Di mana Allah?

1. Pendapat empat Imam Madzhab.
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– inilah pendapat Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah)

2. Jumhur Ulama (kaum Asy’ari)
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– tapi kalau mau dijelaskan, maka gunakanlah makna yang lebih pantas untuk Allah, misalnya Allah berada di atas singgasana-Nya maksudnya adalah Allah Maha Tinggi dan menguasai segala sesuatu.
– inilah pendapat Ta’wil (menta’wilkan makna istiwa-nya Allah dengan makna yang pantas bagi Allah).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy berbeda dengan keberadaan makhluk pada tempatnya.
– inilah pendapat Tatsbit (memastikan bahwa Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.)

4. Pendapat kaum Mujassimah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Fisik Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy berbeda dengan keberadaan makhluk pada tempatnya.
– inilah pendapat Tajsim (memastikan bahwa Allah benar-benar punya fisik dan punya anggota badan lainnya, serta menempati suatu tempat sepertihalnya makhluk).

5. Pendapat kaum Musyabbihah
– kami mengimani ayat tentang Allah ber-Istiwa di atas ‘Arsy.
– itu ayat Muhkamat.
– Fisik Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy.
– keberadaan Allah di atas ‘Arsy sama dengan keberadaan makhluk pada tempatnya, misalnya sama seperti manusia yang duduk di atas kursi.
– inilah pendapat Tasybih (meyakini Allah punya fisik dan meyakini bahwa fisik serta keberadaan Allah sama dengan fisik dan keberadaan manusia.)


Pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan nomor 5 (Musyabbihah) adalah pendapat yang sesat.

Pendapat nomor 3 (Tatsbit) mirip dengan nomor 4 (Mujassimah) dan juga mirip dengan nomor 5 (Musyabbihah), dan riskan jatuh pada kesesatan.

Yang aman, ambillah pendapat nomor 1 (tafwidh), atau pendapat nomor 2 (ta’wil). Insya Allah ini lebih aman, karena jauh dari pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan pendapat nomor 5 (Musyabbihah).

sumber:
Buku “Aqidah Salaf dan Khalaf”, karangan Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.

sumber artikel ini:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/26/di-mana-allah-2/

Artikel lain tentang “Di mana Allah??” beserta tabel perbandingan pendapat ulama:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/01/17/di-mana-allah/

Artikel lainnya tentang “Tangan Allah”:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/12/13/tangan-allah/

Bulan Hijriyah, hari ini bulan apa?

Dalam bulan Hijriyah, hari ini bulan apa? Tanggal berapa?

Sebagian dari kita mungkin akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, karena dalam beberapa hari ke depan kita akan memperingati salah satu momen penting, yaitu  Maulid Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, yang jatuh pada tanggal 12 Robiul Awwal setiap tahunnya.

Demikianlah, dengan adanya momen-momen penting itu maka kita jadi lebih mudah mengingat bulan-bulan Hijriyah.  Semoga di bulan-bulan lainnya pun ada momen yang bisa diangkat, agar kita bisa lebih mudah kembali pada kalendar Hijriyah kita.

Jangan sampai kita lupa bahwa tujuan dibuatnya kalendar Hijriyah adalah agar kita ummat Islam memiliki kebanggaan tersendiri sebagai ummat yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Kita ummat Islam seharusnya menjadi pemimpin di dunia ini, dan sesungguhnya kita punya kalendar kita sendiri, yaitu kalendar Hijriyah.

Kembali pada pertanyaan di atas: Bulan Hijriyah, hari ini bulan apa?
Semoga bulan depan pun kita bisa menjawab pertanyaan ini.

Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.

Karena dianggap bid’ah

Karena dianggap bid’ah, peringatan hari besar islam ditiadakan. Akhirnya yang tersisa hanyalah acara hari besar ummat non-muslim, seperti paskah, kenaikan Yesus Kristus, dan lainnya.

Karena dianggap bid’ah, hari libur islami juga dihilangkan. Akhirnya yang tersisa hanyalah hari libur non-muslim.

Karena dianggap bid’ah, acara peringatan hari besar ummat Islam di TV juga dihilangkan. Akhirnya yang tersisa hanyalah acara peringatan hari besar dari gereja, pura, candi, kelenteng dan kuil di TV kita.

Karena dianggap bid’ah, spanduk-spanduk acara Maulid yang besar-besar diturunkan, dan yang tersisa hanyalah spanduk-spanduk acara kristen dan lainnya.

Karena dianggap bid’ah, segala bentuk keramaian yang berbau islam dihilangkan, seperti broadcast acara-acara di masjid, broadcast lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari speaker masjid, atau lainnya. Akhirnya yang tersisa adalah gema lonceng gereja dan broadcast nyanyian-nyanyian kristiani.

