Bumi Mengelilingi Matahari

Pengumuman Lembaga Falakiyah PBNU Tentang Gerhana Matahari Total

👆
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa peristiwa gerhana matahari total jatuh pada Rabu pagi, 9 Maret 2016. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab Lembaga Falakiyah PBNU dengan menggunakan markaz Jakarta.
👆
Apa yang penting dari informasi ini?

BUMI MENGELILINGI MATAHARI

Satu hal yang penting adalah: prediksi di atas dibuat dengan menggunakan teori Bumi Mengelilingi Matahari.

Mungkin sebagian dari kita sudah pernah dengar tentang adanya sebagian ummat Islam yang meyakini sebaliknya, yaitu Matahari-lah yang mengelilingi Bumi?

Bagi mereka, keyakinan “Matahari mengelilingi Bumi” berasal dari penafsiran yang paling benar dan paling sesuai dengan manhaj Salaf. Padahal itu adalah penafsiran versi mereka sendiri. 😰

Kalau bertemu dengan mereka, janganlah kita tanya apa dalilnya, karena pertanyaan itu hanya akan dijawab dengan doktrin.

Sekali lagi, jangan tanya apa dalilnya, tapi sebagai gantinya, mari kita ajak mereka untul berfikir, beri mereka kertas dan pensil, lalu mintalah mereka untuk menggambarkan model tata surya kita ini, lalu minta pula mereka untuk menjelaskan bagaimana terjadinya malam dan siang, bulan dan tahun, musim panas dan musim dingin, perubahan panjang waktu siang dan malam, dan lainnya.

Insya Allah mereka tidak akan bisa menjawabnya dengan benar, dan kalaupun mereka menjawab pasti jawaban mereka akan berbeda-beda di antara mereka sendiri. Dengan cara itu, semoga kita bisa mengajak mereka untuk bersama-sama merenungi alam semesta ini beserta dengan bukti-buktinya.

Sebaik-baik muslim adalah yang bisa memahami alam sekitar kita, dan bisa mengambil pelajaran darinya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imraan:190)

Kesimpulan:
Kebenaran prediksi gerhana Matahari di atas adalah satu bukti bahwa teori Bumi Mengelilingi Matahari adalah teori yang tidak terbantahkan lagi. Dan sebenarnya hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an kita.


Tambahan:
Di bawah ini adalah contoh buku-buku yang mengajarkan doktrin “Matahari Mengelilingi Bumi”. 😰

image

image

image

Dan di bawah ini adalah ilustrasi yang benar (Bumi Mengelilingi Matahari)
image

Orang awam taqlid hadits

Orang awam akan melihat bahwa menolak hadits yang telah dishahihkan oleh Syaikh Albani adalah sama dengan menolak sabda Nabi Muhammad saw.

Mereka tidak bisa memahami bahwa para ahli hadits kadang berbeda pendapat dalam menshahihkan suatu hadits.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bisa memahami, Aamiin.

Berlomba, bukan bertanding

Dalam islam, kita diperintahkan untuk berlomba dalam melakukan amal, bukan bertanding dalam melakukan amal.

Berlomba adalah bersaing dengan tanpa menjatuhkan, seperti lomba lari, semua bisa mencapai finish meskipun kecepatannya berbeda-beda.

Adapun bertanding adalah bersaing dengan cara menjatuhkan lawan, seperti pertandingan tinju atau lainnya. Pemenang hanya ada satu, dan yang lain harus kalah.

Dalam islam, yang diperintahkan adalah berlomba-lomba dalam beramal, bukan bertanding dalam beramal. Maka itu artinya, dalam hal-hal yang mungkin memiliki perbedaan, mari kita pilih cara kita masing-masing, lalu kita amalkan pilihan itu sebaik mungkin, nanti akan kita lihat amal siapa yang paling baik, lebih baik atau hanya sekedar baik saja. Insya Allah semua baik.

Dan itu artinya, janganlah kita menggunakan sudut pandang bertanding dalam melakukan amal-amal kita, lalu dengan sudut pandang itu kita lalu sibuk menjatuhkan orang lain yang beramal dengan cara yang berbeda, apalagi kalau sambil menebar tuduhan-tuduhan negatif semau kita. Ini adalah cara yang sama sekali tidak benar.

