Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya

Bagi kita ummat Islam, kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an dan tidak ada yang lain.

Di bawah itu, ada kitab hadits. Yang tingkat keshahihannya diakui tertinggi adalah kitab shahih Bukhari. Akan tetapi harus diingat, kitab shahih Bukhari pun bukan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, apalagi kitab hadits yang lainnya, atau kitab-kitab hasil ijtihad ulama yang sudah pasti lebih di bawah lagi tingkat keshahihannya. Inilah pemahaman yang benar dalam agama kita. Hanya Al-Qur’anlah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Adapun hadits, hanya sedikit yang mencapai derajat mutawaatir, sebagian besarnya justru tidak mencapai derajat mutawaatir, dan bahkan kadang ada perbedaan pendapat dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits.

Maka, muslim yang benar adalah muslim yang bisa berlaku bijaksana dalam menyikapi dalil-dalil yang ada. Dalil-dalil yang bersumber dari ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas mutawaatir dalam sanad dan matannya, serta merupakan ayat yang muhkamaat, maka dalil ini harus kita pegang erat-erat. Inilah inti dalam agama kita. Adapun ayat-ayat mutasyaabihat, meskipun sanad dan matannya mutawaatir, tapi kita harus bertoleransi dalam penafsirannya. Ini sikap yang benar terhadap Al-Qur’an.

Dan di bawah itu, ada hadits-hadits yang status keshahihannya sebenarnya merupakan hasil ijtihad ulama. Akan tetapi ada sebagian ummat Islam yang salah meyakini hadits, mereka menyangka bahwa status shahihnya suatu hadits datang dari wahyu Allah yang tidak mungkin salah. Ini keyakinan yang berbahaya, karena keyakinan ini seakan-akan ingin menuhankan hasil ijtihad manusia dalam menentukan shahih tidaknya suatu hadits. Ijtihad ulama adalah ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Mari kita hormati hasil ijtihad ulama, tapi jangan jadikan hasil ijtihad ulama itu sebagai satu-satunya patokan kebenaran, apalagi menjadikannya sebagai dalil untuk memvonis orang lain yang berbeda pendapat dengan kita.

Contoh buruk yang bisa kita ambil pelajarannya adalah kaum khawaarij. Mereka tidak memahami Al-Qur’an, dan mereka menuhankan ucapan-ucapan manusia, yang mereka anggap bagaikan manusia suci yang tidak mungkin salah. Mereka mungkin juga punya ulama hadits yang menentukan shahih tidaknya suatu hadits, lalu mereka menuhankan hasil ijtihad ulama mereka ini, dan menjadikannya sebagai dasar untuk menghakimi seluruh kaum muslimin. Maka mereka menjadi kaum yang mudah mencela, mencerca, menuduh, memaki, membid’ahkan serta mengkafirkan sesama muslim, hanya dengan bermodalkan ucapan “syaikh anu bin anu bin anu telah berkata begini dan begitu”, atau hanya bermodalkan hadits yang keshahihannya ditentukan oleh ulama mereka itu, lalu mereka memecah belah kaum muslimin.

Kaum khawarij menyibukkan diri dengan ucapan-ucapan manusia dan menjadikannya seperti ayat suci yang tidak mungkin salah. Lalu ucapan ulama pujaannya itu dijadikan sebagai satu-satunya patokan untuk menghakimi seluruh ummat islam. Mereka tidak tahu bahwa dengan menggunakan dalil-dalil yang berdiri di atas ijtihad ulama dalam menafsirkan suatu hal, seharusnya kita lebih bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsiran yang mungkin timbul, dan bukan malah sibuk dalam mengklaim kebenaran.

Maka, kaum khawarij tersesat karena mereka meyakini bahwa ada manusia biasa yang ucapannya ataupun tulisannya ataupun buku-bukunya tidak memiliki keraguan di dalamnya. Mereka tidak faham, bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an, atau mungkin mereka sebenarnya faham tentang hal ini, tapi hanya sebatas teori saja. Pada prakteknya, pada kesehariannya mereka sibuk membumikan ucapan-ucapan manusia dan mengabaikan Al-Qur’an.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk mencerca dan menuduh sesama muslim dalam masalah khilafiyah, hanya dengan modal ucapan manusia saja, dan di saat yang bersamaan dia tidak faham apa itu isi surat Al-Lail dan apa isi surat Asy-Syams? Mungkin itulah contoh kaum khawarij yang menuhankan ijtihad ulamanya dan menjadikan ijtihad ulama pujaannya itu sebagai hakim untuk memvonis seluruh kaum muslimin, dan di saat yang bersamaan mereka mengabaikan Al-Qur’an.

Semoga kita semua bisa terhindar dari sikap seperti itu. Semoga kita bisa kembali pada pemahaman yang benar, yang meyakini bahwa makin rendah tingkatan dalil yang kita gunakan, seharusnya kita makin bisa bertoleransi dalam perbedaan penafsirannya. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok yang memahami dan meyakini bahwa kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:1-2)

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali-Imraan:7)


Dalil yang digunakan kaum khawarij adalah ucapan manusia yang dianggap suci:
يأتى فى آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من قول خير البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم

“Akan datang di akhir zaman kelompok muda usia, lemah pemikiran, MENYAMPAIKAN PERKATAAN MAKHLUK TERBAIK. Mereka melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan…..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s