Madzhab dan Ukhuwah

SEORANG hakim bernama Abu Ya’la suatu hari didatangi oleh pelajar untuk belajar fikih kepadanya. Tujuannya, si pelajar berniat pindah madzhab, karena suka dengan Abu Ya’la. Abu Ya’la sendiri adalah ulama alim yang bermadzhab fikih Ahmad bin Hanbal.

Sebelum pelajar itu diterima sebagai murid, Abu Ya’la menanyakan tentang madzhab negeri asal pelajar tersebut. “Penduduk negerimu semuanya mengikuti madzhab Syafi’i. Lalu kenapa kamu berpindah ke madzhab kami (madzhab Hanbali)?”. Pelajar tersebut menjawab: “Aku berpindah dari madzhab Syafi’ karena aku suka kepada engkau”.

Tetapi, Abu Ya’la merespon dengan bijak. “Ini tidak baik. Jika kamu hidup di negerimu dengan bermadzhab Hanbali, sedangkan seluruh penduduk negerimu bermadzhab Syafi’i, maka kamu tidak menemukan seseorang belajar bersamamu. Dan kamu akan berselisih dan menimbulkan perpecahan” (Al-Musawwadah fi Ushul Fiqh).

Sikap Abu Ya’la ini jelas berdasarkan ilmu dan hati yang ikhlas. Tidak tergiur popularitas atau kecintaan pengagumnya. Beliau ulama hebat di negerinya. Karena itu, dia faham, madzhab itu tidak untuk memecah belah umat. Tetapi urgensi adanya madzhab adalah untuk mendidik umat supaya ibadah mereka tetap dalam koridor dan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagaimana diajarakan oleh para ulama sebelumnya.

Pelajaran penting dari kisah Abu Ya’la di atas adalah, ketika berdakwah di suatu komunitas atau daerah yang telah mengikuti madzhab tertentu, maka janganlah menonjolkkan perbedaan kita dalam hal furuiyyah dengan mayoritas komunitas atau negeri itu.

Menonjolkan perbedaan-perbedaan tata cara ibadah kita yang bersifat furu’ dengan ubudiyah penduduk negeri tentunya bisa menyulut perselisihan. Apalagi bila yang ditampilkan dalam dakwah itu gugatan-gugatan persoalan ibadah furu’ yang sudah memiliki dasar dan dalil syariat. Jika sudah berselisih, tidak jauh-jauh akan menjadi perpecahan. Tentu saja, hal ini tidak sesuai dengan adanya madzhab dan cita-cita bersama umat Islam.

Justru, pelajaran Abu Ya’la yang bisa dipetik di atas adalah dakwah berdasarkan dengan madzhab yang telah dianut mayoritas negeri itu. Sebab hal tersebut lebih menyatukan. Dekat kepada ukhuwah. Jika dalam urusan furu’iyyah utamakan ukhuwah.

Karena itu, madzhab bukanlah ‘kendaraan’ untuk memperbanyak pengaruh. Mengalahkan jamaa’ah lain. Menggugat ubudiyah jamaah lain. Jika masih ada yang berfikir seperti ini, maka ada masalah metodologis yang harus diselesaikan.

Berpindah madzhab dibolehkan. Tidak dilarang. Tetapi memandang minor madzhab lain adalah keliru. Sebab, akan menyebabkan perpecahan.

Mengikuti satu madzhab tertentu juga sah. Betapa banyak sekali ulama-ulama ahli hadits, ahli tafsir, tasawuf dan lain-lain yang mengikuti satu madzhab saja. Tetapi, yang tidak boleh adalah taashub pada madzhab.

Ciri ta’ashub adalah menyesatkan madzhab lain. Konsisten pada satu madzhab – tanpa menyesatkan madzhab lain – bukan lah ta’ashub, tetapi merupakan langkah konsisten pada satu metodologi ulama.