Berlombalah dalam kebaikan, jangan bertanding. Ini adalah ajaran dari Al-Qur’an kita.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 148)

Mengapa Syiah Rafidhah mengkafirkan sebagian Sahabat Nabi?

Mengapa Syiah Rafidhah mengkafirkan sebagian Sahabat Nabi?

Tanyakanlah pada orang-orang yang mengkafirkan orang tua nabi, mereka punya jawabannya.

Ahlu Sunnah adalah kelompok yang menjaga lidah dan tulisan mereka dari menjelek-jelekkan sahabat nabi, apalagi menjelek-jelekkan orang tua nabi. Semoga kita semua termasuk ke dalam kelompok Ahlu Sunnah ini, aamiin.

Beda Madzhab Salaf dan “Madzhab” Wahabi

Imam empat madzhab memberikan jawaban atas pertanyaan “kalau tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan sunnah, maka harus bagaimana?”

Mereka memberikan solusi dalam bentuk urutan prioritas, misalnya gunakan ijma, gunakan qiyas, gunakan maslahah mursalah, lihat kebiasaan warga madinah, atau lainnya, dari situ baru bisa disimpulkan apa hukum suatu masalah.
Inilah yang namanya madzhab, yaitu mengajari kita ttg bagaimana cara menilai sesuatu. Metodenya-lah yang dibakukan dan diwariskan pada ulama berikutnya, sampai ke kita saat inim Kalau dalam komputer, ini ibarat operating system yang mengatur gerak semua aplikasi kita. Aplikasi boleh bertambah, tapi pola pikir sudah baku.

Adapun wahabi or salafi, mereka tidak punya metode utk menjawab pertanyaan  “kalau tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan sunnah, maka harus bagaimana?”
Karena bagi mereka, kalau tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan sunnah, maka hukumnya langsung jatuh ke bid’ah -> sesat -> neraka.

Tidak ada metode yang digunakan. Dan di saat mereka kesulitan untuk menilai suatu hal yang ternyata dibutuhkan, akhirnya mereka lari ke “fatwa ulama”, tentunya yang dimaksud disini adalah ulama versi mereka sendiri, seperti Syaikh bin Baz, lajnah daaimah atau lainnya.
Intinya, tidak ada metode. Yang ada hanya Al-Qur’an, hadits dan fatwa dari ulama kebanggaan. 😦

Kalau dalam komputer, ini ibarat program aplikasi yang banyak men-save file2, tapi sama sekali tidak memiliki metode untuk mengatur itu semua.

Kesimpulannya:
1. Imam empat madzhab memberikan solusi atas pertanyaan  “kalau tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan sunnah, maka harus bagaimana?”
Inilah madzhab salaf yang sebenarnya.

2. Adapun wahabi, langsung menghukumi semua hal yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai bid’ah. Tentu saja, pemikiran seperti ini bukanlah pemikiran para ulama salaf.

Buku: Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Agar fakta sejarah tidak hilang …, please share.

image

Buku: Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Sebelum berbagai agama dari belahan dunia –Hindu, Buddha, dan Islam– masuk, penduduk Jawa telah menganut agama Kapitayan dengan “nabi” bernama Semar. Agama ini percaya bahwa roh, yang diyakini sebagai manifestasi Sang Hyang Widi atau Tuhan, mendiami suatu benda. Sebagai bentuk penyembahan, mereka menaruh sesaji pada benda-benda yang memiliki nama tu, seperti wa-tu (batu), tuk (mata air), dan persembahannya disebut tu-mpeng atau tu-mbal.

Agama Kapitayan inilah yang oleh peneliti Barat disebut animisme-dinamisme. Wali Songo bukanlah generasi awal yang berusaha mengislamkan Jawa. Sebelumnya, upaya itu dilakukan pedagang dan penjelajah muslim. Penemuan makam Fatimah binti Maimun di Gresik menjadi pertanda bahwa pada abad ke-10 sudah ada orang Islam di tanah Jawa. Ini juga didukung dengan penemuan makam beberapa tokoh di tempat-tempat lainnya.

Namun saat itu Islam belum bisa diterima secara luas oleh masyarakat. Selain posisi Majapahit sebagai kerajaan Hindu yang ketika itu masih kuat, juga karena para pendatang Islam tersebut tidak memiliki strategi dakwah yang jitu untuk mengislamkan Jawa. Baru ketika Wali Songo datang pada abad ke-15 dan ke-16, Islam diterima masyarakat luas.

