Islam dan Indonesia

Kita hidup di Indonesia, maka siapapun yang terpilih sebagai pemimpin, agama apapun juga dia, harus kita terima. Ini wujud keislaman kita dalam bentuk menghormati perjanjian yang telah kita tentukan bersama.

Tapi sebelum pemilu dimulai, dalilnya lain lagi. Kita adalah muslim, dan kita wajib memilih muslim juga sebagai pemimpin kita. Karena hanya pemimpin muslim-lah yang bisa mengarahkan ummat Islam ke arah yang lebih baik dalam masalah dunia dan akhirat.

Jangan dibalik. Sebelum pemilu malah milih non-muslim, atau setelah pemilu, kalau non-muslim yang terpilih, lalu bikin pemberontakan.
Ini namanya menempatkan dalil yang tidak tepat.

Kita harus memilih pemimpin muslim, dan setelah pemilu selesai kita harus menerima siapapun yang terpilih. Itulah Islam yang benar untuk kita yang berada di Indonesia.

Advertisements

Tidak boleh Taqlid?

Dulu para imam madzhab dan para ulama terdahulu, mereka meneliti dalil-dalil lalu mereka memberikan fatwa mereka.

Sekarang, ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh bermadzhab, dan tidak boleh mengikuti fatwa para ulama tersebut apa adanya.

Katanya, kita harus meneliti ulang dalil mereka, lalu baru kita pilih pendapat yang paling kuat, itulah pendapat yang benar, dan pendapat di luar itu adalah salah.

Maka, kita tidak boleh taqlid pada fatwa imam madzhab atau fatwa imam terdahulu.

Kita harus tahu dalilnya.

Dan yang boleh menentukan shahih tidaknya dalil tersebut haruslah Syaikh Albani.

Dan yang boleh meneliti ulang dalil-dalil itu hanyalah ulama Saudi Arabia saja.

Dan satu-satunya fatwa yang benar dan harus diikuti hanyalah fatwa Lajnah Daaimah Saudi Arabia saja.

Kesimpulannya, tidak boleh taqlid?

note:
kalau hati kita masih terbuka, seharusnya kita bisa melihat ada yang aneh di sini.

Jangan seperti Khawarij

Salah satu ciri khas kaum Khawarij adalah sering menyerang kaum muslim lainnya dengan menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir.

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Lantas, apa contoh ayat yang sebenarnya ditujukan untuk orang kafir tapi sering digunakan untuk menyerang sesama muslim?

Di bawah ini adalah contohnya.

1. Ayat ‘Aamilatun Naashibah

Ini adalah ayat ketiga dalam surat Al-Ghaashiyah:

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

“bekerja keras lagi kepayahan,”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang menolak bahwa Allah adalah pencipta langit, bumi, gunung dan hewan-hewan, sebagaimana telah disebutkan dalam ayat 17 sampai 20 dalam surat yang sama.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,”

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “bekerja keras lagi kepayahan” ini untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang akan masuk neraka dengan kepayahan karena amal bid’ah mereka telah sia-sia. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

2. Ayat yuhsinuuna sun’aa

Ini adalah ayat nomor 104 dalam surat Al-Kahfi:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Ayat ini diturunkan kepada kaum kafir yang tidak mau menerima ayat-ayat Allah dan mereka tidak meyakini bahwa mereka nanti akan kembali kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikutnya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

Akan tetapi, ada juga sebagian ummat Islam yang menggunakan ayat “yang telah sia-sia perbuatannya dan mereka menyangka bahwa amal mereka itu baik” ini  untuk menuduh sesama muslim sebagai ahli bid’ah yang telah tertipu oleh amalan mereka sendiri. Tuduhan ini muncul karena mereka memaknai ayat ini sebagai ayat yang berbicara tentang larangan berbuat bid’ah dalam masalah fiqih ibadah. Mereka juga mengatakan bahwa muslim yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan cara mereka adalah muslim yang telah berbuat bid’ah, dan harus masuk neraka berdasarkan ayat ini. Sungguh jauh pemahaman mereka dengan kepada siapa sebenarnya ayat ini turun.