Sejauh ini, masih terdapat kesalah fahaman tentang madzhab di kalangan sebagian umat Islam. ‘Mengikuti satu madzhab itu dikata menimbulkan kejumudan’, ‘bermadzhab pada imam tertentu sama dengan fanatik’. Di lain pihak, ada pendapat yang memandang miring pada madzhab seperti menyatakan: ‘Di zaman dan negeri kita seperti ini, mengikuti madzhab satu akan menyusahkan dalam ibadah’, dan lain-lain.

Pendapat tersebut keliru dan jika diungkapkan justru membuat persoalan baru bahkan menyinggung umat Islam yang ber-madzhab. Jika semangatnya adalah ukhuwah, maka sebaiknya statemen-statemen miring terhadap orang yang bermadzhab itu disudahi.

Jika seseorang itu faham bahwa adanya madzhab itu karena dalilnya dzanni, maka sudah mestinya tidak perlu menggugat-gugat lagi sebuah madzhab. Persoalan furu’iyyah sebaiknya tidak ‘diteriakkan lantang’.  Karena bisa menyulut konflik dan perpecahan.

Perbedaan fikih atau ijtihadi sudah semestinya ditanggapi biasa dan bersikap secara wajar. Ragam fikih itu memang banyak. Namun, jangan sampai perbedaan fikih itu dijadikan alat untuk memecah-belah.

Sebetulnya tidak ada yang baru dalam keempat madzhab fikih kecuali penyusunan hadis dan fikih, kemudian menjadikan sebagai acuan dalam istinbath hukum (penggalian hukum). Tidak ada larangan/dalil untuk mengharamkan untuk bermadzhab. Justru tradisi madzhab adalah ijma ulama. Mengikuti ijma ulama lebih menyelamatkan.

Secara harfiah, madzhab berarti jalan. Madzhab adalah metode untuk memahami ajaran-ajaran agama. Dalam konteks kajian fikih, istilah madzhab diartikan sebagai cirri khas yang dimiliki seorang mujtahid, berupa menggali hukum-hukum furu’iyah yang bersifat ijtihadi yang digali dari dalil-dalil dzanni (Ahmad bin Muhammad al-Hamawi, Ghamz Uyun al-Bashair I/hal.30).

Karena itu, bagi orang awam, madzhab sangat diperlukan. Semua petunjuk dasar dan tuntutan syari’at telah tertuang dalam dua pusaka peninggalan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, al-Qur’an dan Hadis. Setiap Muslim wajib merujuk kepada dua sumber hukum tersebut untuk mengetahui segala kewajiban, larangan dan tuntutan syari’at lainnya.

Akan tetapi, sebagian petunjuk nash al-Qur’an dan Hadis masih bersifat global, simpel, dzanni (mengandung praduga), bahkan secara dzahir kerap dijumpai petunjuk nash yang terlihat kontradiktif. Untuk meng-istinbath (menggali hukum) nash-nash tersebut membutuhkan perangkat-perangkat ilmu yang tidak sederhana. Bagi Muslim awam, tentu tidak mampu menggali hukum yang terkandung di dalam nash-nash al-Qur’an dan Hadis.

Mengikuti ulama yang memiliki otoritas dengan segala aspek metodologi dan produk-produk hukumnya dinamakan bermadzhab. Madzhab merupakan hasil penelitian mendalam para ulama untuk mengetahui hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis serta dalil-dalil yang lainnya. Karena itu, bermadzhab bukan berarti menepikan al-Qur’an dan Hadis, sebab para ulama Mujtahid meneliti hukum berasaskan pada al-Qur’an dan Hadis.

Dengan pengertian singkat di atas, maka menjadi terang, konsisten pada madzhab satu itu bukan kejumudan apalagi kefanatikan. Karena, yang diikuti bukan sembarang imam. Lihatlah tahuf wafatnya para imam madzhab empat, dapat kita simpulkan bahwa mereka hidup pada masa generasi salaf, yaitu generasi yang dinilai sebagai sebaik-baik generasi (khair al-qurun) dan sebaik-baik umat berdasarkan sabda Rasulullah: “Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian mereka yang datang setelahnya, kemudian mereka yang datang setelahnya.” (HR. Al-Bukhari (2457) dan Muslim (4603).

