Penentuan Keshahihan suatu hadits adalah perkara Ijtihadiyah

Masalah keshahihan hadits ini memang banyak orang yang terkecoh, karena kurang mengerti dan belum memahami apa yang dimaksud dengan hadits shahih.

Banyak yang berpikir bahwa keshahihan suatu hadits itu adalah wahyu yang turun dari langit. Banyak orang awam yang belum pernah belajar ilmu hadits berimajinasi seolah-olah keshahihan hadits merupakan wangsit khusus yang diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu secara ghaib. Seolah-olah informasi keshahihan hadits itu secara khusus Allah anugerahkan kepada sosok tertentu, mirip-mirip dengan sosok imam mahdi di akhir zaman.

Padahal sebenarnya 100% keshahihan hadits itu adalah hasil ijtihad, yaitu merupakan hasil penilaian subjektif dari seorang peneliti hadits lewat analisa logis tapi tetap tidak bisa lepas dari subjektifitasnya sendiri. Oleh karena hanya sekedar ijtihad, maka apa yang dikatakan shahih oleh seorang peneliti hadits, bisa saja disanggah dan ditolak oleh peneliti lain, bahkan bisa dikeluarkan hasil ijtihad lainnya yang justru bertentangan.

Mari kita tempatkan hadits pada tempatnya, yaitu sebagai sumber hukum kedua di bawah Al-Qur’an, yang keshahihannya ditentukan oleh ijtihad ulama hadits yang bisa saja salah ataupun benar. Jangan sampai kita menuhankan satu ulama hadits dan mengklaim semua hasil ijtihad-nya sebagai 100% pasti benar dan meyakini bahwa semua hadits yang dikeluarkannya sudah pasti berasal dari Rasulullah saw. Karena bisa jadi ada banyak ulama hadits yang lain tidak sependapat dengan hasil ijtihad ulama tersebut.

Yang harus kita lakukan adalah melakukan crosscheck terhadap hadits-hadits yang kita terima, dengan cara membandingkannya dengan ayat Al-Qur’an yang sudah pasti benar isinya, atau dengan membandingkannya dengan pendapat ulama lain terhadap keshahihan hadits tersebut. Insya Allah cara seperti ini lebih aman untuk kita semua, agar kita bisa terlepas dari pengkultusan terhadap seorang ulama hadits. Atau kalau kita ingin tetap memegang pendapat satu ulama, maka inipun boleh, tapi tetap harus dilandasi dengan kesadaran untuk bisa menerima perbedaan pendapat yang mungkin muncul mengenai hadits tersebut. Insya Allah cara seperti lebih mendekatkan diri kita pada sikap adil dalam menilai semua permasalahan yang ada.

Semoga bermanfaat, please share.

Referensi utama:
http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1410544221&=benarkah-keshahihan-shahih-hanya-sebuah-produk-ijtihad.htm

Advertisements

Syaikh bin Baz: boleh berkumpul dalam majelis ta’ziyah dan meminum jamuan yang disediakan

Syaikh bin Baz: boleh berkumpul dalam majelis ta’ziyah dan meminum jamuan yang disediakan.

Pertanyaan: Bolehkah menghadiri majlis ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka?

Jawab: Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit maka hal itu disunnahkan, karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi, teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit), maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.” (Syaikh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 371).

Teks asli:

حكم حضور مجلس العزاء والجلوس فيه
س: هل يجوز حضور مجلس العزاء والجلوس معهم؟
ج: إذا حضر المسلم وعزى أهل الميت فذلك مستحب؛ لما فيه من الجبر لهم والتعزية، وإذا شرب عندهم فنجان قهوة أو شاي أو تطيب فلا بأس كعادة الناس مع زوارهم.

sumber:
http://www.binbaz.org.sa/node/2758

Tambahan:
Jangan sampai kita membebani pihak keluarga yang sedang berduka. Maka sebaiknya para tetangga-lah yang seharusnya membantu keluarga yang sedang berduka. Akan tetapi, kalau pihak keluarga merasa senang dengan kehadiran kita dan mereka malah mengundang kita untuk hadir ke rumah mereka untuk mendoakan salah satu anggota keluarga mereka yang telah meninggal, maka kita wajib menghadiri undangan tsb. Dan kalau kita melihat bahwa mereka berada dalam kondisi yang susah, maka wajib pula bagi kita untuk membantu mereka.

