Jangan seperti Khawarij

Salah satu ciri khas kaum Khawarij adalah sering menyerang kaum muslim lainnya dengan menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir.

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Lantas, apa contoh ayat yang sebenarnya ditujukan untuk orang kafir tapi sering digunakan untuk menyerang sesama muslim?

Di bawah ini adalah contohnya.

1. Ayat ‘Aamilatun Naashibah

Ini adalah ayat ketiga dalam surat Al-Ghaashiyah:

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

“bekerja keras lagi kepayahan,”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang menolak bahwa Allah adalah pencipta langit, bumi, gunung dan hewan-hewan, sebagaimana telah disebutkan dalam ayat 17 sampai 20 dalam surat yang sama.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,”

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “bekerja keras lagi kepayahan” ini untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang akan masuk neraka dengan kepayahan karena amal bid’ah mereka telah sia-sia. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

2. Ayat yuhsinuuna sun’aa

Ini adalah ayat nomor 104 dalam surat Al-Kahfi:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang tidak mau menerima ayat-ayat Allah dan mereka tidak meyakini bahwa mereka nanti akan kembali kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikutnya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “yang telah sia-sia perbuatannya dan mereka menyangka bahwa amal mereka itu baik” ini  untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang telah tertipu oleh amalan mereka sendiri. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka juga mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

3. Ayat “mengikuti mayoritas”

Ini adalah ayat nomor 116 dalam surat Al-An’aam:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Ayat ini turun kepada nabi kita agar nabi kita tidak mengikuti kaum kafir yang jumlahnya mayoritas saat itu. Artinya, yang dimaksud dengan kelompok yang jumlahnya banyak di sini adalah kaum kafir, bukan kaum muslimin. Akan tetapi, ayat ini sering dipakai oleh sebagian ummat Islam untuk menyalahkan kelompok mayoritas yang ada di dalam tubuh ummat Islam sendiri. Akhirnya, muncullah kelompok  minoritas muslim yang menuduh sesat pada kelompok mayoritas muslim, sama seperti ketika kaum khawarij dulu menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kelompok yang sesat.

Bagaimana mungkin, Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk bermusyawarah dalam setiap urusan kita, tiba-tiba berubah menjadi kitab yang menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kaum yang telah tersesat? Dan semua ini terjadi karena ayat yang berbicara tentang orang kafir ternyata dibelokkan artinya menjadi berbicara tentang ummat Islam.


Demikianlah tiga contoh ayat Al-Qur’an yang sebenarnya berbicara tentang orang kafir, tapi sering digunakan oleh sebagian orang untuk mensifati sesama muslim.

Semoga kita semua bisa terhindar dari pemahaman seperti ini, karena hal ini adalah salah satu ciri kaum Khawarij.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s