Maka, mengikuti madzhab yang dibangun oleh imam mujtahid yang empat berarti mengikuti generasi salaf yang dinilai sebagai sebaik-baik generasi dan sebaik-baik umat.*

Ahmad Kholili Hasib
Anggota Majelis Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

sumber:
http://m.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2016/07/26/98264/madzhab-dan-ukhuwah.html#.V7xkEBmlbqA

Dan kisah tentang kisah Abu Ya’la di atas bisa dilihat dalam kitab Tarikh Islam Adz-Dzahabi pada link di bawah ini.
https://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=936&pid=486189&hid=281

Dan ini isi kitab tsb:

رقم الحديث: 281
(حديث مقطوع) قال : قرأتُ بخطّ أبي الفُتُوح يوسف بن محمد بن مقلّد الدّمشقيّ ، سمعتُ الوزير ابن هُبَيْرة ، سمعتُ أبا الحسين بن محمد بن القاضي أبي يَعْلَى ، يقول : جاء رجل من مَيَّافارقين إلى والدي ليتفقه عليه ، فقال : ” أنت شافعيُّ ، وأهل بلدك شافعية ، فكيف تشتغل بمذهب أحمد ؟ قال : قد أحببته لأجلك ، فقال : يا ولدي ما هو مصلحة ، تبقى وحدك في بلدك ما لكَ من تذاكره ، ولا تذكر له درسًا ، وتقع بينكم خصومات ، وأنت وحيد لا يطيب عَيْشُك ، فقال : إنّما أحببته وطلبته لِمَا ظهر من دينك وعِلْمك ، قال : أنا أدلّك على من هو خيرٌ مني ، الشّيخ أبو إسحاق ، فقال : يا سيدي ، إنّي لا أعرفه ، فقال : أنا أمضي معك إليه ، فقام معه ، وحمله إليه ، فخرج الشّيخ أبو إسحاق إليه ، واحترمه وعظّمه ، وبالغ ” .

SALAFI

SALAFI
@salimafillah

Karena kata “salaf”, “salafi”, dan “salafiyah” adalah sebuah kehormatan bagi setiap yang berada di atas jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya, ada syair yang sering dikutip tentang pendakuan dan kenyataan.

“Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila..
Sedang Laila tak merasa kenal satupun dari mereka..”

Siapakah salafi?

Saya dididik di Pondok Pesantren salaf, dalam makna asrama pendidikan yang tak memiliki lembaga resmi berjenjang-jenjang, yang alumninya takkan mendapat ijazah atau lembar kertas apapun yang menunjukkan dia pernah belajar apa, kapan, dan di mana. Kami mengaji sorogan dan bandungan, bermadrasah dan berkhithabah, membaca Maulidusy Syarifil Anam serta mengamalkan Ta’limul Muta’allim; semua mengalir sebagaimana kami memasak dan makan, lalu tidur di lantai berbantal persediaan beras yang membuat tak nyenyak ketika menipis di akhir bulan.

Ini pondok yang kami para santrinya bangga menempelkan stiker di kamar bertuliskan semboyan salaf ala kami itu. Bunyinya, “Lastu kahaiatikum.. Aku tidak seperti pertingkah kalian.”

Maka alangkah kagetnya saya ketika di tahap umur berikutnya berjumpa sesama muslim yang menisbat diri sebagai “salafi”, dan di matanya segala yang kami lakukan dulu keliru adanya. Ah, barangkali saya perlu duduk bersama mereka lebih lama, mengkaji bagaimana mereka mengaji, dan menemukan sesuatu yang berguna.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya adalah kami bersaudara. Dan siapa bilang saudara harus sama tanpa beda?

Saya pula berjumpa, dengan harakah yang bergerak dalam manhaj yang digariskan seorang besar bernama Hasan Al Banna, menjunjung syiar mereka sebagai Da’wah Salafiyah dan Thariqah Sunniyah.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya memang kami keluarga. Dan siapa bilang sekeluarga harus seragam tanpa ciri khas?

