Renungan Pagi

​….RENUNGAN PAGI…
Kalau di masa lalu kita belajar Waktu adalah Uang, 

Mulai saat ini kita  belajar 

Waktu  adalah  Nafas “.

Waktu  adàlah Ibadah”.
Waktu adalah Nafas yang setelah terlewat tidak akan bisa kembali…
WAKTU adalah Ibadah karena  setiap detik harus bernilai Ibadah. Apa pun aktivitasnya….
Manusia sesungguhnya hanya pengendara di atas punggung usianya. 
Digulung Hari demi hari, Bulan dan Tahun tanpa terasa….
Nafas kita terus berjalan seiring jalannya Waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian….
Sesungguhnya Dunia-lah yang makin kita Jauhi …dan

Liang Kubur-lah yang makin kita Dekati…
1 hari berlalu, berarti 1 hari pula berkurang usia kita….
Umur kita yg tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, 
Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.
Karena itu, Jangan biarkan HARI INI  berlalu tanpa KEBAIKAN yang bisa kita LAKUKAN,…
JANGAN tertipu dengan USIA MUDA, karena SYARAT untuk MATI tidaklah harus TUA…..
JANGAN terperdaya dgn badan Sehat, karena SYARAT  MATI tidak pula harus SAKIT….
Teruslah

Berbuat baik…

Berkata baik…
WALAU tak banyak orang yg Mengenali kebaikan kita, tapi KEBAIKAN yg kita lakukan adalah KEBAHAGIAAN dimana perbuatan BAIK kita akan terus dikenang oleh mereka yg kelak kita tinggalkan….
Jadilah seperti AKAR yg TIDAK TERLIHAT, tapi tetap MENYOKONG KEHIDUPAN…
Jadilah seperti JANTUNG yg TIDAK TERLIHAT, tapi terus BERDENYUT setiap saat TANPA HENTI; 

Hingga membuat kita TERUS HIDUP, sampai BATAS WAKTUNYA utk BERHENTI…
Semoga hari ini Lebih Baik dari Hari Kemarin…
Barakallahu Fiikum

Gentarkan Musuhmu

​⚔ *Gentarkan Musuhmu*⚔
🌾Musuh tidak gentar jika engkau hanya duduk bersila mencukupkan diri dengan ilmu saja.
🌾Musuh tidak gentar jika engkau hanya menjadi ahli ibadah yang tidak menghiraukan keadaan saudaramu
🌾Musuh tidak gentar jika engkau hanya mengajak manusia pada pendapatmu dan berlisan tajam pada yang di luar kelompokmu 
🌾Musuh tidak gentar jika engkau hanya mendakwahi manusia ke tauhid menurut tafsiranmu, yaitu “tauhid” yg menjadikan lisanmu tajam terhadap ulama dan ahli kiblat.
🌾Akan tetapi yg menjadikan musuh gentar adalah ketika kalian mulai bersatu, merangkul satu sama lain serta tidak merasa diri paling benar. 
🍃Musuh akan gentar ketika umat Islam kembali mendidik generasinya seperti didikan salafussholeh, yaitu didikan yg akan menghasilkan manusia-manusia seperti Khalid bin Walid, Qa’qa’, Mutsanna, Shalahuddin Al Ayyubi, Sultan Al Fatih, Khairuddin Barbarosa, Zombie dan lainnya 
🍃Musuh akan gentar ketika umat Islam sudah mulai bersatu menggalang kekuatan untuk kembali membangun khilafah yg telah runtuh pada tahun 1924 lalu.
🍃Musuh akan gentar ketika umat Islam mengikuti sifat salafussholeh yg Allah gambarkan dalam surat Al Fath ayat 29, bahwa mereka keras terhadap org kafir dan lembut terhadap orang mukmin,  bukan sebaliknya.
📘Tanyakan pada sejarah ttg kejayaan umat Islam dahulu, apakah ia tercapai hanya mencukupkan diri dgn mengkaji kitab saja ?
📘Tanyakan pada sejarah ttg pahlawan mujahid yg “menjadikan” khilafah Islam menjadi bangsa terkuat pada masanya, apakah cukup dengan menghadiri ta’lim saja kemudian suka menyalahkan yg lainnya ?
🌹Jikalau seandainya kita mau inshaf, sungguh jawabannya adalah bahwa mereka di didik untuk mempunyai ghirah terhadap agamanya. 
🌹Tertanam dalam diri mereka jiwa perjuangan dan pantang mundur,  bukan jiwa “Saluli” yaitu pengikut Abdullah bin Ubay bin Salul yg suka berpaling dari medan juang serta menggembosi perjuangan kaum muslimin. 
🔴Hanya saja jika hati sudah tertutup dgn fanatik buta maka sulit menerima kebenaran dari yg lainnya.  
Hadanallaahu wa iyyaakum. 
✍🏼 _Akhukum fillah Fitra Hudaiya_