Keberhasilan ini ditunjang dengan dakwah Wali Songo yang mengedepankan perdamaian dan dialog kebudayaan. Agama Kapitayan dan Hindu-Buddha yang masih kuat dianut masyarakat tidak serta-merta diberangus, melainkan diasimilasi dan diakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Tidak ada satu agama pun yang merasa dikalahkan atau dilenyapkan.

Harus pula diakui, tidak selamanya Wali Songo membangun dakwah dengan jalan kebudayaan. Setelah Majapahit resmi runtuh, Wali Songo memainkan peran politik, dengan menunjuk Raden Fatah sebagai Raja Demak. Sang raden adalah keturunan Majapahit yang beragama Islam.

Dari sini Islam politik lahir, dengan tidak serta-merta meninggalkan dakwah kebudayaan. Politik ala Wali Songo menjadi landasan etis-kondisional, mengingat kehadiran institusi “negara” (kerajaan) menjadi niscaya untuk mengelola masyarakat dan peradabannya. Politik Wali Songo bergerak melampaui batas-batas kepentingan sesaat para elite. Islam dalam corak Kerajaan Demak adalah manifestasi Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Anggota Wali Songo memiliki berbagai keahlian sehingga memungkinkan untuk berbagi peran. Ada wali yang ahli strategi politik, kesenian, pertanian, dan sebagainya. Kehidupan kenegaraan menjadi seimbang karena ada ahli yang menjadi penyokong masyarakat.

Buku ini menjadi penting bagi kajian sejarah Islam di Indonesia. Bahwa yang dapat diterima masyarakat adalah dakwah kebudayaan dan perdamaian, bukan Islam jalan kekerasan. Islam di Indonesia akan tampak meneduhkan ketika menghormati kebudayaan masyarakat tanpa berhasrat menundukkannya.

info buku:
Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan
Penulis: Agus Sunyoto
Penerbit: Trans Pustaka, 2011
Tebal: 298 halaman

sumber artikel:
http://ummatipress.com/buku-wali-songo-rekonstruksi-sejarah-yang-disingkirkan.html

please share.

Melacak Sejarah Walisongo Dari Dokumen-Dokumen Kuno Terpercaya


Artikel ini menjelaskan fakta sejarah keberadaan Walisongo dari sumber-sumber yang terpercaya. Artikel ini juga memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa ummat Islam di Indonesia menganut pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang sama persis dengan keyakinan ummat Islam yang ada di Turki, Mesir dan juga Palestina.
Selamat membaca.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia sungguh penuh dengan carut-marut karena sejak dahulu bangsa Indonesia memang lemah dalam sistem dokumentasi. Akibatnya, sejarah Indonesia sebelum datangnya bangsa Belanda selalu ada beberapa versi karena selalu ada distorsi dari pelaku sejarah maupun dari masyarakat yang meneruskan cerita tersebut kepada generasi berikutnya.

Sungguh suatu hal sangat memprihatinkan, bahwa sejarah lahirnya Islam di Jazirah Arabia yang terjadi pada abad ke-7 Masehi dan lahirnya Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam [581 M], wafat [632 M] dan penggantinya Abu Bakar [632-634 M], Umar Bin Khotob [634-644 M], Usman Bin Affan [644-656 M], Ali Bin Abi Thalib [656-661 M] serta perkembangan Islam selanjutnya dapat terdokumentasi secara jelas. Namun sejarah masuknya Islam di Indonesia yang terjadi 7 abad setelahnya, justru tidak terdokumentasi secara pasti. Barangkali karena alasan itulah maka sejarah tentang walisongo juga penuh dengan carut-marut.

Kisah-kisah individu walisongo penuh dengan nuansa mistik, bahkan tidak hanya nuansa mistik yang menyelimuti kisah walisongo tetapi juga penuh dengan berita-berita bohong. Mistik dan bohong adalah dua hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi mengapa keduanya justru menjadi warna utama kisah para wali yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia?

Sebagai umat Islam tentu saja kita harus mengembangkan metode berpikir dialektis untuk mengambil hikmah yang sesungguhnya dan meluruskan sejarah yang sebenarnya berdasarkan sumber yang benar.