Karena dianggap bid’ah, pawai ummat islam juga ditiadakan. Akhirnya yang tersisa adalah pawai salib seperti yang terjadi di Solo beberapa waktu lalu.

Karena dianggap bid’ah, ummat Islam dihimbau agar tidak ikut pemilu. Akhirnya yang kita dapat adalah kepala daerah non-muslim di tengah mayoritas muslim.

Ini semua adalah sejumlah kemungkinan, dan dua hal terakhir (pawai salib dan kepala daerah non-muslim) sudah menjadi fakta di negeri kita ini.

Semoga semua contoh ini bisa membuka mata kita bahwa dalam menilai sesuatu, tidak selamanya sesuatu itu harus dilihat hanya dari sudut pandang bid’ah yang sempit, tapi juga harus menyertakan sudut pandang lainnya, seperti sudut pandang amar ma’ruf nahi munkar, sudut pandang syiar Islam, atau lainnya.

Kalau kita sudah bisa mengubah syiar Islam menjadi budaya yang berkembang di tengah masyarakat, maka sesungguhnya itu adalah satu poin kemenangan bagi ummat Islam di negeri kita ini.

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bisa memahami, dan bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan juga bisa bijaksana dalam menilai apa-apa yang ada di depan mata kita. Aamin ya Robbal ‘aalamiin.

Apakah Taqsim (Pembagian) Persoalan Agama ke Dalam Ushul dan Furu’ Merupakan Bid’ah?

Video

oleh: Abi AbduLLAAH
(dari website http://www.al-ikhwan.net)

Di antara berbagai persoalan yang muncul akhir-akhir ini dan membingungkan ummat, sebagian ikhwah, adalah klaim yang disampaikan oleh sebagian orang yang terlalu bersemangat mempelajari agama bahwa pembagian persoalan-persoalan agama menjadi masalah-masalah yang termasuk ushul (dasar) dan furu’ (cabang) adalah bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi Salaful Ummah (radhiyaLLAAHu ‘anhum ajma’iin)..

Saya menyaksikan sendiri sebagian orang yang sangat bersemangat ini dalam salah satu majlis pernah melontarkan bahwa membagi urusan agama menjadi masalah-masalah yang ushul dan furu’ tidak dikenal oleh ulama salaf dan oleh sebab itu ia merupakan perbuatan bid’ah yang tercela (qabihah), karena menurutnya bahwa agama hanya satu, tidak dikenal adanya pembagian-pembagian fiqh, ilmu fiqh menurut Salaf hanya satu yaitu ikuti nabi SAW, demikian kata mereka.

Kemudian saya tanyakan kepada mereka, kitab mana saja yang sudah antum baca dari kalangan kaum salaf sehingga antum bisa menyimpulkan demikian? Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka kecuali qila wa qala (kata ustaz Fulan dan kata syaikh Fulan). Maka saya tanyakan kembali pada mereka: Kitab manakah yang menurut antum merupakan kitab salaf yang paling sering antum baca? Jawab mereka: Tafsir Ibnu Katsir! Tanya saya lagi: Antum sudah khattam (tamat) membaca kitab tafsir Ibnu Katsir? Jawab mereka: Belum! Lalu saya katakan: Imam Ibnu Katsir menyetujui pembagian ushul dan furu’ yang antum bilang bid’ah itu!

Demikianlah fenomena yang sering kita lihat dan dengar di sekitar kita, semangat yang amat besar mempelajari ‘ulum-syar’iyyah (ilmu-ilmu syariat) adalah sesuatu yang sangat terpuji, bahkan sebagiannya merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Namun jika hal tersebut diikuti dengan sikap mudah memvonis dan menuduh kepada kelompok yang berbeda padahal mereka bukanlah qadhi (hakim) maka sifat tersebut menjadi amat tercela.

Saat menafsirkan QS An-Nisa’ ayat 29-31, Imam Ibnu Katsir [1] berkata ketika beliau -semoga ALLAH SWT menyayanginya- mengkomentari hadits tentang syafa’at Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam bagi orang yang berdosa besar, ia berkata: “Para ulama ushul dan furu’ telah berbeda pendapat tentang batasan dosa besar.
Ada yang berkata bahwa dosa kecil adalah dosa yang tidak ada had-nya (sanksi) dalam syariat.”

