Cara beragama yang benar

Beragama itu bukan dengan cara mengulang-ulang ucapan syaikh anu bin anu bin anu, dan mentadabburi maknanya di keheningan malam.

Beragama itu dengan cara mengulang-ulang ayat Al-Qur’an dan mentadabburinya maknanya di keheningan malam.

Agama bukan cuma ilmu yang masuk ke kepala.
Agama juga meliputi proses tadabbur ayat Al-Qur’an untuk memperhalus hati kita.

Jangan sampai kita lupa mentadabburi Al-Qur’an, dan menggantinya dengan mentadabburi ucapan-ucapan manusia, yang mengakibatkan kita sibuk mengasah otak kita tapi lupa bahwa hati kita tetap kasar. Akhirnya, kita menjadi orang yang sibuk mencela sesama muslim dengan modal ucapan manusia, tapi tetap tidak memahami Al-Qur’an.

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang selalu menomorsatukan Al-Qur’an dan selalu  mentadabburinya.

Aamiin.

Aku (bukan) wahabi!

Kalau seandainya Wahabi adalah orang yang kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah nabi berdasarkan pemahaman Salafus Shalih, maka saksikanlah bahwa aku adalah Wahabi.

Tapi kalau yang dimaksud dengan Wahabi adalah orang-orang yang menomorsatukan hadits di atas Al-Qur’an, atau menyibukkan diri dengan hadits-hadits dan menomorsekiankan Al-Qur’an, atau sibuk membahas tema bid’ah tapi tetap tidak faham juz’amma meskipun sudah ikut kajian bertahun-tahun, atau sibuk membahas masalah-masalah khilafiyah dan memilih satu pendapat lalu membid’ahkan serta menyesatkan pendapat lain, atau hanya mau ikut pengajian pada satu kelompok saja dan membid’ahkan pengajian dari kelompok lain, atau hanya sibuk meributkan masalah tata cara ibadah dan melupakan wajibnya akhlak yang baik pada sesama muslim sepertihalnya kaum Khawarij, atau lebih suka memusuhi sesama muslim dan malah berkawan dengan kaum kafir, atau menutup mata pada penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina dan lebih suka mengirimkan dana kita pada kelompok-kelompok yang memerangi sesama muslim, atau lebih suka mencari-cari perbedaan kecil di antara sesama muslim dan malah melupakan hal-hal besar dalam agama kita, atau sibuk mengatakan kafir kafir kafir pada orang tua nabi kita dengan tanpa perasaan sama sekali padahal itu adalah masalah khilafiyah, atau lebih suka menghina keturunan nabi daripada menghormati mereka dalam batasan yang wajar, atau lupa bahwa Imam Mahdi akan datang dari kalangan ahlul bait nabi, atau sibuk menuduh kafir kafir kafir pada sesama muslim seenaknya saja, atau menuduh sesat pada kelompok sufi secara membabi buta (padahal Muhammad al-Fatih berasal dari kalangan sufi), atau mengatakan bahwa bermadzhab itu sesat (padahal Salahuddin al-Ayyubi dan ribuan ulama lainnya juga bermadzhab), atau menuduh kaum Asy’ari serta kaum Maturidi sebagai kelompok sesat (padahal ada ribuan ulama di situ sejak lebih dari seribu tahun yang lalu),  kalau itu yang namanya Wahabi, maka saksikanlah bahwa Aku Bukan Wahabi!

Depok, 19 Januari 2016

Isa Ismet Khumaedi

Note:
Ahlu sunnah yang benar adalah orang-orang yang berusaha kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, dan tetap menjaga agar tidak terjatuh pada sikap-sikap negatif yang disebutkan pada paragraph kedua di atas.

Tahapan Menjadi Khawarij

1. Awalnya tidak tahu islam.
2. Lalu diajak pengajian.
3. Lalu merasa benar sendiri.
4. Lalu mengklaim satu pendapat sebagai pendapat yang benar.
5. Tidak mau ikut pengajian kalau ustadznya bukan dari kelompoknya sendiri.
6. Menuduh bid’ah ke sana-sini, dalam masalah khilafiyah.
7. Mulai menyerang pendapat lain.
8. Mengklaim bahwa kelompoknya adalah satu-satunya kelompok yang sesuai dengan sunnah nabi, dan kelompok lain adalah kelompok ahli bid’ah.
9. Mulai timbul semangat untuk menghilangkan kebid’ahan dan kesesatan (versi mereka sendiri) dari muka bumi.
10. Jadilah Khawarij. 😦


Tanda-tanda akan menjadi khawarij, dimulai dari ciri nomor 3 di atas.