Berikut adalah dokumen-dokumen yang dipastikan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo;

1. “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Leiden-Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari Zaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap. Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam. (Baca: Diskusi Para Wali Songo Dalam Buku ‘Het Book Van Bonang’ )

2. “Suluk Linglung”, buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dengan buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yang banyak beredar.

3. “Kropak Farara”, buku yang amat penting tentang walisongo ini diterjemahkan oleh Prof. Dr. GJW Drewes ke dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Wahyudi ke dalam bahasa Indonesia. (Baca: Wejangan Agama Dari Era Sekitar Wali Jawa)

4. “Kitab Walisana”, kitab yang disusun oleh Sunan Giri ini berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.

Istilah walisongo memang masih kontroversial dan tidak ada dokumen yang dapat dijadikan rujukan untuk menentukan mana yang benar. Istilah walisongo adalah nama sebuah dewan yang beranggotakan 9 orang [A. Wahyudi dan Abu Khalid; Widji Saksono,1995].

Anggota walisongo merupakan orang-orang pilihan dan oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari bahasa Arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah SWT karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran agama Islam ke segala penjuru. Orang Jawa mengenal istilah kiblat papat limo pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat disebut kiblat papat dan empat arah diantaranya ditambah pusat disebut limo pancer.

Dalam kitab Kanzul Ulum karya IBNU BATHUTHAH yang masih tersimpan di perpustakaan istana Kasultanan Ottoman di Istanbul, pembentukan Walisongo ternyata pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki, MUHAMMAD I yang menerima laporan dari para saudagar Gujarat {India} bahwa di pulau Jawa jumlah pemeluk agama Islam masih sangat sedikit. Berdasarkan laporan tersebut Sultan MUHAMMAD I membentuk sebuah tim yang beranggotakan 9 orang, yaitu:

1. MAULANA MALIK IBRAHIM, berasal dari Turki, ahli irigasi dan tata pemerintahan;
2. MAULANA ISHAQ, berasal dari Samarkan ahli pengobatan;
3. MAULANA AHMAD JUMADIL KUBRO, berasal dari Mesir;
4. MAULAN MUHAMMAD AL MAGHROBI, berasal dari Maroko;
5. MAULANA MALIK ISRO’IL, berasal dari Turki, ahli tata pemerintahan;
6. MAULANA MUHAMMAD ALI AKBAR, berasal dari Iran, ahli pengobatan;
7. MAULANA HASANUDDIN, dari Palestina;
8. MAULANA ALIYUDDIN, dari Palestina;
9. SYEIKH SUBAKIR, dari Iran, ahli kemasyarakatan;

Inilah walisongo angkatan pertama yang datang ke pulau Jawa pada saat yang tepat, karena Majapahit sendiri pada saat itu sedang dilanda perang saudara, yaitu perang Paregreg, sehingga kedatangan mereka tidak begitu mendapat perhatian. Perlu diketahui bahwa tim pertama tersebut bukanlah para ahli agama atau bisa dikatakan bahwa mereka belum mempunyai ilmu agama yang mumpuni. Sultan Muhammad I tidak pernah menyebut tim tersebut dengan nama walisongo. Barangkali istilah walisongo berasal dari masyarakat atau dari tim itu sendiri setelah bekerja beberapa puluh tahun. Adapula kemungkinan bahwa istilah walisongo muncul setelah wali pribumi dari kalangan bangsawan yang masuk ke dalam tim.

Karena Maulana Malik Ibrahim sebagai ketua walisongo wafat pada tahun 1419 M, maka pada tahun 1421 M dikirim seorang penyebar Islam baru yang bernama AHMAD ALI RAHMATULLAH dari Champa yang juga keponakan MAULANA ISHAK. Beliau adalah anak IBRAHIM ASMARAKANDI yang menjadi menantu Sultan Campha. Pemilihan Ahmad Ali Rahmatullah yang nantinya sering dipanggil RADEN RAHMAT adalah keputusan yang sangat tepat, karena Raden Rahmat dianggap mempunyai kelebihan [ilmu agama yang lebih dalam] dan putra Mahkota kerajaan Majapahit pada saat itu menikah dengan bibi Raden Rahmat. Oleh karena itu dengan Raden Rahmat menjadi ketua, walisongo berharap agar Prabu Kerta Wijaya dapat masuk Islam, atau setidak-tidaknya tidak menghalangi penyebarah Islam. Dialog antara Raden Rahmat yang mengajak Prabu Kerta Wijaya masuk Islam tertulis dalam Kitab Walisana dengan langgam Sinom pupuh IV bait 9-11 dan bait 12-14.