3. Ayat “mengikuti mayoritas”

Ini adalah ayat nomor 116 dalam surat Al-An’aam:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Ayat ini turun kepada nabi kita agar nabi kita tidak mengikuti kaum kafir yang jumlahnya mayoritas saat itu. Artinya, yang dimaksud dengan kelompok yang jumlahnya banyak di sini adalah kaum kafir, bukan kaum muslimin. Akan tetapi, ayat ini sering dipakai oleh sebagian ummat Islam untuk menyalahkan kelompok mayoritas yang ada di dalam tubuh ummat Islam sendiri. Akhirnya, muncullah kelompok  minoritas muslim yang menuduh sesat pada kelompok mayoritas muslim, sama seperti ketika kaum khawarij dulu menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kelompok yang sesat.

Bagaimana mungkin, Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk bermusyawarah dalam setiap urusan kita, tiba-tiba berubah menjadi kitab yang menuduh mayoritas ummat Islam sebagai kaum yang telah tersesat? Dan semua ini terjadi karena ayat yang berbicara tentang orang kafir ternyata dibelokkan artinya menjadi berbicara tentang ummat Islam.


Demikianlah tiga contoh ayat Al-Qur’an yang sebenarnya berbicara tentang orang kafir, tapi sering digunakan oleh sebagian orang untuk mensifati sesama muslim.

Semoga kita semua bisa terhindar dari pemahaman seperti ini, karena hal ini adalah salah satu ciri kaum Khawarij.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Pengertian Dari Kalimat, “Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”

Pengertian Dari Kalimat, “Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”
-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i-

Assalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh …

Bismillaah Wal Hamdulillaah …
Wash-sholaatu Was-salaamu ‘Alaa Rasuulillaah …
Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah …

Perkataan Imam mazhab yang empat yang sering disalah pahami adalah seperti perkataan dari al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah:

إِنْ صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

“Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”

Semua ulama sepakat bahwa kalam tersebut benar-benar wasiat Imam Syafi’i, tentang redaksinya ada beberapa riwayat yang berbeda namun memiliki maksud yang sama.

Lalu bagaimana sebenarnya maksud dari wasiat Imam Syafi’i ini? Apakah setiap pelajar yang menemukan sebuah hadits yang shahih bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i maka pendapat Imam Syafii tidak dapat di terima. Kalau hanya semudah itu tentu akan menjadi tanda tanya sejauh mana keilmuan Imam Syafi’i, terutama dalam penguasaan ilmu hadits.

Perkataan  al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah tersebut adalah contoh sikap tawadhu atau rendah hati.  Beliau hanya ingin mengingatkan kita bahwa mengikuti pendapat mereka tetap merujuk kepada dari mana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah.

Al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah menghafal dan mendapatkan hadits langsung dari  para Salafush Sholeh. Beliau melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.

Hadits-hadits yang  dihafal dan diketahui oleh beliau LEBIH BANYAK dari hadits yang telah dibukukan. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim tetap bertalaqqi (mengaji ) dengan ulama-ulama bermazhab.

Jadi aneh kalau ada ulama yang berpendapat bahwa  dia telah menemukan sebuah hadits shahih pada suatu kitab sehingga tidak perlu mengikuti pendapat  Imam Mazhab yang empat. Haditsnya shahih, namun pemahaman mereka terhadap hadits tersebut yang menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat.

Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan Al-Imam Al-Syafi’i, “Idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, sedangkan Al-Syafi’i TIDAK TAHU terhadap hadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita HARUS MENGIKUTI hadits tersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i. Akan tetapi apabila hadits tersebut TELAH DIKETAHUI oleh Al-Imam Al-Syafi’i, sementara hasil ijtihad beliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebut memang bukan madzhab beliau. Hal ini seperti ditegaskan oleh Al-Imam Al-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 1 / 64.

