Ciri Munafik tidak hanya tiga

Banyak yang memahami bahwa ciri orang Munafik itu hanya tiga:
1. Jika berbicara, dia bohong.
2. Jika berjanji, dia tidak menepati janjinya.
3. Bila dipercaya, dia ingkar.

Pemahaman ini tidak benar.

Tiga ciri di atas, memang benar merupakan ciri-ciri orang Munafik, berdasarkan hadits Nabi. Tapi kalau lantas disimpulkan bahwa ciri-ciri orang Munafik itu hanya tiga hal ini saja, maka inilah yang tidak benar.

Di dalam Al-Qur’an justru sifat-sifat orang Munafik dijelaskan dengan lebih jelas lagi, dan salah satunya adalah: “Memilih orang kafir sebagai pemimpin”.

Selengkapnya, mari kita lihat ciri-ciri orang Munafik berdasarkan ayat Al-Qur’an di bawah ini.

1. Selalu menghalangi orang Islam dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya (QS. An-Nisaa: 61)
2. Menolak kalau diajak berjihad di jalan Allah (QS. Ali Imraan: 156, 167)
3. Memilih orang kafir sebagai pemimpin atau teman dan meninggalkan orang Islam (QS. An-Nisaa: 139)
4. Suka berkumpul dengan orang kafir sambil menertawakan ajaran-ajaran Islam (QS. An-Nisaa: 140)
5. Malas untuk mengerjakan shalat (QS. An-Nisaa: 142)
6. Menjadikan kaum Ahli Kitab sebagai pemimpin (QS. Al-Maaidah: 51)
7. Tidak mau taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya (QS. Al-Anfal: 20-21)
8. Menyebut orang yang beriman sebagai “orang yang telah dibohongi oleh agamanya” (QS. Al-Anfal: 49)
9. Suka mengejek ajaran Islam dan menjadikannya sebagai bahan hinaan (QS. At-Taubah: 64-65)
10. Suka mengajak pada yang munkar dan mengajak untuk melarang orang beramal baik (QS. At-Taubah: 67)
11. Suka mencela orang yang bersedekah (QS. At-Taubah: 79)
12. Ada juga yang sengaja membuat masjid untuk memecah-belah ummat Islam (QS. At-Taubah: 107)
13. Suka menyebarkan kabar bohong (QS. Al-Ahzab: 60)
14. Akan bergabung dengan Ahli Kitab untuk melawan orang Islam (QS. Al-Hasyr: 11)
15. Suka mengajak manusia pada kekafiran (QS. Al-Hasyr: 16)

Inilah ciri-ciri orang Munafik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, dan kita harus berusaha agar sifat-sifat tersebut tidak ada dalam diri kita. Semoga Allah memudahkan hal itu untuk kita. Aamiin.

Berikutnya, lalu bagaimana sikap kita kalau kita bertemu dengan orang yang memiliki ciri-ciri atau melakukan perbuatan-perbuatan ini?

Yang pertama, jangan menyebut mereka sebagai orang munafik di hadapan orang lain, karena kita tidak tahu apa isi hati setiap manusia.

Yang kedua, tapi kita tetap wajib menjelaskan pada masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu adalah perbuatan orang-orang munafik, agar masyarakat umum bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Yang ketiga, kalau kita bertemu langsung dengan orang yang melakukan perbuatan munafik ini, katakanlah: “Anda munafik dan kalau Anda tidak mau bertaubat, maka Anda akan masuk neraka”, sesuai perintah ayat di bawah:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin atau teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS. An-Nisaa: 138-139)

Advertisements

Orisinalitas Kitab Suci

Dalam Islam, orang yang hafal Al-Qur’an disebut dengan haafiz. Padahal, dalam bahasa Arab, arti dari kata haafiz bukanlah “orang yang menghafal”, melainkan “orang yang menjaga”.

Maksudnya, siapa saja yang menghafal Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia adalah orang yang telah menjaga keaslian Al-Qur’an. Itulah haafiz.
Seperti itulah Al-Qur’an dijaga dan terjaga orisinalitasnya, dalam bentuk dihafal oleh ribuan orang dalam setiap zamannya, sehingga jangankan ada kalimat yang salah, bahkan kalau ada kata atau huruf yang salah pun dengan mudah bisa terdeteksi.

Seperti itulah keyakinan ummat Islam dalam meyakini keaslian kitab sucinya.

Bagaimana dengan kitab suci Anda? Setelah melewati masa ratusan atau ribuan tahun tanpa keberadaan komputer ataupun alat cetak, dengan cara seperti apa orisinalitasnya tetap terjaga?

Setiap kita, tentu punya hak untuk merenungkannya.

Kriminalisasi Nabi

Kriminalisasi sudah terjadi sejak dulu, bahkan Nabi pun dikriminalisasi oleh penguasa. Jangan heran kalau sekarang ulama juga dikriminalisasi.

Dulu, Nabi Musa dikriminalisasi oleh Fir’aun dan tentaranya, padahal Fir’aun dan tentaranya benar-benar tahu bahwa Musa adalah nabi yang diutus kepada mereka.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, MENGAPA KAMU MENYAKITIKU, sedangkan kamu MENGETAHUI bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah MEMALINGKAN HATI MEREKA; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada KAUM YANG FASIK. (QS. Shaff: 5)

Pelaku kriminalisasi adalah orang yang berbuat dosa. Kalau di titik awal mereka mau sadar, maka mereka Insya Allah bisa menjadi baik. Tapi kalau di titik awal mereka tidak mau sadar, maka Allah akan memalingkan hati mereka, jadilah mereka orang yang FASIK, sehingga mereka tidak akan bisa tertolong lagi.