Lebih lanjut saat menafsirkan QS Al-Ma’idah ayat-3, beliau [2] juga menyatakan: “Walaupun hadits ini jelas mengenai sebab yang khusus, tetapi ibroh itu berdasarkan keumuman lafzh menurut jumhur ulama baik dalam masalah ushul maupun furu’..” Demikian pula saat beliau menafsirkan QS Al-Jum’ah ayat 1-4, beliau [3] menyatakan: “.. Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam juga adalah hakim dan pemutus tentang berbagai syubuhat dan keraguan baik dalam masalah ushul maupun furu’…”

Demikian pula pada berbagai kitab tafsir yang ditulis oleh imam Ahlus-Sunnah lainnya, seperti Imam Asy-Syaukani [4], Al-Biqa’i [5], Ibnu ‘Adil [6], An-Nasafi [7], An-Naisaburi [8], Ibnu Hazm [9], dll. Di kalangan para imam ahli hadits di antaranya adalah Imam Nawawi [10] dan Imam Ibnu Hajar [11]. Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan dan telah disepakati pembagian agama ini ke dalam masalah-masalah ushul dan furu’ sehingga penafian terhadap hal ini adalah sangat aneh dan tidak perlu diperhatikan oleh para aktifis dakwah.

Lebih jauh pembagian ini juga telah disepakati oleh para ulama aqidah dan pemurni tauhid. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis dalam kitabnya bahwa Imam Tirmidzi adalah seorang imam dalam masalah ushul dan furu’ [12]. Beliau -semoga ALLAH menyayanginya- juga menyebutkan pembagian ini dalam kitabnya yang terkenal Iqtidha’ Shirathal Mustaqim [13]. Hal ini juga disepakati oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dimana dalam sebuah kitabnya [14] ia menulis bahwa kita diperintah mengikuti sirah Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam baik dalam masalah ushul maupun furu’. Demikian pula pengarang kitab Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah [15] dan pengarang kitab Fathul Majid [16].

Jika kita runut dalam kitab-kitab sejarah (tarikh) yang terkenal, seperti kitab Al-Milal wan-Nihal maka kita dapatkan bahwa dari sejak dulu para ulama mujtahidin telah dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu ahli ushul dan ahli furu’ [17]. Ahli ushul adalah mereka yang mempelajari masalah-masalah yang bersifat qath’i dalam agama [18], sementara ahli furu’ adalah mereka yang mempelajari masalah-masalah yang bersifat perbedaan pendapat di kalangan ulama (mawaqi’ul-ikhtilaf) yang dapat dicapai melalui dugaan kuat (ghalabatu-zhann) yang memungkinkan semua yang berijtihad bisa benar [19]. Imam Al-Qusyairi Al-Maliki bahkan mengarang kitabnya yang diberi nama: Al-Ushul wal Furu’ pada sebelum abad ke-3 Hijrah [20] (Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Imam Al-Qusyairi tersebut wafat pada th 365-H [21]).

‘Ala kulli haal, demikianlah bahwa pembagian masalah agama kepada ushul dan furu’, kepada yang qath’iy dan zhanniy semuanya disandarkan kepada kitab-kitab ulama Salafus Shalih, tinggal penunjukannya saja yang terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama, mana yang termasuk masalah ushul dan mana yang furu’, aqidah adalah ushul tapi di dalam hal aqidah juga terdapat furu’, demikian pula ibadah adalah furu’ tapi di dalam masalah ibadah juga terdapat ushul. Pembahasan tentang masalah ini telah pernah saya bahasa panjang lebar dalam kajian ushul-fiqh di millist ini (mailing list Al-Ikhwan, red), bagi yang ingin mendalaminya tafadhal membuka arsip millist ini dalam serial USHUL-FIQH. WaliLLAHil hamdu wal minah..

Catatan Kaki:
[1] Tafsir Ibnu Katsir, II/284
[2] Ibid, III/19
[3] Ibid, VIII/116
[4] Fathul Qadir, III/88
[5] Tafsir Al-Biqa’i, I/144, II/160, III/158, IV/32, V/385, VI/105, VII/222
[6] Tafsir Al-Lubab, VI/423, XIV/145
[7] Tafsir An-Nasafi, I/479
[8] Tafsir An-Naisabury, I/338, III/268
[9] Tafsir Al-Ahkam, I/438
[10] Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, I/323
[11] Fathul Bari’, VIII/313
[12] Jami’ur Rasa’il, I/186
[13] Iqtidha’ Shirathal Mustaqim Li Mukhalafati Ashabil Jahim, I/215, II/95
[14] Ushulul Iman, I/174
[15] Syarhut Thahawiyyah fil ‘Aqidah As-Salafiyyah, III/266
[16] Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, I/2
[17] Al-Milal wa An-Nihal, I/61
[18] Ibid, I/61
[19] Ibid, I/62
[20] Ma’rifati Hawadits waz Zaman lil Yafi’i, I/350
[21] Tarikhul Islam, VI/218

Tentang Khilafiyah, Furuiyah, Sunnah dan Bid’ah

Berikut penjelasan Ust DR Amir Faishol Fath, MA mengenai Khilafiyah, Furuiyah, Sunnah dan Bid’ah :

“@amirfath: Korbankan persatuan umat demi fanatisme furuiyah adalah kebodohan atas agamanya.”

