Tangan Allah

1. Pendapat empat Imam Madzhab.
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– inilah pendapat Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah)

2. Jumhur Ulama
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– tapi kalau mau dijelaskan, maka gunakanlah makna yang lebih pantas untuk Allah, misalnya kekuasaan Allah.
– inilah pendapat Ta’wil (menta’wilkan makna tangan Allah dengan makna yang pantas bagi Allah).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan.
– tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya
– inilah pendapat Tatsbit (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan.)

4.  Pendapat kaum Mujassimah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah berbeda dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tajsim (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan secara fisik dan punya anggota badan lainnya)

5. Pendapat kaum Musyabbihah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah sama dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tasybih (meyakini Allah punya fisik dan meyakini bahwa fisik Allah sama dengan fisik manusia.)


Pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan nomor 5 (Musyabbihah) adalah pendapat yang sesat.

Pendapat nomor 3 (Tatsbit) mirip dengan nomor 4 (Mujassimah) dan riskan jatuh pada kesesatan.

Yang aman, ambillah pendapat nomor 1 (tafwidh), atau pendapat nomor 2 (ta’wil). Insya Allah ini lebih aman, karena jauh dari pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan pendapat nomor 5 (Musyabbihah).

sumber:
Buku “Aqidah Salaf dan Khalaf”, karangan Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.

image

Artikel lain tentang “Di mana Allah??”
https://ismetkh.wordpress.com/2015/01/17/di-mana-allah/

Advertisements

Al-Qur’an vs Akal

Image


by:Isa Ismet Khumaedi

Pernahkah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami agama kita? Pernah pula-kah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an?

Pendapat-pendapat ini, mungkin didasari pada argumentasi yang pada awalnya benar, yaitu untuk mencegah agar kita tidak terlalu liar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tapi lama kelamaan pendapat ini berkembang menjadi pendapat yang tidak bisa dibenarkan. Dengan adanya pendapat seperti ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau membuka Al-Qur’an, lalu malah sibuk dengan hal-hal yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, seperti fatwa-fatwa ulama atau pertentangan-pertentangan fiqih, atau mungkin pula tema-tema lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk membahas masalah bid’ah, atau membahas fatwa-fatwa dari ulama tertentu, atau sibuk membahas perbedaan tata cara ibadah dan menyalahkan orang yang berbeda tata cara ibadahnya? Kalau kita sudah pernah melihat orang yang seperti ini, mari kita renungkan, mengapa mereka bisa menjadi seperti itu?

Salah satu sebab mengapa mereka bisa menjadi seperti itu adalah, karena dalam kajian-kajian yang ada, yang dijadikan sebagai tema utama adalah fatwa-fatwa ulama, atau maksimal sekali, hadits-hadits nabi.

Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak, karena kita jelas butuh hadits nabi dan fatwa ulama sebagai pelengkap pemahaman kita. Tapi hal ini bisa menjadi salah manakala Al-Qur’annya justru malah ditinggalkan.

Inilah yang terjadi di kalangan kita saat ini. Banyak anak muda yang dijejali dengan fatwa-fatwa ulama tentang suatu hal, misalnya tentang bid’ah, tentang isbal, tentang haramnya politik, tentang haramnya musik dan lainnya, padahal tentang hal ini bisa jadi ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan di saat yang sama anak-anak muda itu tidak diajari untuk menghafal Al-Qur’an, tidak diajari untuk memahaminya, dan tidak diajari pula untuk mengamalkannya.

Mengapa sampai bisa begini?

Salah satu penyebabnya adalah karena ada sudut pandang, yang meskipun mungkin tidak akan diakui, tapi jelas-jelas terlihat, yang seolah-olah mengatakan bahwa diri kita ini terlalu kotor untuk bisa memahami Al-Qur’an. Atau, kita ini bodoh dan tidak pantas membaca Al-Qur’an langsung. Atau, kalau kita ini membaca Al-Qur’an langsung, maka besar kemungkinan kita akan salah dalam memahaminya, jadi bahaya, dan lebih baik tidak membaca Al-Qur’an. Atau, kita ini wajib harus menggunakan tafsir untuk memahami Al-Qur’an, padahal kitab tafsir itu rata-rata tebal-tebal, dan mayoritas kita malah jarang ada yang punya.