Mari kita cegah sanak saudara kita sedini mungkin, agar tidak menjadi Khawarij.

KITA KELOMPOK YANG TAK PUNYA MALU

Refleksi Syair Ahmad Nu’aimi

KITA KELOMPOK YANG TAK PUNYA MALU

Kita katakan Sufi itu sesat, padahal Sultan Muhammad al-Fatih yang kehadirannya sudah disebutkan oleh Rasulullah saw sebagai sebaik-sebaik pemimpin ternyata berasal dari kalangan Sufi. Di luar itu, masih ada Umar Mochtar sang Singa Libya yang gigih melawan tentara Italia, dan juga ada Pangeran Diponegoro yang berperang melawan Belanda sehingga mengakibatkan korban yang sangat banyak di sisi Belanda, mereka berdua juga adalah tokoh Sufi pada zamannya.

Kita katakan bermadzhab itu tidak boleh, padahal Salahuddin al-Ayyubi sebagai panglima besar ummat Islam yang berhasil merebut Yerussalem dari kaum salib adalah seseorang yang amat kuat memegang madzhab Syafi’i. Bahkan atas jasa beliau-lah maka keyakinan rakyat Mesir bisa berubah dari Syiah menjadi Sunni Syafi’i. Dan di luar itu, para ulama besar seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Nawawi, Imam Qurthubi, Imam Jalalain, dan lainnya, mereka semua juga bermadzhab.

Kita katakan bahwa Aqidah Asy’ari itu sesat, padahal Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari adalah seorang Asy’ari, Imam Nawawi yang mengarang kitab Syarah Shahih Muslim juga Asy’ari, ribuan ulama lainnnya dari berbagai disiplin ilmu juga Asy’ari, dan satu lagi, kita orang Indonesia juga berdiri di atas tanah Indonesia yang kemerdekaannya disokong oleh darah ribuan ulama Asy’ari beserta para santri mereka, terutama sekali dengan adanya fatwa Jihad dari KH Hasyim Asy’ari yang menyebabkan terjadinya perang Pahlawan di Surabaya yang mengakibatkan gugurnya puluhan ribu syuhada dan terbunuhnya Jenderal Inggris di sana.

Kita katakan ini-itu, padahal orang yang kita cela memiliki ilmu yang lebih tinggi dari kita, dan memiliki amal yang diakui oleh seluruh ummat Islam.

Lalu kita sendiri, siapa kita?

Kita mungkin hanya orang yang bisa mencela. Tetapi meskipun begitu, tetap tidak ada kata terlambat bagi kita untuk memperbaiki diri kita. Insya Allah, ampunan Allah lebih besar dari seluruh langit dan bumi.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar:53)


Note:
Ahmad Nu’aimi adalah seorang penyair Syiah Irak yang dihukum mati oleh pemerintah Iran karena membuat syair dengan judul “Kita Bangsa Yang Tidak Punya Malu” yang menceritakan tentang jasa para pahlawan Muslim yang prestasinya diakui oleh seluruh ummat Islam, tapi ternyata para pahlawan itu berasal dari kalangan Sunni.
Tulisan ini adalah refleksi dari syair tersebut, untuk menjelaskan bahwa sebagian dari para pahlawan Muslim tersebut juga sebenarnya berasal dari kalangan Sunni yang beraliran sufi, atau mengikuti madzhab tertentu atau beraqidahkan Asy’ari, tetapi ketiga hal ini banyak dicerca oleh orang-orang yang “terlalu bersemangat dalam mempelajari agama Islam ini”, sehingga mereka lupa sepertihalnya warga syiah yang lupa bahwa mayoritas pahlawan Muslim ternyata berasal dari kalangan Sunni.

Semoga bermanfaat.

Please share.

