Buku: Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Agar fakta sejarah tidak hilang …, please share.

image

Buku: Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Sebelum berbagai agama dari belahan dunia –Hindu, Buddha, dan Islam– masuk, penduduk Jawa telah menganut agama Kapitayan dengan “nabi” bernama Semar. Agama ini percaya bahwa roh, yang diyakini sebagai manifestasi Sang Hyang Widi atau Tuhan, mendiami suatu benda. Sebagai bentuk penyembahan, mereka menaruh sesaji pada benda-benda yang memiliki nama tu, seperti wa-tu (batu), tuk (mata air), dan persembahannya disebut tu-mpeng atau tu-mbal.

Agama Kapitayan inilah yang oleh peneliti Barat disebut animisme-dinamisme. Wali Songo bukanlah generasi awal yang berusaha mengislamkan Jawa. Sebelumnya, upaya itu dilakukan pedagang dan penjelajah muslim. Penemuan makam Fatimah binti Maimun di Gresik menjadi pertanda bahwa pada abad ke-10 sudah ada orang Islam di tanah Jawa. Ini juga didukung dengan penemuan makam beberapa tokoh di tempat-tempat lainnya.

Namun saat itu Islam belum bisa diterima secara luas oleh masyarakat. Selain posisi Majapahit sebagai kerajaan Hindu yang ketika itu masih kuat, juga karena para pendatang Islam tersebut tidak memiliki strategi dakwah yang jitu untuk mengislamkan Jawa. Baru ketika Wali Songo datang pada abad ke-15 dan ke-16, Islam diterima masyarakat luas.

Keberhasilan ini ditunjang dengan dakwah Wali Songo yang mengedepankan perdamaian dan dialog kebudayaan. Agama Kapitayan dan Hindu-Buddha yang masih kuat dianut masyarakat tidak serta-merta diberangus, melainkan diasimilasi dan diakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Tidak ada satu agama pun yang merasa dikalahkan atau dilenyapkan.

Harus pula diakui, tidak selamanya Wali Songo membangun dakwah dengan jalan kebudayaan. Setelah Majapahit resmi runtuh, Wali Songo memainkan peran politik, dengan menunjuk Raden Fatah sebagai Raja Demak. Sang raden adalah keturunan Majapahit yang beragama Islam.

Dari sini Islam politik lahir, dengan tidak serta-merta meninggalkan dakwah kebudayaan. Politik ala Wali Songo menjadi landasan etis-kondisional, mengingat kehadiran institusi “negara” (kerajaan) menjadi niscaya untuk mengelola masyarakat dan peradabannya. Politik Wali Songo bergerak melampaui batas-batas kepentingan sesaat para elite. Islam dalam corak Kerajaan Demak adalah manifestasi Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Anggota Wali Songo memiliki berbagai keahlian sehingga memungkinkan untuk berbagi peran. Ada wali yang ahli strategi politik, kesenian, pertanian, dan sebagainya. Kehidupan kenegaraan menjadi seimbang karena ada ahli yang menjadi penyokong masyarakat.

Buku ini menjadi penting bagi kajian sejarah Islam di Indonesia. Bahwa yang dapat diterima masyarakat adalah dakwah kebudayaan dan perdamaian, bukan Islam jalan kekerasan. Islam di Indonesia akan tampak meneduhkan ketika menghormati kebudayaan masyarakat tanpa berhasrat menundukkannya.

info buku:
Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan
Penulis: Agus Sunyoto
Penerbit: Trans Pustaka, 2011
Tebal: 298 halaman

sumber artikel:
http://ummatipress.com/buku-wali-songo-rekonstruksi-sejarah-yang-disingkirkan.html

please share.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s