Dengan adanya sudut pandang seperti ini, akhirnya lahirlah sudut pandang lain, yaitu sudut pandang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an. Padahal pada kenyataannya, tidak semua ayat Al-Qur’an butuh penafsiran yang rumit, malah sebagian besar ayat Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang tidak butuh penafsiran sama sekali (mudah dipahami). Sayangnya, sudut pandang ini lalu benar-benar digunakan sebagai argumentasi yang pada akhirnya malah menjauhkan manusia dari Al-Qur’an. Alasannya, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an. Atau, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an kalau tidak disertai dengan kitab tafsir yang tebal-tebal, atau lainnya. Pada akhirnya, karena tema Al-Qur’an adalah tema yang dirasa “terlalu berat” bagi akal sebagian umat manusia, maka, tema yang diambil dalam kajian-kajian akhirnya adalah tema yang benar-benar tidak mengacu pada Al-Qur’an lagi. Jadi, muncullah hal-hal yang saat ini mungkin sudah ada banyak di keliling kita, yaitu kajian-kajian yang tidak pernah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tema utama, lalu lebih memilih untuk membahas pendapat-pendapat ulama tertentu atau membahas tema-tema tertentu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah. Alasannya bisa jadi banyak, di antaranya mungkin adalah keterbatasan ilmu si nara sumber itu sendiri. Tapi alasan lainnya adalah, karena adanya sudut pandang bahwa akal kita tidak akan mampu dan tidak boleh digunakan untuk memahami Al-Qur’an ini.

Yang paling ironis adalah, pada beberapa kajian tertentu, kadang-kadang secara vulgar malah disebutkan dan diajarkan bahwa akal kita adalah racun dalam memahami agama kita ini. Jadi, akal kita harus dikunci mati. Kita harus menerima semua apa kata ustadz apa adanya, lengkap dengan dalil-dalil yang tidak boleh diutak-atik lagi, dan semua itu harus kita telan ke dalam otak kita meskipun kita sendiri tidak memahaminya. Inilah awal dari sebuah doktrin. Dan dengan doktrin seperti ini, akhirnya lahirlah generasi yang menganggap hanya ucapan ustadz-nya saja-lah yang benar, hanya pendapat ulama-nya saja-lah yang benar, lalu sibuk membid’ahkan kelompok yang berbeda pendapat, dan kalau mereka dibantah dengan dalil yang berbeda, mereka akan membantah pula dengan ucapan:

“Ikutilah pendapat ulama kami, jangan ikuti akal-mu, karena akal adalah racun!”.

Ini adalah satu contoh hasil doktrinasi yang pada awalnya dimulai dari sudut pandang yang sederhana, yaitu: Akal kita ini kotor!

Akal menurut Al-Qur’an

Lalu, bagaimana sebenarnya posisi akal kita menurut Al-Qur’an?
Mari kita lihat sendiri bagaimana Al-Qur’an menilai akal kita, misalnya dari ayat-ayat di bawah ini.

1. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal mereka.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. Al-Maa’idah, surat 5, ayat 58)

2. Kita diperintahkan untuk menggunakan akal kita dalam merenungi kondisi orang yang sudah tua.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?“ (QS. Yaasiin, surat 36, ayat 68)

3. Nabi Musa meminta Fir’aun untuk menggunakan akalnya.

Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. Asy-Syu’araa’, surat 26, ayat 28)

4. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’d, surat 13, ayat 4)

5. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf, surat 12, ayat 2)

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf, surat 43, ayat 3)

6. Orang yang tidak mau menggunakan akal mereka untuk memahami peringatan yang ada, maka mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk, surat 67, ayat 10)

Dari beberapa ayat di atas, jelas sekali terlihat bahwa sebenarnya akal kita ini adalah satu hal yang positif. Dan kita wajib menggunakan akal kita untuk memahami agama kita ini, termasuk di dalamnya adalah untuk memahami Al-Qur’an. Tentu saja, “mengakali Al-Qur’an” seperti yang dilakukan oleh kelompok Liberal adalah satu hal yang dilarang. Tapi menggunakan akal kita secara wajar untuk memahami agama kita dan memahami Al-Qur’an adalah suatu keharusan.

Jadi, kalau kita masih menjumpai ada orang-orang yang malah melarang kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami agama kita ini, mari kita sodorkan ayat-ayat di atas, dan mari kita tanya apa pendapat mereka tentang ayat-ayat tsb.