“@amirfath: Kaidah ushul fikih : laa inkara fil mukhtalaf fiihi (tidak boleh ada pengingkaran dalam khilafiyah).”

@amirfath: Kaidah berikutnya : tidak ada paling benar dalam masalah khilafiyah furuiyah.”

“@amirfath: Kaidah berikutnya : tidak ada bid’ah dalam khilafiyah furuiyah. Menghakimi bid’ah thdp khilafiyah furuiyah adalah kesalahan.”

@amirfath: Bukan ikut sunnah jika yg hukumnya sunnah diwajibkan. Biarkan yg hukumnya sunnah tetap sunnah jangan diwajibkan.”

@amirfath: Bid’ah terjadi hanya dalam wilayah ushul bukan wilayah khilafiyah. Seperti shalat subuh empat rakaat. Ini bid’ah. Baca qunut bukan bida’ah.”

@amirfath: Cinta Nabi ushul. Maulidan adlh khilafiyah furuiyah. Maka yg salah yg tdk cinta Nabi dan yg menyerang khilafiyah.”

@amirfath: Membaca lailaha illallah: ushul. Tahlilan: khilafiyah furuiyah. Yg salah yg tdk ucapkn lailaaha illalah dan yg serang khilafiyah.”

“@amirfath: Tidak ikut sunnah yg serang khilafiyah. Sebab Nabi biarkan sahabatnya berbeda pendapat dlm hal furuiyah.”

@amirfath: Tidak ikut sunnah yg hanya ikut amalan nabi sekitar ritual saja. Sebab sunnah Nabi juga mengurus pasar, ekonomi dan negara.”

@amirfath: Bukan seorang fakih yg keluarkan hukum sesuatu adalah haram dan bid’ah dg alasan Nabi tidak pernah kerjakan.”

@amirfath: Khilafiyah terjadi karena tdak ada dalil khusus. Ini tugas fikh. Yg bukan fakih jangan ikut2an. Biar tdk rancu.”

@amirfath: Kekacauan terjadi karena adanya org2 yg bukan fakih ikut2an ngurus fikih lalu merasa dirinya berhak tandingi Imam Syafii dan imam2 lainnya.”

@amirfath: Khilafiyah itu sdh dibahas oleh ulama. Masing2 punya dalil. Kita tgl ikut saja. Bukan menghakimi yg lain.”

@amirfath: Memilih pemimpin: ushul. Gunakan demokrasi: furu’. Maka salah yg tdk mau pilih pemimpin krn alasan furu’.”

@amirfath: Salah yg mengatakan: dari pada pilih pemimpin muslim yg korup mending pilih pemimpin kafir yg tidak korup.”

@amirfath: Seharusnya mengatakan : ayo pilih pemimpin muslim yg bersih dari pada pemimpin kafir yg tdk bersih. Sungguh masih banyak muslim yg bersih.”

@amirfath: Dzalim terhadap Nabi dan Islam yg sempitkan sunnah hanya sekitar ritual. Sementara mengurus negara tidak dianggap sunnah.”

@amirfath: Sebaiknya jangan mengaku muslim jika serang Islam dan umat Islam. Apalagi bela kebatilan dan kesesatan.”

@amirfath: Yg membuat umat Islam Indonesia tdk berdaya adlah munculnya org2 mengaku muslim tapi serang umat Islam dan bela kebatilan.”
———————–

SEMOGA BERMANFAAT…                                                                             Share dari grup Wa Odoj

Al-Qur’an vs hadits shahih

Hadits shahih tidak mungkin bertentangan dgn Al-Qur’an? Benarkah seperti itu?

Kalau pertanyaannya adalah “apakah ucapan nabi kita tidak mungkin bertentangan dgn Al-Qur’an?”, maka jawabannya sudah jelas tidak mungkin bertentangan. Tapi kalau pertanyaannya adalah “apakah hadits shahih tidak mungkin bertentangan dgn Al-Qur’an?”, maka jawabannya adalah mungkin saja bertentangan, karena hadits shahih itu tidak identik dengan ucapan nabi kita.

Apa itu hadits shahih?

Hadits shahih adalah hadits nabi yang diteliti oleh para ulama ahli hadits, lalu para ulama tersebut ber-ijtihad menentukan bahwa hadits tersebut benar-benar berasal nabi kita. Itulah hadits shahih. Hadits yang tidak bisa dipastikan apakah benar berasal dari nabi kita atau tidak, maka hadits itu akan dihukumi sebagai hadits dhoif (lemah), atau mungkin juga hadits palsu atau lainnya.

Tentang hadits shahih, intinya ada dua. Yang pertama, hadits tersebut dihukumi sebagai shahih oleh ulama ahli hadits. Yang kedua, jangan lupa bahwa penentuan shahih tidaknya hadits ini adalah hasil ijtihad dari ulama. Dan yang namanya ijtihad, bisa.saja benar dan bisa saja salah.

