​Menyikapi kasus Habib Rizieq

Sekarang beredar artikel di Whatsapp, judulnya “Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam”, penulisnya (katanya) adalah Nadirsyah Hosen. Isi artikelnya membandingkan Habib Rizieq dengan Khalifah Ali ra. Katanya, Khalifah Ali ra itu taat hukum. Meskipun statusnya khalifah tapi tetap mau maju ke meja pengadilan dalam kasus baju besinya yang dicuri orang. Kisahnya, khalifah Ali ra menemukan baju besi itu ada di tangan seorang Yahudi, lalu beliau maju ke pengadilan untuk menggugat baju besi itu. Akhir kata, ternyata khalifah Ali ra kalah, karena hakim ternyata memutuskan bahwa orang Yahudi itu benar, karena bukti-bukti yang diajukan oleh Khalifah Ali ra ternyata tidak cukup kuat.

Lalu kisah ini diterapkan pada kasus Habib Rizieq, katanya kenapa Habib Rizieq tidak mau maju ke pengadilan sepertihalnya Khalifah Ali ra? Kenapa pula Habib Rizieq malah menantang Mubahalah, tidak seperti kakek moyangnya yaitu Khalifah Ali ra yang menempuh jalur hukum secara normal?
Jawabannya, ada banyak kisah pada zaman nabi yang bisa kita terapkan pada kasus Habib Rizieq kali ini. Salah satunya adalah kisah tentang fitnah pada Aisyah ra yang dituduh ~via medsos~ telah berzinah. Ujung-ujungnya, yang menuduhlah yang dihukum.
Kalau kisah Aisyah ra ini yang diterapkan pada kasus Habib Rizieq, seakan-akan para penuduh Habib Rizieq itulah yang salah. Padahal, belum tentu juga seperti itu. Ini karena pintar-pintarnya orang menganalogikan kisah saja agar bisa menggiring opini. Harusnya kita sadar akan hal ini.
Demikian juga dengan kisah Khalifah Ali ra di atas. Kisah itu mungkin dipilih(?) karena kebetulan khalifah Ali ra tidak hijrah ke luar negeri pada kasus itu. Tapi pada kasus lain, manakala fitnah sudah merajalela dan kebenaran sulit untuk dipertahankan, ada juga anjuran untuk berhijrah ke luar negeri agar bisa mendapatkan keadilan di sana. Kenapa bukan kisah ini yang dipakai untuk Habib Rizieq? Apakah dalam hati kita sudah ada su’udzon?
Sebaiknya memang Habib Rizieq pulang ke Indonesia untuk bisa menjelaskan masalah ini. Tapi kalau melihat sniper-sniper _pemburu burung_ yang tidak tertangkap juga, seharusnya kita juga bisa memahami mengapa Habib Rizieq sampai memilih untuk hijrah bersama keluarganya ke luar negeri.
Yang meminta Habib Rizieq untuk balik ke Indonesia sekarang juga, apa mereka menutup mata pada sniper-sniper _pemburu burung_ ini? Ini namanya tidak adil, dan inilah sumber permasalahan di negara kita, karena hukum saat ini berat sebelah.
Yang adil, seharusnya, yang jelas-jelas salah seperti para sniper burung, orang yang melempar air keras, penyebar berita tentang Habib Rizieq, dll, mereka semua ditangkap dulu, setelah itu kita minta Habib Rizieq pulang untuk menjelaskan atau mempertanggungjawabkan masalahnya. Seharusnya bisa seperti itu. Itu kalau kita mau adil.
Akhir kata, kalau khalifah Ali ra masih ada, percayalah, para sniper pemburu burung dan kawan-kawannya itu pasti akan dikejar dan tidak akan  dibiarkan begitu saja. Jadi, kisah keadilan beliau tidak hanya bisa diterapkan pada Habib Rizieq saja. Tidak bisakah kita bersikap adil?

Isa Ismet Khumaedi

@Depok, 13 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s