( *Musallas, Cairo. 4 Rabi’ul Awwal 1438/ 4 Desember 2016*)

Khilafiyah, Furuiyah, Sunnah dan Bid’ah

“Khilafiyah, Furuiyah, Sunnah dan Bid’ah”

Dr. Amir Faishol Fath, MA
(Alumni Pondok Pesantren Al Amien Parenduan, Sumenep, Madura)

Korbankan persatuan umat demi fanatisme furuiyah adalah kebodohan atas agamanya.

Kaidah ushul fikih: laa inkara fil mukhtalaf fiihi (tidak boleh ada pengingkaran dalam khilafiyah).

Kaidah berikutnya: tidak ada paling benar dalam masalah khilafiyah furuiyah.

Kaidah berikutnya: tidak ada bid’ah dalam khilafiyah furuiyah. Menghakimi bid’ah terhadap khilafiyah furuiyah adalah kesalahan.

Bukan ikut sunnah jika yang hukumnya sunnah diwajibkan. Biarkan yang hukumnya sunnah tetap sunnah jangan diwajibkan.

Bid’ah terjadi hanya dalam wilayah ushul bukan wilayah khilafiyah. Seperti shalat subuh empat rakaat. Ini bid’ah. Baca qunut bukan bid’ah.

Cinta Nabi ushul. Maulidan adalah khilafiyah furuiyah. Maka yang salah yang tidak cinta Nabi dan yang menyerang khilafiyah.

Membaca lailaha illallah: ushul. Tahlilan: khilafiyah furuiyah. Yang salah yang tidak ucapkan lailaaha illalah dan yang serang khilafiyah.

Tidak ikut sunnah yang serang khilafiyah. Sebab Nabi biarkan sahabatnya berbeda pendapat dalam hal furuiyah.

Tidak ikut sunnah yang hanya ikut amalan nabi sekitar ritual saja. Sebab sunnah Nabi juga mengurus pasar, ekonomi dan negara.

Bukan seorang fakih, yang keluarkan hukum sesuatu adalah haram dan bid’ah dengan alasan Nabi tidak pernah kerjakan.

Khilafiyah terjadi karena tidak ada dalil khusus. Ini tugas fikh. Yang bukan fakih jangan ikut-ikutan. Biar tidak rancu.

Kekacauan terjadi karena adanya orang-orang yang bukan fakih ikut-ikutan ngurus fikih lalu merasa dirinya berhak tandingi Imam Syafii dan imam-imam lainnya.

Khilafiyah itu sudah dibahas oleh ulama. Masing-masing punya dalil. Kita tinggal ikut saja. Bukan menghakimi yang lain.

Memilih pemimpin: ushul. Gunakan demokrasi: furu’. Maka salah yang tidak mau pilih pemimpin karena alasan furu’.

Salah yang mengatakan: dari pada pilih pemimpin muslim yang korup mending pilih pemimpin kafir yang tidak korup.

Seharusnya mengatakan: ayo pilih pemimpin muslim yang bersih dari pada pemimpin kafir yang tidak bersih. Sungguh masih banyak muslim yang bersih.

Dzalim terhadap Nabi dan Islam yang sempitkan sunnah hanya sekitar ritual. Sementara mengurus negara tidak dianggap sunnah.

Sebaiknya jangan mengaku muslim jika serang Islam dan umat Islam. Apalagi bela kebatilan dan kesesatan.

Yang membuat umat Islam Indonesia tidak berdaya adalah munculnya orang-orang mengaku muslim tapi serang umat Islam dan bela kebatilan.***

Kiai Ahong dari Makam Wali Ningxia

http://www.jawapos.com/read/2016/09/12/50366/kiai-ahong-dari-makam-wali-ningxia/1
👆
Good article, tulisan Pak Dahlan Iskan tentang Kiai Ahong di China.

image

Lokasi Ningxia

Lokasi Kiai Ahong ini di Ningxia.
Katanya, masyarakat Islamnya mengikuti madzhab Hanafi, dan mengikuti aliran Sufi tertentu.