Akhir kata, sudut pandang yang mengatakan bahwa “akal kita kotor” adalah sudut pandang yang tidak bisa dibenarkan. Dan dari sudut pandang ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an, dan malah sibuk mempelajari hal-hal lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tentang bid’ah, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya pertentangan di mana-mana, lalu mereka juga pasti akan bersikap “mau menang sendiri” dalam berdebat, karena dari awal udah didoktrin untuk mematikan akal mereka. Jadi, mari kita gunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an dalam batasan yang wajar, tanpa perlu sibuk menafsirkan ayat-ayat yang kita memang tidak bisa memahaminya secara langsung. Jangan ikuti pendapat yang mengatakan bahwa akal kita tidak boleh kita gunakan untuk memahami Al-Qur’an, karena justru ayat Al-Qur’an sendiri-lah yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita agar bisa memahami ayat-ayat tersebut. Dan jangan pula kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu terlalu sulit bagi akal kita, karena Allah sendiri sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah sudah membuat Al-Qur’an ini mudah, agar kita mampu mengambil pelajaran darinya.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar, surat 54, ayat 17, 22, 32, 40)


artikel yang sama dimuat di:
http://www.dakwatuna.com/2012/06/08/20949/al-quran-vs-akal/#axzz3rhbDgsz4

Kisah Nabi dan Maulid Nabi

Pada kisah nabi kita, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam hidup kita dan dalam hidup anak-anak kita nanti.

Cuma masalahnya, apakah kita pernah membacakan atau menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita?
Kalau sudah pernah, sudah berapa kali?
Kalau belum pernah, itu artinya kita adalah tipe orang yang membutuhkan trigger untuk melakukan hal tersebut.

Mari kita cari trigger tersebut, yang kira-kira efektif untuk diri kita masing-masing, agar kita bisa istiqomah dalam menjelaskan kisah nabi kita pada anak-anak kita. Karena para sahabat nabi dan orang-orang sholeh terdahulu, mereka selalu menceritakan kisah nabi pada anak-anak mereka. Selalu, dan selalu.

Lalu bagaimana dengan diri kita saat ini?
Mari kita nilai diri kita masing-masing.

Jangan sampai kita hanya sibuk membahas apa hukum acara Maulid Nabi, tapi pada saat yang bersamaan kita tidak pernah menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita.

Mari kita nilai diri kita masing-masing.

#ArtikelEdisiMaulid

Bencana Mujassimah

Dulu, di abad 3 Hijriyah, madzhab Hambali terkena bencana. Mereka terkena virus Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah punya fisik. Pengikut aliran ini juga radikal, dan mereka mudah menuduh bahkan membunuh para ulama ahlu sunnah.

Ciri-ciri mereka:
1. Sering menyebut-nyebut nama Imam Ahmad (karena mereka ngaku-nya adalah murid-murid imam Ahmad, padahal mereka telah menyimpang dari ajaran imam Ahmad.)
2. Sering menuduh orang lain sebagai syiah.
3. Gemar membahas hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Allah, seperti tangan Allah, Allah berdiam di ‘Arsy, atau lainnya.

Salah satu ulama yg menjadi korban adalah Imam Ath-Thabari yang merupakan ahli tafsir terbesar sepanjang masa, dan kisahnya direkam oleh para ulama ahli sejarah dari kalangan Ahlu Sunnah dalam kitab-kitab mereka.

Kisah Imam Ath-Thabari yang terdzalimi:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/12/21/imam-at-thabari-yang-terdzalimi/

Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali, sepertinya terkena virus mujassimah ini. Akhirnya para ulama empat madzhab mengadilinya dan menyatakannya sesat, lalu dia dipenjara sampai wafatnya.

Kisah dipenjarakannya Ibnu Taimiyah menurut para ulama ahlu sunnah:
http://www.aswj-rg.com/2014/06/sebab-ibn-taimiyah-dibantah-dan-dipenjarakan-oleh-para-ulama-dan-qadhi.html

Sayangnya, pemikiran Ibnu Taimiyah ini terus berkembang di Damaskus. Damaskus dulunya adalah pusat kerajaan bani Umayyah.

Lalu beberapa ratus tahun kemudian, ada orang yg belajar islam di Damaskus, mewarisi pemikiran Ibnu Taimiyah ini. Orang itu adalah Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW).

Kalau dulu mereka mengatakan Imam Ath-Thabari sesat, maka sekarang mereka mengatakan bahwa Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi telah salah dalam beberapa sisi aqidahnya. Bahkan salah seorang ustadz mereka menuliskan bahwa Asy’ari dan Maturidi adalah aliran sesat, padahal dua madzhab aqidah ini adalah madzhab utama Ahlu Sunnah dan juga menjadi perwakilan Ahlu Sunnah selama lebih dari seribu tahun sejarah Islam di muka bumi ini.