Agama Islam berdiri di atas sikap khusnudzon dan saling tolong menolong di antara sesama muslim.

Agama islam tidak berdiri di atas sikap su’udzon, malas menolong atau bahkan saling mencaci di antara sesama muslim.

Demikian, semoga bermanfaat.

Mencium Tangan Ulama dan Orang Tua adalah sunnah

Hukum mencium tangan ulama, guru dan kerabat yang lebih tua adalah sunnah dan dianjurkan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi berdasarkan hadits dengan sanad yang shahih.

وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَشَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ

“Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat ‘diniyyah’ (agama), kealimannya, kemuliaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Abu Daud dan lainnya dengan sanad hadits yang shahih.

Dan dimakruhkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya atau lainnya yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits “Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya”. [Asnaa al-Mathaalib III/114]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (juz II halaman 523, hadits nomor 524,) dan Imam Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausathnya (juz I halaman 424, hadits nomor 425, maktabah syamilah), Sanad dan matannya sebagai berikut (al-Mu’jam al-Ausath) :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ ، قَالَ : نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ ، قَالَ : نا مَطَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْنَقُ ، عَنْ أُمِّ أَبَانَ بِنْتِ الْوَازِعِ بْنِ الزَّارِعِ ، عَنْ جَدِّهَا الزَّارِعِ ، وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ : لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ، جَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا ، فَنُقَبِّلُ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَيْهِ

“Telah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Khulaid, berkata, telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Isa ath-Thabba’, berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman al-A’naq, dari Ummu Aban bin al-Wazi’ bin al-Zari’, dari kakeknya, al-Zari’ dan beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata: Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kami, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam“.

Atas dasar hadits ini, para ulama mensunnahkan mencium tangan para habaib, para kiyai, para ustadz dan para guru serta orang-orang yang kita hormati.

Imam Nawawi berkata dalam kitab Raudhoh juz X halaman 36, cetakan al-Maktab al -Islami tahun 1412 H -1991 M berkata:

وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ ، فَمُسْتَحَبٌّ ، وَإِنْ كَانَ لِدُنْيَاهُ وَثَرْوَتِهِ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، فَمَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ

“Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan dan kesalehan orangnya, atau karena ilmunya, atau mulianya, atau karena dia menjaga perkara keagamaan, maka hukumnya MUSTAHAB (disunnahkan). Dan apabila karena dunianya, kekayaannya dan kepangkatannya dan sebagainya, maka hukumnya sangat MAKRUH”.

As-Samhudi dalam Wafa’ al-Wafa mengutip dari al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqolani, bahwa beliau berkata:

اِسْتَنْبَطَ بَعْضُهُمْ مِنْ مَشْرُوْعِيَّةِ تَقْبِيْلِ الْحَجَرِ الأَسْوَدِ جَوَازَ تَقْبِيْلِ كُلِّ مَنْ يَسْتَحِقُّ التَّعْ… ظِيْمَ مِنْ ءَادَمِيٍّ وَغَيْرِهِ، فَأَمَّا تَقْبِيْلُ يَدِ الآدَمِيِّ فَسَبَقَ فِيْ الأَدَبِ، وَأَمَّا غَيْرُهُ فَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ تَقْبِيْلِ مِنْبَرِ النَّبِيِّ وَقَبْرِهِ فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا، وَاسْتَبْعَدَ بَعْضُ أَتْبَاعِهِ صِحَّتَهُ عَنْهُ وَنُقِلَ عَنْ ابْنِ أَبِيْ الصَّيْفِ اليَمَانِيِّ أَحَدِ عُلَمَاءِ مَكَّةَ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ جَوَازُ تَقْبِيْلِ الْمُصْحَفِ وَأَجْزَاءِ الْحَدِيْثِ وَقُبُوْرِ الصَّالِحِيْنَ، وَنَقَلَ الطَّيِّبُ النَّاشِرِيُّ عَنْ الْمُحِبِّ الطَّبَرِيِّ أَنَّهُ يَجُوْزُ تَقْبِيْلُ الْقَبْرِ وَمسُّهُ قَالَ: وَعَلَيْهِ عَمَلُ العُلَمَاءِ الصَّالِحِيْنَ..

