Sholat Tarawih itu 23 Roka’at

Maksudnya adalah, 20 roka’at tarawih  ditambah 3 roka’at witir, ini menurut kesepakatan para ulama empat madzhab.


Para pemuka ilmu fiqih Islam yang merupakan para salafush-shalih hakiki dan kadar keilmuannya sudah sampai level mujtahid mutlak, yaitu jumhur (mayoritas) ulama, baik dari mazhab Al-Hanafiyah, sebagian kalangan mazhab Al-Malikiyah, mazhab Asy-Syafi’iyah dan mazhab Al-Hanabilah telah berijma’ bahwa shalat tarawih itu berjumlah 20 rakaat.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan di dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :
فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا

Dan shalat tarawih itu 20 rakaat di luar witir menurut pendapat kami.[1]

Al-Kasani (w. 587 H) yang juga merupakan salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya, Badai’Ash-Shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai’ sebagai berikut :
وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي خَمْسِ تَرْوِيحَاتٍ كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ

Adapun jumlahnya 20 rakaat dengan 10 salam dan 5 kali istirahat. Tiap dua kali salam ada istirahat. Demikian pendapat kebanyakan ulama. [2]

Ibnu Abdin (w. 1252 H) yang juga merupakan salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah mengatakan di dalam kitabnya Raddul Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar atau lebih dikenal dengan nama Hasyiatu Ibnu Abdin bahwa shalat tarawih 20 rakaat adalah amalan yang dikerjakan oleh seluruh umat baik di barat maupun di timur.
قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا

Dan tarawih itu 20 rakaat adalah pendapat jumhur dan itulah yang diamalkan orang-orang baik di Timur ataupun di Barat. [3]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah pada umumnya menyebutkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Selain itu juga ada pendapat yang menyebutkan 36 rakaat.

Ad-Dardir (w. 1201 H) yang merupakan salah satu ulama di dalam mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Asy-Syarhu Ash-Shaghir, menuliskan sebagai berikut :
والتراويح برمضان وهي عشرون ركعة بعد صلاة العشاء يسلم من كل ركعتين غير الشفع والوتر

Dan shalat Tarawih di Ramadhan 20 rakaat setelah shalat Isya’, dengan salam tiap dua rakaat, di luar shalat syafa’ dan witir.[4]

An-Nafarawi (w. 1126 H) yang juga ulama mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid Al-Qairuwani sebagai berikut :
(وكان السلف الصالح) وهم الصحابة رضى الله عنهم (يقومون فيه) في زمن خلافة عمر بن الخطاب رضى الله عنه وبأمره كما تقدم (في المساجد بعشرين ركع ) وهو اختيار أبي حنيفة والشافعي وأحمد، والعمل عليه الآن في سائر الأمصار

Para salafusshalih yaitu para shahabat radhiyallahuanhum menjalankan di masa khilafah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhum atas perintahnya di dalam masjid sebanyak 20 rakaat. Dan itulah pilihan Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad, serta yang dijalankan sekarang di seluruh dunia. [5]

3. Mazhab As-Syafi’iyah

Semua ulama mazhab Asy-Syafi’iyah kompak menyebutkan bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat.

Al-Mawardi (w. 450 H) salah satu ulama terdahulu dari mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir fi Fiqhi mazhabi Al-Imam Asy-Syafi’i sebagai berikut :
فالذي أختار عشرون ركعةً خمس ترويحات كل ترويحة شفعين كل شفع ركعتين بسلام ثمّ يوتر بثلاث؛ لأنّ عمر بن الخطّاب رضي اللّه عنه جمع النّاس على أبيّ بن كعب فكان يصلّي بهم عشرين ركعةً جرى به العمل وعليه النّاس بمكّة

Yang saya pilih 20 rakaat dengan 5 kali istirahat. Setiap sekali istirahat diselingi 2 kali shalat, tiap satu shalat terdiri dari 2 rakat dengan satu salam. Kemudian witir tiga rakaat. Karena Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu mengumpulkan orang bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab, dan Ubay mengimami dengan 20 rakaat. Dan itulah yang selalu dilakukan dan yang dilaksanakan orang-orang di Mekkah. [6]

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq dalam mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :
فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليماتٍ

Shalat tarawih hukumnya sunnah dengan ijma’ ulama. Dan menurut mazhab kami jumlahnya 20 rakaat dengan 10 kali salam. [7]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan di dalam kitabnya, Asna Al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib sebagai berikut :
وهي عشرُون ركعة بعشر تسليمات في كلّ ليلة من رمضان

Dan (tarawih) itu 20 rakaat dengan 10 salam dilakukan tiap malam bulan Ramadhan. [8]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Al-Khiraqi (w. 334 H) menuliskan dalam kitab Matan Al-Khiraqi ‘ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani atau yang lebih dikenal dengan nama Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut :
وقيام شهر رمضان عشرون ركعة والله أعلم

Dan qiyamu Ramadhan 20 rakaat wallahua’lam. [9]

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :
وقِيامُ شهْرِ رمضان عِشْرُون ركْعة يعْنِي صلاة التراوِيح وهي سنّة مُؤكدة وأولُ منْ سنّها رسُولُ اللهِ

Dan qiyam bulan Ramadhan 20 rakaat yaitu shalat tarawih. Hukumnya sunnah muakkadah dan orang yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah SAW. [10]

Al-Buhuti (w. 1051 H) sebagai salah satu dari ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya, Ar-Raudh Al-Murabba’ Syarah Zad Al-Mustaqni’ sebagai berikut :
(والتراويح) سنة مؤكدة سميت بذلك لأنهم يصلون أربع ركعات ويتروحون ساعة أي: يستريحون (عشرون ركعة) لما روى أبو بكر عبد العزيز في الشافي عن ابن عباس: «أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كان يصلي في شهر رمضان عشرين ركعة» (تفعل) ركعتين ركعتين (في جماعة مع الوتر) بالمسجد أول الليل (بعد العشاء)

Dan tarawih hukumnya sunnah muakkadah, dinamakan tarawih karena mereka beristirahat sejenak tiap 4 rakaat. Jumlah 20 rakaat sebagaimana riwayat Abu Bakar Abdul Aziz di dalam Asy-Syafi dari Ibni Abbas bahwa Nabi SAW shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat. Dikerjakan dua rakaat dua rakaat dengan berjamaah ditambah witir di masjid pada awal malam setelah shalat Isya’. [11]

Inilah pendapat mayoritas ulama kita, dari dulu sampai sekarang, bahwa sholat tarawih itu 23 roka’at. Di luar ini, ada juga pendapat minoritas yang mengatakan bahwa shalat Tarawih hanyalah 11 roka’at saja.

Harus kita sadari pula bahwa  memang ada perbedaan fiqih di sini. Maka, kita yang memegang pendapat mayoritas bahwa sholat tarawih itu 23 roka’at sebaiknya tidak menyerang pendapat minoritas yang mengatakan bahwa sholat tarawih itu 11 roka’at.

Apalagi kalau kita adalah kelompok yang memegang pendapat minoritas, yang mengatakan bahwa sholat tarawih itu 11 roka’at, kita harus lebih tahu diri lagi dalam menghargai orang yang memegang pendapat mayoritas yang memang disepakati oleh mayoritas ulama.

Semoga Allah memberikan keluasan ilmu pada kita, agar kita tidak mudah menyalahkan orang yang berbeda pendapat, apalagi sampai menyalahkan kelompok yang pendapatnya didukung oleh mayoritas ulama dari seluruh madzhab. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

wallahu a’lam.

referensi:

[1] As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 2 hal. 144

[2] Al-Kasani, Badai’us-shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai’, jilid 1 hal. 288

[3] Ibnu Abdin, Raddul Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 hal. 474

[4] Ad-Dardir, Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 404

[5] An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid Al-Qairuwani, jilid hal.

[6] Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir fi Fiqhi mazhabi Al-Imam Asy-Syafi’i, jilid 2 hal. 291

[7] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 31

[8] Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib, jilid 1 hal. 200

[9] Al-Khiraqi, Matan Al-Khiraqi ‘ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, jilid 1 hal 29

[10] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 122

[11] Al-Buhuti, Ar-Raudh Al-Murabba’ Syarah Zad Al-Mustaqni’, jilid 1 hal. 115


sumber asli dari artikel Ustadz Ahmad Sarwat:
http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1425664628

Peta Madzhab Fiqih dan Aqidah

Sembilan puluh persen (90%) umat Islam itu pengikut madzhab fiqih yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan yang 10% ada yang Syiah, Zaidiyah, Khawarij (Ibadhiyah) dan Mu’tazilah.