Juga, Damaskus adalah pusat Nashibi warisan bani Umayyah. Nashibi adalah aliran yang membenci bani Hasyim, terutama sekali ahlul bait dari keturunan Ali ra. Maka ketika Wahabi dan bani Saud menguasai Haromain, mereka pun mengusir bani Hasyim dari sana.

Sejarah penguasa Haromain:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/04/27/penguasa-haromain/

Maka tidak heran mengapa wahabi sangat membenci Syiah yang mengkultuskan keluarga nabi, karena wahabi memang berasal dari kelompok yang membenci keluarga nabi. Dan tidak heran pula kalau kita melihat bahwa banyak ulama panutan Wahabi berasal dari Damaskus seperti Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Katsir, Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga Syaikh Albani atau lainnya, semuanya dari Damaskus atau lama tinggal di Damaskus. Damaskus adalah benang merah antara kaum Nashibi yang membenci ahlul bait dengan kaum Wahabi yang mewarisi ideologi tersebut, lalu ideologi ini dipakai oleh bani Saud dari Najd.

Bani Saud sendiri berasal dari kalangan arab Badui di daerah Najd di Riyadh, lalu dengan bantuan Inggris dan Amerika mereka memberontak terhadap khilafah Turki Utsmani dan mengalahkan Bani Hasyim di wilayah Hijaz, kemudian menguasai Jazirah Arab dengan nama Saudi Arabia.

Warga Wahabi biasanya akan mengatakan bahwa Bani Saud di Najd tidak memberontak kepada khilafah Turki Utsmani, padahal khalifah Turki Utsmani berkali-kali memerangi mereka. Mari kita pikirkan, apa hukum berperang melawan khalifah?

Website kedutaan besar Saudi Arabia di Amerika menyebutkan bahwa khalifah Turki Utsmani memerangi Bani Saud:
https://www.saudiembassy.net/about/country-information/history.aspx

Warga Wahabi juga biasanya akan mengatakan bahwa kekuasaan Khilafah Turki Utsmani tidak mencakup jazirah Arab, padahal di awal abad 20 Masehi, khilafah Turki Utsmani pernah membuat jalur kereta dari Istambul menuju Makkah, dan proyek ini berhenti di tengah jalan karena adanya pemberontakan suku-suku Arab.

Silakan lihat foto-foto serta peta jalur Hijaz Railway pada link berikut:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/12/07/fakta-sejarah-jalur-kereta-api-istanbul-makkah/

Ketika Bani Saudi dari kalangan Arab Badui di Najd menjatuhkan bani Hasyim dari kekuasaannya di tanah Haromain, nubuwah nabi kembali terbukti. Orang kampung yg biasa berjalan telanjang kaki, mereka akan menjadi tuan bagi kaum terhormat, dan ini salah satu tanda kiamat. Saat itu, tuan yang tidak bisa berfikir panjang ini, akan membuat keonaran di sana-sini. Dan mungkin itulah makna Najd sebagai pusat tanduk setan. 😦

Di dalam Al-Qur’an sendiri, kaum Arab Badui digambarkan sebagai kaum yang memiliki banyak sifat negatif, dan sifat-sifat ini dijelaskan secara eksplisit oleh Al-Qur’an.

Sifat Arab Badui menurut Al-Qur’an:
https://ismetkh.wordpress.com/2014/11/24/arab-badui/

Dan sekarang, kelompok Arab Badui ini mewarisi pemahaman Mujassimah yang tidak hanya sesat karena menganggap Allah punya fisik, tapi juga radikal karena mudah menuduh dan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat. Bisa ditebak, orang-orang yang suka memaki, mencaci, mencerca, membid’ahkan dan mengkafirkan akan mudah muncul dari kelompok ini. Fakta membuktikan, hampir semua teroris di Indonesia mengaku bahwa mereka mengikuti pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab (MBAW) dan itu dibuktikan dalam buku para teroris itu sendiri. Bahkan, ISIS juga menginduk pada pemahaman Wahabi.

Watch “Memahami Teroris dan Wahabi dalam 1 Video” on YouTube – https://youtu.be/rxtciTno8eY

Dua ciri utama kelompok teroris ini adalah mereka meyakini bahwa memotong celana di atas mata kaki adalah wajib, dan juga wajib memanjangkan jenggot (bahkan terlihat tidak terurus). Inilah pemahaman Wahabi.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa memanjangkan celana melebihi mata kaki adalah boleh selama tidak disertai dengan niat sombong.

