Memilih Manhaj

Dalam dua jum’at yg berurutan, dua orang khatib memberikan khutbah dengan tema yang sama, tapi dengan menggunakan metode yang berbeda.

Seperti kita ketahui, dalam khutbah Jum’at, waktu yang tersedia sangat sedikit sekali, sehingga setiap khatib harus benar-benar memilih dalil mana yang dianggap penting dan akan disampaikan.  Dan di sinilah perbedaan itu terlihat.

Khatib yang pertama, berasal dari kalangan yang katanya mengikuti “manhaj salaf”. Di dalam khutbahnya, sang khatib menjelaskan tentang kriteria orang yang bertaqwa menurut Ibnu Taimiyah, lalu menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, lalu menurut Al-Barbahari. Kriterianya dijelaskan satu persatu, setelah itu selesai.

Pekan depannya, khatib yang berbeda menyampaikan tema yang sama yaitu tentang ciri orang yang bertaqwa, tapi dengan dalil yang berbeda. Dalil yang dijelaskan adalah ayat berikut:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

(QS. Ali-Imraan, ayat 133-136)

Ayat-ayat di atas menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, dalam bentuk kriteria-kriteria yang mudah, dan dalam bentuk ayat-ayat yang kalau kita hafalkan serta kita tadabburi berulang-ulang maka pahalanya akan sangat besar untuk kita.

Dari dua khutbah ini, bisa kita lihat perbedaannya.

Khatib pertama dari kalangan manhaj salaf lebih mengutamakan ucapan-ucapan manusia, di atas Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, ketika waktu yang tersedia sangat sedikit, yang disisakan adalah yang dianggap paling penting, yaitu ucapan-ucapan manusia. Bagi kelompok ini, yang paling penting bukanlah menyampaikan ayat Al-Qur’an ataupun hadits. Yang paling penting adalah mewariskan pemahaman sebagian ulama terhadap ayat Al-Qur’an ataupun hadits. Dan anehnya, ulama yang dipilih biasanya berasal dari kalangan madzhab Hambali, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Al-Barbahari, Adz-Dzahabi, atau lainnya.

Adapun khatib yang kedua, berasal dari kalangan umum, yang menomorsatukan ayat Al-Qur’an di atas hadits, dan mengutamakan hadits di atas ucapan-ucapan manusia. Sehingga ketika waktu yang tersedia sangat terbatas, maka dalil yang disampaikan hanyalah dalil yang paling penting saja, yaitu ayat Al-Qur’an.

Inilah dua manhaj yang berbeda. Yang pertama menggunakan nama “manhaj salaf”, yang pada kenyataannya sibuk mewariskan pemahaman sebagian ulama atas dalil-dalil, dan biasanya ulama yang dipilih berasal dari kalangan madzhab Hambali. Adapun yang kedua adalah Manhaj yang berusaha mewariskan ayat Al-Qur’an dan juga hadits apa adanya, dengan tidak mempersulit pemahaman, dan juga tidak mengada-ada dalam penafsiran.

Nah, untuk kita sendiri, kita mau ikut yang mana?
Mau ikut yang cenderung sibuk dalam mewariskan pemahaman sebagian ulama?
Atau mau ikut yang cenderung sibuk untuk mewariskan Al-Qur’an?

Pilihan ada di tangan kita masing-masing, tapi sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuknya untuk kita.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?  (QS. Muhammad, ayat 24)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar, ayat 17)


Note:
1. Belajar islam memang harus ada ustadznya. Tapi pilihlah ustadz yang membuat kita dekat dengan Al-Qur’ an dan juga hadits, bukan ustadz yang malah menyuruh kita menghafal ucapan-ucapan manusia.
2. Setelah ikut pengajian, usahakanlah agar kita bisa berkata “ayatnya ini, haditsnya ini”. Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang sibuk berkata “menurut syaikh ini begini begitu” tapi ayat dan haditsnya sama sekali tidak kita ingat. Inilah contoh dari para sahabat Nabi, para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in: kitab yang pertama mereka buka adalah Al-Qur’an.

Semoga bermanfaat.

#khutbah jum’at satu pekan dan dua pekan setelah Iedul Fitri 2015 di salah satu masjid di kawasan EJIP Cikarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s