Dari 90 % pengikut madzhab empat tersebut, apabila kita petakan akidah mereka adalah sebagai berikut:

1) Pengikut madzhab Hanafi, 30% mengikuti akidah Asya’irah, dan 70% mengikuti Maturidiyah

2) Pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i, 100% mengikuti Asya’irah

3) Pengikut madzhab Hanbali, dalam akidah pecah menjadi tiga kelompok.

Pertama, mayoritas mereka, atau sekitar 60% adalah pengikut Hasyawiyah, atau Mujassimah yang berkeyakinan Allah berdomisili di Arasy. Kelompok ini disebut dengan Ghulat al-Hanabilah (kaum ekstrem madzhab Hanbali).

Kedua, kelompok yang mengikuti madzhab Asya’iroh, seperti Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, Rizqullah bin Abdul Wahhab al-Tamimi dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. Kelompok ini disebut dengan fudhala’ al-Hanabilah (kaum utama madzhab Hanbali).

Ketiga, mengikuti ajaran tafwidh, yakni tidak melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat, tapi menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga kelompok tersebut sama-sama mengklaim sebagai representasi pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal dalam bidang akidah. Akan tetapi meskipun ketiga kelompok tersebut berbeda dalam soal-soal akidah, mereka sama-sama mengikuti ajaran tashawuf, melakukan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah kubur.

Pada abad ketujuh Hijriah, kelompok Ghulat al-Hanabilah hampir habis dan beralih haluan mengikuti Asya’irah, berkat kebijakan Raja Zhahir Baibars al-Bindiqdari, yang mengangkat Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) dari madzhab empat. Sehingga keempat madzhab tersebut sering melakukan diskusi, dan dampak positifnya, penyakit tajsim (menjasmanikan Tuhan) yang menggerogoti Hanabilah, sedikit demi sedikit terobati dan hampir habis.

Hanya saja setelah itu lahir Syaikh Ibnu Taimiyah, yang kemudian berhasil meradikalisasi madzhab Hanbali dalam bidang ushul dan furu’. Dalam bidang akidah, Ibnu Taimiyah mengembalikan mayoritas Hanabilah menjadi pengikut Hasyawiyyah dan membabat habis kelompok Fudhala’ al-Hanabilah yang mengikuti Asya’irah. Sedangkan dalam bidang furu’, Ibnu Taimiyah mengharamkan istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wali dengan tujuan tabaruk. Dalam rangka radikalisasi tersebut, Ibnu Taimiyah membuat perangkat ideologi yang disebut dengan pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. Tauhid Uluhiyah dibuat untuk melarang amalan-amalan seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah. Sedangkan Tauhid Asma wa Shifat dibuat untuk menyesatkan mayoritas umat Islam yang berakidah tanzih (menyucikan Allah dari menyerupai makhluk) dan melakukan ta’wil terhadap nash-nash mutasyabihat. Akan tetapi perlu dicatat, Ibnu Taimiyah masih membolehkan membaca al-Qur’an di kuburan, tahlilan, dzikir bersama, maulid dan beberapa tradisi shufi lainnya.

Pada abad kedua belas Hijriah, muncul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, pendiri Wahabi. Dia meradikalisasi madzhab Hanbali, lebih keras dari Ibnu Taimiyah, dengan mengadopsi akidah Hasyawiyah. Hanya saja, beberapa amalan yang diharamkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti istighatsah, tawasul, tabaruk dan ziarah dengan alasan Tauhid Uluhiyah, oleh pendiri Wahabi tersebut dinaikkan status hukumnya menjadi syirik akbar, murtad dan kafir. Sedangkan beberapa tradisi shufi yang dibolehkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti dzikir bersama, membaca al-Qur’an di kuburan, maulid, tahlilan dan semacamnya diharamkan dengan alasan bid’ah dhalalah dan pemurnian agama.

sumber:
http://www.idrusramli.com/2015/nu-wahabi-bersatu-mungkinkah/

Menyikapi Hadits Larangan Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Qurban

Akhir-akhir ini, setidaknya ketika akses internet mulai merebak, terutama di kalangan terpelajar dan professional dan seiring dengan keinginan mereka menimba ilmu agama, mulai banyak beredar dakwah (ajakan) dan juga peringatan dari beberapa orang agar orang yang hendak berqurban jika sudah masuk tanggal satu Dzul Hijjah agar tidak memotong rambut dan kukunya sehingga setelah hewan qurban disembelih.