Lihat pendapat kedua imam Ahlu Sunnah ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/02/22/isbal-boleh-asal-tidak-sombong-syarah-shahih-bukhari-dan-syarah-shahih-muslim/

Adapun tentang jenggot, Imam Nawawi menyebutkan bahwa memotong jenggot untuk merapihkannya adalah baik. Dan seperti ini pula lah contoh dari dua ulama besar kita yaitu KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, silakan lihat foto jenggot mereka pada link di bawah ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/09/13/jenggot-contoh-dari-ulama-kita/

Terakhir, sekilas tentang Syiah, MUI kita menjelaskan bahwa syiah itu terbagi menjadi tiga kelompok, dan dari tiga kelompok itu hanya ada satu kelompok yang disebut sebagai kafir, yaitu Syiah Ghulat. Kelompok kedua adalah Syiah Rafidhah yang sesat tapi masih dianggap sebagai bagian dari Islam. Adapun kelompok ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama Ahlu Sunnah.

Screenshoot buku MUI ttg hal ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/11/12/mui-syiah-terbagi-tiga/

Jadi, MUI kita tidak memukul rata dan juga tidak mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”. Hal ini berbeda dengan Wahabi yang kemana-mana selalu mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”. Karena Wahabi memang mewarisi ideologi bani Umayyah yang membenci keturunan Ali ra, sehingga semua yang berbau keluarga nabi atau keluarga Ali harus diberi label Syiah, minimal sekali Syiah Zaidiyah. Menurut Syiah, Muawiyah dan bapaknya akan masuk neraka, sedangkan menurut Wahabi orang tua Ali dan orang tua nabi wajib masuk neraka. Adapun bagi kita Ahlu Sunnah wal Jamaah, mari kita doakan agar sholawat serta salam senantiasa tercurah pada nabi kita, pada seluruh keluarganya, dan juga pada seluruh sahabatnya serta semua ummatnya yang mengikuti mereka hingga hari kiamat nanti.

Allaahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi wa man tabi’ahum ilaa yaumil qiyaamah. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.


Kesimpulan:
Madzhab Hambali pernah terkena bencana. Mereka terkena virus Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah punya fisik. Pengikut aliran ini juga radikal, dan mereka mudah menuduh bahkan membunuh para ulama ahlu sunnah. Dulu Imam Ath-Thabari menjadi korban, dan sekarang para ulama Ahlu Sunnah seperti Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi mereka sebut telah salah dalam beberapa sisi aqidahnya.

Ciri-ciri kelompok Mujassimah radikal ini:
1. Sering menyebut-nyebut nama Imam Ahmad (karena mereka ngaku-nya adalah murid-imam Ahmad, padahal mereka telah menyimpang dari ajaran imam Ahmad.)
2. Sering menuduh orang lain sebagai syiah.
3. Gemar membahas hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Allah, seperti tangan Allah, Allah berdiam di ‘Arsy, atau lainnya.

Semoga kita terhindar dari kelompok seperti ini. Aamiin.

Depok, 7 Desember 2015

Isa Ismet Khumaedi
#orang biasa yang sedang berusaha menjadi ustadz bagi anak-anaknya

sumber artikel ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/07/bencana-mujassimah/

#artikel ini mungkin akan terus diupdate, dan artikel versi terbaru bisa dilihat pada link terakhir di atas.
#kalau dirasa bermanfaat, please share, agar makin banyak orang yang tahu.

Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya

Bagi kita ummat Islam, kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an dan tidak ada yang lain.

Di bawah itu, ada kitab hadits. Yang tingkat keshahihannya diakui tertinggi adalah kitab shahih Bukhari. Akan tetapi harus diingat, kitab shahih Bukhari pun bukan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, apalagi kitab hadits yang lainnya, atau kitab-kitab hasil ijtihad ulama yang sudah pasti lebih di bawah lagi tingkat keshahihannya. Inilah pemahaman yang benar dalam agama kita. Hanya Al-Qur’anlah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Adapun hadits, hanya sedikit yang mencapai derajat mutawaatir, sebagian besarnya justru tidak mencapai derajat mutawaatir, dan bahkan kadang ada perbedaan pendapat dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits.