Ternyata pengaruh madzhab Hanafi dan Sufi menyebar sampai ke China juga.
Bagian Baratnya mungkin sampai ke Turki.

Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinople, sepertinya juga mengikuti madzhab Hanafi, dan mengikuti aliran Sufi tertentu, dan mengikuti aqidah Maturidi. Dan ini mungkin aliran yang dominan di Asia Tengah, dari dulu sampai sekarang.

Note:
Tulisan Pak Dahlan Iskan tentang Kiai Ahong, silakan lihat langsung pada link di atas.

SALAFI

SALAFI
@salimafillah

Karena kata “salaf”, “salafi”, dan “salafiyah” adalah sebuah kehormatan bagi setiap yang berada di atas jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya, ada syair yang sering dikutip tentang pendakuan dan kenyataan.

“Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila..
Sedang Laila tak merasa kenal satupun dari mereka..”

Siapakah salafi?

Saya dididik di Pondok Pesantren salaf, dalam makna asrama pendidikan yang tak memiliki lembaga resmi berjenjang-jenjang, yang alumninya takkan mendapat ijazah atau lembar kertas apapun yang menunjukkan dia pernah belajar apa, kapan, dan di mana. Kami mengaji sorogan dan bandungan, bermadrasah dan berkhithabah, membaca Maulidusy Syarifil Anam serta mengamalkan Ta’limul Muta’allim; semua mengalir sebagaimana kami memasak dan makan, lalu tidur di lantai berbantal persediaan beras yang membuat tak nyenyak ketika menipis di akhir bulan.

Ini pondok yang kami para santrinya bangga menempelkan stiker di kamar bertuliskan semboyan salaf ala kami itu. Bunyinya, “Lastu kahaiatikum.. Aku tidak seperti pertingkah kalian.”

Maka alangkah kagetnya saya ketika di tahap umur berikutnya berjumpa sesama muslim yang menisbat diri sebagai “salafi”, dan di matanya segala yang kami lakukan dulu keliru adanya. Ah, barangkali saya perlu duduk bersama mereka lebih lama, mengkaji bagaimana mereka mengaji, dan menemukan sesuatu yang berguna.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya adalah kami bersaudara. Dan siapa bilang saudara harus sama tanpa beda?

Saya pula berjumpa, dengan harakah yang bergerak dalam manhaj yang digariskan seorang besar bernama Hasan Al Banna, menjunjung syiar mereka sebagai Da’wah Salafiyah dan Thariqah Sunniyah.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya memang kami keluarga. Dan siapa bilang sekeluarga harus seragam tanpa ciri khas?

Saya menemukan kesalafian di dalam laku-laku hidup para mahaguru di berbagai penjuru. Kyai Zainal Abidin Munawwir Krapyak adalah sesalafi-salafinya salafi karena pada taraf paling hati-hatinya tak mau melewati gereja, tak suka memandang tiang listrik yang mirip salib, meminta agar pohon cemara yang identik sebagai simbol natal ditebang, tak sepeserpun mau menerima sumbangan pejabat, dan ketegasannya soal syubhat digambarkan Kakanda Iparnya, KH Ali Maksum sebagai “Cagaknya Langit.”

Daftar yang seperti beliau di Nahdlatul Ulama, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat sesalafi salafinya salafi itu adalah KH AR Fakhruddin; yang lebih dari 2 dasawarsa memimpin Muhammadiyyah tapi tak pernah punya rumah, yang menafkahi keluarganya dari berjualan bensin, yang sepeda motor bututnya legendaris, yabg berulangkali menolak menjadi Menteri, yang menerima uang bermilyar-milyar tapi semua untuk persyarikatan dan digelari “Talang Ora Teles”, alias saluran air yang tak pernah basah.

Daftar yang seperti beliau di Muhammadiyyah, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat KH Rahmat Abdullah sebagai sesalafi-salafinya salafi dalam budaya belajarnya, ketekunan pengkajiannya, keteguhannya membina anak muda, penjagaan ashalah dakwahnya, kekuatan ruhiyah, dan kezuhudannya pada dunia.

Etos salafi sejati selalu mempesona jiwa, dan hari ini kami melepas seorang dengan nyala jihad yang sama.

