NKRI dan Khilafah

NKRI adalah keniscayaan saat ini, karena itu adalah sistem yang kita buat bersama di negeri ini. Dan kita harus membelanya, karena itu adalah janji kita yang kita ucapkan saat kita sama-sama memperjuangkan negeri ini.

Khilafah adalah keniscayaan di masa datang, kita perjuangkan ataupun tidak, khilafah Insya Allah pasti akan datang. Hal ini sesuai dengan petunjuk nabi bahwa ummat Islam akan mengalami lima fase, dan empat di antaranya sudah terbukti, tinggal satu lagi, yaitu khilafah, yang belum terbukti.

Muslim yang benar adalah yang mengikuti ajaran Islam, berdasarkan Al-Qur’an dan juga hadits.

Yang tidak mau menggunakan hadits, sebaiknya tidak mengaku diri sebagai Muslim, karena kelompok anti hadits adalah kelompok yang sudah dinyatakan sesat oleh ulama kita.

Sebaik-baik kita adalah yang mengikuti ulama, bukan malah menjauhinya apalagi memusuhinya.

​Al-Baqarah, Munafik dan sholat Subuh

Al-Baqarah 1-5, 5 ayat, tentang orang yang bertaqwa.
Al-Baqarah 6-7, 2 ayat, tentang orang kafir.
Al-Baqarah 8-20, 13 ayat, tentang orang munafik.

Al-Baqarah adalah surat kedua di dalam Al-Qur’an, setelah Al-Faatihah. Dan karena Al-Faatihah artinya adalah Pembuka, maka bisa dikatakan bahwa Al-Baqarah adalah awal isi Al-Qur’an.

Dan dari surat Al-Baqarah ayat awal ini, bisa kita lihat bahwa Al-Qur’an sangat menekankan bahayanya kelompok munafik, sehingga untuk menjelaskan bahaya ini Al-Qur’an sampai harus menggunakan 13 ayat khusus untuk menjelaskan orang munafik ini. Bandingkan dengan ayat tentang orang kafir yang hanya disebutkan dalam dua ayat.

Maka, bisa disimpulkan bahwa sifat orang munafik jauh lebih merusak daripada sifat orang kafir. Siapakah orang munafik itu? Ayat 13 dan 14 dalam surat ini menyebutkan bahwa ciri orang munafik adalah:

1. mereka menilai orang-orang yang beriman sebagai orang-orang bodoh (atau dibodohi oleh agama? atau dibohongi pake ayat?)

2. mereka akan mengaku beriman kalau bertemu dengan orang Islam, dan mereka akan menyatakan kebencian mereka pada orang Islam kalau mereka bertemu dengan kaum kafir.

Ciri-ciri ini masih kurang?

Kalau begitu, mari kita lihat hadits di bawah?

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Mereka adalah orang-orang yang tidak mau diajak sholat subuh berjamaah di Masjid.

Semoga kita semua terhindar dari sifat munafik ini, aamiin.

HP bergambar Yesus

Sebelum Ramadhan, saat makan siang di kantin, saya menemukan satu HP bagus tergeletak di meja. Merk Xiaomi, ukuran 5 inch, terlihat masih baru. Saat saya sentuh layarnya, ternyata terkunci, tapi sempat terlihat gambar Wallpapernya yaitu gambar Yesus.

Karena tidak tahu harus melapor ke siapa, akhirnya HP itu saya bawa dengan niat akan saya kembalikan pada orang yang menelpon HP itu. Satu jam kemudian, benar juga, ada yang menelpon, suara wanita, dengan nada yang terburu-buru, mungkin karena stress begitu menyadari HP-nya hilang. Saya bilang, “Jangan stress Bu, silakan datang ke tempat saya untuk mengambil HP ibu”, lalu saya informasikan lokasi saya.

Lima belas menit kemudian, datanglah dua ibu-ibu ke tempat saya, mereka mencari saya untuk meminta kembali HP mereka yang hilang. Saat bertemu, saya tanya dulu apa ciri-ciri HP tsb?

Si Ibu yang kehilangan HP langsung menjawab dengan lancar: “Merk Xiaomi, ukuran 5inch, ada covernya warna pink.”

