Orang yang tidak mengimani hari Akhirat

​Beberapa waktu lalu, kita diributkan oleh pidato seorang ketua partai yang secara terang-terangan menyatakan bahwa dia tidak meyakini hari akhirat. Terlepas dari siapa yang membuat teks pidato itu, penilaian kita tetaplah harus kita sematkan pada siapa yang melakukan pidato tersebut.

Orang seperti ini, ada banyak diceritakan dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah pada ayat di bawah.

Tinggal kita cocokkan saja ciri lainnya: Apakah dia atau partainya banyak berbohong? Apakah dia dan partainya mengajak pada hal-hal yang melalaikan kita?

Kalau benar, maka benarlah apa yang ada dalam ayat tersebut.

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ، يَسْأَلُونَ أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ، يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ، ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ.

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai, mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?”. (Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan”. (QS. Adz-Dzaariyaat: 10-14).

Untuk kita sendiri, jangan sampai kita salah memilih pemimpin.

Mengapa kita sulit untuk memaafkan?

​Mengapa kita sulit untuk memaafkan Presiden Jokowi yang tidak ingat telah menandatangani aturan kenaikan tarif STNK?

Dan mengapa pula kita tidak bisa memaklumi Ustadz Novel ketika mendiamkan tulisan “Fitsa Hats”, padahal salah tulis ini sama sekali tidak memberikan efek pada rakyat Indonesia?

Mungkin, hati nurani kita sudah tertutup oleh fanatisme yang tidak benar?
Mari kita lihat lagi kebersihan hati kita.

Semua orang pernah salah, demikian juga diri kita.
Lantas mengapa kita sulit sekali untuk memaafkan?

Note:
Masalah yang sudah masuk ke jalur hukum, sebaiknya tetap diproses agar hukum bisa tetap tegak di negeri kita ini.

Semua sudah mengambil peran

​Drama Al-Maaidah:51-57
SEMUA SUDAH MENGAMBIL PERAN

Semua peran dalam surat Al-Maaidah:51-57 sudah ditampilkan.
Ada non-muslim yang ngebet pingin jadi pemimpin.
Ada kelompok munafik yang mendukung calon non-muslim tersebut.
Ada kelompok orang-orang yang beriman yang menolak calon non-muslim tersebut.

Dan ada satu lagi, yaitu kelompok orang-orang yang suka mencela orang yang beriman. Bisa jadi kelompok ini berasal dari kelompok munafik, atau bisa jadi juga berasal dari kelompok lain yang hobi-nya memang mencela, termasuk mencela orang-orang beriman yang menolak pemimpin non-muslim ini.

Kita sendiri, masuk kelompok yang mana?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah:54)