Saya menemukan kesalafian di dalam laku-laku hidup para mahaguru di berbagai penjuru. Kyai Zainal Abidin Munawwir Krapyak adalah sesalafi-salafinya salafi karena pada taraf paling hati-hatinya tak mau melewati gereja, tak suka memandang tiang listrik yang mirip salib, meminta agar pohon cemara yang identik sebagai simbol natal ditebang, tak sepeserpun mau menerima sumbangan pejabat, dan ketegasannya soal syubhat digambarkan Kakanda Iparnya, KH Ali Maksum sebagai “Cagaknya Langit.”

Daftar yang seperti beliau di Nahdlatul Ulama, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat sesalafi salafinya salafi itu adalah KH AR Fakhruddin; yang lebih dari 2 dasawarsa memimpin Muhammadiyyah tapi tak pernah punya rumah, yang menafkahi keluarganya dari berjualan bensin, yang sepeda motor bututnya legendaris, yabg berulangkali menolak menjadi Menteri, yang menerima uang bermilyar-milyar tapi semua untuk persyarikatan dan digelari “Talang Ora Teles”, alias saluran air yang tak pernah basah.

Daftar yang seperti beliau di Muhammadiyyah, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat KH Rahmat Abdullah sebagai sesalafi-salafinya salafi dalam budaya belajarnya, ketekunan pengkajiannya, keteguhannya membina anak muda, penjagaan ashalah dakwahnya, kekuatan ruhiyah, dan kezuhudannya pada dunia.

Etos salafi sejati selalu mempesona jiwa, dan hari ini kami melepas seorang dengan nyala jihad yang sama.

Selamat jalan guru, mujahid, rekan relawan, dan saudara kami, Al Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda. Orang menyebutmu “Salafi”, ada yang karena cinta, ada pula yang belum memahami, atau bahkan benci. Tapi siapapun yang mengenalmu akan mengerti, etos salafi yang dihidupkan dalam akhlaq imani, akan mempesona bagi semua hati.

RIBUT

RIBUT
@salimafillah

Adalah Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits tentang shalat sunnah qabliyah Maghrib dan menyatakan keshahihannya. Tetapi sungguh aneh, belum pernah para muridnya menyaksikan beliau mengamalkan ibadah tersebut.

“Mengapa?”, tanya mereka.

“Sebab penduduk Baghdad telanjur mengambil pendapat Imam Abu Hanifah”, ujar beliau, “Yang menyatakan tiadanya shalat qabliyah Maghrib. Kalau aku mengamalkan hal yang berbeda, niscaya akan menimbulkan keributan di antara mereka.”

Meninggalkan suatu sunnah yang diyakini keutamaannya demi terjaganya harmoni masyarakat ternyata adalah ‘amal utama.

“Karena itu para Aimmah seperti Imam Ahmad atau yang lainnya”, demikian ditulis Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, “Menganggap sunnah apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum.”
“Demikian juga orang-orang yang menganggap melirihkan suara ketika membaca basmalah (dalam shalat berjamaah) adalah lebih utama atau sebaliknya”, sambungnya, “Sedangkan makmum berbeda dengan pendapat atau madzhabnya, maka dia boleh mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kemashlahatan persatuan. Hal ini lebih kuat dibandingkan permasalahan mana yang afdhal dari kedua perkara tersebut, dan ini adalah baik.”

Jalan sunnah adalah jalan tak suka ribut tentang khilafiyah furu’iyyah. Jalan sunnah adalah jalan yang meminta kita tak perlu tampil mencolok dan terlihat berbeda.

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal menekankan hal ini sampai soal berpakaian. Beliau menegur seorang yang ditemuinya di Baghdad dalam keadaan memakai pakaian penduduk Makkah.

“Tidak cukupkah bagimu pakaian yang biasa dikenakan orang ‘Iraq?”