Lalu saya tanya lagi, “Apa ada ciri lainnya lagi?”

Akhirnya dia menjawab lagi dengan semangat, “Wallpapernya gambar Tuhan Yesus!”, sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

Mendengar ucapan ini saya akhirnya ikut tertawa, lalu saya ambil HP itu dari kantong saya dan saya serahkan pada pemiliknya tsb.

Si ibu menerimanya dengan sangat suka cita, dan memaksa saya untuk menerima bingkisan yang dia bawa. Karena saya tolak berkali-kali tetap dipaksa juga, akhirnya saya terima bingkisan itu, isinya roti yang cukup besar, lalu saya serahkan ke teman-teman kantor agar disantap ramai-ramai.

Pesan moral:

Saya Muslim, pendukung Aksi Bela Islam, dan saya meyakini bahwa setiap muslim wajib berlaku baik pada siapapun juga, apapun agama mereka, selama mereka tidak mencaci atau menghina agama kita, kitab suci kita, nabi kita atau lainnya, karena Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.​ Mari kita sama-sama menghormati keyakinan orang lain, agar negeri kita bisa kembali aman dan nyaman seperti dahulu.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

-Surat Al-Mumtahanah, Ayat 8.
Isa Ismet K, kisah nyata, ditulis tanggal 17 Juli 2017

​Selfisasi agama

Sekarang muncul gerakan selfisasi agama dengan tema “urus saja diri kita sendiri”. Maksudnya, jangan urusi surga neraka orang lain, jangan urusi baik buruknya orang lain, jangan urusi sholat tidaknya orang lain, atau lainnya.

Ini adalah gerakan yang menipu. Karena justru prinsip Islam adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, saling menasehati dalam kebenaran serta  saling menasehati dalam kesabaran ketika kita menegakkan kebenaran itu.

Artinya, tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa Islam itu artinya kita harus fokus pada diri kita sendiri dan tidak boleh memperbaiki lingkungan kita. Mari kita renungkan lagi surat di bawah ini.
وَالْعَصْرِِ

Demi masa.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

-Surat Al-Asr, Ayat 1-3

Tidak ada manusia yang sempurna, dan karena itulah maka perintah untuk kita adalah saling menasehati dengan baik, bukan saling cuek atas kekurangan masing-masing. Islam adalah agama yang saling mengingatkan.

​Liberalisme, antara Standar Dunia dan Standar Akhirat

Kaum Liberal tidak bisa membedakan mana standar dunia dan mana standar akhirat. Akibatnya, kadangkala standar akhirat dipakai untuk masalah dunia, dan mungkin juga sebaliknya.

Misal, di akhirat nanti, bisa jadi seorang muslim akan masuk neraka. Lalu standar itu digunakan di dunia dengan tujuan agar orang Islam tidak boleh mengklaim agamanya saja yang benar.

Ini namanya menggunakan standar akhirat untuk masalah dunia. Dan ini tidak benar.

Yang benar adalah, Allah sudah menggariskan bahwa hanya Islam-lah agama yang benar. Maka selama kita hidup di dunia, kita harus berani mengatakan “hanya Islam-lah agama yang benar”. Adapun di akhirat nanti, kita serahkan pada Allah, apalagi untuk kasus individual, karena hanya Allah saja-lah yang Maha Tahu atas isi hati setiap hamba-Nya.

Sama seperti kasus koruptor yang tertangkap. Apa kita tidak tahu jangan-jangan dia sebenarnya berniat baik?

Jawabannya, niat baik atau buruk itu urusan Allah di akhirat nanti. Tugas kita di dunia adalah memastikan bahwa semua koruptor bisa dihukum sesuai dengan kesalahannya. Maka, yang terlihat maling kita namakan dengan maling, yang terbukti korupsi kita namakan dengan koruptor, dan yang menolak Islam kita namakan dengan kafir. Ini harus kita tegakkan di dunia ini, agar jelas mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan kita. Masalah di akhirat nanti, kita serahkan pada Allah. 