Karena masih kerabat istana, maka Raden Rahmat diberi daerah Ampeldento oleh Raja Majapahit yang kemudian dijadikan markas untuk mendirikan pesantren. Selanjutnya Raden Rahmat dikenal dengan nama SUNAN AMPEL. Menurut Widji Saksono [1995:23-24], kedatangan Raden Rahmat di pulau Jawa disertai dua pemuda bangsawan Champha yaitu Raden SANTRI ALI dan ALIM ABU HURAIRAH serta 40 orang pengawal. Selanjutnya Raden Santri Ali dan Alim Abu Hurairah bermukim di Gresik dan dikenal dengan SUNAN GRESIK dan SUNAN MAJAGUNG. Dengan kedatangan Raden Rahmat, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kedua.

Pada tahun 1435 ada dua orang wali yang wafat, yaitu Maulana Malik Isro`il dan Maulana Muhammad Ali Akbar. Dengan meninggalnya dua orang itu, dewan mengajukan permohonan kepada Sultan Turki [tahun 1421 Sultan Muhammad I digantikan oleh sultan MURAD II, yang memimpin sampai tahun 1451 {Barraclough, 1982:48}] untuk dikirimkan dua orang pengganti yang mempunyai kemampuan agama yang lebih mendalam.

Permohonan tersebut dikabulkan dan pada tahun 1436 dikirim dua orang juru dakwah, yaitu :

1. SAYYID JA`FAR SHODIQ, berasal dari Palestina, yang selanjutnya bermukin di Kudus dan dikenal dengan nama SUNAN KUDUS. Dalam buku Babad Demak karya Atmodarminto {2001, disebutkan bahwa Sayyid Ja`far Shodiq adalah satu-satunya anggota walisongo yang paling menguasai Ilmu Fiqih.

2. SYARIF HIDAYATULLAH, berasal dari Palestina yang merupakan ahli strategi perang. Menurut buku Babad Tanah Sunda Babad Cirebon karya PS Sulendraningrat {tanpa tahun}, Syarif Hidayatullah adalah cucu Prabu Siliwangi dari Pajajaran hasil perkawinan Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah dari Mesir. Selanjutnya Syarif Hidayatullah bermukim di Cirebon dan dikenal dengan nama SUNAN GUNUNG JATI.

Dengan kedatangan wali muda tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan ketiga. Nampak dari informasi di atas bahwa ada tiga wali muda yang tentu mempunyai kedalaman ilmu agama yang lebih dibandingkan dengan angkatan sebelumnya.

Pada tahun 1462 dua orang anggota walisongo wafat, yaitu Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin. Sebelum itu ada dua orang anggota wali yang meninggalkan tanah Jawa, yaitu Syekh Subakir pulang ke Persia dan Maulana Ishak berdakwah di Pasai. (Baca: Islam Dan Kristen Dalam Jangka Jayabaya Syekh Bakir)

Dalam sidang walisongo di Ampeldento, diputuskan bahwa ada empat orang yang masuk dalam dewan walisongo, yaitu:

Raden MAKHDUM IBRAHIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di desa Mbonang, Tuban. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN MBONANG. (Baca : Tafsir Sunan Bonang, Bukti Karya Intelektual Walisongo)
Raden QOSIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di lamongan dan dikenal dengan nama SUNAN DRAJAT.
Raden PAKU, putra Maulana ISHAQ yang bermukim di Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN GIRI.
Raden Mas SAID, putra Adipati Tuban yang bermukim di Kadilangu, Demak. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN KALIJOGO.
Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan keempat. Dalam dewan walisongo angkatan keempat ini masih ada dua orang yang bersal dari angkatan pertama, sehingga pada tahun 1463 mereka sudah bertugas di tanah Jawa selama 59 tahun. Dua orang itu adalah Maulana Ahmad Jumadil Qubro yang meninggal pada tahun 1465 dan Maulana Muhammad Al Maghrobi [tidak diketahui tahun berapa wafatnya]. Dalam kitab walisana disebutkan bahwa pada saat Raden FATAH menghadapi SYEKH SITI JENAR, Maulana Muhammad Al Maghrobi masih merupakan tokoh sentral, kuat dugaan bahwa beliau yang mengambil keputusan tentang masalah Syekh Siti Jenar.