Selamat jalan guru, mujahid, rekan relawan, dan saudara kami, Al Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda. Orang menyebutmu “Salafi”, ada yang karena cinta, ada pula yang belum memahami, atau bahkan benci. Tapi siapapun yang mengenalmu akan mengerti, etos salafi yang dihidupkan dalam akhlaq imani, akan mempesona bagi semua hati.

RIBUT

RIBUT
@salimafillah

Adalah Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits tentang shalat sunnah qabliyah Maghrib dan menyatakan keshahihannya. Tetapi sungguh aneh, belum pernah para muridnya menyaksikan beliau mengamalkan ibadah tersebut.

“Mengapa?”, tanya mereka.

“Sebab penduduk Baghdad telanjur mengambil pendapat Imam Abu Hanifah”, ujar beliau, “Yang menyatakan tiadanya shalat qabliyah Maghrib. Kalau aku mengamalkan hal yang berbeda, niscaya akan menimbulkan keributan di antara mereka.”

Meninggalkan suatu sunnah yang diyakini keutamaannya demi terjaganya harmoni masyarakat ternyata adalah ‘amal utama.

“Karena itu para Aimmah seperti Imam Ahmad atau yang lainnya”, demikian ditulis Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, “Menganggap sunnah apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum.”
“Demikian juga orang-orang yang menganggap melirihkan suara ketika membaca basmalah (dalam shalat berjamaah) adalah lebih utama atau sebaliknya”, sambungnya, “Sedangkan makmum berbeda dengan pendapat atau madzhabnya, maka dia boleh mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kemashlahatan persatuan. Hal ini lebih kuat dibandingkan permasalahan mana yang afdhal dari kedua perkara tersebut, dan ini adalah baik.”

Jalan sunnah adalah jalan tak suka ribut tentang khilafiyah furu’iyyah. Jalan sunnah adalah jalan yang meminta kita tak perlu tampil mencolok dan terlihat berbeda.

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal menekankan hal ini sampai soal berpakaian. Beliau menegur seorang yang ditemuinya di Baghdad dalam keadaan memakai pakaian penduduk Makkah.

“Tidak cukupkah bagimu pakaian yang biasa dikenakan orang ‘Iraq?”

“Bukankah ini pakaian yang baik, pakaian dari tempat bermulanya Islam?”

“Ya”, jawab beliau, “Akan tetapi aku khawatir pakaian itu menghinggapkan rasa sombong dan aku khawatir ia adalah pakaian kebanggaan (libasusy syuhrah) yang dilarang oleh Rasulullah, karena dikenakan agar pemakainya tampak menonjol di tengah khalayak.”

USTADZ SUNNAH

USTADZ SUNNAH
@salimafillah

Ada istilah yang baru-baru ini membuat dahi berkerenyit, ketika sebagian penuntut ilmu membuat kategorisasi adanya “Ustadz Sunnah” dan “Kajian Sunnah”. Saya berfikir, jadi yang selain itu, ustadz apa dan kajian apa?

Dua kemungkinan. Kalau “sunnah” di situ kebalikan dari “bid’ah”, maka berarti ada ustadz bid’ah dan kajian bid’ah. Atau kalau “sunnah” di situ kebalikan dari “makruhah”, berarti ada ustadz makruh dan kajian makruh.

Betapa tak nyaman bagi yang terkena gelaran.

Tidak, saya tak hendak menyalahkan pembuat istilah. Mereka yang bersemangat menuntut ilmu adalah orang-orang yang dimudahkan jalannya ke surga. Betapa saya berharap menjadi bagian dari mereka, walau mungkin hanya senilai anjing bagi Ashhabul Kahfi atau bahkan debu yang menempel di kaki.

Tapi bersama itu, mohon izin saya ceritakan ulang kisah berikut ini.

“Suatu kali”, demikian dihikayatkan Imam Tajuddin As Subki dalam Thabaqatusy Syafi’iyyah Al Kubra, “Seorang perempuan mendatangi majlis ilmu yang dihadiri oleh para Imam ahli hadits. Di antara mereka terdapatlah Imam Yahya ibn Ma’in, Imam Abu Khaitsamah, Khalaf ibn Salim, dan banyak lagi yang lain. Mereka saling menyebutkan hadits, mentartibkan sanad-sanadnya, dan membilang keragaman matannya.”

Ketika mereka sedang saling berbagi hadits, tetiba perempuan itu menyela. “Wahai para berilmu”, ujarnya, “Aku adalah seorang wanita yang bekerja sebagai tukang memandikan jenazah. Bagaimanakah hukumnya untukku jika harus memandikan jenazah ketika aku sedang dalam keadaan haidh?”

