Ada tujuan

Salah satu perbedaan utama antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama adalah: Ada tujuan dalam hidupnya.

Orang yang tidak beragama, maka mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk membahas hal-hal yang tidak penting, atau menyibukkan diri mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Apa yang mereka lakukan, hanya sebatas mengejar kesenangan duniawi saja. Kalau mereka kaya, maka mereka akan menghabiskan harta mereka hanya untuk hura-hura, dan kalau mereka tidak kaya maka mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencari harta kekayaan. Bagi mereka, hidup hanya sebatas mencari makan, mencari harta, dan bersenang-senang.

Adapun orang-orang yang beragama, maka mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk membahas hal-hal yang bisa menjadi bekal akhirat mereka, dan mereka juga akan menghabiskan waktu mereka untuk beramal sebaik mungkin untuk akhiratnya itu. Kalau mereka kaya, maka mereka akan banyak berinfaq untuk agamanya itu, dan kalau mereka tidak kaya maka mereka akan tetap sabar dalam kondisi mereka dan tetap menjaga diri agar tidak terjatuh dalam perbuatan menghalalkan segala cara. Bagi mereka, harta dan kesenangan bukanlah tujuan yang harus dikejar. Akhirat-lah tujuan yang harus dikejar.

Kita sendiri masuk yang mana?

Mari kita lihat apa yang sibuk kita bicarakan setiap harinya, itulah kita.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS. Al-Hadid, ayat 20).

Advertisements

Pertanyaan kita menunjukkan siapa kita

Menjelang pilpres, saya kadang mendapat dua pertanyaan mengenai salah satu calon.

Yang pertama:
Mengapa harus memilih berdasarkan agamanya? Memangnya capres A itu bisa ngaji? Cara wudhu-nya juga salah tuh.

Yang kedua:
Coba lihat nih, capres dan cawapres ini khan lulusan sekolah non-islam, masa mau dipilih?

Dua hal ini, kalau ditanyakan, maka itu hanya menunjukkan bahwa orang yang bertanya adalah orang yang belum memahami agamanya sendiri.

Memilih berdasarkan agama, itu perintah agama, maka ini wajib. Tapi kriterianya lebih pada bagaimana calon tsb menyikapi agama Islam atau bagaimana calon tersebut menyikapi ummat Islam. Jadi bukan langsung melihat sosok pribadi tersebut: bisa ngaji atau tidak? ibadah sunnahnya bagus atau tidak? dll.

Ya, calon yang bisa mengaji atau yang ibadah sunnahnya baik, maka calon seperti ini memang memiliki nilai plus. Tapi kalau dia menentang penerapan syariat Islam, atau memusuhi ulama, atau tidak memikirkan nasib ummat Islam, maka calon seperti ini tidak pantas untuk dipilih.

Sebaliknya, orang Islam yang tidak bisa mengaji, atau pernah sekolah di sekolah non-Islam, tapi dia tidak menentang ajaran Islam, tidak memusuhi ulama, dan bahkan mau memikirkan nasib ummat Islam, maka calon seperti ini lebih pantas untuk kita pilih.

Ada prioritas dalam agama kita, dan itu hanya bisa difahami oleh orang-orang yang mau belajar.