​Liberalisme, antara Standar Dunia dan Standar Akhirat

Kaum Liberal tidak bisa membedakan mana standar dunia dan mana standar akhirat. Akibatnya, kadangkala standar akhirat dipakai untuk masalah dunia, dan mungkin juga sebaliknya.

Misal, di akhirat nanti, bisa jadi seorang muslim akan masuk neraka. Lalu standar itu digunakan di dunia dengan tujuan agar orang Islam tidak boleh mengklaim agamanya saja yang benar.

Ini namanya menggunakan standar akhirat untuk masalah dunia. Dan ini tidak benar.

Yang benar adalah, Allah sudah menggariskan bahwa hanya Islam-lah agama yang benar. Maka selama kita hidup di dunia, kita harus berani mengatakan “hanya Islam-lah agama yang benar”. Adapun di akhirat nanti, kita serahkan pada Allah, apalagi untuk kasus individual, karena hanya Allah saja-lah yang Maha Tahu atas isi hati setiap hamba-Nya.

Sama seperti kasus koruptor yang tertangkap. Apa kita tidak tahu jangan-jangan dia sebenarnya berniat baik?

Jawabannya, niat baik atau buruk itu urusan Allah di akhirat nanti. Tugas kita di dunia adalah memastikan bahwa semua koruptor bisa dihukum sesuai dengan kesalahannya. Maka, yang terlihat maling kita namakan dengan maling, yang terbukti korupsi kita namakan dengan koruptor, dan yang menolak Islam kita namakan dengan kafir. Ini harus kita tegakkan di dunia ini, agar jelas mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan kita. Masalah di akhirat nanti, kita serahkan pada Allah. 

Inilah perbedaan antara standar dunia dan standar akhirat, dan perbedaan ini tidak difahami oleh kaum liberal. Itu sebabnya mereka mengatakan bahwa semua agama itu sama saja.

​Menyikapi kasus Habib Rizieq

Sekarang beredar artikel di Whatsapp, judulnya “Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam”, penulisnya (katanya) adalah Nadirsyah Hosen. Isi artikelnya membandingkan Habib Rizieq dengan Khalifah Ali ra. Katanya, Khalifah Ali ra itu taat hukum. Meskipun statusnya khalifah tapi tetap mau maju ke meja pengadilan dalam kasus baju besinya yang dicuri orang. Kisahnya, khalifah Ali ra menemukan baju besi itu ada di tangan seorang Yahudi, lalu beliau maju ke pengadilan untuk menggugat baju besi itu. Akhir kata, ternyata khalifah Ali ra kalah, karena hakim ternyata memutuskan bahwa orang Yahudi itu benar, karena bukti-bukti yang diajukan oleh Khalifah Ali ra ternyata tidak cukup kuat.

Lalu kisah ini diterapkan pada kasus Habib Rizieq, katanya kenapa Habib Rizieq tidak mau maju ke pengadilan sepertihalnya Khalifah Ali ra? Kenapa pula Habib Rizieq malah menantang Mubahalah, tidak seperti kakek moyangnya yaitu Khalifah Ali ra yang menempuh jalur hukum secara normal?
Jawabannya, ada banyak kisah pada zaman nabi yang bisa kita terapkan pada kasus Habib Rizieq kali ini. Salah satunya adalah kisah tentang fitnah pada Aisyah ra yang dituduh ~via medsos~ telah berzinah. Ujung-ujungnya, yang menuduhlah yang dihukum.
Kalau kisah Aisyah ra ini yang diterapkan pada kasus Habib Rizieq, seakan-akan para penuduh Habib Rizieq itulah yang salah. Padahal, belum tentu juga seperti itu. Ini karena pintar-pintarnya orang menganalogikan kisah saja agar bisa menggiring opini. Harusnya kita sadar akan hal ini.
Demikian juga dengan kisah Khalifah Ali ra di atas. Kisah itu mungkin dipilih(?) karena kebetulan khalifah Ali ra tidak hijrah ke luar negeri pada kasus itu. Tapi pada kasus lain, manakala fitnah sudah merajalela dan kebenaran sulit untuk dipertahankan, ada juga anjuran untuk berhijrah ke luar negeri agar bisa mendapatkan keadilan di sana. Kenapa bukan kisah ini yang dipakai untuk Habib Rizieq? Apakah dalam hati kita sudah ada su’udzon?
Sebaiknya memang Habib Rizieq pulang ke Indonesia untuk bisa menjelaskan masalah ini. Tapi kalau melihat sniper-sniper _pemburu burung_ yang tidak tertangkap juga, seharusnya kita juga bisa memahami mengapa Habib Rizieq sampai memilih untuk hijrah bersama keluarganya ke luar negeri.
Yang meminta Habib Rizieq untuk balik ke Indonesia sekarang juga, apa mereka menutup mata pada sniper-sniper _pemburu burung_ ini? Ini namanya tidak adil, dan inilah sumber permasalahan di negara kita, karena hukum saat ini berat sebelah.
Yang adil, seharusnya, yang jelas-jelas salah seperti para sniper burung, orang yang melempar air keras, penyebar berita tentang Habib Rizieq, dll, mereka semua ditangkap dulu, setelah itu kita minta Habib Rizieq pulang untuk menjelaskan atau mempertanggungjawabkan masalahnya. Seharusnya bisa seperti itu. Itu kalau kita mau adil.
Akhir kata, kalau khalifah Ali ra masih ada, percayalah, para sniper pemburu burung dan kawan-kawannya itu pasti akan dikejar dan tidak akan  dibiarkan begitu saja. Jadi, kisah keadilan beliau tidak hanya bisa diterapkan pada Habib Rizieq saja. Tidak bisakah kita bersikap adil?