“Al-Hafizh Ibn Hajar mengatakan- bahwa sebagian ulama mengambil dalil dari disyari’atkannya mencium hajar aswad, kebolehan mencium setiap yang berhak untuk di agungkan; baik manusia atau lainnya, -dalil- tentang mencium tangan manusia telah dibahas dalam bab Adab, sedangkan tentang mencium selain manusia, telah dinukil dari Ahmad ibn Hanbal bahwa beliau ditanya tentang mencium mimbar Rasulullah dan kuburan Rasulullah, lalu beliau membolehkannya, walaupun sebagian pengikutnya meragukan kebenaran nukilan dari Ahmad ini. Dinukil pula dari Ibn Abi ash-Shaif al-Yamani, -salah seorang ulama madzhab Syafi’i di Makkah-, tentang kebolehan mencium Mushaf, buku-buku hadits dan makam orang saleh. Kemudian pula Ath-Thayyib an-Nasyiri menukil dari al-Muhibb ath-Thabari bahwa boleh mencium kuburan dan menyentuhnya, dan dia berkata: Ini adalah amaliah para ulama saleh” .

Wallohu A’lam.

sumber:

Hukum Mencium Tangan Ulama dan Orang Tua

Dalil kaum Khawarij

Video

Ahlu sunnah berpegang pada ayat-ayat muhkamat di dalam Al-Qur’an karena itu adalah inti agama islam, dan mereka saling bertoleransi dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, apalagi dalam hal-hal yang tidak ada ayatnya dan hanya bermodalkan ucapan ulama saja.

Adapun kaum Khawarij, mereka tidak memahami Al-Qur’an maka mereka tidak tahu mana ayat muhkamat dan mana ayat mutasyabihat. Lalu mereka menyibukkan diri dengan pendapat-pendapat ulama mereka dan mereka menjadikan pendapat ulama mereka itu sebagai hakim bagi seluruh umat manusia, tanpa mereka sadari bahwa hal itu sebenarnya berdiri di atas ayat-ayat mutasyabihat atau bahkan tidak ada ayatnya sama sekali. Mereka merasa bahwa dengan mengikuti pendapat ulama mereka itu berarti mereka telah berpegang pada islam yang benar, padahal metode yang mereka gunakan adalah metode kaum khawarij yang sudah diancam akan masuk neraka.

Contohnya, mereka menuhankan ucapan ulama mereka dalam masalah khilafiyah yang dalilnya tidak muhkamat, lalu mereka mencela, mencaci dan menghina sesama muslim dengan penuh semangat, padahal bertutur kata yang baik dan menghormati sesama muslim adalah satu hal yang amat penting dalam agama kita ini dan itu semua berdiri di atas dalil ayat-ayat muhkamat.

Inilah kaum khawarij pada zaman ini. Mereka adalah kaum yang akan menimbulkan fitnah berdasarkan ayat di bawah ini.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran, ayat 7).

Dan Nabi kita sudah memperingatkan kita terhadap kaum seperti ini, yaitu kaum yang tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai dalil, dan sebagai gantinya mereka sibuk dengan ucapan manusia, lalu mereka menjadikan ucapan manusia itu sebagai dalil untuk memusuhi sesama muslim.

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:  Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. MEREKA BERBICARA DENGAN PEMBICARAAN YANG SEOLAH-OLAH BERASAL DARI MANUSIA YANG TERBAIK. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

Semoga kita semua terhindar dari sikap seperti ini. Aamiin.

Momen Hijriyah

Hari ini, pada kalendar Hijriyah, kita ada di bulan apa dan tanggal berapa?

Besar kemungkinan kita semua tidak bisa menjawab pertanyaan ini.

Itu artinya, seharusnya momen-momen penting di bulan Hijriyah kita angkat, agar kita semua lebih dekat pada identitas diri kita sebagai ummat Islam, yaitu menggunakan kalendar Hijriyah dalam segala segi kehidupan kita.

Jangan sampai kita hafal kapan hari Natal akan tiba, tapi kita tidak tahu hari ini kita ada di bulan apa dalam kalendar Hijriyah. 😦

Please share.