Agama dan Politik

Advertisements

Menolak Kecenderungan

Mengapa orang-orang kafir Makkah mati-matian menolak masuk Islam?
Bukankah mudah saja bagi mereka untuk sekedar menyebutkan syahadat, lalu terus hidup dengan cara mereka seperti biasa?

Jawabannya, karena mereka tahu bahwa dengan menyebut Syahadat, maka ada konsekwensi besar di belakangnya: mereka harus mau menomorsatukan Allah dan Nabi-Nya, dan menomorsekiankan semua hal lainnya. Dalam pola pikir pun sama: mereka harus menomorsatukan sudut pandang agama dan menomorsekiankan sudut pandang lainnya.

Itulah konsekwensi untuk “menjadi Islam”, dan itulah pemahaman yang benar.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. Al-An’aam, 162)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imraan, 31)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’, 65)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al-Ahzab, 36)

Jadi kalau saat ini ada orang yang mengaku Islam tapi sama sekali tidak mau mengutamakan sudut pandang agama dalam segala pengambilan keputusan yang dia lakukan, maka sederhana saja: berarti dia belum mengerti bagaimana menjadi seorang Muslim yang benar.

Mari kita hadiri pengajian-pengajian, tidak ada kata terlambat untuk memulai perbaikan pada diri kita.

Dua hal yang sebaiknya dihindari saat Ramadhan

1. Buka puasa bersama dan meninggalkan sholat jamaah Maghrib, Isya atau Taraweh.

Alasannya:
– Sholat berjamaah di Masjid adalah ibadah yang utama, apalagi di bulan Ramadhan.
– Sholat Taraweh adalah salah satu ibadah utama di bulan Ramadhan.
– Buka puasa bersama, meskipun boleh, tapi bukan merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan.
– Kejarlah yang utama, jangan kejar yang hukumnya hanya sekedar “boleh”.
– Kalau mau makan-makan, maka lakukanlah di bulan Syawal, karena Ramadhan itu bulan Ibadah, dan Iedul Fitri itu hari raya makan-makan.
– Kalaupun mau tetap melakukan buka puasa bersama, maka usahakan agar sholat jamaahnya tetap terjaga, baik sholat maghrib, sholat Isya maupun sholat Tarawehnya.

2. Sibuk beli pakaian di bulan Ramadhan.

Kalau memang ada uang, dan tidak harus menunggu THR, maka sebaiknya beli pakaian dari sekarang. Agar saat Ramadhan nanti bisa fokus ibadah, bukan malah sibuk belanja ini itu. Karena Ramadhan itu bulan ibadah, bukan bulan belanja.