Jika ditelusuri dasar pilihan hukum di atas adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA yang dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya.

عَنْ أُمِّ سَلَمةَ رضِيَ اللَّه عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّة، فَلا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْره وَلا منْ أَظْفَارهِ شَيْئاً حَتَّى يُضَحِّيَ “رَواهُ مُسْلِم
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memilihi sembelihan yang akan disembelihnya, maka jika sudah masuk hilal Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun sehingga ia menyembelih” HR. Muslim.

Jika membaca hadits seperti ini dengan lafadz yang mengandung penekakanan “jangan sekali-kali” yang di dalam ilmu nahwu “nun” pada lafdz “ta’khudzanna” dinamakan “nun taukid” nun yang berfungsi memberikan penekanan pada kata kerja, pembaca yang awam tentu akan segera mengambil kesimpulan hukum “haram” dari larangan dalam matan hadits dengan berdasar hadits yang shahih. Dan bisa jadi tidak ingin ketinggalan kesempatan ia akan segera memberikan peringatan dan berdakwah ke sanak saudara dan sahabat yang akan berqurban dengan niat yang tulus ingin mencegah kemunkaran.

Hadits di atas ada di dalam shahih Muslim, hadits yang terkenal, bahkan di banyak pesantren di Indonesia kitab shahih Muslim juga dikaji sampai tuntas, tidak hanya itu, hadits ini juga dimuat di dalam kitab “Riyadhus Shalihin” yang hampir seluruh pesantren tradisional maupun modern di Indonesia mengaji kitab ini, di samping itu ibadah qurban di hari raya ‘idul Adha sudah ada ratusan tahun di semua negara Islam, namun mengapa hukum larangan memotong rambut dan kuku nyaris tidak terdengar? Pertanyaan yang sangat wajar dan tentu ada sesuatu yang menyebabkan hokum tersebut kurang populer, meskipun termuat di dalam kitab hadits yang shahih sekelas shahih Muslim.

Hadits ini bisa dijadikan pelajaran berharga, untuk menyikapi banyak lagi hadits lainnya yang berkaitan dengan hukum, bahwa tidak semua lafadz-lafadz lahiriah (dzahiriah) sebuah hadits bisa langsung dijadikan dalil hukum, para ulama’ hadits selalu mengaitkan dengan dilalah (maksud) lafadz tersebut dan di samping itu juga dicari dalil-dalil pembanding, sebab bisa jadi ada ta’arudh (kontradiksi) dengan dalil yang lain sebagai bahan untuk jam’ (mengkompromikan) atau men-tarjih (memilih yang kuat) dari sekian banyak dalil, tanpa proses tersebut dipastikan seseorang yang membaca dalil hukum dari teks al-Qur’an ataupun Sunnah akan terjebak dalam kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan.

Kembali ke hadits Ummu Salamah di atas, derajat hukumnya dipastikan shahih, namun bukan berarti jika hadits yang shahih kemudian dilalahnya (maksudnya) menjadi qath’i (pasti dengan satu arti), nash di dalam al-Qur’an ataupun hadits yang mutawatir dan shahih, maksud dan kandungannya memiliki dua sisi, ada yang qath’i (pasti) dan ada yang dhanni (relatif).

Hadits ini, meskipun lafadz dzahirnya ada penekanan kuat, “jangan sekali-kali”, namun para ulama’ tidak kemudian membiarkan arti ini dilanjutkan ke ranah hukum tanpa proses, namun ada sekian banyak pertimbangan sebelum mengambil kesimpulan, di antaranya:

