Rahasia Panjang Umur

https://www.alodokter.com/rahasia-meraih-panjang-umur-ini-sungguh-mengejutkan
👆🏼
Umur kita sudah ditaqdirkan?
Benar, tapi banyak dari kita yang salah memahami.

Coba lihat artikel pada link di atas, itu adalah artikel tentang bagaimana caranya agar bisa panjang umur?
Lho? Katanya umur sudah ditaqdirkan?
Kalau kita bingung dan bertanya seperti ini, berarti kita termasuk orang yang salah dalam memahami Taqdir.

Taqdir itu bukan “si X nanti akan mati pada umur sekian”.

Taqdir itu artinya adalah “ukuran”, dan ilustrasinya adalah seperti di bawah ini:
– Kalau si X memilih paket sehat A, dia akan mati pada umur 40 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat B, dia akan mati pada umur 50 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat C, dia akan mati pada umur 60 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat D, dia akan mati pada umur 70 tahun.

Dst.

Dan di luar itu, ada juga paket Express, misalnya:
– kalau si X lompat dari atap gedung lantai 50, dia akan mati saat tubuhnya menyentuh tanah. 😊

Jadi, umur sudah ditentukan?
Ya, tapi maksudnya adalah paket-paketnya yang sudah ditentukan, dan kita hanya tinggal memilih dengan menggunakan logika yang benar.

Apakah Dia Sang Maha Pencipta saat ini sudah tahu kita akan milih paket mana dan kita akan mati pada umur berapa?
Ya, Dia sudah tahu, karena Dia memang Maha Tahu, dan itulah yang tertulis dalam suratan Taqdir kita.
Tapi inisiatif pilihan paket, adalah dari kita sendiri, dan kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita itu.

Taqdir tidak memaksa kita untuk menjadi sesuatu. Kita-lah yang akan melakukan pilihan-pilihan dalam hidup kita berdasarkan inisiatif kita sendiri tanpa ada paksaan, dan itu sudah tertulis dalam suratan Taqdir kita. Sesungguhnya Allah Maha Tahu, dan hal seperti ini mudah bagi-Nya. Kita akan menjalani hidup kita sesuai garis yang sudah diketahui dan ditulis oleh-Nya, tapi itu adalah pilihan kita sendiri.

Jadi, mau umur panjang?
Sesuai artikel di atas, silakan lakukan hal berikut:
1. Bijak memilih makanan
2. Aktif bergerak
3. Tidur cukup dan berkualitas
4. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
5. Menghindari stres berlebihan

Semoga bermanfaat.

Khawarij vs Munafik

Khawarij adalah kelompok yang “keluar” dari ummat Islam, mereka menyendiri, membuat kelompok sendiri, dan aktif menyerang orang lain, bahkan pada sesama muslim. Kalau di zaman sekarang ini, mungkin kelompok yang menebar bom di Indonesia adalah kelompok yang pantas mendapat gelar Khawarij.

Sedangkan Munafik adalah kelompok yang bersembunyi di dalam barisan ummat Islam. Mereka mengakunya Islam, padahal bukan. Mereka mengakunya beriman, padahal tidak. Sebagian dari mereka menyembunyikan kemunafikan mereka di dalam hati, sebagian lagi menampakkannya dalam bentuk ucapan-ucapan yang mencela agama Islam, dan sebagian lain bahkan terang-terangan menyerang kelompok Islam, dan yang di saat yang bersamaan mereka sendiri tetap ingin disebut sebagai Muslim.

Apakah Khawarij salah?
Ya.

Apakah Munafik salah?
Jawabannya juga, ya.

Lalu manakah yang lebih baik dari dua kelompok ini?
Dua-duanya tidak baik, tapi Munafik jauh lebih buruk dari Khawarij.

Mengapa?
Karena Khalifah Ali ra, beliau menghukumi kaum Khawarij pada masanya sebagai “muslim yang berdosa”. Artinya, mereka berdosa besar, dan Insya Allah akan masuk neraka. Tapi karena mereka masih mau menerima Allah sebagai Tuhan mereka, dan Muhammad sebagai nabi mereka, maka mereka lulus batas minimal menjadi orang Islam. Jadi, setelah dosa-dosa mereka habis dibakar di neraka, mereka tetap punya kesempatan untuk bisa masuk Surga.

Sedangkan kaum Munafik, mereka dihukumi langsung oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang akan kekal di neraka. Artinya, dosa mereka tidak akan pernah diampuni, karena mereka pada dasarnya memang tidak beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw.

