Renungan

Waktu aku jahil, aku mencari jati diri; mencari cara agar hidayah menyapa.

Setelah hidayah menyapa, aku bangga menjadi seorang ‘ahlus sunnah’. Aku bergamis, aku berjubah, aku bercelana di atas mata kaki, dan aku memelihara jenggot. Penampilanku sungguh islami. Tapi, akhlaq dan kepribadianku persis Yahudi. Sombong, angkuh, dan merasa diri paling benar sendiri. Semua muslim yang isbal aku anggap berdosa, semua yang cukur jenggot ku anggap bukan ahlus sunnah, bahkan semua muslim yang tidak sekelompok denganku kuanggap “ahli bid’ah”. Hobiku ghibah dan mengadu domba, semua itu ku lakukan dengan alasan “menjaga agama”. Ya Allah… apa yang salah dari diriku..!?

Seiring berjalannya waktu, di atas sajadah tempatku bersimpuh, di malam-malam penuh syahdu, sesadar-sadarnya hatiku berujar:

“Bercelana jins dan tanpa gamis namun mengejar tudung taqwa itu lebih baik daripada busana kemewahan, jenggot membanggakan, dan jubah bermahkota kesombongan”.

Maaher At-Thuwailibi_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s