Isa Ismet Khumaedi

@Depok, 13 Juni 2017

​Perang pada zaman Nabi

Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah menyatakan ada 27 peperangan yang terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Peperangan tersebut terjadi dalam fase Madinah (10 tahun). Maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata Nabi Muhammad SAW berperang 2,7 kali dalam setahun atau sekitar 4 bulan sekali. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya beliau mempersiapkan fisik, perbekalan dan strategi perang kaum muslimin pada zaman itu. Padahal Nabi dan kaum muslimin juga harus berdakwah, berdagang, berkebun, membangun masyarakat dan aktivitas lainnya.

Hal ini menunjukkan satu hal penting: Islam memang mengajarkan perdamaian, tapi manakala dibutuhkan, ummat Islam harus berani untuk maju berperang.

Maka, putuslah argumentasi kaum liberal yang lebih mencintai kedamaian daripada kebenaran. Menurut mereka, segala bentuk kekerasan adalah haram. Yang halal adalah hidup tenang dan hidup enak, meskipun harus mengorbankan kebenaran.

Zaman nabi, ada juga kelompok yang menuhankan hidup enak dan selalu menolak kalau disuruh maju berperang. Mereka adalah kaum Munafik.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imraan: 167)


Semoga kita semua terhindar dari sifat Munafik. Aamiin.
Note:

Islam memang mencintai perdamaian. Tapi Islam menempatkan kebenaran di atas perdamaian.

Problem terbesar

Bagi orang Islam, problem terbesar adalah beribadah kepada Allah atau beribadah kepada selain Allah? Ini diambil dari kisah Iblis yang dengki kepada manusia dan bertekad untuk menyesatkan seluruh manusia sampai akhir zaman nanti, dan memang seperti inilah ajaran Al-Qur’an.

Sedangkan bagi kaum liberal, problem terbesar adalah bagaimana caranya agar bisa berbuat baik atau bisa hidup enak. Masalah beribadah kepada Allah atau tidak, itu sepertinya nomor sekian. Itu sebabnya hadits tentang pelacur yang menolong anjing sangat laris di kalangan liberal. Karena mereka ingin menomorsatukan kebaikan dan menomorsekiankan ibadah. Seolah-olah mereka ingin berkata, “Tanpa sholat berjamaah di masjid pun tidak apa-apa, yang penting mau menolong anjing yang sedang kehausan”. 😦

Padahal hadits nabi sudah jelas, barangsiapa meninggalkan jamaah sholat Ashar dan jamaah sholat Subuh di Masjid, berarti dia sudah memiliki tanda-tanda munafik. Dan di sini liberal bertemu dengan munafik, karena sama-sama menuhankan dirinya sendiri agar bisa hidup enak, dan tidak mau bersusah-susah datang ke masjid.

Semoga kita bisa menjadi ummat Islam yang benar, yang menomorsatukan ibadah tapi tetap menjaga akhlak dalam berinteraksi dengan yang lainnya.