Oleh karena demikian, para ulama menyalahkan Al-Imam Al-Hafizh Ibn Al-Jarud, seorang ulama ahli hadits bermadzhab Al-Syafi’i, di mana setiap ia menemukan hadits shahih bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, Ibn Al-Jarud langsung mengklaim bahwa hadits tersebut sebenarnya madzhab Al-Syafi’i, berdasarkan pesan Al-Syafi’i di atas, tanpa meneliti bahwa hadits tersebut telah diketahui atau belum oleh Al-Imam Al-Syafi’i.

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Khuzaimah Al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam Al-Aimmah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketika ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh Al-Imam Al-Syafi’i dalam ijtihad beliau ? Ibn Khuzaimah menjawab, “TIDAK ADA”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer Al-Bidayah wa Al-Nihayah (juz 10, hal. 253).

Untuk lebih memahaminya, ada baiknya kita lihat bagaimana komentar Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ terhadap wasiat Imam Syafi’i tersebut. Imam Nawawi mengatakan :

وهذا الذى قاله الشافعي ليس معناه ان كل أحد رأى حديثا صحيحا قال هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره: وانما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه: وشرطه أن يغلب على ظنه أن الشافعي رحمه الله لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته: وهذا انما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها وهذا شرط صعب قل من ينصف به وانما اشترطوا ما ذكرنا لان الشافعي رحمه الله ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك
“Bukanlah maksud dari wasiat Imam Syafi’i ini adalah setiap orang yang melihat hadits yang shahih maka ia langsung berkata inilah mazhab Syafi’i dan langsung mengamalkan dhahir hadits. WASIAT INI HANYA DITUJUKAN KEPADA ORANG YANG TELAH MENCAPAI DERAJAT IJTIHAD DALAM MAZHAB, sebagaimana telah terdahulu (kami terangkan) kriteria sifat mujtahid atau mendekatinya. Syarat seorang mujtahid mazhab baru boleh menjalankan wasiat Imam Syafi’i tersebut adalah telah kuat dugaannya bahwa Imam Syafi’i TIDAK MENGETAHUI HADIST TERSEBUT ATAU TIDAK MENGETAHUI KESAHIHAN HADISTNYA. Hal ini hanya didapatkan setelah menelaah semua kitab Imam Syafi’i dan kitab-kitab pengikut beliau yang mengambil ilmu dari beliau. Syarat ini sangat sulit di penuhi dan sedikit sekali orang yang memilikinya. Para ulama mensyaratkan demikian karena Imam Syafi’i mengabaikan makna eksplisit dari banyak hadits yang beliau temukan dan beliau ketahui namun itu karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu atau hadits itu telah di nasakh, di takhshish, atau di takwil atau lain semacamnya”. (Majmuk Syarh Muhazzab Jilid 1 hal 64)

Dari komentar Imam Nawawi ini sebenarnya sudah sangat jelas bagaimana kedudukan wasiat Imam Syafi’i tersebut, kecuali bagi kalangan yang merasa dirinya sudah berada di derajat mujtahid mazhab yang kata Imam Nawawi sendiri pada zaman beliau sudah sulit di temukan.

Ulama besar lainnya, Imam Ibnu Shalah menanggapi wasiat Imam Syafi’i ini dengan kata beliau

وليس هذا بالهين فليس كل فقيه يسوغ له أن يستقل بالعمل بما يراه حجة من الحديث
“Tugas ini bukanlah perkara yang mudah, tidaklah setiap faqih boleh mengamalkan hadits yang dinilainya boleh dijadikan hujjah”. (Ibnu Shalah, Adabul Mufti wal Mustafti hal 54, dar Ma’rifah)

Hal ini tak lain karena wawasan Imam Syafi’i tentang hadits yang sangat luas, sehingga ketika ada pendapat beliau yang bertentangan dengan satu hadits shahih tidak sembarangan orang bisa menyatakan bahwa Imam Syafi’i tidak mengetahui adanya hadits tersebut, sehingga pendapat beliau mesti ditinggalkan karena bertentangan dengan hadits. Karena boleh jadi Imam Syafi’i meninggalkan hadits shahih tersebut karena ada sebab-sebab yang mengharuskan beliau meninggalkan hadits tersebut, misalnya karena hadits tersebut telah di nasakh, takhsish dan hal-hal lain. Untuk dapat mengetahui hal tersebut tentunya harus terlebih dahulu menguasai kitab-kitab Imam Syafi’i dan shahabat beliau.