Perlu diperhatikan bahwa mulai angkatan keempat ini banyak anggota walisongo yang merupakan putra bangsawan pribumi. Bersamaan dengan itu, orientasi ajaran Islam mulai berubah dari Arab Sentris menjadi Islam Kompromistis. Pada saat itulah tubuh walisongo mulai terbelah antara kelompok futi`a dan aba`ah, barangkali pada saat itu pula muncul istilah Walisongo. Isi kitab walisana yang ditulis oleh Sunan Giri II pun yang ditulis pada awal abad 16 banyak berbeda dengan buku-buku sunan Mbonang yang masih menjelaskan ajaran Islam yang murni.

Dengan meninggalnya dua orang wali yang paling tua itu, maka pada tahun 1466 diadakan sidang yang memutuskan memasukkan anggota baru dan mengganti ketua dewan yang sudah berusia lanjut. Ketua dewan yang dipih dalam siding tersebut adalah Sunan GIRI, sedangkan anggota dewan yang masuk adalah :

1. Raden FATAH, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang merupakan Adipati Demak.
2. FATHULLAH KHAN, putra Sunan Gunung Jati yang dimaksudkan untuk membantu tugas ayahandanya yang sudah berusia lanjut.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kelima.

Setelah Raden Fatah dinobatkan menjadi Sultan Demak Bintara, maka pada tahun 1478, dilakukan perombakan lagi dalam tubu dewan walisongo. Selain Raden Fatah, Sunan Gunung Jati pun lengser karena usianya yang lanjut. Posisi Sunan Gunung Jati digantikan oleh Fathullah Khan yang memang sudah ada dalam dewan walisongo. Dua posisi yang kosong diisi oleh :

1. Raden UMAR SAID, putra Sunan Kalijogo yang lebih dikenal sebagai SUNAN MURIA.
2. Sunan PANDANARAN, murid Sunan Kalijogo yang bermukim di Tembayat, juga dikenal sebagai SUNAN TEMBAYAT.
Menurut kitab walisana karya Sunan Giri II, status Sunan Muria dan Sunan Padanaran hanya sebagai wali penerus atau wali nubuah atau wali nukbah. Kitab walisana juga tidak pernah menyebut nama Fathullah Khan sebagai anggota walisongo. Barangkali hal itu terjadi karena begitu diangkat menjadi anggota walisongo, Fathullah Khan langsung disebut sebagai Sunan Gunung Jati seperti sebutan untuk ayahandanya.

Setelah masa walisongo angkatan keenam, masih banyak orang yang pernah mendapat gelar sebagai wali, namun kapan mereka itu diangkat dan menggantikan siapa, tidak ada bukti dan keterangan yang dapat dijadikan patokan dan kebenarannyapun masih banyak diragukan. Mereka itu misalnya SYEKH SITI JENAR, Sunan GESENG, sunan NGUDUNG, Sunan PADUSAN, Sunan KALINYAMAT, Sunan MURYAPODO, dan ada beberapa orang yang juga dianggap sebagai wali misalnya Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pengging. []

E.A. Indrayana
Pemerhati Sejarah Kerajaan Jawa
Tinggal di Bekasi
Ditulis ulang dari http://nyimaspakungwati.blogspot.com/2009/05/carut-marut-hikayat-walisongo.html

Pustaka:

o Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
o Sulendraningrat, 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
o Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA, tanpa tahun, Kisah Walisongo, Karya Ilmi, Surabaya.
o Widji Saksono, 1995, Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah atas Metode Dakwah Walisongo,Penerbit Mizan, Bandung.
o Atmodarminto, R., 2000, Babad Demak;Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan, terjemahan Saudi Berlian, Millenium Publisher, Jakarta. (© Banyu Mili 2009)

sumber:

Melacak Sejarah Walisongo Dari Dokumen-Dokumen Kuno Terpercaya