Semua ‘ulama besar yang hadir waktu itu tidak ada yang mampu menjawab. Mereka jadi saling berpandangan satu sama lain. Dalam benak mereka, tak satupun hadits yang dapat digunakan langsung untuk menjawab persoalan itu.

Ketika majelis itu terjeda hening karena tetap tak ada jawaban yang dinantikan, tetiba masuklah Imam Abu Tsaur, murid Imam Asy Syafi’i.  Di antara ‘ulama yang ada di sana pun lalu menunjuk ke arah beliau sembari berkata kepada tukang memandikan jenazah tersebut, “Tanyakanlah kepada orang yang baru datang itu, sebab dia adalah murid dari pemilik akal separuh penduduk dunia.”

Perempuan itupun menoleh dan mendekat kepada sang Imam. Ditanyakannyalah hal serupa yang sungguh merisaukan dirinya, “Bolehkah wanita haidh memandikan jenazah?”

Imam Abu Tsaur tersenyum. “Tentu saja boleh, tidak ada masalah”, ujarnya. “Kamu boleh memandikan jenazah itu dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Al Ahnaf, dari Al Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Adapun haidhnya dirimu bukanlah berada di tanganmu.” Dan juga berdasarkan perkataan Ibunda kita ‘Aisyah, “Aku pernah menyirami, membasuh, dan membersihkan kepala Rasulullah dengan air lalu menyela-nyelai rambut beliau, menyisir, serta meminyakinya. Padahal waktu itu aku dalam keadaan haidh.”

“Apabila kepala orang hidup saja, dan bahkan adalah Nabi”, simpul Imam Abu Tsaur, “Boleh disiram, dibasuh, dan dibersihkan oleh wanita yang sedang haidh, apalagi orang yang sudah mati. Tentu kebolehannya lebih jelas lagi.”

Mendengar jawaban yang sangat jeli itu, serta-merta para ahli hadits yang hadir waktu tersebut berebutan membacakan hadits yang telah disebutkan oleh Abu Tsaur dari segala thuruq atau jalur periwayatan yang ada pada mereka. Salah satunya berkata, “Telah menceritakan si Fulan kepadaku..” Yang lain menimpali, “Kami mengenalnya melalui riwayat si Fulan..” Sampai akhirnya mereka membahas derajat berbagai macam riwayat hadits tersebut.

Melihat hal ini, si tukang memandikan jenazah berkata heran, “Aduhai.. Ke mana saja kalian sebelum ini?”

Kisah ini sama sekali bukan dalam rangka merendahkan kedudukan para Imam Ahlil Hadits yang mulia. Tidak. Ini hanya, gambaran penting atas apa yang disampaikan Al Imam Asy Syafi’i. Beliau menyatakan bahwa Ahli Fiqih bagaikan dokter yang bukan hanya tahu tentang khazanah obat, melainkan juga kondisi pasiennya. Sementara itu para Ahli Hadits adalah apotekernya.

Sudah seharusnya mereka bekerjasama, bukan saling menjauh dan saling mengatakan bahwa yang satu tak paham obat, yang lain tak mengerti pasien. Atau mengatakan bahwa Ahli Fiqih banyak membuat bid’ah, padahal sebenarnya pendapat mereka berdasar sumber yang shahih tapi disesuaikan dosisnya dengan kondisi masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Atau mengatakan bahwa Ahli Hadits menyusahkan orang, padahal mereka memang hanya memberikan obat dengan dosis yang belum ditulis.

Kalau yang dimaksud Ustadz Sunnah dan Kajian Sunnah adalah para Ahli Hadits, pergi ke Apoteker memang menjadikan kita memperoleh obat. Jawabannya terang dan pasti; sakit A maka obatnya X.

Tapi cobalah sesekali datang ke majelis Ahli Fiqih yang mungkin tidak tampak sebagai Ustadz Sunnah dan Kajian Sunnah; barangkali di sana kita akan berjumpa dokter yang akan memeriksa kesesuaian kondisi badan kita dengan obat yang ada.

Kadang memang majelis seperti ini tidak langsung tegas memberi jawab obatnya apa. Telaahnya sering agak memutar, rumusannya sering tak pasti, tapi ia memberi kita wawasan untuk berpikir serta memutuskan pilihan sendiri. Demikianlah terapi yang mendewasakan kita dalam beragama kita..