IMAM NAWAWI YANG HIDUP DI ABAD KE-6 HIJRIAH MENGAKUI SULITNYA MENDAPATI ORANG YANG MENCAPAI DERAJAT INI, JADI BAGAIMANA DENGAN KITA YANG HIDUP JAUH DARI ZAMAN IMAM NAWAWI ?
—————————————————–
Tentang wawasan Imam Syafi’i dalam ilmu hadits, Imam Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh Dimasyqi meriwayatkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal :

ما أحد يعلم في الفقه كان أحرى أن يصيب السنة لا يخطئ إلا الشافعي
“Tidak ada seorangpun yang mengetahui fiqh yang lebih hati-hati supaya sesuai dengan sunnah dan tidak tersalah kecuali Imam Syafi’i.” (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq jilid 51 hal 350 dar Fikr).

Imam Ahmad bin Hanbal juga mengakui bahwa pendapat Imam Syafi’i memiliki hujjah yang kuat. Suatu hari, Abu Turab Al-Bashri sedang berdiskusi bersama Imam Ahmad bin Hanbal tentang suatu masalah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ahmad :

يا أبا عبد الله لا يصح فيه حديث
“Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad bin Hanbal), tidak ada hadits shahih dalam masalah ini.”

Imam Ahmad menjawab :

إن لم يصح فيه حديث ففيه قول الشافعي وحجته أثبت شئ فيه
“Jika tidak ada hadits shahih dalam hal ini, sudah ada perkataan Asy-Syafi’i di dalamnya. Hujjahnya paling kokoh dalam masalah ini.” (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq jilid 51 hal 351 dar Fikr).

Dalam sejarah ada beberapa ulama yang berusaha mengamalkan wasiat Imam Syafi’i tersebut seperti Abi Al-Walid Ibn Al-Jarud dan Abu Walid an-Naisaburi ketika mengamalkan hadits “orang berbekam dan yang dibekam batal puasanya” dan meninggalkan mazhab Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa berbekam tidak membatalkan puasa. Namun keduanya justru di tolak karena ternyata Imam Syafi’i meninggalkan hadits ini karena menurut Imam Syafi’i hadits ini adalah mansukh.

Demikian juga dengan beberapa ulama Mazhab Syafi’i yang para awalnya meninggalkan pendapat Imam Syafi’i yang menyatakan sunat qunut shubuh dengan alasan hadits Nabi meninggalkan qunut merupakan hadits yang shahih, namun pada akhirnya mereka rujuk setelah mendapati bahwa pendapat Imam Syafi’i memiliki hujjah yang kuat dan tidak menentang dengan hadits shahih. (Lihat as-Subki, Ma’na Qaul Imam Muthallibi “Iza shahha al-hadits fahuwa mazhaby”, hal 91, 95).

Maka dari penjelasan para ulama-ulama yang kami kutip di atas, bisa kita lihat bahwa tidaklah serta merta ketika seseorang menemukan satu hadits shahih sedangkan pendapat Imam Syafi’i sebaliknya maka ia langsung mengklaim bahwa pendapat Imam salah dan harus mengamalkan seperti dhahir hadits. Selain itu perkataan Imam Syafi’i tersebut bukanlah berarti sebagai larangan taqlid kepada beliau, sebagaimana sering di dengungkan oleh kalangan “anti taqlid kepada Imam mujtahid”. Murid-murid Imam Syafi’i yang belajar langsung kepada beliau masih taqlid kepada beliau, kemudian mereka juga mengajarkan fiqh Mazhab Syafi’i kepada murid-murid mereka sehingga mazhab Syafi’i tersebar ke seluruh penjuru dunia. Bila Imam Syafi’i semasa hidup beliau telah melarang taqlid kepada beliau tentunya mazhab beliau tidak akan tersebar, karena para murid-murid beliau tidak mengajarkan mazhab beliau, tetapi mazhab mereka masing-masing. Namun kenyataannya adalah sebaliknya. Dakwaan bahwa Imam Syafi’i melarang taqlid kepada beliau hanya muncul belakangan semenjak lahirnya kaum anti taqlid kepada Imam Mujtahid.

