Puber Beragama

Dulu aku tidak mengenal agama.
Aku hidup apa adanya, seperti orang biasa.
Lalu tiba-tiba, ada yang mengajak ikut pengajian, katanya namanya “kajian ilmiah“.
Di situ, aku mulai dapat banyak hal baru,
dan mulailah aku “berubah“.

Aku yang dulu berteman dengan siapa saja, sekarang hanya mau berteman dengan orang yang celananya cingkrang dan berjenggot.
Orang yang hormat bendera kukatakan sebagai pengikut kesyirikan.
Orang yang ikut pemilu, aku musuhi habis-habisan, karena bagiku mereka adalah pemuja sistem kafir.
Orang yang suka Nasyid aku bid’ahkan sebid’ah-bid’ahnya.
Orang yang tarawihnya 23 roka’at, aku katakan sebagai ahli bid’ah.
Orang yang tahlilan, kukatakan sebagai orang yang sesat.

Sampai akhirnya kutemui,
tenyata celana cingkrang itu hanya ikhtilaf.
Jenggot juga, ada ikhtilaf penafsiran di situ.
Hormat bendera, ternyata ustadz generasi berikutnya bilang bahwa itu boleh.
Ikut pemilu, ternyata ustadz muda kebanggaanku malah menyuruhku untuk ikut pemilu.
Nasyid, ternyata banyak ulama yang membolehkan.
Tarawih, ternyata fatwa baru menyebutkan bahwa 23 rokaat pun boleh, dan lebih baik ikut imam di masjid.
Tahlilan dan makan jamuan di dalamnya, ternyata ulama kebanggaanku memasukkannya ke dalam muamalah yang diperbolehkan.

Ya Allah,
semua yang dulu kucela,
ternyata tidak salah.

Lalu mau disimpan di mana mukaku ini?

Sekarang kulihat banyak anak muda yang sama sepertiku dulu.
Mereka adalah generasi “puber beragama“,
yang tidak punya latar belakang agama yang cukup,
lalu dicekoki oleh menu indah berlabel “menghidupkan sunnah“,
padahal isinya hanyalah doktrin untuk mengikuti satu pendapat,
dan menyalahkan yang lain.

Semoga saja mereka bisa segera dewasa,
dan bisa segera meninggalkan masa “puber beragama” tersebut,
agar mereka tidak perlu menanggung malu di kemudian hari.

Aamiin, Ya Robbal ‘aalamiin.

Pesan:
– jagalah ibadah, indahkan akhlak, itulah islam yang benar.
– jauhilah ajaran yang sibuk mengajarkan tema bid’ah.
– bergabunglah dengan ummat Islam di sekeliling kita, itulah jalan menuju ummat yang kuat.
– jangan seperti anak kecil yang baru nemu mainan, yang akan marah kalau mainannya dinomorduakan.
– jangan tersihir dengan ucapan “telah berkata syaikh anu bin anu bin anu“, sadarilah, mungkin ada ribuan ulama lain yang berbeda pendapat.
– belajarlah dari banyak ustadz, karena sempitnya wawasan akan sulit untuk membuat kita dewasa.

Semoga bermanfaat.

Depok, 13 Juni 2016

Isa Ismet Khumaedi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s