Ada beberapa riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dimuat oleh Imam al-Bukhari di dalam shahihnya dan juga di muat oleh imam-imam muhadditsin lainnya, menerangkan bahwa Rasulullah saw mengirimkan hadyu (hewan sembelihan) melalui Abu Bakar yang mana hadyu tersebut dikirimkan ke Baitullah, dan Nabi saw masih muqim di Madinah, Nabi saw tidak mengharamkan apapun sebagaimana pantangan yang dihindari oleh orang yang sedang berihram.
Peristiwa ini diriwayatkan oleh Aisyah, istri dan sahabat yang paling mengetahui seluk beluk Nabi saw di rumahnya, oleh karenanya Imam as-Syafi’i berkomentar: “Dan mengirimkan hadyu (hewan qurban) lebih dari sekedar ingin berqurban, maka ini menjadi dalil bahwa hal itu (memotong rambut dan kuku) tidak diharamkan”.
Abu al-Walid al-Baji mengatakan: “Ucapan Aisyah: “Kemudian Nabi saw mengirimkan hewan qurbannya melalui ayahku”, (dengan menyebut melalui ayahku) ia sebenarnya ingin menerangkan bahwa Nabi saw melakukan itu semua pada tahun ke 9 H, juga ingin memberitahukan bahwa beliau mengerti semua permasalahnnya”.
Artinya, perbuatan Nabi saw dengan tidak meninggalkan pantangan apapun sebelum berqurban terjadi di akhir hayat beliau, sebab pada tahun berikutnya beliau naik haji. Hal ini menunjukkan bahwa hadits Aisyah hukumnya tetap, tidak dimansukh (tidak dihapuskan).

Di samping itu riwayat Aisyah ini demikian masyhur di kalangan sahabat dan tabi’in bahkan kemasyhuran riwayat ini sampai pada kelas mutawatir, berbeda dengan riwayat Ummu Salamah, oleh karenanya al-Imam al-Laith bin Sa’d ketika disampaikan kepada beliau tentang hadits Ummu Salamah ra beliau berkata: “(Hadits) ini telah diriwayatkan, namun orang-orang melakukan selain yang terkandung dalam hadits ini”. Imam al-Laits sepertinya ingin berkesimpulan, meskipun hadits ini shahih tapi orang-orang mengamalkan hadits shahih yang lain. Menunjukkan maksud dan kandungan hadits Ummu Salamah kurang kuat jika dibandingkan dengan riwayat-riwayat yang lainnya, dan bahkan banyak ulama’ muhadditsin yang tidak mengamalkan isi kandungan hadits Ummu Salamah.

Di sudut lain ada juga ulama’ tabi’in yang menggunakan qiyas, ‘Ikrimah murid dan mantan hamba Ibnu Abbas yang juga ulama besar Makkah ini ketika disampaikan kepada beliau hadits Ummu Salamah, beliau mengakatan: “Tidaklah sebaiknya orang itu meninggalkan berhubungan badan dan wewangian”. Maksudnya, jika memotong kuku dan rambut dilarang tentu berhubungan badan harus dilarang juga, sebab lebih berat. Qiyas ini diperkuat lagi oleh Ibnu ‘Abdil Barr, tokoh penting madhab Maliki, beliau berkata: “Semua ulama’ telah berijma’ (konsensus), bahwa berhubungan badan di sepuluh awal Dzul Hijjah bagi yang ingin berqurban diperbolehkan, maka yang kurang dari itu hukumnya mubah”. Logika Ibnu Abdil Barr juga relevan, dari sekian banyak pantangan ihram, berhubungan badan tidak sebanding dengan memotong rambut dan kuku.

Adapun yang berpendapat bahwa larangan tetap berlaku dengan mendasarkan kepada hadits Ummu Salamah, mereka menyikapinya sebagai berikut:

Pertama, teks dzahir dari hadits Ummu Salamah berpendapat bahwa hadits  Aisyah sangat umum sedangkan hadits Ummu Salamah untuk peristiwa yang khusus, sesuai dengan kaidah yang khusus harus didahulukan dari pada yang umum.

Hadits ‘Aisyah menerangkan perbuatan Nabi saw, sedangkan hadits Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi saw, dan dalam istinbath hukum dari hadits, ucapan Nabi saw lebih didahulukan daripada perbuatannya, sebab boleh jadi perbuatannya hanya khusus untuk beliau.
Imam Ahmad yang berpendapat haramnya mencukur rambut dan memotong kuku membedakan hukum bagi orang yang berqurban dengan mengirimkan ke Makkah dan tetap tinggal di rumahnya dan orang yang berniat ingin menyembelih. Meskipun alasan ini sudah terjawab dengan komentar Imam as-Syafi’i di atas.

Dari metode istinbath yang berbeda-beda ini maka kesimpulan hukumnya juga berbeda, inilah yang disebut ijtihad ulama’ dalam memutuskan hukum, meskipun sudah ada nash, ijtihad dalam persoalan ini tetap diperlukan sebab meskipun ada nash agama, namun dalilnya bukan dalil yang qath’i, sehingga maksud dari isi kandungannya masih multi tafsir.

