh ulama Saudi Arabia saat ini.

Beliau (Ibnu Qudamah) menuliskan dalam kitabnya yang berjudul “Al-Mughni”:

وهذه أحاديث صحاح ، وفيها دلالة على انتفاع الميت بسائر القرب ; لأن الصوم والحج والدعاء والاستغفار عبادات بدنية ، وقد أوصل الله نفعها إلى الميت ، فكذلك ما سواها ، مع ما ذكرنا من الحديث في ثواب من قرأ يس ، وتخفيف الله تعالى عن أهل المقابر بقراءته . وروى عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن جده ، { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعمرو بن العاص : لو كان أبوك مسلما ، فأعتقتم عنه ، أو تصدقتم عنه ، أو حججتم عنه ، بلغه ذلك } . وهذا عام في حج التطوع وغيره ، ولأنه عمل بر وطاعة ، فوصل نفعه وثوابه ، كالصدقة والصيام والحج الواجب .

Ini adalah hadits-hadits yang shahih. Dan padanya terdapat dalil bahwa si mayit bisa mengambil manfaat dari orang yang ada di dekatnya. Karena puasa, haji, doa dan istighfar adalah ibadah fisik, dan Allah akan menyampaikan manfaatnya pada si mayit. Dan seperti itu pula lah ibadah lainnya. Hal ini sama dengan apa yang telah kami jelaskan tentang hadits sampainya pahala pembacaan surat Yasin, dan Allah memberikan kemudahan pada ahli kubur dengan bacaan tersebut. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw berkata pada Amru bin ‘ash, “Kalau ayahmu muslim, maka bebaskanlah untuknya, atau bersedekahlah untuknya, atau berhajilah untuknya, hal itu akan sampai padanya.”
Hal ini berlaku untuk haji Tathowwu dan selainnya, karena itu adalah amal baik dan ketaatan, maka manfaatnya dan pahalanya sampai kepadanya, sepertihalnya sodaqoh, puasa dan haji wajib.

وقال بعضهم : إذا قرئ القرآن عند الميت ، أو أهدي إليه ثوابه ، كان الثواب لقارئه ، ويكون الميت كأنه حاضرها ، فترجى له الرحمة . ولنا ، ما ذكرناه ، وأنه إجماع المسلمين ; فإنهم في كل عصر ومصر يجتمعون ويقرءون القرآن ، ويهدون ثوابه إلى موتاهم من غير نكير .

Dan sebagian mereka berkata, jika dibacakan al-Qur’an di sisi mayit atau pahalanya dihadiahkan padanya, pahalanya adalah untuk yang membacanya, dan seakan-akan mayit itu hadir, maka turunlah rahmat. Bagi kita adalah apa yang kita baca, dan inilah ijma’ kaum muslimin. Maka kaum muslimin biasa berkumpul dan membaca Al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya pada orang yang sudah meninggal, dan tidak ada yang menentang kebiasaan ini.

sumber:
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=15&ID=1335

Jadi, kalau ada yang biasa membacakan surat Al-Fatihah atau surat Yasin untuk orang yang sudah meninggal, mungkin salah satu dalil yang digunakan adalah pendapat Ibnu Qudamah ini.

Wallahu a’lam bisshowwab.