Niat dalam memilih

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat sekedar hura-hura dalam masalah duniawi, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat karena suka pada figur yang ada, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Siapa yang memilih dengan niat untuk mendapatkan bayaran atau karena sudah mendapatkan bayaran, maka itulah nilai amal yang akan dia dapatkan.

Setiap amal, akan dilihat dari niatnya.

Ini adalah pesan utama yang tertulis dalam hadits paling utama yang sering menjadi hadits nomor satu dalam kitab-kitab hadits yang utama: Setiap amal akan dilihat dari niatnya.

Maka kita-kita yang muslim dan yang ingin kembali pada ajaran agama kita dengan cara yang benar, mari kita lihat hadits ini. Jangan sampai kita mengorbankan amal-amal kita hanya untuk niat-niat yang tidak penting.

Kalau kita sudah bisa menempatkan niat terbaik dalam setiap amal yang akan kita lakukan, berarti kita sudah memahami agama kita ini.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Advertisements

Agar menjadi orang yang bertaqwa?

Ibadah puasa memiliki tujuan agar kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Bagaimanakah orang yang bertaqwa itu?

Dua ayat berikutnya memberikan isyarat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah, 185)

Bertaqwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada. Dan ini sesuai dengan ayat awal dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah, 2)

Apakah kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa?

Kalau kita punya keinginan untuk menjadi orang yang bertaqwa, maka mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik awal perubahan bagi diri kita, untuk mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan juga menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk menilai semua masalah yang ada.

29 Ramadhan 1439H (14 Juni 2018)