Oleh karenanya para ulama’ berbeda dalam memutuskan hukum memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban jika hilal bulan Dzul Hijjah sudah terlihat, minimal ada empat pendapat:

1. Abu Hanifah dan jumhur Hanafiyyah: Hukumnya boleh, tidak makruh dan tidak ada masalah apapun.
2. Pengikut Abu Hanifah yang muta’akkhirin: Tidak apa-apa, tidak makruh namun khilaful aula (meninggalkan yang mustahabb). 
3. Al-Malikiyyah dan As-Syafi’iyyah: Disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan tidak memotong kuku bagi yang hendak berqurban dan jika memotongnya termasuk makruh tanzih, namun bukan haram.
4. Imam Ahmad, Dawud ad-Dzahiri dan beberapa ulama lain menyatakan hukumnya haram jika memotong rambut dan kuku.

Dari paparan di atas, yang menyatakan hukumnya haram sangat sedikit, bahkan dari ulama’ madzhab hanya Imam Ahmad yang bersikukuh hukumnya haram, adapun jumhur ulama’ madzhab lebih cenderung memutuskan hukumnya adalah makruh, bahkan makruh karahah tanzih, yang berarti seyogyanya tidak dilakukan.

Pelajaran penting dari hadits ini

Terlepas dari pilihan-pilihan hukum yang sudah matang dan dikaji dengan mendalam oleh para ulama’ hadits dan juga fuqaha’ dan diskusinya sudah dibahas tuntas di dalam kitab-kitab fiqih dan syarah-syarah hadits, ada pelajaran penting dari hadits ini:

1. Memahami teks agama tanpa bimbingan ulama’ adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Belajar sendiri dari nash-nash al-Qur’an dan hadits tanpa merujuk ke tafsir dan syarah-syarah hadits adalah tindakan yang sangat gegabah.

2. Nash al-Qur’an dan nash hadits-hadits Nabi yang berupa larangan, belum tentu kesimpulan hukumnya adalah haram. Sebab kata larangan memiliki indikasi makna yang bermacam-macam, untuk mengetahui hal ini, seseorang perlu mempelajadi dilalatul alfadz di dalam disiplin ilmu ushul fiqih.

3. Tidak semua nash dalam al-Qur’an dan hadits mengandung maksud qath’i (hukumnya pasti, tidak menerima perbedaan), namun kebanyakan nash dalah dhanni (relatif).

4. Para salafusshalih, dalam hal ini para sahabat dan tabi’in juga terbiasa berbeda dalam masalah ijtihadiyyah. Hal ini bisa dilihat dari sikap para tabi’in yang melaporkan persoalannya kepada Aisyah ra juga sikap para ulama’ tabi’in dalam menyikapi hadits Ummu Salamah ra.

5. Pilihan hukum tertentu dari masalah-masalah khilafiyyah tidak boleh mengganggu muslim yang lain yang berbeda pilihan. Bahkan tidak diperlukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam persoalan seperti ini. Sebab semuanya berdasarkan dalil yang sama-sama dianggap kuat.

6. Hadits ini hanya satu dari beratus-ratus hukum yang di dalamnya terjadi khilaf di kalangan ulama’, sehingga semakin luas wacana berpikir seseorang dalam dalil-dalil agama, maka akan semakin berlapang dada dalam menyikapi persoalan umat.

7. Merasa paling di atas sunnah hanya dengan berpihak pada satu pilihan hukum yang dhanni tanpa toleransi akan memicu perselisihan di antara umat Islam.

8. Ilmu agama demikian luas, dalil agama juga demikian banyak, akan sangat berbahaya jika hanya berpegang kepada satu dan dua dalil dan tidak mau mencari yang lain dan menutup hati dari kaluasan ilmu yang tak berbatas.

9. Terkadang seseorang sudah merasa paling benar dalam pilihan hukum di stau masa, namun lambat laun seiring dengan berkembangnya wawasan keagamaan, maka dada juga akan semakin luas untuk menerima perbedaan yang dalam ranah khilafiyyah yang mu’tabar.

10. Masalah ijtihadiyyah seperti di atas bukanlah tolok ukur al-haqq dan al-bathil, namun ranahnya adalah al-shawab (benar) dan al-khatha’ (salah), yang berijtihad dan benar akan mendapat dua pahala dan yang berijtihad dan tersalah tetap mendapatkan satu pahala.