Perlu di ingatkan bahwa ajakan berpegang kepada Al-Qur’an dan hadits langsung dan meninggalkan pendapat mujtahid merupakan yang hal berbahaya, karena nantinya setiap insan akan berani memahami ayat dan hadits dengan kepala mereka sendiri dengan sangkaan bahwa ilmu mereka cukup untuk berijtihad, padahal ulama sekaliber Imam Ghazali, Imam Nawawi, Rafi’i dan Ibnu Hajar al-Haitami dan ulama besar lainnya ternyata masih bertaqlid kepada mazhab Syafi’i.

Pada hakikatnya, ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan hadits hanyalah ajakan untuk mengikuti pemahaman Al-Qur’an menurut mereka yang berarti mengajak untuk taqlid kepada mereka semata dan meninggalkan taqlid kepada para imam mazhab yang telah di ikuti oleh umat ratusan tahun lamanya. Makanya di sini kami menyebutkan mereka dengan golongan “anti taqlid kepada Imam Mujtahid” karena ketika mereka mengajak meninggalkan mazhab dan menawarkan solusi kembali kepada al-quran dan hadits, ternyata penafsiran al-quran dan hadits yang mereka tawarkan adalah penafsiran versi mereka, artinya akan terjatuh kepada taqlid kepada mereka juga.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

#ini adalah artikel kiriman teman.

Islam ini sejatinya agama yang cinta damai

🌴 Islam ini sejatinya agama yang cinta damai dan menentramkan 🌴

📛 Tetapi semenjak muncul fahaman wahabi, Islam yang damai dan tentram menjadi tercemari oleh mereka. Ajaran yang di usung oleh wahabi sejatinya bukan ajaran Islam, karena mereka telah membuat ajaran baru berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan bercanggah daripada ajaran ulama terdahulu. Namun liciknya mereka mendakwakan diri dengan slogan “kembali  kepada Qur’an dan sunnah” atau “mengikut manhaj salaf”.

💥 Padahal Qur’an dan sunnah jauuuuh sekali dari apa yang mereka dakwakan.  Mereka sama sekali tidak mengikut dan tidak mengenal mazhab, dalam perkara furu’ syar’i maupun ushul syar,’i. Bahkan ada diantara mereka yang sampai menghukum kufur ulama mazhab wal’iyadzubillah.

🎭 Kalaupun diantara mereka ada yang mengambil fatwa ulama mazhab, maka sejatinya ini hanya kedok belaka untuk mengelabuhi agar seolah2 mereka bermazhab. Padahal sebenarnya mereka hanya memilih fatwa yang sesuai hawa nafsu mereka saja.

📋 Sebagai bukti inkonsistensi ajaran mereka, dalam perkara zakat mereka mengatakan zakat fitrah tidak sah dengan uang dengan mengambil qoul Imam Nawawi, tetapi dalam masalah takwil ayat mutasyabihat mereka tidak mau mengikuti dan menolak mentah2 fatwa Imam Nawawi bahkan mereka sampai berani menggelari Imam Nawawi sebagai ahlul bid’ah.

🔏 Seolah2 mereka ini laksana hakim mumpuni yang berhak mengkoreksi fatwa Imam Nawawi. Padahal mereka sangat jaauuuh dari Imam Nawawi baik dari sisi keilmuan maupun amaliyah ibadah. Dan ini menunjukkan betapa sangat buruknya akhlak mereka terhadap ulama terdahulu.

