Sehat dan Rezeki: ada parameternya

Kesehatan harus diusahakan, ada parameternya.
Rezeki juga harus diusahakan, dan ada juga parameternya.

Tidak tepat kalau disebutkan bahwa rezeki sudah ada alamatnya, karena itu akan membuat kita cenderung untuk diam.
Sepertihalnya kesehatan, kita tidak boleh diam dan terus berharap sehat. Kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf adalah orang kaya. Apa beliau kaya karena “hadiah”? Tidak. Beliau kaya karena beliau memiliki parameter untuk bisa menjadi kaya. Jadi di mana pun beliau hidup, insya Allah akan tetap jadi kaya, karena itulah syarat-syarat taqdir yang telah Allah tetapkan.

Sekali lagi, kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, apa pernah dapat “hadiah”? Pernah. misalnya ketika membeli kurma yang ternyata sudah busuk, dan tiba-tiba setelah itu ada orang yang datang mencari-cari kurma busuk, dan hanya mencari yang busuk saja, untuk satu keperluan tertentu, dan dia mau membayar mahal untuk kurma busuk tersebut. Ini namanya rezeki “hadiah”. Tapi kalau kisah ini saja yang sering kita ulang, maka itu sama saja dengan mengatakan pada orang lain “Tidak perlu olahraga, nanti juga sehat sendiri, toh kesehatan dan umur itu sudah ada yang ngatur”.

Dalam taqdir, ada konsep “parameter” dan ada konsep “hadiah”.
“Hadiah” itu ada, dan kita tidak boleh menolaknya, tapi kita juga tidak boleh mengandalkannya.
Yang harus kita gunakan sebagai landasan pola pikir kita adalah konsep “parameter”, baik untuk masalah kesehatan, rezeki ataupun masalah lainnya.

Mari kita penuhi parameter untuk menjadi kaya dan parameter untuk.menjadi sehat, dan jangan menolak kalau dapat “hadiah”, ini adalah pemahaman taqdir yang benar.

Hati seterang Matahari

Tadi malam, imam sholat Isya membaca surat Asy-Syams (Matahari).
Isinya, tentu saja tentang Matahari.

Ada saat di mana Matahari terlihat redup, yaitu di waktu Dhuha.
Ada saat di mana Matahari terlihat lebih terang, yaitu ketika bulan juga terlihat.
Ada saat di mana Matahari terlihat sangat terang, di siang hari.
Dan ada saat di mana Matahari sama sekali tidak terlihat, yaitu di waktu malam.

Selanjutnya, Imam membaca ayat “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan hati-nya, dan merugilah orang yang mengotori hatinya”.

Ketika imam membaca ayat itu, secara refleks langsung bertanya pada diri sendiri,
“Seperti apa hati kita?”
Apakah gelap seperti langit malam tanpa Matahari?
Ataukah sedikit kotor karena ada yang menutupi, sepertihalnya Matahari di waktu pagi?
Ataukah sangat bersih seperti terangnya Matahari di siang hari?

Tanpa terasa, jadi ingat dengan dosa-dosa selama ini.

Harusnya hati kita, seterang Matahari.

Ingat, Asy-Syams artinya adalah Matahari.


Depok, 13 Januari 2020