Maka, hadits shahih adalah hadits yang dinyatakan shahih berdasarkan ijtihad ulama. Maka, hadits shahih tidak identik dengan ucapan nabi. Hadits shahih adalah ucapan2 yang diperkirakan mungkin benar berasal dari nabi, dan semoga saja benar, tapi jangan dipastikan pasti benar, karena yang namanya ijtihad, tentu tetap ada kemungkinan salahnya.

Maka sikap kita yang benar seharusnya bukan meyakini bahwa hadits shahih itu pasti tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Sikap kita seharusnya adalah selalu melakukan crosscheck isi suatu hadits, kita bandingkan dengan Al-Qur’an yang sudah jelas-jelas dijamin oleh Allah kebenarannya, cek apakah isinya bertentangan ataukah tidak. Kalau tidak bertentangan, maka terimalah hadits itu. Kalau ternyata bertentangan, maka jangan terima hadits itu karena kemungkinan salah itu manusiawi dan pasti ada. Selain nabi kita, tidak ada manusia yang ma shum. Imam Bukhari tidak ma’shum, dan Imam Muslim pun tidak ma’shum. Lantas mengapa kita mengatakan bahwa kitab mereka itu tidak ada keraguan di dalamnya?

Contoh hadits shahih yang dipertanyakan isinya adalah hadits shahih dalam Kitab Shahih Muslim yang mengatakan bahwa seorang wanita dewasa boleh menyusui laki-laki dewasa yang bukan mahram-nya, agar laki-laki tersebut menjadi mahram-nya (maksudnya agar laki-laki tersebut menjadi seperti anaknya karena menyusu padanya, sehingga kemudian karena laki-laki tsb sudah menjadi seperti anaknya maka si wanita tidak perlu lagi memakai hijab saat berurusan dengan laki-laki tsb).

Hadits ini statusnya shahih, karena ada dalam kitab shahih Muslim. Tapi isinya jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an. Maka sikap kita adalah, kita tidak boleh menggunakan hadits ini, tapi kita juga jangan menjelek-jelekkan Imam Muslim yang telah menshahihkan hadits ini. Apa yang telah dilakukan oleh Imam Muslim adalah satu ijtihad dari beliau, dan hasil ijtihad itu tetap harus kita hormati.

Kesimpulan:
1. Hadits shahih ada yang isinya bertentangan dengan Al-Qur’an.
2. Shahih tidaknya suatu hadits adalah hasil ijtihad ulama.
3. Hasil ijtihad ulama bisa benar dan bisa juga salah.
4. Hasil ijtihad ulama harus kita hormati.
5. Setiap isi hadits harus kita bandingkan dulu dengan Al-Qur’an, karena hanya Al-Qur’an sajalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.


Video ttg fatwa ulama yang tidak bisa kita terima begitu saja ttg wanita dewasa yang menyusui laki-laki dewasa non-mahram:

Penjelasan lebih detil mengenai hadits wanita dewasa yang menyusui laki-laki dewasa:
http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1354466572&=benarkah-aisyah-bolehkan-laki-laki-dewasa-menyusu-pada-wanita-biar-jadi-mahram.htm

Semoga bermanfaat.

Memilih Manhaj

Dalam dua jum’at yg berurutan, dua orang khatib memberikan khutbah dengan tema yang sama, tapi dengan menggunakan metode yang berbeda.

Seperti kita ketahui, dalam khutbah Jum’at, waktu yang tersedia sangat sedikit sekali, sehingga setiap khatib harus benar-benar memilih dalil mana yang dianggap penting dan akan disampaikan.  Dan di sinilah perbedaan itu terlihat.

Khatib yang pertama, berasal dari kalangan yang katanya mengikuti “manhaj salaf”. Di dalam khutbahnya, sang khatib menjelaskan tentang kriteria orang yang bertaqwa menurut Ibnu Taimiyah, lalu menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, lalu menurut Al-Barbahari. Kriterianya dijelaskan satu persatu, setelah itu selesai.

Pekan depannya, khatib yang berbeda menyampaikan tema yang sama yaitu tentang ciri orang yang bertaqwa, tapi dengan dalil yang berbeda. Dalil yang dijelaskan adalah ayat berikut:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

(QS. Ali-Imraan, ayat 133-136)

Ayat-ayat di atas menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, dalam bentuk kriteria-kriteria yang mudah, dan dalam bentuk ayat-ayat yang kalau kita hafalkan serta kita tadabburi berulang-ulang maka pahalanya akan sangat besar untuk kita.

Dari dua khutbah ini, bisa kita lihat perbedaannya.

