Ada Apa Dengan Anak Muda?

Akhir-akhir ini kita sering dengar ribut antar umat Islam
Baik ribut dalam dunia maya, lewat adu pendapat yang kadang berujung caci maki, hingga janjian ketemuan untuk gulat
Hingga kadang juga sampai taraf Mubahalah
Maupun ada yang sampai ribut fisik antar massa yang beda dalam pemahaman agama cuma soal perebutan Masjid atau penghentian sebuah acara

Kalau kita mau flashback sebentar, gak usah lama-lama, sampai era 90an aja
Kasus ribut-ribut macam ini sangat jarang sekali dijumpai
Padahal faham-faham yg ada dan ribut saat ini sudah ada sejak dulu
Semua berjalan dengan faham masing-masing, saling menghormati dan toleransi
Beda jauh dengan yg kita hadapi saat ini
Statement Musyrik, Laknat, Kafir bukan Islam, hingga sampai Perangi, seolah jadi Sunnah yg layak untuk disampaikan

Ada apa gerangan dengan umat ini? Semakin mereka belajar bukan semakin bijak tapi malah semakin picik
Bukan semakin takut kepada Allah SWT, tapi malah semakin berani menyalahkan orang
Tapi, jika kita simak perubahan “gaya” beragama yg revolusioner akhir-akhir ini, akan tersimpulkan bahwa biang keroknya adalah “anak muda”
Yang sering berulah dan aktive baik di mimbar, di medsos dan di kajian-kajian ya anak muda

Anak muda memang punya peran tersendiri dalam dunia Islam
Kita ingat yang membunuh Sayidina Ali ra, adalah anak muda
Yang membunuh Sayidina Ustman ra adalah anak-anak muda
Yang membunuh Sayidina Husain ra juga anak-anak muda
Bahkan menurut Syekh Umar Al Khatib, saat Dauroh di Solo
Saat Ibn Muljam ini membunuh Sayidina Ali ra, dia berharap itu sebagai amalan pendekatan kepada Allah SWT yang terbaik
Juga kata Beliau, saat anak-anak muda itu membunuh Sayidina Husain ra, mereka mengatakan bahwa perbuatan ini layak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah

Gila, bagaimana mereka bisa berpikir demikian?
Dari mana mereka belajar Agama Islam ini, hingga bisa gagal total dalam memahami nya?
Dan, ternyata gagal faham dalam Agama ini terulang
Di zaman ini yang paling nyaring teriakan nya tentang membela Agama ini, adalah anak-anak muda
Yang paling tertarik dengan faham Radikalism dan Extrimisme ini ya anak-anak muda
Koq bisa demikian?
Lalu, apa kira-kira penyebabnya?

Hal pertama penyebab dari kesalahan pemahaman mereka dalam beragama ini adalah, mereka meninggalkan orang-orang tua
Mereka meninggalkan Para Ulama2, Kyai2 Sepuh (tua) dan Guru2 yang tentunya lebih Alim, lebih Faham, lebih banyak ibadahnya dan lebih berpengalaman dalam Agama
Fatalnya mereka, anak-anak muda itu merasa lebih faham, lebih mengerti bahkan berani menyalahkan orang-orang tua tadi, malah menggurui nya
Merasa bahwa orang-orang tua, yakni para Kyai2 sepuh itu sudah salah dalam menjalankan agama, menyebut tidak kaafah lah, tidak murni lah, tidak bertauhid lah dsb
Bahkan dari soal Kiblat sampai Khilafah orang-orang tua, para Kyai2 itu dianggap tidak tahu apa-apa, lebih pintar orang-orang sekarang daripada mereka

Padahal, untuk urusan Agama, kita harus berpegang pada Salaf, yang dalam artian ikut orang sebelum kita, hingga kaidahnya, kita ikut orang-orang tua, orang-orang tua itu ikut generasi sebelumnya hingga Nabi SAW
Itulah yang dinamakan sanad
Maka dengan meninggalkan orang-orang tua atau para Kyai2 sepuh, anak-anak muda itu akhirnya melompat, langsung mengambil ke paragraf paling awal, yaitu kepada Nabi SAW dan Para Sahabat nya
Dan, dengan bangga nya mereka menyebut dirinya adalah kaum Salaf,.. Hmm sungguh Absurd

Hasilnya adalah gagal faham tadi,  yang berujung pada merasa paling benar dan merasa harus membela kebenaran
Yang lebih ngeri adalah, sampai taraf selain mereka harus dibasmi, harus diberantas karena sesat dan menyesatkan
Hingga ujungnya adalah, menghalalkan darah sesama muslim…
Nah, ternyata kita baru sadar dan faham, betapa bahaya nya efek dari kesalahfahaman dalam beragama ini
Semoga kita dan anak cucu kita dijauhkan dari faham-faham extrim dan dijadikan kita semua sebagai pemersatu dan pengayom umat,..
Demi membuat gembira Nabi Muhammad SAW… Aamiin

Rasulullah SAW bersabda
“Di akhir zaman akan muncul suatu kaum yang terdiri dari anak muda; dangkal pemikirannya; mereka membaca al-Qur`an tapi hanya sebatas di kerongkongan saja; mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan manusia; mereka keluar dari Islam seperti melesatnya anak panah.”
(HR. Ahmad dalam al-Musnad, 5:36 hadits ke 44; al-Hâkim dalam al-Mustadrak, 2:159 hadits ke 2645; Ibnu Abî ‘Âshim dalam al-Sunnah, 2:456 hadits ke 937; al-Baihaqî dalamal-Sunan al-Kubrâ, 8:187; dan al-Daylamî dalamMusnad al-Firdaus, 2:322 hadits ke 3460)

Solo, 26 Mei 2016
Umar Zain Assegaf

dari forward Whatsapp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s