Depok, 6 Januari 2016

Isa Ismet Khumaedi

Sumber artikel ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2016/01/06/kita-kelompok-yang-tak-punya-malu/

Referensi:
Muhammad Al-Fatih Sufi
http://m.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2014/03/13/18072/penaklukan-konstantinopel-dan-peran-ulama-sufi.html#.Vo0XJxmlbqC

Salahuddin Al-Ayyubi bermadzhab Syafi’i
http://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2014/12/23/35653/sikap-panglima-shalahuddin-al-ayyubi-terhadap-syiah.html

Pangeran Diponegoro Sufi
http://m.republika.co.id/berita/koran/teraju/15/02/12/njnicr11-tarekat-spirit-perlawanan-kolonial

Umar Mokhtar, Sufi Singa Padang Pasir
http://m.arrahmah.com/read/2009/06/20/4700-umar-mukhtar-the-lion-of-the-desert.html

Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari
http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,40394-lang,id-c,fragmen-t,Resolusi+Jihad-.phpx

Syair Ahmad Nu’aimi: Kita Bangsa Yang Tak Punya Malu
http://www.nugarislurus.com/2015/12/inilah-syair-heboh-ahmad-nuaimi-yang-membuatnya-dieksekusi-syiah.html

Bagi yang berminat menerima artikel seperti ini via WA, silakan kirim pesan WA ke nomor ‪0877-7724-4156‬, tulis nama dan pesan “ingin terima artikel meluruskan pemahaman Islam”.

Please share.

Mengapa Wahabi sangat membenci Syiah?

Di Saudi yang dominan adalah Wahabi, dan Wahabi adalah aliran ekstrim dalam Sunni. Adapun di Iran yang dominan adalah Rafidhah, dan Rafidhah adalah aliran ekstrim dalam Syiah.

Wahabi sangat membenci Syiah, karena Wahabi adalah penerus ideologi Bani Umayyah yang memang amat membenci semua hal yang “berbau Ali”, sedangkan Syiah adalah kelompok yang mengkultuskan Ali sehingga secara otomatis Syiah juga amat membenci Bani Umayyah yang memang telah membantai Hussein bin Ali beserta keluarganya di Padang Karbala.

Sejarah mencatat, tiga generasi bani Hasyim telah terusir. Yang pertama adalah nabi kita Muhammad saw, terusir dari Makkah ke Madinah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Berikutnya adalah menantu Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib, yang terusir dari Madinah ke Kufah. Siapakah yang mengusir? Yang mengusir adalah Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Terakhir adalah cucu nabi, yaitu Hussein bin Ali, yang terpaksa pergi meninggalkan Madinah ke arah Kufah dan dibantai di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Lengkap sudah penderitaan tiga generasi, dan pembantaian keluarga nabi di Padang Karbala inilah yang akhirnya menjadi pemicu utama munculnya kelompok Syiah yang amat mengkultuskan Ali dan Hussein bin Ali.

Maka, tidak heran kalau Wahabi sangat menggebu-gebu mempropagandakan pendapat bahwa orang tua nabi dan orang tua Ali masuk neraka. Seakan-akan yang terlihat adalah “kalau Muhammad dan Ali tidak bisa masuk neraka, minimal orang tua mereka yang harus masuk neraka”. 😦
Sebaliknya, kelompok Syiah selalu mengatakan bahwa Muawiyah dan bapaknya adalah orang Munafik yang akan masuk neraka.

Jadi, jangan heran kalau dalam pengajian Wahabi tema Syiah sesat itu tema wajib. Semua yang berbau Syiah akan dibabat habis. Yaman dan Suriah adalah contoh nyata, betapa Saudi amat bernafsu menyerang Syiah. Lalu kenapa Saudi tidak menyerang Israel? Ya mudah saja, karena Israel bukan Syiah. 🙂

Sebaliknya, dalam pengajian Syiah, tema wahabi juga sering diangkat. Isinya ya sama saja, sisi negatifnya yang diangkat.