Khatib pertama dari kalangan manhaj salaf lebih mengutamakan ucapan-ucapan manusia, di atas Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, ketika waktu yang tersedia sangat sedikit, yang disisakan adalah yang dianggap paling penting, yaitu ucapan-ucapan manusia. Bagi kelompok ini, yang paling penting bukanlah menyampaikan ayat Al-Qur’an ataupun hadits. Yang paling penting adalah mewariskan pemahaman sebagian ulama terhadap ayat Al-Qur’an ataupun hadits. Dan anehnya, ulama yang dipilih biasanya berasal dari kalangan madzhab Hambali, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Al-Barbahari, Adz-Dzahabi, atau lainnya.

Adapun khatib yang kedua, berasal dari kalangan umum, yang menomorsatukan ayat Al-Qur’an di atas hadits, dan mengutamakan hadits di atas ucapan-ucapan manusia. Sehingga ketika waktu yang tersedia sangat terbatas, maka dalil yang disampaikan hanyalah dalil yang paling penting saja, yaitu ayat Al-Qur’an.

Inilah dua manhaj yang berbeda. Yang pertama menggunakan nama “manhaj salaf”, yang pada kenyataannya sibuk mewariskan pemahaman sebagian ulama atas dalil-dalil, dan biasanya ulama yang dipilih berasal dari kalangan madzhab Hambali. Adapun yang kedua adalah Manhaj yang berusaha mewariskan ayat Al-Qur’an dan juga hadits apa adanya, dengan tidak mempersulit pemahaman, dan juga tidak mengada-ada dalam penafsiran.

Nah, untuk kita sendiri, kita mau ikut yang mana?
Mau ikut yang cenderung sibuk dalam mewariskan pemahaman sebagian ulama?
Atau mau ikut yang cenderung sibuk untuk mewariskan Al-Qur’an?

Pilihan ada di tangan kita masing-masing, tapi sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuknya untuk kita.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?  (QS. Muhammad, ayat 24)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar, ayat 17)


Note:
1. Belajar islam memang harus ada ustadznya. Tapi pilihlah ustadz yang membuat kita dekat dengan Al-Qur’ an dan juga hadits, bukan ustadz yang malah menyuruh kita menghafal ucapan-ucapan manusia.
2. Setelah ikut pengajian, usahakanlah agar kita bisa berkata “ayatnya ini, haditsnya ini”. Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang sibuk berkata “menurut syaikh ini begini begitu” tapi ayat dan haditsnya sama sekali tidak kita ingat. Inilah contoh dari para sahabat Nabi, para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in: kitab yang pertama mereka buka adalah Al-Qur’an.

Semoga bermanfaat.

#khutbah jum’at satu pekan dan dua pekan setelah Iedul Fitri 2015 di salah satu masjid di kawasan EJIP Cikarang.

Tangan Allah

1. Pendapat empat Imam Madzhab.
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– inilah pendapat Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah)

2. Jumhur Ulama
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Mutasyaabihaat.
– kami tidak memastikan apakah Allah benar-benar punya tangan atau tidak.
– makna sebenarnya kami serahkan pada Allah.
– tapi kalau mau dijelaskan, maka gunakanlah makna yang lebih pantas untuk Allah, misalnya kekuasaan Allah.
– inilah pendapat Ta’wil (menta’wilkan makna tangan Allah dengan makna yang pantas bagi Allah).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan.
– tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya
– inilah pendapat Tatsbit (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan.)

4.  Pendapat kaum Mujassimah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat.
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah berbeda dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tajsim (memastikan bahwa Allah benar-benar punya tangan secara fisik dan punya anggota badan lainnya)

5. Pendapat kaum Musyabbihah
– kami mengimani ayat tentang tangan Allah.
– itu ayat Muhkamat
– Allah benar-benar punya tangan, dan juga punya fisik.
– tangan Allah dan fisik Allah sama dengan tangan dan fisik makhluk-Nya
– inilah pendapat Tasybih (meyakini Allah punya fisik dan meyakini bahwa fisik Allah sama dengan fisik manusia.)


Pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan nomor 5 (Musyabbihah) adalah pendapat yang sesat.

Pendapat nomor 3 (Tatsbit) mirip dengan nomor 4 (Mujassimah) dan riskan jatuh pada kesesatan.

Yang aman, ambillah pendapat nomor 1 (tafwidh), atau pendapat nomor 2 (ta’wil). Insya Allah ini lebih aman, karena jauh dari pendapat nomor 4 (Mujassimah) dan pendapat nomor 5 (Musyabbihah).

sumber:
Buku “Aqidah Salaf dan Khalaf”, karangan Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.

image

Artikel lain tentang “Di mana Allah??”
https://ismetkh.wordpress.com/2015/01/17/di-mana-allah/

Al-Qur’an vs Akal

Image


by:Isa Ismet Khumaedi

Pernahkah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami agama kita? Pernah pula-kah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an?