📑Inilah diantara model ajaran radikal wahabi yang inkonsisten dan jauh dari tuntunan syariat. Belum lagi tindakan ekstrim yang mereka lakukan dengan teror bom yang sama sekali jauh dari nilai2 keislaman.

⚠ Hendaknya kita bersungguh2 untuk membentengi keluarga kita dari fahaman radikal wahabi yang menjerumuskan. Ikuti al-Qur’an dan Sunnah dengan mengikut fahaman ulama bukan dengan penafsiran pribadi atau kelompok. Ambilah ilmu agama (bersanad) dari guru yang tsiqoh (terpercaya) secara talaqqy, bukan setakat dari internet atau buku. Insya Allah dengannya kita akan bersama golongan yang selamat.


Tambahan, silakan lihak link di bawah ini.
http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=id&View=Page&PageID=880&PageNo=1&BookID=3

Di bagian paling bawah, ketika menilai pendapat imam Nawawi, para ulama Wahabi menuliskan: Kesalahan mereka ialah mentakwilkan teks-teks sifat, dan menyelisihi para salaf dan imam Ahlussunnah, baik mentakwilkan semua sifat dzat dan sifat af’al (tindakan), atau sebagiannya saja.

Ini bukti bahwa kaum wahabi mengatakan bahwa fatwa Imam Nawawi telah salah, lalu mereka mengatakan bahwa pendapat kaum wahabi-lah yang sesuai dengan pendapat para sahabat nabi dan para ulama terdahulu.

Semoga Allah menjauhkan diri kita dari bencana pemikiran ini, Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.

Ciri aliran sesat atau salah menurut MUI Aceh (Salafi Sesat?)

Berikut adalah fatwa MUI Aceh tentang ciri-ciri aliran yang sesat atau salah, yang sebagian besar ciri-ciri ini  ada pada aliran yang bernama kelompok Salafi yang ada di Gampong Pulo Raya Kecamatan Titeu Kabupaten Pidie, Aceh. Tidak menutup kemungkinan ciri ini ditemukan juga pada kelompok lain, atau kelompok Salafi yang ada di tempat lain.

Mari kita cermati apa ciri-ciri aliran yang sesat atau salah tersebut.


FATWA TENTANG PEMAHAMAN, PEMIKIRAN, PENGAMALAN DAN PENYIARAN AGAMA ISLAM DI ACEH

PERTAMA : Bidang Aqidah  

A. Mengimani bahwa zat Allah hanya di atas langit/’arasy adalah sesat dan menyesatkan; 

B. Mengimani bahwa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan; 

C. Mengimani bahwa kalamullah itu berhuruf dan bersuara adalah sesat dan menyesatkan; 

D. Mengimani bahwa Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS bukan Rasulullah adalah sesat dan menyesatkan. 

KEDUA :  Bidang Ibadah  

A. Pemahaman yang membolehkan niat shalat diluar takbiratul ihram adalah salah; 

B. Pemahaman yang mengharamkan qunut pada shalat shubuh adalah salah; 

C. Pemahaman yang menyatakan bahwa haram memperingati maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah; 

D. Pemahaman yang menyatakan bahwa haram berzikir dan berdo’a secara berjama’ah adalah salah; 

E. Pemahaman yang menyatakan bahwa wajib mengikuti hanya Al-Quran dan Hadits dalam bidang Aqidah, Syari’ah dan Akhlak  adalah salah.           

KETIGA   : Taushiyah

A. Meminta pemerintah untuk segera menutup pengajian, penyiaran dan ceramah yang difatwakan sesat oleh Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh seperti pengajian Kelompok Salafi di Gampong Pulo Raya Kecamatan Titeu Kabupaten Pidie dan ditempat lainnya serta melarang aktivitasnya; 

B. Meminta kepada masyarakat untuk tidak mengikuti pengajian, ceramah, penyiaran dan diskusi yang menyimpang dari ajaran Islam; 

C. Meminta kepada orang tua (wali) untuk melarang anaknya mengikuti pendidikan dan kegiatan lainnya yang menyimpang dari Islam; 

