Dia Bukan Ustadz Saya

🌴🌻 Dia Bukan Ustadz Saya … !🌻🌴

💦💥💦💥💦💥

Ada fenomena menarik, ada sebagian penuntut ilmu yang suka memilih-milih Ustadz, hanya karena dia berbeda pendapat dengan ustadz tersebut, atau memang dia digembok oleh gurunya untuk jangan ikuti Ustadz tersebut. Atau bukan sekelompok dan sejalan dengan kelompoknya.

Walhasil, dia hanya mau ikut dan bermajelis dengan orang yang homogen. Sehingga sifat ta’ashub (fanatik) dan hizbiyyahnya sangat kentara dan jelas, walau dia tidak menyadarinya. Dia mengajak orang lain mengikuti gurunya, tapi dia sendiri menutup diri dari yang lain. Bahkan menuduh yang lain “sesat” dan banyak “syubhat”.

Wajahnya tidak terlihat dalam pengajian di masjid sekitar rumah dan kantor, karena ustadznya bukan dari kelompoknya. Jika ada ta’lim, langsung kabur dan menjauh karena “bukan ustadz saya.” Betapa pun ustadz tersebut begitu luas wawasannya dan pejuang Ahlus Sunnah.

Imam Waki’ Ibnu Jarrah Rahimahullah  berkata:

إن أهل العلم يكتبون ما لهم وما عليهم وأهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم

“Sesungguhnya para ulama mengambil ilmu dari orang-orang yang sejalan dengan mereka dan juga dari yang tidak sejalan dengan mereka. Adapun para pengekor hawa nafsu (ahlul bid’ah), mereka tidak akan menulis ilmu kecuali dari yang sejalan saja dengan mereka.” (Ahadits fi Dzammi ‘Ilmi Al Kalam, 2/188)

Wallahul Musta’an

☘🌺🌻🌴🍃🌾🌸🌷

✏ Farid Nu’man Hasan
🌏 Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC

KALAULAH SEMPAT….

KALAULAH SEMPAT….

🍂🍂🍂🍂🍂

Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya.
Rumah yang besar namun sepi penghuni. Istri sudah meninggal. Tangan menggigil karena lemah, penyakit menggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta satu orang pembantu.

🍀🍀🍀🍀🍀

Tiga anak, semua sukses. Berpendidikan sampai ke luar negeri. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi, dan ada pula yang jadi pengusaha. Soal Ekonomi, angkat dua jempol. Semua kaya raya.

🍂🍂🍂🍂🍂

Namun, saat tua seperti ini dia merasa hampa. Ada pilu mendesak di sudut hatinya. Tidur tak nyaman, dia berjalan. Memandangi foto-foto masa lalu.
Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar Great Wall, Eiffel Tower, Big Ben, Sydney Opera House dan berbagai belahan bumi lainnya yang telah dijejaknya. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat karena pandangannya yang sudah mengabur.

🍁🍁🍁🍁🍁

Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian. Tiada suara anak, cucu. Hanya detak jam yang berbunyi teratur. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya.

Dari sudut mata ada air yang menetes. Rindu dikunjungi anaknya, tapi anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota dan negara lain. Ingin pergi ke Masjid namun badan tak mampu. Begitu lama waktu ini bergerak. Tatapannya hampa.
Jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak … Sepanjang waktu ….

🌾🌿🌾🌿

Laki-laki itu, barangkali adalah Saya. Nanti. Barangkali Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Yang pasti hanya kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hati. Anak sukses tak mampu menyejukkan hati. Cucu-cucu yang seperti orang asing. Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa ….

Kira-kira jika datang malaikat menjemput, akan seperti apakah kematian ini? Siapa yang akan memandikan kita? Dimana kita akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaan datang menyelenggarakan mayat dan menguburkan kita?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan ditinggal, asset juga akan ditinggal. Anak-anak entah apakah akan ingat untuk berdoa untuk kita atau tidak. Sedang shalat mereka sendiri saja belum tentu berisi. Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan Yang Maha Kuasa. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

Kalau lah dahulu sempat menyumbang yang cukup berarti di Masjid, Rumah Yatim, Panti Asuhan.
Kalau lah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang.
Kalaulah dahulu sempat memberikan sandal untuk disumbangkan di Masjid biar dipakai orang yang memerlukan.
Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan.
Kalaulah kita tidak kikir kepada sesama.
Mungkin itu semua akan menjadi amal penolong kita.

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi Muslim yang shaleh. Ilmu agama dan ilmu Al-Quran nya lebih diutamakan. Ibadah shalat dan sedekahnya kita tuntun dan ajarkan. Maka mungkin mereka senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata mendoakan kita orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama ….