Pendapat-pendapat ini, mungkin didasari pada argumentasi yang pada awalnya benar, yaitu untuk mencegah agar kita tidak terlalu liar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tapi lama kelamaan pendapat ini berkembang menjadi pendapat yang tidak bisa dibenarkan. Dengan adanya pendapat seperti ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau membuka Al-Qur’an, lalu malah sibuk dengan hal-hal yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, seperti fatwa-fatwa ulama atau pertentangan-pertentangan fiqih, atau mungkin pula tema-tema lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk membahas masalah bid’ah, atau membahas fatwa-fatwa dari ulama tertentu, atau sibuk membahas perbedaan tata cara ibadah dan menyalahkan orang yang berbeda tata cara ibadahnya? Kalau kita sudah pernah melihat orang yang seperti ini, mari kita renungkan, mengapa mereka bisa menjadi seperti itu?

Salah satu sebab mengapa mereka bisa menjadi seperti itu adalah, karena dalam kajian-kajian yang ada, yang dijadikan sebagai tema utama adalah fatwa-fatwa ulama, atau maksimal sekali, hadits-hadits nabi.

Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak, karena kita jelas butuh hadits nabi dan fatwa ulama sebagai pelengkap pemahaman kita. Tapi hal ini bisa menjadi salah manakala Al-Qur’annya justru malah ditinggalkan.

Inilah yang terjadi di kalangan kita saat ini. Banyak anak muda yang dijejali dengan fatwa-fatwa ulama tentang suatu hal, misalnya tentang bid’ah, tentang isbal, tentang haramnya politik, tentang haramnya musik dan lainnya, padahal tentang hal ini bisa jadi ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan di saat yang sama anak-anak muda itu tidak diajari untuk menghafal Al-Qur’an, tidak diajari untuk memahaminya, dan tidak diajari pula untuk mengamalkannya.

Mengapa sampai bisa begini?

Salah satu penyebabnya adalah karena ada sudut pandang, yang meskipun mungkin tidak akan diakui, tapi jelas-jelas terlihat, yang seolah-olah mengatakan bahwa diri kita ini terlalu kotor untuk bisa memahami Al-Qur’an. Atau, kita ini bodoh dan tidak pantas membaca Al-Qur’an langsung. Atau, kalau kita ini membaca Al-Qur’an langsung, maka besar kemungkinan kita akan salah dalam memahaminya, jadi bahaya, dan lebih baik tidak membaca Al-Qur’an. Atau, kita ini wajib harus menggunakan tafsir untuk memahami Al-Qur’an, padahal kitab tafsir itu rata-rata tebal-tebal, dan mayoritas kita malah jarang ada yang punya.

Dengan adanya sudut pandang seperti ini, akhirnya lahirlah sudut pandang lain, yaitu sudut pandang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an. Padahal pada kenyataannya, tidak semua ayat Al-Qur’an butuh penafsiran yang rumit, malah sebagian besar ayat Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang tidak butuh penafsiran sama sekali (mudah dipahami). Sayangnya, sudut pandang ini lalu benar-benar digunakan sebagai argumentasi yang pada akhirnya malah menjauhkan manusia dari Al-Qur’an. Alasannya, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an. Atau, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an kalau tidak disertai dengan kitab tafsir yang tebal-tebal, atau lainnya. Pada akhirnya, karena tema Al-Qur’an adalah tema yang dirasa “terlalu berat” bagi akal sebagian umat manusia, maka, tema yang diambil dalam kajian-kajian akhirnya adalah tema yang benar-benar tidak mengacu pada Al-Qur’an lagi. Jadi, muncullah hal-hal yang saat ini mungkin sudah ada banyak di keliling kita, yaitu kajian-kajian yang tidak pernah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tema utama, lalu lebih memilih untuk membahas pendapat-pendapat ulama tertentu atau membahas tema-tema tertentu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah. Alasannya bisa jadi banyak, di antaranya mungkin adalah keterbatasan ilmu si nara sumber itu sendiri. Tapi alasan lainnya adalah, karena adanya sudut pandang bahwa akal kita tidak akan mampu dan tidak boleh digunakan untuk memahami Al-Qur’an ini.

Yang paling ironis adalah, pada beberapa kajian tertentu, kadang-kadang secara vulgar malah disebutkan dan diajarkan bahwa akal kita adalah racun dalam memahami agama kita ini. Jadi, akal kita harus dikunci mati. Kita harus menerima semua apa kata ustadz apa adanya, lengkap dengan dalil-dalil yang tidak boleh diutak-atik lagi, dan semua itu harus kita telan ke dalam otak kita meskipun kita sendiri tidak memahaminya. Inilah awal dari sebuah doktrin. Dan dengan doktrin seperti ini, akhirnya lahirlah generasi yang menganggap hanya ucapan ustadz-nya saja-lah yang benar, hanya pendapat ulama-nya saja-lah yang benar, lalu sibuk membid’ahkan kelompok yang berbeda pendapat, dan kalau mereka dibantah dengan dalil yang berbeda, mereka akan membantah pula dengan ucapan:

“Ikutilah pendapat ulama kami, jangan ikuti akal-mu, karena akal adalah racun!”.

