Kedudukan Kitab Suci dan kitab Hadits

Kesalahan kaum Yahudi adalah mereka mengutamakan kitab hadits (Talmud) di atas kitab suci (Taurat).

Adapun kesalahan kaum Nasrani adalah mereka menyatukan kitab hadits (ucapan-ucapan pendeta mereka) dan kitab suci (Injil) menjadi satu buku (yaitu Alkitab), lalu mereka mengatakan bahwa itu semua sama-sama berasal dari Allah, dan level-nya sama antara keduanya.

Sebagian ummat Islam ada yang seperti kaum Yahudi, mereka menomorsatukan hadits dan menomorduakan Al-Qur’an. Setiap hari mereka membahas hadits, lalu mengabaikan ayat Al-Qur’an. Ini adalah kelompok yang salah.

Sebagian lagi, mereka menyamakan antara hadits dan Al-Qur’an. Mereka menyangka, kalau ulama hadits mereka sudah menshahihkan suatu hadits, berarti hadits itu seperti ayat Al-Qur’an yang turun dari langit. Mereka tidak bisa memahami bahwa penentuan shahih tidaknya suatu hadits adalah perkara ijtihadiyah dan  kadangkala para ulama hadits berbeda pendapat dalam menshahihkan suatu hadits. Kelompok kedua ini juga kelompok yang salah karena mereka seperti kaum Nasrani.

Yang benar adalah kelompok ketiga, yaitu kelompok kaum muslimin yang menomorsatukan Al-Qur’an dan menomorduakan hadits, serta menomorsekiankan hal lainnya.  Mereka adalah kelompok yang insya Allah dirahmati Allah, karena mereka bisa membedakan mana inti dan mana cabang. Apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan diulang berkali-kali di banyak ayat, itulah inti agama kita ini. Apa-apa yang ada di dalam Al-Quran dan tidak diulang di banyak ayat, maka hal itu juga penting. Dan apa-apa yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, sebaiknya kita bertoleransi atas perbedaan pemahaman yang mungkin timbul.

Semoga kita bisa termasuk pada kelompok yang terakhir ini, yang tidak menyibukkan diri membahas hal-hal yang tidak ada ayatnya. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

note:
Tema tentang “Bid’ah” adalah tema yang tidak ada ayatnya.

Advertisements

Petrodollar = Kerja sama Saudi dan Amerika?

Mengapa minyak dunia harus dibeli dengan menggunakan US dollar?
Jawabannya adalah, karena di situ ada kerja sama antara Saudi dan Amerika.

Tahun 1971, Amerika memutus hubungan antara cadangan emas dan dollar, akibatnya sejak saat itu ekonomi dunia berguncang lagi. Dollar Amerika juga bermasalah. Tapi di tahun 1973, tiba-tiba muncul perjanjian baru antara Saudi dan Amerika, yaitu agar semua minyak diperjualbelikan dengan menggunakan US Dollar sebagai satu-satunya mata uang yang boleh digunakan, dan inilah yang namanya sistem Petrodollar, dimana petrol artinya adalah minyak. Dengan cara ini, Amerika sukses menjamin kestabilan dollar mereka, yaitu dengan mengganti  cadangan uang mereka dari emas menjadi minyak. Artinya, tanpa cadangan emas pun, dollar akan berkuasa.

Lalu apa untungnya bagi Saudi? Ya jelas, sebagai penjamin mata uang dollar Amerika, maka Amerika tidak akan membiarkan Saudi collapse. Amerika akan mati-matian membela Saudi agar ekonomi Saudi terus mem-backup ekonomi Amerika, dan pada saat yang bersamaan Saudi merasa bahwa mereka “tidak melakukan apa-apa untuk Amerika”. 😦

Sayangnya, pemikiran Saudi ini salah. Saudi memang tidak memberikan apa-apa pada Amerika, tapi pada dasarnya, dengan menjadikan dollar sebagai satu-satunya mata uang untuk jual beli minyak, itu artinya Saudi telah mendukung kestabilan ekonomi Amerika, dan efeknya, ekonomi Amerika makin merajalela, dan ujung-ujungnya negara Israel akan menjadi kuat. Mengapa? Karena Israel didukung penuh oleh Amerika!

Selama Amerika masih kuat, selama itu pula Israel akan tetap ada. Dan selama minyak masih diperjualbelikan dengan menggunakan dollar, selama itu pula Amerika akan tetap kuat. Dan selama Saudi sebagai exportir utama tetap menggunakan dollar sebagai mata uang untuk minyak mereka, selama itu pula minyak akan tetap dikuasai oleh Dollar. Hanya sebagian negara yang tidak mau menggunakan dollar Amerika sebagai mata uang untuk minyak mereka, di antara negara-negara itu adalah Iran, Syria, Venezuela dan Korea Utara. Ini adalah negara-negara yang sangat dibenci oleh Amerika.

Jadi siapa sebenarnya yang telah menjamin keberlangsungan negara Israel selama ini?
Silakan dipikirkan masing-masing.

