Banyak yang seperti ini

Image

Advertisements

​Larangan membuat bid’ah bagi Khulaafaur Raasyidiin

Di dalam Islam, ada larangan yang berlaku bagi ummat Islam tapi tidak berlaku bagi Nabi Muhammad saw, misalnya larangan untuk tidak menikahi lebih dari empat wanita.

Ini adalah kekhususan hanya untuk nabi kita saja, tapi tidak untuk yang lain.

Maka, kalau ada larangan membuat bid’ah, maka larangan ini juga berlaku bagi Khulafaaur Raasyidiin. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin membuat syariat baru dalam masalah ibadah, maka hukumnya seharusnya adalah bid’ah -> sesat -> neraka. Karena larangan bagi seluruh ummat Islam juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin, tanpa ada pengecualian. Jadi kalau Khulaafaur Raasyidiin mengubah sholat Subuh menjadi tiga roka’at maka itu adalah bid’ah, karena tidak ada yang boleh mengubah syariat nabi kita.

Adalah aneh kalau kita berpendapat bahwa bid’ah itu dilarang tapi larangan ini tidak berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

Yang benar adalah, tidak semua hal baru itu bid’ah, baik dalam masalah ibadah ataupun bukan, dan Khulaafaur Raasyidiin juga tahu mana hal baru yang bid’ah dan mana yang bukan, dan yang bukan bid’ah itulah yang mereka kerjakan.

Artinya, tidak semua hal baru itu bid’ah, karena semua larangan dalam agama ini juga berlaku bagi Khulaafaur Raasyidiin.

​​Sabar vs Kemungkaran

Banyak ummat Islam yang salah memahami konsep Sabar.

Mereka mengatakan, “kita harus sabar dalam menerima kemungkaran”.

Padahal, yang diajarkan dalam Islam adalah “kita harus memerangi kemungkaran, dan kita harus sabar dalam menghadapi semua konsekuensinya”.

Seperti nasehat Luqman pada anaknya, lakukanlah amar ma’ruf nahi mungkar lalu bersabarlah atas apa yang akan kita alami.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman ayat 17)

Semoga kita bisa termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta bisa sabar menerima apa yang akan menimpa diri kita setelah itu, aamiin.

​Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi

Dalam kasus korupsi bus Trans-Jakarta, Ahok bebas.
Dalam kasus korupsi reklamasi, Ahok bebas.
Dalam kasus Sumber Waras, lagi-lagi Ahok bebas.

Terakhir, dalam kasus penistaan Al-Qur’an, Kabareskrim bahkan mengatakan bahwa mereka tidak bisa memeriksa Ahok karena “belum mendapat ijin dari Presiden”.

Akhirnya, meledaklah kemarahan rakyat dalam bentuk aksi damai 411 di depan istana negara, yang dihadiri oleh satu juta ummat islam.

Untuk kasus terakhir, yaitu kasus penistaan Al-Qur’an, kalau kasusnya terjadi di Pakistan atau Saudi, mungkin pelakunya sudah dihukum gantung. Tapi di Indonesia, ummat Islam hanya meminta hukuman yang adil: Penjarakan Ahok sepertihalnya Arswendo yang dulu menghina Nabi Muhammad atau seperti kasus ibu-ibu yang menghina agama Hindu. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Tapi dengan melihat kasus-kasus korupsi sebelumnya, yang Ahok selalu bebas dari jeratan hukum, maka seharusnya ummat Islam juga mengambil sikap: Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi! Karena sudah terbukti, Ahok memiliki beking yang akan mengambil sebagian area kita melalui langkah yang amat halus, dan itu semua akhirnya merusak tatanan hukum di negara kita ini. Artinya, para pendukung Ahok akan mati-matian memperjuangkan Ahok, bahkan sampai pada taraf meng-intervensi hukum agar Ahok selalu bebas dari jeratan hukum.

Maka, Ahok tidak boleh jadi Gubernur lagi. Jangan biarkan semua intervensi yang sudah terjadi terulang lagi. Dan mari kita tunjukkan bahwa semua yang akan merusak tatanan hukum ini, mereka semua harus diluruskan.

Kembali pada kelompok pembela Ahok, bahkan sampai pada detik terakhir Presiden masih tetap tidak mau menjumpai para demonstran dan malah memilih untuk “berkunjung ke bengkel Bandara”. Tapi akhirnya, tekanan politik mampu memberikan hasil: Presiden akhirnya mengeluarkan pernyatan untuk tidak akan meng-intervensi kasus Ahok.

Di sini, ada dua pelajaran untuk kita. Yang pertama, nasihat pada pemimpin tidak selamanya harus disampaikan melalui jalur empat mata atau jalur halus, ada kalanya kita harus mengambil langkah yang tegas untuk menyampaikan nasehat ini. Dan yang kedua, penyelewengan yang sudah terjadi secara terang-terangan harus diluruskan secara terang-terangan pula, agar masyarakat bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Jangan biarkan negeri ini hancur akibat adanya sekelompok asing yang ingin menguasai Indonesia, karena kelompok ini sudah terbukti akan merusak tatanan hukum di negara kita, dan sudah terbukti merusak keharmonisan ummat beragama di negeri ini.

Dan untuk mewujudkan itu semua, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan agar: Ahok tidak lagi jadi Gubernur!


Isa Ismet K
Depok, 18 Nov 2016

Ciri orang Munafik

Orang munafik adalah orang yang mengaku beriman dan mereka akan berada bersama kaum yang beriman manakala mereka mau, tapi mereka akan bergabung dengan kaum kafir manakala hal itu menguntungkan mereka, dan mereka akan mengatakan bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang yang telah dibodohi oleh agama mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah:13)

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. (QS. Al-Baqarah:14)

Semoga kita tidak memiliki sifat seperti ini, aamiin.