Kalaulah sempat …
Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita?

Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menghadap-Nya?

Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi diri saya, bagi kita semua. Berseriuslah menyiapkan diri menghadapi kematian, dan kehidupan akhirat yang kekal.

🌿🍀🌿🍀🌿

Kita pasti MATI !!!!


👆dan bagi yang masih punya orang tua, apalagi yang orang tuanya hidup sendirian saat ini, mari kita pastikan agar orang tua kita tidak kesepian di akhir hidupnya. 😭

Please share.

Toleransi Ahlu Sunnah

Ahlu Sunnah wal Jama’ah pada umumnya mengikuti salah satu dari empat madzhab Fiqih yang ada, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i atau Hambali. Dari situ bisa dilihat bahwa Ahlu Sunnah memiliki toleransi dalam beragama.

Memilih salah satu pendapat dan menghormati pendapat yang lain, itulah Ahlu Sunnah.

Adapun memilih salah satu pendapat, lalu aktif membid’ah-bid’ahkan pendapat yang berbeda, padahal pendapat yang berbeda itu juga berasal dari ulama Ahlu Sunnah, maka yang seperti ini bukanlah ciri Ahlu Sunnah. Ini adalah ciri kaum khawarij yang menuhankan ucapan manusia dan rajin menciptakan perpecahan di kalangan ummat Islam.

Semoga Allah memasukkan kita semua dalam kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.

Muhammad Al-Fatih berasal dari kalangan Sufi.

Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, berasal dari kalangan Sufi.

Lalu yang mengatakan semua Sufi sesat, sebenarnya mereka itu siapa?

Ingat, Rasulullah saw bersabda:

لتفتحن القسطنطينية على يد رجل فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

“Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR. Ahmad).

Dan mereka adalah Muhammad Al-Fatih beserta pasukannya, didukung oleh para ulama Sufi.

Sumber:
http://m.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2014/03/13/18072/penaklukan-konstantinopel-dan-peran-ulama-sufi.html#.Vt_SUIGlbqD

Ada tiga gambar, silakan pilih.

image
image

image

Salahuddin Al-Ayyubi juga bermadzhab

Salahuddin Al-Ayyubi, pahlawan kita dalam perang Salib, ternyata bermadzhab, dan madzhabnya adalah Syafi’i.
Lalu yang mengatakan tidak boleh bermadzhab, sebenarnya mereka itu siapa?

Gambar tanpa pertanyaan:
image

Gambar dengan pertanyaan:
image

Sumber:
http://www.nugarislurus.com/2015/03/sikap-sultan-sholahuddin-al-ayyubi-keras-menghadapi-syiah.html

Pendukung Asaathiruul Awwaliin

Asaathiirul Awwaliin adalah ungkapan dalam Al-Qur’an, yang kalau dibahasaIndonesiakan artinya adalah “Satire-nya orang-orang Awwal” atau “Dongeng orang-orang terdahulu”.

Belakangan ini, pendukung Asaathiirul Awwaliin terlihat muncul, terutama sekali dalam kasus LGBT dan kasus pilkada dengan calon non-muslim. Kalau disampaikan pada mereka bahwa Al-Qur’an sudah melarang hal itu, maka jawaban mereka “Al-Qur’an adalah Asaathiirul Awwaliin”.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”. (QS. An-Nahl, ayat 24)

Semoga kita tidak termasuk dalam kelompok ini, aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Gunung Es LGBT dan Pilkada non-Muslim

‪Pendukung LGBT banyak dan pendukung calon kepala daerah non-muslim juga banyak. Ini gejala apa?

Ini adalah fenomena gunung Es, ketika ajaran islam dianggap tidak sesuai lagi untuk zaman ini. Bagi mereka, apa yang ada dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah masa lalu yang sudah ketinggalan zaman. Padahal, argumentasi itu sudah disebutkan dalam Al-Qur’an.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”. (QS. An-Nahl, ayat 24)

LGBT itu haram, dan memilih pemimpin non-muslim juga dilarang oleh agama kita.

Lalu kita mau ikut yang mana?

Hikmah Sufi

* Hikmah Sufi*

Seorang Guru Sufi ditanya tentang 2 keadaan manusia:

1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.

2. Manusia yg sangat  jarang  ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama.

Lalu Sang Guru Sufi  menjawab: Keduanya baik;

@ Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yg sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yg buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya.

@ Dan yg kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yg juga memiliki kebaikan lahir dan batin.

Kemudian orang tsb bertanya lagi, lalu siapa yg tdk baik kalau begitu…???

Sang Guru Sufi menjawab:

“Yg tdk baik adalah kita, orang ketiga yg selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri”.