“Bukankah ini pakaian yang baik, pakaian dari tempat bermulanya Islam?”

“Ya”, jawab beliau, “Akan tetapi aku khawatir pakaian itu menghinggapkan rasa sombong dan aku khawatir ia adalah pakaian kebanggaan (libasusy syuhrah) yang dilarang oleh Rasulullah, karena dikenakan agar pemakainya tampak menonjol di tengah khalayak.”

USTADZ SUNNAH

USTADZ SUNNAH
@salimafillah

Ada istilah yang baru-baru ini membuat dahi berkerenyit, ketika sebagian penuntut ilmu membuat kategorisasi adanya “Ustadz Sunnah” dan “Kajian Sunnah”. Saya berfikir, jadi yang selain itu, ustadz apa dan kajian apa?

Dua kemungkinan. Kalau “sunnah” di situ kebalikan dari “bid’ah”, maka berarti ada ustadz bid’ah dan kajian bid’ah. Atau kalau “sunnah” di situ kebalikan dari “makruhah”, berarti ada ustadz makruh dan kajian makruh.

Betapa tak nyaman bagi yang terkena gelaran.

Tidak, saya tak hendak menyalahkan pembuat istilah. Mereka yang bersemangat menuntut ilmu adalah orang-orang yang dimudahkan jalannya ke surga. Betapa saya berharap menjadi bagian dari mereka, walau mungkin hanya senilai anjing bagi Ashhabul Kahfi atau bahkan debu yang menempel di kaki.

Tapi bersama itu, mohon izin saya ceritakan ulang kisah berikut ini.

“Suatu kali”, demikian dihikayatkan Imam Tajuddin As Subki dalam Thabaqatusy Syafi’iyyah Al Kubra, “Seorang perempuan mendatangi majlis ilmu yang dihadiri oleh para Imam ahli hadits. Di antara mereka terdapatlah Imam Yahya ibn Ma’in, Imam Abu Khaitsamah, Khalaf ibn Salim, dan banyak lagi yang lain. Mereka saling menyebutkan hadits, mentartibkan sanad-sanadnya, dan membilang keragaman matannya.”

Ketika mereka sedang saling berbagi hadits, tetiba perempuan itu menyela. “Wahai para berilmu”, ujarnya, “Aku adalah seorang wanita yang bekerja sebagai tukang memandikan jenazah. Bagaimanakah hukumnya untukku jika harus memandikan jenazah ketika aku sedang dalam keadaan haidh?”

Semua ‘ulama besar yang hadir waktu itu tidak ada yang mampu menjawab. Mereka jadi saling berpandangan satu sama lain. Dalam benak mereka, tak satupun hadits yang dapat digunakan langsung untuk menjawab persoalan itu.

Ketika majelis itu terjeda hening karena tetap tak ada jawaban yang dinantikan, tetiba masuklah Imam Abu Tsaur, murid Imam Asy Syafi’i.  Di antara ‘ulama yang ada di sana pun lalu menunjuk ke arah beliau sembari berkata kepada tukang memandikan jenazah tersebut, “Tanyakanlah kepada orang yang baru datang itu, sebab dia adalah murid dari pemilik akal separuh penduduk dunia.”

Perempuan itupun menoleh dan mendekat kepada sang Imam. Ditanyakannyalah hal serupa yang sungguh merisaukan dirinya, “Bolehkah wanita haidh memandikan jenazah?”

Imam Abu Tsaur tersenyum. “Tentu saja boleh, tidak ada masalah”, ujarnya. “Kamu boleh memandikan jenazah itu dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Al Ahnaf, dari Al Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Adapun haidhnya dirimu bukanlah berada di tanganmu.” Dan juga berdasarkan perkataan Ibunda kita ‘Aisyah, “Aku pernah menyirami, membasuh, dan membersihkan kepala Rasulullah dengan air lalu menyela-nyelai rambut beliau, menyisir, serta meminyakinya. Padahal waktu itu aku dalam keadaan haidh.”