Wallahu a’lam,

Alfaqir ilallah,

Muntaha

#kiriman teman, saya upload di sini. (Ismet)

Imam Syafi’i: Takbiran-lah di malam Iedul Fitri

Menurut imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, takbiran itu sebaiknya dimulai sejak malam iedul fitri, baik sendiri2 ataupun berjamaah, di mana pun kita berada, dengan suara keras.

( قال الشافعي ) : فإذا رأوا هلال شوال أحببت أن يكبر الناس جماعة ، وفرادى في المسجد والأسواق ، والطرق ، والمنازل ، ومسافرين ، ومقيمين في كل حال ، وأين كانوا ، وأن يظهروا التكبير ، ولا يزالون يكبرون حتى يغدوا إلى المصلى

sumber:
الكتب – الأم للشافعي – كتاب الصلاة – كتاب صلاة العيدين – التكبير ليلة الفطر- الجزء رقم1 – http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=559&idto=559&bk_no=31&ID=221

Takbiran sejak malam Iedul Fitri

Disunnahkan, takbiran di malam iedul Fitri, sejak ba’da maghrib di malam iedul fitri.
👇

Takbir di Iedul Fitri, Kapan dan Bagaimana Bentuk Bacaaannya?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Disunnahkan takbir pada malam Idul fitri. Takbir dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Iedul Fitri. Selesainya, ada dua pendapat masyhur; yaitu keluarnya imam ke tempat shalat ied. Pendapat kedua, sampai waktu Ashar setelah setiap shalat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dan kesempurnaan bilangan Ramadhan ketika matahari tenggelam pada malam Idul Fitri, maka permulaan waktu takbir semenjak Maghrib.

Imam Syafi’i berkata: telah diriwayatkan dari Said bin Musayyib, Urwah, dan Abu Salamah bahwa mereka bertakbir pada malam Idul Fitri dan bertahmid, beliau berkata: ini seperti malam Idul Adha.

Imam Thabari berkata: berkata Ibnu Zaid: Ibnu Abbas berkata: wajib atas muslimin apabila melihat anak bulan Syawwal untuk bertakbir. (Tafsir Thabari 3/479 no: 2903 )

Begitu juga berdasarkan atsar dari Ibnu Umar, bahwa beliau bertakbir pada malam Idul Fitri sampai berangkat ke lapangan. (HR. Al–Baihaqi)

Takbir ini dikumandangkan di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan, pasar-pasar, dan tempat-tempat lainnya.

sumber:
Takbir di Iedul Fitri, Kapan dan Bagaimana Bentuk Bacaaanya? – http://m.voa-islam.com/news/ibadah/2014/07/27/31898/takbir-di-iedul-fitri-kapan-dan-bagaimana-bentuk-bacaaanya/

Imsak dalam Shahih Muslim, Shahih Bukhari dan Fathul Baari

Shahih Muslim, Kitab Puasa, Bab Kami Bersahur bersama Rasulullah saw kemudian kami Sholat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Anas ra dari Zaid bin Tsaabit ra, dia (Anas) berkata, “Kami sahur bersama Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian kami berdiri untuk sholat. Aku (Anas) berkata: “Berapa jarak antara keduanya?” Dia (Zaid) menjawab: “Lima puluh ayat.””

Hadits yang mirip ada pada Shahih Bukhari, Kitab Puasa, Bab Berapa Jarak Antara Sahur dan Sholat Fajr

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Anas ra dari Zaid bin Tsaabit ra, dia (Anas) berkata, “Kami sahur bersama Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian beliau berdiri untuk sholat. Aku (Anas) berkata: “Berapa jarak antara adzan dan sahur?” Dia (Zaid) menjawab: “Kira-kira 50 ayat.””

Lalu dalam kitab Fathul Baari (kitab penjelas shahih Bukhari), Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah menjelaskan:

قَوْلُهُ : ( قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً ) أَيْ : مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

Adapun perkataan beliau “kira-kira 50 ayat” maksudnya adalah yang pertengahan, bukan ayat yang panjang dan bukan ayat yang pendek, bukan qiroat yang cepat juga bukan qiroat yang lambat.

Berikutnya, Imam Ibnu Hajar rahimahullah  mengutip ucapan  Imam Qurthubi Rahimahullah:

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ : فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

Dan berkata Qurtubi: Padanya ada dalil bahwa sahur diakhiri sebelum munculnya Fajar.