Wahabi sebenarnya masuk dalam ahlu Sunnah, yaitu kelompok Sunni. Akan tetapi, sikap radikal Wahabi membuat mereka berbeda dari Sunni. Sunni adalah kelompok yang lebih adil dalam menyikapi masalah. Maka, kelompok Sunni membagi Syiah dalam beberapa kelompok, mulai dari yang masih bisa diterima, yang masih ditolerir dan yang sudah keluar dari Islam. Sikap MUI kita juga seperti ini. Akan tetapi, sikap ini jelas berbeda dengan sikap Wahabi terhadap Syiah yang jelas-jelas mengkafirkan syiah secara keseluruhan. Singkatnya, sebagian Sunni memang membenci Syiah, tapi seluruh Wahabi amat sangat membenci Syiah.

Sesuai alur historis, pusat Bani Umayyah ada di Damaskus. Dan ulama kebanggaan Wahabi juga semuanya berasal dari Damaskus. Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Albani, semuanya berasal dari Damaskus atau lama tinggal di Damaskus. Maka tidak heran kalau pemikiran Bani Umayyah menurun ke Saudi, dan jangan heran pula kalau melihat Saudi mati-matian maju berperang ke Suriah, salah satu sebabnya adalah karena nenek moyang ulama mereka ada di sana. Coba lihat penggalangan dana oleh kelompok Wahabi di Indonesia, hampir semuanya lari ke Suriah, dan tidak ke tempat lain seperti Palestina misalnya.

Maka, kembali pada masalah Saudi dan Iran atau Wahabi dan Syiah, kalau yang menjadi wakil Sunni adalah Wahabi dan kalau yang menjadi wakil Syiah adalah Rafidhah, ya sudah pasti dunia islam tidak akan aman. Bawaannya pasti perang terus, seperti sekarang ini. Kita butuh wakil yang lebih moderat dari masing-masing kelompok, untuk bisa mendamaikan ummat Islam, dan untuk bisa menasehati kelompok ekstrim pada masing-masing kelompok. Turki, Mesir dan Indonesia mungkin bisa mengambil peran sebagai wakil Sunni, agar ummat Islam bisa makin maju ke depannya nanti.

Demikian, semoga bermanfaat.

Depok, 3 Januari 2016
Isa Ismet Khumaedi

Tauhid terbagi tiga?

Dalam surat An-Naas, disebutkan adanya Robbun Naas, Maalikun Naas dan Ilaahun Naas.
Ini menjadi dasar yang amat kuat bahwa tauhid itu terbagi menjadi tauhid Rububiyah, Mulkiyah dan Ilaahiyah.
Itu kalau kita mau ikut Al-Qur’an.

Kalau mau ikut “kata ulama”, biasanya tauhid Mulkiyah diganti menjadi tauhid asma wa shifat. 😦

Dan kalau diingatkan, biasanya jawabannya adalah “seperti inilah ulama kami mengajarkan pada kami, dan pokoknya pembagian tauhid harus seperti ini”. 😦

Ini adalah sebagian realita yang ada pada masyarakat kita saat ini. 😦

Bagaimana seharusnya?

Nabi kita tidak pernah membagi Tauhid menjadi tiga. Kalaupun mau dibagi tiga, maka pembagian berdasarkan surat An-Naas di atas adalah pembagian yang paling pantas dan seharusnya tidak boleh ditolak oleh siapapun juga.

Tetapi, ulama kita juga ber-ijtihad dalam masalah ini. Tujuannya tentu saja agar ummat islam lebih mudah memahami agamanya. Maka muncullah teori tauhid 20 asma Allah, tauhid terbagi tiga (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat), atau lainnya. Semua ini adalah ijtihad para ulama, tidak lebih dan tidak kurang.

Masalahnya kadang muncul ketika ada orang-orang awam yang menuhankan hasil ijtihad ulama mereka. Lalu dari situ, mereka menyalahkan pendapat yang berbeda, dan akhirnya ummat Islam terpecah-belah karena disebabkan oleh orang-orang yang terlalu bersemangat ini.

Sikap yang benar adalah, mari kita tempatkan ijtihad ulama pada tempatnya. Ijtihad ulama harus kita hormati, tapi jangan kita jadikan sebagai satu-satunya patokan kebenaran, apalagi kalau dengan bermodalkan hal itu kita lantas menyerang orang yang berbeda pendapat dengan kita. Hal ini hanya akan menunjukkan bahwa diri kita adalah orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya menempatkan hasil ijtihad seorang ulama.

Semoga Allah memasukkan kita semua dalam barisan orang-orang yang bisa memahami. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

please share.