Selagi belum terlambat, sebaiknya para pelaku kriminalisasi ulama segera menghentikan perbuatan mereka itu. Tapi kalau dari awal sudah tidak mau berhenti, maka siap-siaplah, Allah tidak akan memberi petunjuk lagi pada kaum yang Fasik, dan bersiap-siaplah masuk ke neraka.

Kisah akan selalu berulang pada setiap zamannya, tinggal bagaimana kita mengambil peran kita: mau menjadi orang baik atau malah memilih jadi orang yang Fasik?


Note:
Fasik adalah orang yang tidak mau taat pada perintah Allah, dan malah sering melakukan perbuatan dosa.

Al-Qur’an, Hadits Shahih dan Injil

Dalam pandangan ummat Islam, Al-Qur’an itu isinya benar dan tidak boleh ada kesalahan dalam redaksinya. Inilah kriteria kitab suci dalam pandangan Islam.

Di bawah itu, ummat Islam juga meyakini kitab Hadits yang shahih, yang isinya diyakini benar, tapi redaksinya bisa berbeda-beda.

Di luar itu, ummat Islam juga meyakini kitab Injil yang diturunkan pada nabi Isa as, dan kitab suci ini juga memiliki ciri yang sama dengan Al-Qur’an, yaitu isinya benar dan tidak boleh ada kesalahan dalam redaksinya. Tapi kitab Injil yang asli ini, sekarang sudah tidak ada lagi. Ini menurut keyakinan ummat Islam.

Bersamaan dengan itu, ummat kristen meyakini Injil dengan pandangan yang berbeda. Menurut ummat Kristen, yang namanya Injil itu bukanlah kitab yang diturunkan pada Yesus, melainkan kitab yang ditulis oleh murid-murid Yesus, berisi ucapan-ucapan Yesus. Dan kriteria yang digunakan adalah isinya benar, tapi bisa saja ada perbedaan redaksi di dalamnya, karena ditulis oleh orang yang berbeda.

Keyakinan ummat Kristen terhadap kitab Injil ini, tidak sama dengan keyakinan ummat Islam terhadap kitab Al-Qur’an, karena ummat Islam menggunakan syarat “redaksi harus benar” (maksudnya “hanya ada satu redaksi”) dalam meyakini kitab sucinya

Keyakinan ummat Kristen terhadap kitab Injil lebih mirip keyakinan ummat Islam terhadap kitab hadits Shahih. Isinya benar, tapi redaksinya bisa berbeda.

Keyakinan mana yang lebih baik atau lebih tepat?
Silakan dipikirkan masing-masing.

Note:
Yang kita bandingkan adalah keyakinan ummat terhadap kitabnya sucinya masing-masing.

Kitab Suci yang Asli

Dalam pandangan ummat Islam, kitab injil yang asli itu ada (dulu).
Sedangkan dalam pandangan ummat kristen, kitab injil yang asli itu tidak ada.

Itu sebabnya, mengapa ummat Islam selalu bertanya, “Mana kitab injil yang asli?”

Dan itu sebabnya pula mengapa jawaban dari ummat Kristen tidak pernah memuaskan bagi ummat Islam.

Akibat dari perbedaan cara pandang itu, salah satu efeknya adalah:

  • Bagi ummat Islam, yang namanya kitab suci itu harus benar isinya dan juga redaksinya.
  • Sedangkan bagi ummat Kristen, yang namanya kitab suci itu tidak harus sempurna redaksinya, beda-beda sedikit tidak apa-apa.

Kesimpulannya, ada perbedaan level dalam keyakinan dua agama ini ketika mendefinisikan apa itu kitab suci.
Agama Islam menggunakan level yang lebih ketat dalam mendefinisikan apa itu kitab suci.

Mana yang Anda nilai lebih baik?
Silakan nilai masing-masing.

Note:
Yang kita bandingkan adalah keyakinan ummat terhadap kitabnya sucinya masing-masing.

Perang Uhud: Agar terlihat mana yang beriman dan mana yang Munafik

​Dalam perang Uhud, sebagian penduduk Madinah pulang kembali ke Madinah dan tidak mau ikut berperang bersama Nabi. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Hasil perang ini, kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud tersebut. Tapi di balik itu, ada satu hal yang bahkan membuat ummat Islam di Madinah menjadi makin solid dan makin kuat: karena mereka jadi tahu mana kelompok orang-orang yang beriman dan mana kelompok orang-orang yang sebenarnya Munafik.

“… agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik.” (QS. Ali Imraan: 166-167)

Maka, bagi ummat Islam, kalah atau menang itu biasa. Tapi berhenti berjuang adalah satu hal yang harus dihindari. Ambillah hikmah dari apa yang telah terjadi. Tinggalkanlah kaum munafik yang ada, karena membiarkan mereka tetap berada dalam barisan ummat Islam sama saja dengan membiarkan duri dalam daging. Mereka sudah terbukti akan meninggalkan kaum muslimin dan akan memilih kelompok lain.

Allah sendiri telah menyebutkan: “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan.”

Sepenggal kisah perang Uhud ini, dapat dilihat pada dua ayat di bawah.

وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imraan: 166)

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imraan: 167)

Mari kita jaga diri kita dan keluarga kita dari sikap munafik seperti ini. Aamiin.