Inilah perbedaan antara standar dunia dan standar akhirat, dan perbedaan ini tidak difahami oleh kaum liberal. Itu sebabnya mereka mengatakan bahwa semua agama itu sama saja.

​Menyikapi kasus Habib Rizieq

Sekarang beredar artikel di Whatsapp, judulnya “Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam”, penulisnya (katanya) adalah Nadirsyah Hosen. Isi artikelnya membandingkan Habib Rizieq dengan Khalifah Ali ra. Katanya, Khalifah Ali ra itu taat hukum. Meskipun statusnya khalifah tapi tetap mau maju ke meja pengadilan dalam kasus baju besinya yang dicuri orang. Kisahnya, khalifah Ali ra menemukan baju besi itu ada di tangan seorang Yahudi, lalu beliau maju ke pengadilan untuk menggugat baju besi itu. Akhir kata, ternyata khalifah Ali ra kalah, karena hakim ternyata memutuskan bahwa orang Yahudi itu benar, karena bukti-bukti yang diajukan oleh Khalifah Ali ra ternyata tidak cukup kuat.

Lalu kisah ini diterapkan pada kasus Habib Rizieq, katanya kenapa Habib Rizieq tidak mau maju ke pengadilan sepertihalnya Khalifah Ali ra? Kenapa pula Habib Rizieq malah menantang Mubahalah, tidak seperti kakek moyangnya yaitu Khalifah Ali ra yang menempuh jalur hukum secara normal?
Jawabannya, ada banyak kisah pada zaman nabi yang bisa kita terapkan pada kasus Habib Rizieq kali ini. Salah satunya adalah kisah tentang fitnah pada Aisyah ra yang dituduh ~via medsos~ telah berzinah. Ujung-ujungnya, yang menuduhlah yang dihukum.
Kalau kisah Aisyah ra ini yang diterapkan pada kasus Habib Rizieq, seakan-akan para penuduh Habib Rizieq itulah yang salah. Padahal, belum tentu juga seperti itu. Ini karena pintar-pintarnya orang menganalogikan kisah saja agar bisa menggiring opini. Harusnya kita sadar akan hal ini.
Demikian juga dengan kisah Khalifah Ali ra di atas. Kisah itu mungkin dipilih(?) karena kebetulan khalifah Ali ra tidak hijrah ke luar negeri pada kasus itu. Tapi pada kasus lain, manakala fitnah sudah merajalela dan kebenaran sulit untuk dipertahankan, ada juga anjuran untuk berhijrah ke luar negeri agar bisa mendapatkan keadilan di sana. Kenapa bukan kisah ini yang dipakai untuk Habib Rizieq? Apakah dalam hati kita sudah ada su’udzon?
Sebaiknya memang Habib Rizieq pulang ke Indonesia untuk bisa menjelaskan masalah ini. Tapi kalau melihat sniper-sniper _pemburu burung_ yang tidak tertangkap juga, seharusnya kita juga bisa memahami mengapa Habib Rizieq sampai memilih untuk hijrah bersama keluarganya ke luar negeri.
Yang meminta Habib Rizieq untuk balik ke Indonesia sekarang juga, apa mereka menutup mata pada sniper-sniper _pemburu burung_ ini? Ini namanya tidak adil, dan inilah sumber permasalahan di negara kita, karena hukum saat ini berat sebelah.
Yang adil, seharusnya, yang jelas-jelas salah seperti para sniper burung, orang yang melempar air keras, penyebar berita tentang Habib Rizieq, dll, mereka semua ditangkap dulu, setelah itu kita minta Habib Rizieq pulang untuk menjelaskan atau mempertanggungjawabkan masalahnya. Seharusnya bisa seperti itu. Itu kalau kita mau adil.
Akhir kata, kalau khalifah Ali ra masih ada, percayalah, para sniper pemburu burung dan kawan-kawannya itu pasti akan dikejar dan tidak akan  dibiarkan begitu saja. Jadi, kisah keadilan beliau tidak hanya bisa diterapkan pada Habib Rizieq saja. Tidak bisakah kita bersikap adil?

Isa Ismet Khumaedi

@Depok, 13 Juni 2017