D. Meminta kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, dan ukhuwah

E. Meminta kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu keagamaan dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan;

F. Meminta kepada orang-orang yang terlanjur mengikuti ajaran menyimpang untuk segera bertobat dan membekali diri dengan ajaran Islam yang benar

G. Meminta kepada pihak terkait untuk menindaklanjuti Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh ini.  

Ditetapkan di  :   Banda Aceh             Pada tanggal   :   27 Sya’ ban 1435 H             25 Juni 2014 M 

PIMPINAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA ACEH K e t u a, 
d.t.o.
Drs. Tgk. H. Gazali Mohd. Syam  

Wakil Ketua, 
d.t.o.   Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA
Wakil Ketua, 
d.t.o.   Tgk. H.M. Daud Zamzamy
Wakil Ketua, 
d.t.o.  Tgk. H. Faisal Ali

Di atas adalah fatwa MUI Aceh tentang aliran yang sesat atau salah, salah satunya adalah aliran kelompok Salafi di Gampong Pulo Raya, Aceh.

Dan di bawah ini adalah saran dari saya pribadi untuk semua yang membaca artikel ini.

Saran:

1. Mari kita jaga agar keluarga kita, kerabat kita, anak-anak kita dan teman-teman kita, tidak teracuni oleh pemikiran aliran yang sesat atau salah seperti ini.

2. Kalau ada keluarga, kerabat, anak atau teman kita yang sudah teracuni pemikiran yang sesat atau salah ini, usahakan untuk bisa sesegera mungkin kita tarik keikutsertaannya dari pengajian-pengajian yang memiliki ciri-ciri seperti di atas.

3. Lihat juga sekolah anak kita, atau sekolah-sekolah yang ada di dekat kita. Kalau ada ciri-ciri yang cocok, hati-hati. Berkonsultasilah dengan ulama atau MUI setempat, bawa hasil fatwa MUI Aceh ini, dan tunjukkan bukti-buktinya. Semoga saja bisa segera diambil solusi.

4. Dan kalau ternyata kita sendiri yang sudah teracuni pemikiran sesat atau salah tersebut, maka segeralah bertaubat. Masih ada banyak ribuan ulama lain yang ilmunya lebih tinggi dari “ustadz” yang sudah mencemari pemikiran kita itu. Kita yang dulu tidak tahu, jangan sampai menjadi “merasa benar sendiri” hanya karena baru diajari satu atau dua pendapat, karena kalau itu kenyataan yang ada pada diri kita, maka sesungguhnya kita adalah pion-pion yang amat mudah disesatkan, dan itu biasanya dimulai dari doktrin “jangan mengaji pada ustadz lain“. Bertaubatlah, jauhilah pengajian-pengajian yang memiliki ciri-ciri di atas, kalau kita mau diri kita dan keluarga kita selamat di dunia dan akhirat.

Tolong share artikel ini, agar keluarga kita, anak kita, kerabat kita, dan teman-teman kita bisa terhindar dari pemikiran yang sesat atau salah ini.

Kalau orang yang benar malu untuk menyampaikan kebenaran, maka orang-orang yang sesat atau salah-lah yang akan menyebar info di medsos, dan ini adalah bencana untuk ummat Islam di Indonesia.

Beranilah untuk menyampaikan karena ini adalah keputusan MUI kita, agar yang sesat atau salah bisa segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa mendapatkan pemahaman yang benar dalam agama kita ini, Aamin ya Robbal ‘aalamiin.

Please share.

Kota Wali, malam 30 Ramadhan 1437H, 4 Juli 2016

Isa Ismet Khumaedi

sumber:
http://mpu.acehprov.go.id/uploads/Fatwa%20MPU%20Aceh%20Nomor%209%20Tahun%202014%20tentang%20Pemahaman%20Pemikiran%20Pengamalan%20dan%20Penyiaran%20Agama%20Islam%20di%20Aceh.pdf

Takbiran dimulai sejak malam ‘Iedul Fithri?