Ini adalah satu contoh hasil doktrinasi yang pada awalnya dimulai dari sudut pandang yang sederhana, yaitu: Akal kita ini kotor!

Akal menurut Al-Qur’an

Lalu, bagaimana sebenarnya posisi akal kita menurut Al-Qur’an?
Mari kita lihat sendiri bagaimana Al-Qur’an menilai akal kita, misalnya dari ayat-ayat di bawah ini.

1. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal mereka.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. Al-Maa’idah, surat 5, ayat 58)

2. Kita diperintahkan untuk menggunakan akal kita dalam merenungi kondisi orang yang sudah tua.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?“ (QS. Yaasiin, surat 36, ayat 68)

3. Nabi Musa meminta Fir’aun untuk menggunakan akalnya.

Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. Asy-Syu’araa’, surat 26, ayat 28)

4. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’d, surat 13, ayat 4)

5. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf, surat 12, ayat 2)

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf, surat 43, ayat 3)

6. Orang yang tidak mau menggunakan akal mereka untuk memahami peringatan yang ada, maka mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk, surat 67, ayat 10)

Dari beberapa ayat di atas, jelas sekali terlihat bahwa sebenarnya akal kita ini adalah satu hal yang positif. Dan kita wajib menggunakan akal kita untuk memahami agama kita ini, termasuk di dalamnya adalah untuk memahami Al-Qur’an. Tentu saja, “mengakali Al-Qur’an” seperti yang dilakukan oleh kelompok Liberal adalah satu hal yang dilarang. Tapi menggunakan akal kita secara wajar untuk memahami agama kita dan memahami Al-Qur’an adalah suatu keharusan.

Jadi, kalau kita masih menjumpai ada orang-orang yang malah melarang kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami agama kita ini, mari kita sodorkan ayat-ayat di atas, dan mari kita tanya apa pendapat mereka tentang ayat-ayat tsb.

Akhir kata, sudut pandang yang mengatakan bahwa “akal kita kotor” adalah sudut pandang yang tidak bisa dibenarkan. Dan dari sudut pandang ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an, dan malah sibuk mempelajari hal-hal lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tentang bid’ah, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya pertentangan di mana-mana, lalu mereka juga pasti akan bersikap “mau menang sendiri” dalam berdebat, karena dari awal udah didoktrin untuk mematikan akal mereka. Jadi, mari kita gunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an dalam batasan yang wajar, tanpa perlu sibuk menafsirkan ayat-ayat yang kita memang tidak bisa memahaminya secara langsung. Jangan ikuti pendapat yang mengatakan bahwa akal kita tidak boleh kita gunakan untuk memahami Al-Qur’an, karena justru ayat Al-Qur’an sendiri-lah yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita agar bisa memahami ayat-ayat tersebut. Dan jangan pula kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu terlalu sulit bagi akal kita, karena Allah sendiri sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah sudah membuat Al-Qur’an ini mudah, agar kita mampu mengambil pelajaran darinya.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar, surat 54, ayat 17, 22, 32, 40)


artikel yang sama dimuat di:
http://www.dakwatuna.com/2012/06/08/20949/al-quran-vs-akal/#axzz3rhbDgsz4

Kisah Nabi dan Maulid Nabi

Pada kisah nabi kita, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam hidup kita dan dalam hidup anak-anak kita nanti.

Cuma masalahnya, apakah kita pernah membacakan atau menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita?
Kalau sudah pernah, sudah berapa kali?
Kalau belum pernah, itu artinya kita adalah tipe orang yang membutuhkan trigger untuk melakukan hal tersebut.

Mari kita cari trigger tersebut, yang kira-kira efektif untuk diri kita masing-masing, agar kita bisa istiqomah dalam menjelaskan kisah nabi kita pada anak-anak kita. Karena para sahabat nabi dan orang-orang sholeh terdahulu, mereka selalu menceritakan kisah nabi pada anak-anak mereka. Selalu, dan selalu.

Lalu bagaimana dengan diri kita saat ini?
Mari kita nilai diri kita masing-masing.

Jangan sampai kita hanya sibuk membahas apa hukum acara Maulid Nabi, tapi pada saat yang bersamaan kita tidak pernah menceritakan kisah nabi kita pada anak-anak kita.

Mari kita nilai diri kita masing-masing.

#ArtikelEdisiMaulid