Maka, muslim yang benar adalah muslim yang bisa berlaku bijaksana dalam menyikapi dalil-dalil yang ada. Dalil-dalil yang bersumber dari ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas mutawaatir dalam sanad dan matannya, serta merupakan ayat yang muhkamaat, maka dalil ini harus kita pegang erat-erat. Inilah inti dalam agama kita. Adapun ayat-ayat mutasyaabihat, meskipun sanad dan matannya mutawaatir, tapi kita harus bertoleransi dalam penafsirannya. Ini sikap yang benar terhadap Al-Qur’an.

Dan di bawah itu, ada hadits-hadits yang status keshahihannya sebenarnya merupakan hasil ijtihad ulama. Akan tetapi ada sebagian ummat Islam yang salah meyakini hadits, mereka menyangka bahwa status shahihnya suatu hadits datang dari wahyu Allah yang tidak mungkin salah. Ini keyakinan yang berbahaya, karena keyakinan ini seakan-akan ingin menuhankan hasil ijtihad manusia dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits. Ijtihad ulama adalah ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Mari kita hormati hasil ijtihad ulama, tapi jangan jadikan hasil ijtihad ulama itu sebagai satu-satunya patokan kebenaran, apalagi menjadikannya sebagai dalil untuk memvonis orang lain yang berbeda pendapat dengan kita.

Contoh buruk yang bisa kita ambil pelajarannya adalah kaum khawaarij. Mereka tidak memahami Al-Qur’an, dan mereka menuhankan ucapan-ucapan manusia, yang mereka anggap bagaikan manusia suci yang tidak mungkin salah. Mereka mungkin juga punya ulama hadits yang menentukan shahih tidaknya suatu hadits, lalu mereka menuhankan hasil ijtihad ulama mereka ini, dan menjadikannya sebagai dasar untuk menghakimi seluruh kaum muslimin. Maka mereka menjadi kaum yang mudah mencela, mencerca, menuduh, memaki, membid’ahkan serta mengkafirkan sesama muslim, hanya dengan bermodalkan ucapan “syaikh anu bin anu bin anu telah berkata begini dan begitu”, atau hanya bermodalkan hadits yang keshahihannya ditentukan oleh ulama mereka itu, lalu mereka memecah belah kaum muslimin.

Kaum khawarij menyibukkan diri dengan ucapan-ucapan manusia dan menjadikannya seperti ayat suci yang tidak mungkin salah. Lalu ucapan ulama pujaannya itu dijadikan sebagai satu-satunya patokan untuk menghakimi seluruh ummat islam. Mereka tidak tahu bahwa dengan menggunakan dalil-dalil yang berdiri di atas ijtihad ulama dalam menafsirkan suatu hal, seharusnya kita lebih bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsiran yang mungkin timbul, dan bukan malah sibuk dalam mengklaim kebenaran.

Maka, kaum khawarij tersesat karena mereka meyakini bahwa ada manusia biasa yang ucapannya ataupun tulisannya ataupun buku-bukunya tidak memiliki keraguan di dalamnya. Mereka tidak faham, bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an, atau mungkin mereka sebenarnya faham tentang hal ini, tapi hanya sebatas teori saja. Pada prakteknya, pada kesehariannya mereka sibuk membumikan ucapan-ucapan manusia dan mengabaikan Al-Qur’an.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk mencerca dan menuduh sesama muslim dalam masalah khilafiyah, hanya dengan modal ucapan manusia saja, dan di saat yang bersamaan dia tidak faham apa itu isi surat Al-Lail dan apa isi surat Asy-Syams? Mungkin itulah contoh kaum khawarij yang menuhankan ijtihad ulamanya dan menjadikan ijtihad ulama pujaannya itu sebagai hakim untuk memvonis seluruh kaum muslimin, dan di saat yang bersamaan mereka mengabaikan Al-Qur’an.

Semoga kita semua bisa terhindar dari sikap seperti itu. Semoga kita bisa kembali pada pemahaman yang benar, yang meyakini bahwa makin rendah tingkatan dalil yang kita gunakan, seharusnya kita makin bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsirannya. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok yang memahami dan meyakini bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:1-2)

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali-Imraan:7)


Dalil yang digunakan kaum khawarij adalah ucapan manusia yang dianggap suci:
يأتى فى آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من قول خير البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم

“Akan datang di akhir zaman kelompok muda usia, lemah pemikiran, MENYAMPAIKAN PERKATAAN MAKHLUK TERBAIK. Mereka melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan…..” (HR. Bukhari dan Muslim)