Memang ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa bertakbir itu hanya pada saat mau pergi shalat ‘Iedul Fithri. Namun pendapat ini bukan berarti pendapat yang paling benar. Sebab ada pendapat lainnya dengan dalil yang tidak kalah kuatnya dimana bertakbir di malam hari ‘Iedul Fithri memang disyariatkan. Bahkan dalil tentang disyariatkannya umat Islam untuk bertakbir pada malam hari Raya ‘Iedul fithri bukan sekedar hadits nabi SAW saja, justru ayat Al-Quran Al-Kariem yang menyebutkan.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dalam tafsir Al-Jami’ Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi jilid 2 halaman 302 disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar masyru’iyah atas ibadah takbir di malam ‘Ied, terutama ‘Iedul Fithri. Sebab ayat ini memerintahkan begitu hitungan Ramadhan telah lengkap, maka bertakbirlah. Artinya, takbir tidak dimulai sejak pagi hari keesokan harinya, melainkan sejak terbenam matahari. Sebab pada saat itulah diketahui telah sempurnanya bulan Ramadhan.

Disebutkan dalam tafsir itu bahwa Al-Imam Asy-syafi’i rahimahullah berkata bahwa telah diriwayatkan dari Said bin Al-Musayyib, ‘Urwah dan Abi Salamah bahwa mereka bertakbir pada malam ‘Iedul Fithri dan bertahmid. Dan Ibnu Abbas berkata: Telah ditetapkan bagi umat Islam bila melihat hilal Syawwal untuk bertakbir. Ada sebuah hadits tentang menghidupkan malam lebaran dengan tilawah, tasbih, istighfar dan tentunya takbir sebagai berikut “Orang yang menghidupkan malam ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan sungguh-sungguh tidak akan mati hatinya di hari hati manusia mati” (HR. At-Thabari dalam Al-Kabir dan Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaid 2:198) Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah terbitan Wizaratul Awqaf Wasy-Syu’un Al-Islamiyah jilid 31 halaman 115.

Dalam kitab Al-I’lam Bi Fawaidi ‘Umdatil Ahkam karya Ibnul Mulaqqin jilid 4 halaman 255 disebutkan bahwa disunnahkan untuk menghidupkan malam ‘Ied, meski haditsnya dhaif. Demikian juga dalam kitab Al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih Minal Khilaf ‘Ala Mazhabil Imam Ahmad bin Hanbal karya Al-Mardawi jilid 2 halaman 434 disebutkan. Dan disunnahkan untuk menghidupkan kedua malam ‘Ied (Fithri dan Adh-ha). Demikian juga dalam kitab Al-Mubdi’ Fi Syarhil Muqni’ karya Muhammad bin Muflih Al-Muarrikh Al-Hanbali jilid 2 halaman 191 disebutkan, dan disunnahkan untuk menghidupkan dengan takbir, tahmid dan lainnya pada kedua malam ‘Ied (Fithri dan Adh-ha).

Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 185. “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dalam kitab tersebut disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal berkata bahwa Ibnu Umar ra bertakbir pada kedua malam ‘Ied. Dan mengeraskan takbir hingga keluar menuju mushalla tempat shalat ‘Ied hingga selesai Imam dari khutbahnya. Demikian kajian fiqih tentang masyru’iyah takbir pada malam hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha. Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, silahkan anda mengikuti yang menurut anda paling kuat dalilnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma’in, Wallahu A’lam Bish-shawab, Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Tambahan:
Jangan mudah membid’ahkan orang yang berbeda pendapat. Apalagi membid’ahkan kelompok yang sudah ratusan tahun melakukan takbiran di malam ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha, karena hal itu juga ada dalilnya. Dan karena membid’ahkan apa-apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat, padahal ada dalilnya, hanya akan menyebabkan munculnya perpecahan di tengah ummat Islam. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok yang bisa menjaga persatuan ummat Islam, Aamiin.

Semoga bermanfaat.

Please share.

sumber asli:
http://www.syariahonline.com/v2/puasa/2299-hadits-takbiran-di-malam-idul-fitri.html