Kupas Tuntas Bid’ah: (5) Bid’ah yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra

Ketika Rasulullah masih hidup, ummat islam hanya sholat tarawih berjamaah tiga malam di masjid. Setelah itu Rasulullah menghentikan aktivitas itu karena takut nanti ummat islam menyangka bahwa sholat tarawih adalah sholat wajib.
Akhirnya orang kembali sholat tarawih sendiri-sendiri.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ra, orang-orang pun masih melaksanakan sholat tarawih sendiri-sendiri.

Pada masa Khalifah Umar ra, beliau melihat bahwa sholat tarawih sebaiknya dilakukan secara berjamaah seperti pada masa Rasulullah saw, karena ummat islam sudah tahu bahwa itu adalah sholat sunnah. Akhirnya beliau memutuskan untuk menyatukan orang-orang dalam satu jamaah sholat tarawih. Yang ini ada contohnya dari Rasulullah, yaitu sholat tarawih berjamaah.

Tapi selain dari itu, khalifah Umar ra juga ber-ijtihad dalam tiga masalah di bawah ini:
1. Sholat tarawih dilakukan di awal malam, setelah sholat Isya, tidak di akhir malam seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
2. Jumlah rokaatnya ditentukan.
3. Janjian ketemu untuk sama-sama melakukan ibadah ini secara berjamaah pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Padahal dulu Rasulullah saw bahkan tidak janjian untuk melakukan sholat tarawih ini.

Tiga hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw, dan inilah hal-hal bid’ah yang dilakukan oleh khalifah Umar ra, yang dikomentari oleh beliau sendiri dengan kalimat “ini adalah sebaik-baik bid’ah”.

Berarti bid’ah itu ada yang buruk dan ada yang baik.

Kupas Tuntas Bid’ah: (4) Khalifah Umar sedang bicara tentang masalah ibadah

Ketika Khalifah Umar ra menentukan sholat tarawih berjamaah di masjid, 23 rokaat, dan dilakukan setelah sholat Isya, beliau mengomentari bahwa hal itu adalah satu kebid’ahan yang baik.

Lalu ada kelompok yang berpendapat bahwa maksud bid’ah yang disebutkan oleh Khalifah Umar ra di situ adalah bid’ah dari segi bahasa saja.

Tentu saja, ini adalah hal yang sangat aneh sekali. Karena ketika berbicara tentang hal itu, beliau sedang berbicara tentang ibadah sholat tarawih. Jadi beliau sedang bicara tentang masalah ibadah, dan bukan sedang bicara tentang tata cara bahasa Arab.

Kupas Tuntas Bid’ah: (3) Penafsiran Khalifah Umar ra

Tentang bid’ah,
Rasulullah mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat.
Lalu khalifah Umar ra mengatakan bahwa ada bid’ah yang sesat dan ada bid’ah yang baik.

Sampai di sini, kita mau ikut yang mana?
Kita mau menafsirkan perkataan Rasulullah hanya berdasarkan akal kita sendiri?
Atau kita mau menggunakan penafsiran sahabat nabi dalam masalah ini?

Tentu saja, yang benar adalah, kita harus menggunakan penafsiran sahabat nabi dalam masalah ini.
Jadi, yang benar adalah, ada bid’ah yang sesat (bid’ah dholaalah) dan ada bid’ah yang benar (bid’ah hasanah).

Ini kalau kita mau mengikuti pemahaman sahabat nabi.

Adapun kalau kita memaksakan diri untuk mengambil penafsiran versi ulama tertentu yang mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat, ya silakan saja.
Tapi tentu saja, penafsiran versi ulama ini tidak sesuai dengan pemahaman sahabat nabi.

Nah, kita mau ikut yang mana?

Kupas Tuntas Bid’ah: (2) Kerancuan definisi menyebabkan ketidak-konsistenan

Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa bid’ah adalah semua hal yang baru, atau semua hal yang baru dalam masalah agama, atau semua hal yang baru dalam masalah ibadah saja.