Di zaman sekarang, apakah ada kelompok Khawarij?
Orang-orang yang melakukan pemboman di negara Indonesia yang aman ini, yang menolak pemerintah yang sah dan malah berniat untuk menggulingkan negara ini, dan mereka melakukan itu dengan menggunakan penafsiran agama (yang keliru) sebagai pembenarannya, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri Khawarij.

Adapun orang-orang Munafik, apakah mereka ada di zaman ini?
Ada. Mereka adalah orang-orang yang mengaku Islam, yang sebenarnya membenci agama Islam, dan selalu sibuk menjelek-jelekkan agama Islam, dan sekarang ini mereka sering mengangkat keburukan kaum Khawarij UNTUK MENJELEK-JELEKKAN ISLAM, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri kaum Munafik.

Kalau masih belum yakin, cobalah ajak mereka untuk sholat berjamaah di masjid.
Kalau mereka menolak, maka besar kemungkinan, mereka memang kelompok Munafik.

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat melainkan dalam keadaan malas” (QS. At Taubah: 54).

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Titik awal Munafik

Apakah ciri yang pertama sekali disampaikan oleh mushaf Al-Qur’an tentang orang Munafik?

Silakan buka Al-Qur’an dari halaman paling depan, di surat Al-Fatihah tidak ada, adanya di surat Al-Baqarah ayat awal, maka akan didapat bahwa ayat pertama tentang orang Munafik adalah ayat berikut:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah, 8)

Inilah ciri pertama yang disampaikan oleh Al-Qur’an tentang orang Munafik: Mereka ngakunya beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal tidak.

Maka tidak heran kalau berikutnya mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51. Bukan karena mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51 ini, tapi karena pada dasarnya mereka memang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Akibatnya, mereka berbuat semaunya.

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka malas untuk diajak ke masjid. Karena untuk apa ke masjid kalau memang pada dasarnya mereka tidak percaya pada hari akhir?

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka tidak amanah, banyak berbohong, tidak menjaga janji atau lainnya. Toh memang mereka tidak yakin bahwa hari akhirat itu ada.

Inilah titik awal munafik, tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera untuk mengamalkan ayat Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah Al-Maidah 51 itu.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera pergi ke masjid saat adzan berkumandang.

Kalau mereka beriman, pasti mereka akan amanah dalam mengerjakan sesuatu, tidak akan berbohong, akan selalu menjaga janji.

Tapi masalahnya, mereka tidak beriman pada Allah dan hari akhir.

Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita introspeksi diri kita masing-masing.

Ahli Kitab yang baik

Sholat Jum’at hari ini Imam membaca potongan surat Ali Imran. Saat mendengar, saya merasa bahwa pesan dalam ayat ini adalah hal baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Ini ayatnya, beserta terjemahannya.

۞لَيۡسُواْ سَوَآءٗۗ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ أُمَّةٞ قَآئِمَةٞ يَتۡلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ وَهُمۡ يَسۡجُدُونَ

Mereka (Ahli Kitab) itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).

يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shalih.

(QS Ali Imran, 113 – 114)

Ternyata, dulu ada ahli kitab yang jujur dalam mengamalkan agamanya. Tapi bukan hal ini yang saya rasakan sebagai “hal baru”. Yang saya rasakan sebagai “hal baru” adalah lanjutannya. Ternyata Ahli Kitab yang baik juga rajin membaca kitab sucinya pada malam hari, dan rajin menjalankan sholat. Dan bukan hanya itu, mereka juga beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam segala sisi kehidupan mereka, serta selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan.

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada.

Lalu, mari kita bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Saat ini, kondisi ummat Islam benar-benar menyedihkan. Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini adanya akhirat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini bahwa kitab sucinya adalah wahyu dari Allah? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas mengerjakan sholat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi ketika diajak untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jawabannya adalah “jangan bawa-bawa agama”? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas kalau diajak untuk berbuat baik?

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada. Tapi itu artinya, orang-orang yang meninggalkan agama juga ada. Semoga saja kita tidak termasuk yang terakhir ini.

Kalau pada kaum ahli kitab dahulu saja ada orang yang bisa menjadi baik, mengapa kita tidak mau menjadi orang baik pada masa kita saat ini?

Imam membaca surat sampai di sini, lalu ruku’. Pikiran saya pun berhenti di sini.
Semoga saja sholat Jum’at kali ini ada berkahnya, aamiin.

Jakarta, 1 Nov 2019 (4 Rabiul Awwal 1441 H)