Yang jelas, ini adalah satu hal yang sangat ironis. Negara-negara islam ternyata menjual minyak mereka menggunakan mata uang asing yang sebenarnya sangat amat pro-Israel!

Dari sini, kita ummat Islam harus sadar bahwa sebenarnya kita juga wajib mempelajari ilmu ekonomi, agar kita tidak dimanfaatkan oleh musuh-musuh kita.

Jangan sampai kita menjadi kaum yang hanya sibuk membahas tema bid’ah bid’ah bid’ah dalam masalah khilafiyah, sementara pada saat yang bersamaan kita malah lupa tentang hal-hal utama dalam agama kita ini.

Israel adalah negara yang menjajah tanah Palestina, dan Amerika adalah pendukung utama Israel. Seharusnya, kita tidak menjadikan Israel dan Amerika sebagai teman dekat kita.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah ayat 9).


Depok, 18 April 2016
Isa Ismet K

Referensi utama:

Preparing for the Collapse of the Petrodollar System

image

Kosa kata kita

Seperti apa ucapan kita, itulah yang ada di kepala kita.
Seperti apa yang ada di kepala kita, itulah kita.

Kalau kita mau menjadi muslim yang baik, maka lihatlah apa ucapan kita, lihatlah kosakata kita.

Semakin mirip kosa kata kita dengan kosa kata positif yang ada di dalam Al-Qur’an, insya Allah kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang benar.

Maka, untuk melihat benar tidaknya pemahaman agama kita, lihatlah kosa kata yang ada di dalam kepala kita ketika kita bicara masalah agama, lalu bandingkan dengan kosa kata positif yang ada di dalam Al-Qur’an kita. Kalau kosa kata yang dominan di kepala kita dalam masalah agama berbeda dengan kosa kata positif yang ada di dalam Al-Qur’an, itu artinya ada yang salah dalam pemahaman agama kita.

Note:
Kosa kata salaf salaf salaf dan bid’ah bid’ah bid’ah adalah kosa kata yang tidak ada di dalam Al-Qur’an.
Tidakkah kita mau merenung?

Missionaris Madzhab

Lulusan Saudi akan mengajak kita untuk membenci Syiah dan Iran.
Dan lulusan Iran akan mengajak kita untuk membenci Wahabi dan Saudi.

Inilah yang namanya Missionaris Madzhab.

Kita Ahlu Sunnah, harus bisa berdiri di tengah-tengah dengan adil, untuk mencegah agar konflik Horizontal tidak membesar seperti yang telah terjadi di Suriah.

“Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada Universitas Al-Azhar di Cairo – Mesir, karena telah membuka aneka fakultas dari aneka ragam Madzhab Islam untuk para mahasiswanya. Setiap mahasiswa yang belajar di Al-Azhar disalurkan langsung oleh pihak Universitas ke fakultas madzhab yang sesuai dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, sehingga saat kembali pulang ke negerinya tidak membawa Misi Madzhab baru dan tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab. Para pelajar Indonesia misalnya, langsung disalurkan oleh pihak Universitas Al-Azhar untuk mengikuti fakultas yang bermadzhab Syafi’i, karena Indonesia dikenal di dunia sebagai Negeri Sunni Asy’ari Syafi’i.

Penghargaan yang tinggi juga patut diberikan kepada Guru Besar kami yang mulia dan tercinta Alm. Prof. DR. As-Sayyid Muhammad b Alwi Al-Maliki Al-Hasani rhm di Mekkah, karena walau pun beliau sebagai seorang Ulama Besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Imam Malik rhm, namun beliau tetap mengajar Madzhab Syafi’i kepada ribuan muridnya yang berasal dari Nusantara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Patani di Selatan Thailand dan Sulu mau pun Mindanau di Selatan Philipina, sesuai madzhab yang tersebar di negeri mereka, sehingga para murid beliau tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab di negerinya masing-masing.”

Artikel selengkapnya tentang Missionaris Madzhab:
http://www.fpi.or.id/2015/09/missionaris-madzhab.html?m=1

Krisis Suriah menurut Kementrian Luar Negeri RI

“Krisis yang terjadi di Suriah merupakan penargetan terhadap Negara Suriah pada khususnya dan agama Islam pada umumnya. Konspirasi tersebut didukung dengan media dan tentara bayaran yang berasal dari luar negeri.”

“Almarhum Syaikh Ramadhan al-Bouti merupakan sosok lembut tetapi tegas dalam kebenaran. Kuat dalam berdalil dan tegar dalam mendukung siapa yang benar. Beliau tegas dan komitmen dalam sikap, walaupun beliau tahu mendapat ancaman dari pihak-pihak yang tidak senang kepadanya, khususnya pihak takfiris Wahabi. Namun ia tetap berjuang dan hingga pada akhirnya memperoleh kesyahidan saat sedang mengajar di Masjid al-Iman, Damaskus.”

Selengkapnya:
http://www.kemlu.go.id/damascus/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/DUBES-RI-DAMASKUS-HADIRI-ACARA-HAUL-WAFATNYA-IMAM-SYAHID-PROF.-DR.-MUHAMMAD-SAID-RAMADHAN-AL-BOUTI.aspx