“Apabila kepala orang hidup saja, dan bahkan adalah Nabi”, simpul Imam Abu Tsaur, “Boleh disiram, dibasuh, dan dibersihkan oleh wanita yang sedang haidh, apalagi orang yang sudah mati. Tentu kebolehannya lebih jelas lagi.”

Mendengar jawaban yang sangat jeli itu, serta-merta para ahli hadits yang hadir waktu tersebut berebutan membacakan hadits yang telah disebutkan oleh Abu Tsaur dari segala thuruq atau jalur periwayatan yang ada pada mereka. Salah satunya berkata, “Telah menceritakan si Fulan kepadaku..” Yang lain menimpali, “Kami mengenalnya melalui riwayat si Fulan..” Sampai akhirnya mereka membahas derajat berbagai macam riwayat hadits tersebut.

Melihat hal ini, si tukang memandikan jenazah berkata heran, “Aduhai.. Ke mana saja kalian sebelum ini?”

Kisah ini sama sekali bukan dalam rangka merendahkan kedudukan para Imam Ahlil Hadits yang mulia. Tidak. Ini hanya, gambaran penting atas apa yang disampaikan Al Imam Asy Syafi’i. Beliau menyatakan bahwa Ahli Fiqih bagaikan dokter yang bukan hanya tahu tentang khazanah obat, melainkan juga kondisi pasiennya. Sementara itu para Ahli Hadits adalah apotekernya.

Sudah seharusnya mereka bekerjasama, bukan saling menjauh dan saling mengatakan bahwa yang satu tak paham obat, yang lain tak mengerti pasien. Atau mengatakan bahwa Ahli Fiqih banyak membuat bid’ah, padahal sebenarnya pendapat mereka berdasar sumber yang shahih tapi disesuaikan dosisnya dengan kondisi masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Atau mengatakan bahwa Ahli Hadits menyusahkan orang, padahal mereka memang hanya memberikan obat dengan dosis yang belum ditulis.

Kalau yang dimaksud Ustadz Sunnah dan Kajian Sunnah adalah para Ahli Hadits, pergi ke Apoteker memang menjadikan kita memperoleh obat. Jawabannya terang dan pasti; sakit A maka obatnya X.

Tapi cobalah sesekali datang ke majelis Ahli Fiqih yang mungkin tidak tampak sebagai Ustadz Sunnah dan Kajian Sunnah; barangkali di sana kita akan berjumpa dokter yang akan memeriksa kesesuaian kondisi badan kita dengan obat yang ada.

Kadang memang majelis seperti ini tidak langsung tegas memberi jawab obatnya apa. Telaahnya sering agak memutar, rumusannya sering tak pasti, tapi ia memberi kita wawasan untuk berpikir serta memutuskan pilihan sendiri. Demikianlah terapi yang mendewasakan kita dalam beragama kita..

Agama, Akal dan Pemahaman

Membaca satu status, ada yang menulis kalimat “saya nda butuh logika, krn syariat bukan diakal2in..”.

Kalimat ini menjadi penyebab munculnya teroris-teroris yang buta logikanya.

Islam itu realistis, dan mudah difahami. Islam sangat mengedepankan pemahaman, itu sebabnya dalam islam ada ilmu Fiqih, dan arti dari kata Fiqih adalah pemahaman.

Satu lagi, salah satu syarat mukallaf adalah “berakal”. Artinya, dia bisa memahami mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, “memahami” adalah salah satu landasan agama kita ini.

Hati-hati dengan ajaran yang mematikan logika dengan alasan takut “ngakalin” dalil. Logika itu penting, karena memahami itu wajib. “Ngakalin” dalil itu tidak boleh, tapi menggunakan akal untuk memahami dalil itu wajib. Siapa yang bisa membedakan kedua hal ini, insya Allah bisa selamat dari aliran yang mudah menuduh ke sana-sini yang ujung-ujungnya menarik kita ke wilayah terorisme.

Dalam Islam, memahami itu wajib dan penting.

image