Selepas Ramadhan, semoga kita bisa tetap istiqomah mengerjakan sholat berjamaah di Masjid. Karena kita menyembah Allah, bukan menyembah Ramadhan.
17 Ramadhan 1438H / 12 Juni 2017

​Radikal, Liberal dan Agama Warisan

Kaum radikal adalah kaum yang menuhankan nilai-nilai kebenaran, dan mengabaikan nilai-nilai kebaikan. Ini semua karena mereka memahami agama ini hanya dalam masalah benar-salah saja, dan mereka tidak mendapatkan ilmu yang cukup tentang indahnya muamalah dalam islam atau lainnya. Mereka mungkin tidak pernah mendengar kisah tentang Nabi kita yang menyuapi orang kafir yang sudah tua, atau kisah  tentang nabi kita yang amat menyayang anak kecil, atau kisah tentang nabi kita yang amat menghormati orang tua, apapun agamanya, atau kisah tentang nabi kita yang amat baik akhlaknya terhadap keluarganya, tetangganya ataupun tamunya, atau kisah tentang seseorang yang masuk surga karena keindahan akhlaknya, atau kisah tentang hal lainnya. Itu sebabnya mereka akan memahami agama ini hanya dari sisi kerasnya saja. Lalu mereka berjuang mati-matian untuk selalu mengobarkan peperangan, meskipun harus mengorbankan kedamaian.

Sebaliknya, kaum Liberal adalah kaum yang menuhankan nilai-nilai kebaikan, dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran. Ini semua karena mereka memahami agama ini hanya dalam masalah baik-buruk saja, dan mereka tidak mendapatkan ilmu yang cukup tentang beratnya perjuangan orang-orang terdahulu  dalam mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran agama Islam ini. Mereka mungkin tidak pernah dengar kisah tentang Nabi Musa as yang dikejar-kejar oleh Fir’aun, atau kisah tentang Nabi Isa as yang diburu oleh pasukan Romawi, atau kisah tentang Ashaabul Ukhdud yang membunuhi kaum beriman dengan cara membakar mereka dalam parit berapi, atau kisah tentang nabi kita sendiri yang diboikot selama tiga tahun dan diperangi oleh pamannya sendiri, atau kisah tentang Abu Bakar ra yang membasmi kelompok yang murtad, atau kisah tentang Umar bin Khattab ra yang berperang melawan imperium Persia dan Romawi, atau kisah  tentang Khalifah Utsman ra dan Khalifah Ali ra yang memerangi para pemberontak, atau kisah tentang salah satu sahabat nabi kita yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang terpaksa harus berperang melawan ayahnya sendiri dalam perang Badar, atau kisah tentang Hussein bin Ali ra yang terbunuh dalam menghadapi pemimpin yang dzalim, atau lainnya. Itu sebabnya mereka akan memahami agama ini hanya dari sisi enaknya saja. Maka, mereka mungkin akan mati-matian memperjuangkan konsep hidup damai dan hidup enak, meskipun harus mengorbankan prinsip kebenaran dalam agama ini.

Dua kelompok ini, yaitu kelompok radikal dan kelompok liberal, mereka muncul karena satu sebab yang sama: karena mereka timpang dalam memahami agama ini.

Maka, marilah kita datangi majelis ilmu, agar kita bisa memahami agama kita ini dengan benar dan seimbang, dan agar agama kita tidak hanya sekedar menjadi agama warisan saja. Karena kalau agama kita hanya sekedar agama warisan saja, maka kita mungkin tidak akan tahu apakah kita sebenarnya mewarisi pemahaman yang radikal atau pemahaman yang liberal.

Mari kita datangi majelis ilmu!

​Radikalis, Islamis, Liberalis

Radikalis adalah orang yang hanya tahu benar salah (versi dia), tapi tidak tahu baik buruk. Itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana, tanpa memperhitungkan baik buruknya, karena yang dia tahu hanya benar salah saja.

Kebalikannya, Liberalis adalah orang yang hanya tahu baik buruk, tapi tidak tahu benar salah. Itu sebabnya dia selalu menyuarakan hal yang dia anggap baik, meskipun sebenarnya tidak benar atau dia melupakan kebenaran di sisi lainnya.

Di antara keduanya, ada kelompok Islamis, yaitu orang yang tahu benar salah, dan juga tahu baik buruk. Dia juga tahu batasan kebenaran mutlak dan batasan kebenaran yang masih bisa ditolerir dengan memperhatikan sudut pandang baik atau buruk.

Contohnya, seseorang yang radikal, dia mungkin rajin sholat Subuh berjamaah di masjid, tapi dia tidak memahami baik buruk, itu sebabnya dia melakukan pemboman di mana-mana.

Kalau dia adalah Liberalis, mungkin dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berperilaku baik, tapi mungkin dia juga akan malas untuk melakukan sholat Subuh berjamaaah di masjid. Ini karena dia hanya tahu baik buruk dan tidak tahu benar salah.

Adapun Islamis, ini adalah orang yang akan menjaga sholat Subuh berjamaah di masjid dan juga akan menjaga agar perilakunya baik terhadap siapa pun juga. Ini karena dia tahu benar salah dan juga tahu baik buruk.

Semoga kita semua bisa menjadi orang Islam yang benar, Aamiin.