Tiga pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar.

Karena pada prakteknya sendiri mereka juga kesulitan.
Misal, membid’ahkan metode hisab dalam penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal, tapi pada saat yang bersamaan malah membolehkan penggunaan jam digital satelit untuk menentukan waktu sholat.
Padahal haditsnya sama-sama harus lihat matahari, dan kedua hal ini sama-sama dalam masalah ibadah.
Kenapa yang satu dibid’ahkan dan yang satu lagi diterima?

Jawabannya bukan karena satu lama dan satu baru.
Dua-duanya adalah metode baru, tapi yang satu tidak menyulitkan kalau ditinggalkan, dan  yang satu lagi sangat membantu kalau digunakan.

Maka yang satu dibid’ahkan, sedangkan yang lainnya malah dipakai. 🙂

Itulah ketidak-konsistenan kelompok yang mendefinisikan bahwa bid’ah adalah semua hal baru dalam masalah agama saja atau dalam masalah ibadah saja.

Definisi bid’ah yang benar adalah hal-hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an maupun sunnah, baik dalam masalah ibadah ataupun masalah lainnya.
Jadi kalau metode hisab dan jam satelit dianggap sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka keduanya boleh dipakai.
Atau kalau keduanya dianggap tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka keduanya tidak boleh dipakai.

Tapi kalau salah satu dibid’ahkan sementara yang lainnya malah dipakai, ini menunjukkan ketidak-konsistenan dalam pengamalan yang disebabkan oleh kerancuan dalam pendefinisian bid’ah itu sendiri.

Definisi bid’ah yang benar, tidak akan menghasilkan ketidak-konsistenan seperti ini.

Kupas Tuntas Bid’ah: (1) Definisi yang benar tentang Bid’ah

Definisi bid’ah yang ada saat ini:
1. Semua yang baru itu bid’ah
2. Semua yang baru dalam masalah agama itu bid’ah
3. Semua yang baru dalam masalah ibadah itu bid’ah
4. Semua yang baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, itulah bid’ah.

Mana yang benar ?

Yang benar adalah yang nomor 4.

Kita lihat haditsnya.

A. inna atsdaqol hadiitsu kitaabullah -> sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah
B. wa khairul hadii, hadii muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam -> dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah saw.
C. wa syarrul umuuri muhdatsaatuha -> dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru

D. wa kulla muhdatsaatin bid’ah -> dan setiap yang baru itu bid’ah
E. wa kulla bid’atin dholaalah -> dan setiap yang bid’ah itu sesat.
F. wa kulla dholaalatin fin naar -> dan setiap yang sesat itu di neraka.

Definisi bid’ah yang salah (definisi no 1, 2 dan 3) adalah yang memisahkan hadits bagian A-B-C dengan bagian D-E-F.
Sedangkan definisi bid’ah yang benar (definisi no 4) adalah yang menggabungkan hadits bagian A-B-C dengan bagian D-E-F.

Maka, yang namanya bid’ah bukanlah sembarang hal baru.
yang namanya bid’ah adalah hal-hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an maupun sunnah.

Adapun hal-hal baru yang masih sesuai dengan sunnah, maka ini bukan bid’ah.
Dan ini sesuai dengan hadits di atas, yaitu dengan tidak memotong-motong hadits, tapi memahami hadits tsb secara utuh.

Dari hadits itu,
muncul dua definisi;
– hal baru yang tidak sesuai dengan al-qur’an dan sunnah -> bid’ah.
– hal baru yang sesuai dengan al-qur’an dan sunnah -> bukan bid’ah.

Sebagian orang menyebut hal yang “bid’ah” ini dengan nama bid’ah dholaalah,
dan menyebut hal yang “bukan bid’ah” ini dengan nama bid’ah hasanah.

Inilah definisi bid’ah yang benar.