Dari dalil di atas, bisa dilihat bahwa meskipun waktu puasa dimulai sejak adzan subuh, akan tetapi sunnah dari Nabi kita adalah mengakhiri sahur sebelum adzan subuh, dan memberi jeda waktu kira-kira pembacaan ayat Al-Qur’an sebanyak 50 ayat. Mungkin hadits inilah yang digunakan untuk menentukan waktu Imsak di masjid-masjid kita, yang waktunya kira-kira 10 sampai 15 menit menjelang subuh.

wallahu a’lam.

link Shahih Muslim:
http://hadith.al-islam.com/Loader.aspx?pageid=237&Words=قَدْرُ+مَا+بَيْنَهُمَا+قَالَ+خَمْسِينَ+آيَةً&Type=phrase&Level=exact&ID=270011&Return=http%3a%2f%2fhadith.al-islam.com%2fPortals%2fal-islam_com%2fLoader.aspx%3fpageid%3d236%26Words%3dقَدْرُ%2bمَا%2bبَيْنَهُمَا%2bقَالَ%2bخَمْسِينَ%2bآيَةً%26Level%3dexact%26Type%3dphrase%26SectionID%3d2%26Page%3d0

link Shahih Bukhari:
http://hadith.al-islam.com/Loader.aspx?pageid=237&Words=قَدْرُ+خَمْسِينَ+آيَةً&Type=phrase&Level=exact&ID=191621&Return=http%3a%2f%2fhadith.al-islam.com%2fPortals%2fal-islam_com%2floader.aspx%3fpageid%3d236%26Words%3dقَدْرُ%2bخَمْسِينَ%2bآيَةً%26Level%3dexact%26Type%3dphrase%26SectionID%3d2%26Page%3d0

link Fathul Baari:
http://hadith.al-islam.com/Loader.aspx?pageid=237&Words=قَدْرُ+خَمْسِينَ+آيَةً&Type=phrase&Level=exact&ID=290965&Return=http%3a%2f%2fhadith.al-islam.com%2fPortals%2fal-islam_com%2floader.aspx%3fpageid%3d236%26Words%3dقَدْرُ%2bخَمْسِينَ%2bآيَةً%26Level%3dexact%26Type%3dphrase%26SectionID%3d2%26Page%3d0

As-Sudais Mengeraskan Basmalah

Watch “Syeikh Abdul Rahman As Sudais Mengimami Sholat Ju…” on YouTube – Syeikh Abdul Rahman As Sudais Mengimami Sholat Ju…: http://youtu.be/c7fxLXsa6DE

👆As-Sudais Mengeraskan Basmalah

Apa yang dilakukan oleh Imam Masjid Al-Haram Mekkah sesungguhnya wujud dari keluasan dan kedalaman ilmu syariah yang beliau miliki. Perlu diketahui bahwa beliau bukan hanya sekedar hafal Al-Quran 30 juz dan enak bacaannya, tetapi yang harus diketahui beliau juga seorang doktor dalam bidang ushul fiqh. Ilmunya sangat luas dan pemahaman beliau atas fiqih perbedaan mazhab pun sudah matang.

Meski beliau tinggal dan tumbuh belajar agama di Saudi Arabia yang notabene akar mazhabnya adalah Hambali, namun tidak mentang-mentang jadi Imam Masjid Al-Haram lantas beliau jadi arogan dan memaksakan pendapatnya sendiri. Apalagi ketika beliau mengadakan kunjungan ke negeri-negeri lain yang kebetulan akar mazhabnya agak berbeda. Maka beliau melakukan yang paling tepat, yaitu menyesuaikan diri dengan apa yang dianut oleh umumnya bangsa tersebut.

Ketika berkunjung ke Indonesia, beliau tahu persis bahwa rata-rata bangsa Indonesia ini terdidik secara akar fiqihnya dalam mazhab Asy-Syafi’i. Maka apa yang dianut oleh bangsa ini dalam masalah menjaharkan (mengeraskan)  bacaan basmalah itu sangat beliau hormati. Kalau biasanya di Masjidilharam beliau tidak menjaharkan basmalah, kali ini untuk menghormati dan mengapresiasi bangsa Indonesia yang bermazhab Asy-Syafi’i, maka sangat terpuji bila beliau menjaharkannya (mengeraskannya).

Sumber:
http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1427827113&=kenapa-imam-as-sudais-membaca-basmalah-dengan-keras.htm