Inti surat Al-Ghashiyah bukan ayat ‘aamilatun naashibah

Sengaja saya tulis artikel ini, karena sekarang makin banyak orang yang secara tidak sadar telah “tertipu” ketika memahami ayat ini. Ketika diajari tentang surat Al-Ghashiyah, lalu ayat inilah yang diangkat, dan hanya ayat ini saja. Lalu mereka diajari bahwa ‘aamilatun naashibah artinya adalah amal-amal bid’ah yang tidak ada artinya di akhirat nanti, lalu dari situ mereka diarahkan untuk menyalahkan sesama muslim yang cara ibadahnya tidak sesuai dengan pendapat ustadz mereka. Ini bencana untuk kita semua.

Ayat ‘aamilatun naashibah ini ada pada surat Al-Ghashiyah, dan ini adalah surat Makkiyah. Bagaimana mungkin surat Makkiyah berbicara tentang bid’ah dalam tata cara ibadah, sedangkan saat itu masih sangat banyak sekali ibadah yang belum diperintahkan? Tidakkah kita berfikir?

Juga, ayat ini turun untuk kaum kafir yang tidak mau menerima Allah sebagai pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya adalah sebagai tuhan yang telah menciptakan unta, langit, gunung dan bumi sebagaimana disebutkan dalam ayat lanjutannya. Apakah ayat untuk orang kafir ini akan kita arahkan untuk mencela sesama muslim yang tata cara ibadahnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ustadz kita? Ini adalah bencana, karena ini adalah sifat kaum Khawarij.

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Berikutnya, surat Al-Ghashiyah adalah surat pendek, dan hampir pasti ada satu atau dua ayat yang menjadi inti surat ini. Sekarang masalahnya, ayat manakah yang menjadi inti surat Al-Ghashiyah? Apakah ayat ‘aamilatun naashibah adalah inti surat tersebut? Bagaimana mungkin?

Kalau dalam satu surat pendek, ada kalimat berita, ada kalimat tanya dan ada kalimat perintah, maka kalimat manakah yang merupakan inti surat tersebut? Jawabannya sudah pasti: kalimat perintah. Lalu apa ayat yang berbentuk kalimat perintah? Yang pasti bukan ayat ‘aamilatun naashibah, karena ayat ini adalah ayat yang berbentuk kalimat berita, lantas kenapa ayat ini yang disebar ke mana-mana? Ini untuk menjelaskan isi Al-Qur’an? Atau ingin menyalurkan nafsu “anti bid’ah” lalu mencomot-comot ayat yang dirasa cocok, lalu disebarkan pada ummat Islam, seakan-akan itu adalah pesan yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an?

Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Dengan cara seperti ini, tidak saja ummat islam makin jauh dari perintah-perintah yang ada dalam Al-Qur’an, tapi juga ummat Islam akan tertipu karena nanti mereka akan meyakini bahwa bid’ah adalah tema penting di dalam Al-Qur’an. Ujung-ujungnya, mereka akan fokus pada tata cara ibadah yang sebenarnya dipenuhi dengan banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama, lalu mereka akan didoktrin untuk memilih salah satu dan kemudian mereka juga akan didoktrin tanpa mereka sadari untuk  membid’ah-bid’ahkan pendapat yang berbeda dengan modal ayat ‘aamilatun naashibah ini. Ini adalah bencana bagi ummat Islam.

Tidakkah kita berfikir?

Marilah kita kembali pada ajaran Islam yang benar. Yang benar-benar menyampaikan inti pesan Al-Qur’an dalam paragraf yang utuh, bukan yang asal comot-comot ayat, lalu ditambah dengan telah berkata ini itu agar masyarakat awwam tertipu, tapi pada saat yang bersamaan malah mengabaikan isi utama dari setiap paragraf yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an.

Semoga Allah menuntun kita agar kita bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa mengajarkan inti Al-Qur’an, bukan dengan orang-orang yang mengabaikan inti Al-Qur’an lalu malah sibuk memotong-motong dan mencomot-comot ayat untuk menyalurkan nafsu mereka.

Kembali pada surat Al-Ghaashiyah, surat ini berbicara tentang dua kelompok manusia, yang satu akan masuk neraka, dan yang satu lagi akan masuk surga. Yang masuk neraka adalah orang-orang yang tidak meyakini bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, atau mereka meyakininya hanya sebatas teori saja, sehingga mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang ada di sekeliling mereka, seperti bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan. Adapun orang-orang yang akan masuk surga adalah orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari semua hal ini.

Kalau kita merasa bahwa kita adalah orang awwam, maka mari kita lihat apa yang ada di sekeliling kita. Lihatlah langit, bumi atau gunung, di situ ada bukti bahwa Allah itu ada. Dan kalau di sekeliling kita tidak ada unta, maka lihatlah bagaimana anak ayam keluar dari telurnya, atau bagaimana anak kambing atau sapi terlahir dari induknya. Di situ juga ada pelajaran tentang Allah yang Maha Pencipta. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hal ini.

Lalu, lanjutan ayat itu berbicara pada Nabi kita, yaitu Nabi Muhammad saw. Allah memerintahkan agar beliau tidak putus asa dalam mendakwahi orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang ada di sekeliling mereka. Karena Allah memang sudah mentaqdirkan, akan ada manusia yang masuk surga dan memang akan ada manusia yang akan masuk neraka. Maka, tugas nabi adalah sebatas memberi peringatan pada semua manusia, dan bukan memastikan bahwa semua ummat manusia harus masuk surga. Teruslah berdakwah, teruslah memberi peringatan, dan biarkanlah Allah yang menentukan, siapa-siapa saja yang akan masuk surga atau neraka. Inilah pesan utama yang ingin disampaikan Allah pada Nabi kita.

Maka, kalau kita adalah Da’i atau ustadz, janganlah kita putus semangat dalam menyampailan dakwah kita. Kita harus tetap bersemangat dalam menyampaikan dakwah kita, walaupun ada banyak rintangan yang menghadang, karena hasil dari dakwah bukanlah tanggung jawab kita, dan tugas kita hanyalah menyampaikan dan menyampaikan.

Itulah inti surat Al-Ghaashiyah, dan nabi kita rajin membaca surat ini dalam setiap rakaat sholat Jum’at. Maka tidak heran kalau nabi kita bisa menjadi orang yang tidak pernah patah semangat sedikitpun juga, karena beliau bisa dan rajin mengambil pelajaran dari surat ini.

Inilah inti surat Al-Ghaashiyah.

Sekali lagi, semoga Allah menuntun kita agar kita bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa mengajarkan inti Al-Qur’an, bukan dengan orang-orang yang mengabaikan inti Al-Qur’an lalu malah sibuk memotong-motong dan mencomot-comot ayat untuk menyalurkan nafsu mereka.

Kebenaran ada bersama orang-orang yang berpegang teguh pada inti Al-Qur’an. Adapun masalah bid’ah (dalam artian bid’ah dalam tata cara ibadah seperti yang selalu digembar-gemborkan oleh sebagian orang), sayang sekali ternyata masalah bid’ah ini justru tidak ada dalam Al-Qur’an.

Semoga Allah menuntun kita semua menuju jalan yang benar, sesuai dengan arahan kitab suci Al-Qur’an yang telah Allah turunkan untuk kita semua.

Aamiin, ya Robbal ‘Aalaamiin.

Depok, 12 Juni 2016

Isa Ismet Khumaedi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s